MENTERI AGAMA MENDUKUNG PROYEK SYIAH DI INDONESIA ? BAG.3

syiahmenurutsyiahTerkait dengan studi kritis kita terhadap buku Syiah menurut Syiah yang diberi kata pengantar menteri agama Bapak Lukman Hakim Saifudin (24 September 2014),kini kita lanjutkan dengan bagian ketiga:

  1. Menteri agama menyebutkan “Khalifah Ali bin Abi –Thalib- karramallahu wajhahu– adalah contoh teladan yang baik dalam menghadapi intoleransi, terutama ketika beliau menghadapi orang-orang yang mengaku pembela Tuhan dengan semboyan “La hukma illallahu” (tidak ada hukum kecuali hukum Allah), hanya karena beliau menerima opsi perundingan (tahkim), khalifah yang arif bijaksana ini lalu menganggap mereka sesat.”

Catatan kami atas Ucapan menteri agama ini sebagai berikut:

  1. Mengandung kalimat yang tidak biasa digunakan oleh seorang muslim, tetapi biasa dipakai oleh orang liberal yaitu ucapan sinis kepada orang yang membela Allah, dalam ucapannya “menghadapi orang-orang yang mengaku pembela”.
  2. Menteri agama beralih dari ucapan Ahlussunnah “radhiyallahu ‘anhu” menjadi “karramallahu wajhah”
  3. Menteri agama tidak menyebut sikap dan tindakan Khalifah Ali yang arif bijaksana dalam menghadapi Syiah yang ghulat (rafidhah), atau Rafidhah yang ghulat! Sikap seperti ini adalah talbis dan kitmanul haq. Ini adalah kebiasaan orang syiah. Berbeda dengan Ahlussunnah yang selalu adil.
  4. Mengungkapkan fakta ucapan khalifah Ali “kalimah haq urida biha al-bathil” dalam mengomentari ucapan khawarij la hukma illa lillah” dengan cara seperti dalam pengantar menteri agama ini adalah kalimat bathil urida biha bathil, sebab fakta yang terpenggal dimaksudkan agar ahlussunnah mau menerima kebatilan syiah.
  5. Khalifah Ali dianggap sebagai panutan dalam menghadapi “Khawarij”, tapi tidak disebut sebagai teladan dalam menghadapi syiah ghulat atau Rafidhah dan sabaiyyah.

    silakan baca kembali sikap Khalifah Ali yang Arif dan bijaksana dalam mengadapi Syiah ghulat atau Rafidhah!

http://www.gensyiah.com/menteri-agama-mendukung-proyek-syiah-di-indonesia-bag-2.html

  1. Menteri agama menyebut: ulama-ulama terdahulu sejak zaman sahabat, seperti terbaca dalam sejarah, sering berbeda pendapat dalam banyak masalah, namun mereka tetap terikat oleh ikatan persaudaraan.

Pertanyaan untuk bapak menteri: apakah mengikuti Nabi palsu itu hanya beda pendapat?

Apakah tidak mau membayar zakat itu hanya perbedaan pendapat?

Apakah mengingkari adanya takdir itu hanya perbedaan pendapat?

Apakah mengingkari Abu Bakar al-Shiddiq sebagai Khalifatu Rasulillah yang sunnahnya wajib diikuti itu hanya perbedaan pendapat?

Umat sangat membutuhkan ucapan pemimpin yang rinci dan benar.

  1. Menteri agama melanjutkan “Imam syafi’I saat dihadapkan dengan perbedaan mengatakan “madzhabuna shawabun yahtamilu al-khatha`a wa madzhabu ghairina khatha` yahtamilush shawab.” (pendapatku benar tetapi bisa jadi mengandung kesalahan, dan madzhab selainku salah tetapi bisa jadi mengandung kebenaran.”

Disini kita bertanya: apakah imam Syafi’I juga bersikap seperti itu menghadapi kelompok ingkar sunnah?

Apakah imam syafi’I toleran terhadap pengingkar hadits ahad?

Apakah imam Syafi’I toleran dalam menghadapi pengingkar hadits shahih yang lebih dari al-Qur`an?

Apakah imam Syafi’I toleran terhadap mu’tazilah, ahli kalam, filsafat , dan jahmiyyah?

Apakah imam Syafi’I toleran dalam megahadapi syiah?

Sekali lagi, umat perlu ucapan pemimpin yang rinci dan benar.

Dalam kesempatan ini kami kemukakan apa yang disembunyikan tentang imam Syafi’I penegak sunnah yang bergelar “nashir al-Sunnah ini, dalam menghadapi Syiah Rafidhah, syiah yang menolak Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Usman serta menolak Sayyidah Aisyah sebagi ummul mukminin.

  1. Tentang kesaksian orang Syiah Rafidhah
  1. Imam Harmalah berkata: saya mendengar Imam Syafi’I berkata:

: لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ1.

Saya tidak pernah melihat seorang dari ahli bid’ah yang paling berani bersaksi palsu selain dari pada kelompok Rafidhah.”

  1. Imam al-Rabi’ bin Sulaiman berkata: saya mendengar Al-Syafi’I berkata:

مَا رَأَيْتُ فِي الْأَهْوَاءِ قَوْمًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ.

saya tidak pernah melihat dalam kelompok pengikut hawa nafsu satu kaum yang paling berani bersaksi palsu selain dari pada Rafidhah.2

  1. Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’I berkata:

: وَتُقْبَلُ شَهَادَةُ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ إِلَّا الْخَطَّابِيَّةَ مِنَ الرَّافِضَةِ , لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَ الشَّهَادَةَ بِالزُّورِ لِمُوَافِقِيهِمْ.

kesaksian ahli bid’ah ditulis kecuali golongan Khaththabiyyah dari Rafidhah, karena mereka membolehkan kesaksian palsu untuk yang cocok dengan mereka.3

  1. Imam Yunus bin Abdil A’la berkata: Saya mendengar Syafi’I berkata:

“:أُجِيزُ شَهَادَةَ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ كُلِّهِمْ إِلَّا الرَّافِضَةَ , فَإِنَّهُ يَشْهَدُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ.”4

Saya membolehkan kesaksian ahli bid’ah semuanya kecuali rafidhah, karena mereka saling bersaksi untuk golongannya.”

  1. Tentang shalat di belakang orang syiah

Imam Buwaithi bertanya kepada Imam Syafi’i: apakah saya boleh shalat di belakang seorang rafidhah? Maka beliau menjawab:

لاَ تُصَلِّ خَلْفَ الرَّافِضِيِّ، وَلاَ القَدَرِيِّ، وَلاَ المُرْجِئِ.

Kamu jangan shalat makmum kepada syiah rafidhah, jangan pula kepada qadariyyah dan jangan pula kepada murji`ah.” Saya bertanya: tolong terangkan mereka kepada kami. Maka beliau menjawab:

وَمَنْ قَالَ: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَيْسَا بِإِمَامَيْنِ، فَهُوَ رَافِضِيٌّ، وَمَنْ جَعَلَ المَشِيئَةَ إِلَى نَفْسِهِ، فَهُوَ قَدَرِيٌّ.

barang siapa mengatakan iman itu ucapan maka dia seorang Murji`ah, barang siapa berkata Abu Bakar dan Umar bukanlah imam maka dia seorang syiah Rafidhah, dan barang siapa menjadikan kehendak kembali kepada dirinya sendiri maka dia seorang qadariyyah.”5

  1. Tentang kelompok syiah Rafidhah, mereka adalah gerombolan yang paling jahat.

مَنْ قَالَ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَيْسَا بِإِمَامَيْنِ، فَهُوَ رَافِضِيٌّ.

  1. Imam Buwathi berkata: Syafi’I berkata: “Barang siapa mengatakan Abu Bakar dan Umar bukan imam maka dia seorang Rafidhah.6
  2. Al-Za’farani berkata: Syafi’I berkata:

Jika seorang Rafidhah ikut perang dan mereka mendapat ghanimah maka orang rafidhah ini tidak diberi bagian apapun karena Allah menyebutkan ayat al-fay` kemudian berfirman di dalamnya:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Maka barang siapa tidak meengucapkan ini maka tidak berhak mendapatkannya.”7

  1. Muhammad bin Abdul Hakam berkata: saya mendengar Syafi’I berkata:

مَا أَرَى النَّاسَ ابْتُلُوا بِشَتْمِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا لِيَزِيدَهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِذَلِكَ ثَوَابًا عِنْدَ انْقِطَاعِ عَمَلِهِمْ

Saya tidak melihat manusia diuji dengan mencela para sahabat Rasulullah i kecuali agar Allah menambahkan kepada mereka (para sahabat itu) pahala karena itu di saat amal mereka telah terptus.”8

  1. Al-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi berkata: Muhammad bin Idris al-Syafi’I berkata kepada saya:

«مَا سَاقَ اللَّهُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَتَقَوَّلُونَ فِي عَلِيٍّ وَفِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا لِيُجْرِيَ اللَّهُ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَهُمْ أَمْوَاتٌ»

Allah tidak mengirim mereka yang suka berbicara (mencela) tentang Ali, Abu Bakar, Umar, dan para sahabat Nabi i yang lain melainkan agar Allah mengalirkan kepada mereka (para sahabat itu) pahala pahala kebaikan, sementara mereka sudah meninggal.” 9

  1. Yunus bin Abdil A’la berkata:

: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ إِذَا ذُكِرَ الرَّافِضَةُ عَابَهُمْ أَشَدَّ الْعَيْبِ، فَيَقُولُ: شَرَّ عِصَابَةٍ

saya mendengar Syafi’I , apabila disebut Rafidhah maka beliau mencela mereka dengan sangat keras, lalu berkata: seburuk-buruk gerombolan.”10

  1. Ahmad bin Khalid al-Khallal berkata: saya mendengar Syafi’I berkata:

مَا كَلَّمْتُ رَجُلا فِي بِدْعَةٍ، إِلا رَجُلا كَانَ يَتَشَيَّعُ.

Saya tidak pernah bicara kepada seseorang tentang bid’ah kecuali seseorang yang dia bertasyayyu`.” 11

  1. Harmalahbin Yahya berkata: Syafi’I berkata:

مَا كَلَّمْتُ رَجُلا فِي بِدْعَةٍ، إِلا رَجُلا مُتَشَيِّعًا، إِنَّ التَّشَيُّعَ أَضَلُّ الْبِدَعِ وَأَرْدَاهَا وَهُوَ الرَّفْضُ

Aku tidak pernah bicara kepada seseorang tentang satu bid’ah kecuali seorang yang bertsyayyu’. Sesungguhnya tasyayu’ itu bid’ah yang paling sesat dan paling binasa, yaitu rafdh (menolak Abu Bakar dan Umar sebagai imam)12

  1. Tentang ijma’ sahabat atas khilafah dan keutamaan Abu Bakar al-Shiddiq yang mengalahkan seluruh sahabat nabi i.
  1. Imam Syafi’I berkata:

خِلَافَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَقٌّ، قَضَاهَا اللَّهُ فِي سَمَائِهِ وَجَمَعَ عَلَيْهَا قُلُوبَ أَصْحَابِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Khilafah Abu Bakar al-Shiddiq adalah haq, diputuskan oleh Allah di langit-Nya, dan Dia menyatukan hati para sahabat Nabi i atasnya.”13

  1. Al-Husain bin Ali Zaenal Abdin t berkata: saya mendengar Syafi’I berkata:

: اضْطُرَّ النَّاسُ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَلَمْ يَجِدُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرًا مِنْ أَبِي بَكْرٍ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ اسْتَعْمَلُوهُ عَلَى رِقَابِ النَّاسِ

Manusia terpaksa setelah Nabi i berkumpul kepada Abu bakar al-Shiddiq t, mereka tidak mendapatkan di kolong langit ini orang yang lebih baik dari Abu Bakar. Oleh karena itu mereka mengangkatnya untuk memimpin manusia.”14
dan masih banyak lagi riwayat dari imam Syafi’I yang diceritakan oleh al-Za’farani, al-Rabi’, Abu Tsaur dan lainnya, bahwa telah berijma’ para sahabat atas keutamaan Abu Bakar t di atas para sahabat dank arena mereka mengangkatnya menjadi Khalifatu Rasulillah i.

Mengapa ini semua tidak diterangkan oleh menteri agama? Jika imam Syafi;I memerangi syiah Rafidhah lalu mengapa menteri agama malah membelanya? Dan “mengajak” masyarakat Indonesia untuk menerima syiah?

Semoga tulisan saya ini ada manfaatnya! Aamiin.

Kami menunggu menteri agama mengklarifikasi atau member kata pengantar untuk buku ahlussunnah, supaya bisa meralat kesalahan-kesalahannya.

Malang, Kamis 4 Shafar 1436 H.

1 آداب الشافعي ومناقبه لابن أبي حاتم الرازي ص144، والكامل لابن عدي ج3 ص408، و شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي ج 8 ص1544، وحلية الأولياء لأبي نعيم الأصبهاني ج9 ص114، و السنن الكبرى للبيهقي ج10 ص352، و مناقب الشافعي للبيهقي ج1 ص468،و الكفاية في علم الرواية للخطيب البغدادي ص126، و منهاج السنة النبوية في نقض كلام الشيعة القدرية لابن تيمية ج 1 ص60، وميزان الاعتدال للذهبي ج 1ص28، ولسان الميزان لابن حجر العسقلاني ج1 ص10

2 آداب الشافعي ومناقبه لابن أبي حاتم الرازي ص145، و شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي ج 8 ص1544، و منهاج السنة النبوية في نقض كلام الشيعة القدرية لابن تيمية ج 1 ص61 – 62، وسير أعلام النبلاء للذهبي ج10 ص89

3 (1) –الفرق بين الفرق وبيان الفرقة الناجية لعبد القاهر البغدادي ص 351، والكفاية في علم الرواية للخطيب البغدادي ص 120، والمستصفى في علم الأصول للغزالي ص 127، واختلاف الأئمة العلماء لابن هبيرة ج 2ص421، والمغني لابن قدامة المقدسي ج10 ص146، و علوم الحديث لابن الصلاح ص115، والمنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج للنووي ج7 ص160، ودرء تعارض العقل والنقل لابن تيمية ج1 ص94
وبيان تلبيس الجهمية في تأسيس بدعهم الكلامية لابن تيمية ج2 ص488، و الطرق الحكمية لابن القيم ص 146، والباعث الحثيث الى اختصار علوم الحديث لابن كثير 99، والمقنع في علوم الحديث لابن الملقن ج 1ص266

5 ذم الكلام وأهله لأبي إسماعيل الهروي ج4 ص307 – 308، و سير أعلام النبلاء للذهبي ج10 ص31

6ذم الكلام وأهله لأبي إسماعيل الهروي ج4 ص308، و سير أعلام النبلاء للذهبي ج10 ص31.

7 تاريخ دمشق لابن عساكر ج51 ص317، ومختصر تاريخ دمشق لابن منظور ج 21 ص375، و طبقات الشافعية الكبرى للسبكي ج2 ص117

8 (1) –شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي ج 8ص1548، ومناقب الشافعي للبيهقي ج1 ص 441، و تاريخ دمشق لابن عساكر ج51 ص317، و تبيين كذب المفتري فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري لابن عساكر ص424، ومناقب الشافعي للرازي ص 136

9 حلية الأولياء لأبي نعيم ج9 ص114، ومناقب الشافعي للبيهقي ج1 ص 441

10 مناقب الشافعي للبيهقي ج1 ص 468 و ج 2 ص71، ومناقب الشافعي للرازي ص 142، والصواعق المحرقة على أهل الرفض والضلال والزندقة للهيتمي ج1 ص114

11 آداب الشافعي ومناقبه لابن أبي حاتم الرازي ص143، و مناقب الشافعي للبيهقي ج1 ص467

12 اعتقاد الشافعي للهكاري ص31

13 إثبات صفة العلو لابن قدامة المقدسي ص 125، و الاقتصاد في الاعتقاد لعبد الغني المقدسي ص 95، و عقيدة عبد الغني المقدسي ص 47، و مجموع الفتاوى لابن تيمية ج5 ص53، و الفتوى الحموية الكبرى لابن تيمية ص 343، و جامع المسائل لابن تيمية ج 3 ص 198، واجتماع الجيوش الإسلامية لابن القيم ج2 ص165 وصححه

14 مناقب الشافعي للبيهقي ج1 ص434، ومعرفة السنن والآثار للبيهقي ج1 ص194

 

(Visited 1 visits today)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*