Izin Tamu Internasional Ceramah Di Masjid Istiqlal Wewenang Kemenag

Share Menurut Kiai Musthofa Ya’kub, kasus ulama Syiah ini bukan kasus pertama kali. Bahkan sudah terjadi beberapa kali Ceramah tokoh Syiah di Masjid Istiqlal yang menjadi perbincangan masyarakat Hidayatullah.com- Lolosnya ulama Syiah More »

Muktamar Syiah di Kementerian Agama Menyakiti Umat Islam

SharePenyelenggaraan Muktamar ABI di Kementerian Agama pada 14 November 2014 dinilai menyakiti umat Islam dan mendapatkan penolakan dari Umat Islam dan Ormas Islam. Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengatakan, Muktamar More »

MENTERI AGAMA MENDUKUNG PROYEK SYIAH DI INDONESIA ? BAG.2

Share Di pengantar Menteri Agama terhadap buku Syiah menurut Syiah ada banyak keganjilan dan kejanggalan. Artinya, sekelas menteri agama yang muslim seharusnya mencerminkan keislaman yang bagus, namun yang ada, semakin kita resapi More »

syiah indonesia bersorak sorai

Sharebegitulah kesan dari perkembangan yang ada di tanah air. salah satunya bisa anda baca sebagai berikut: status fb Ismail Amin : Ismail Amin bersama Muhammad Zulfikar dan 2 lainnya Sobat2 yang baik… More »

Syi’ah ABI Gelar Muktamar Ke-II di Gedung Kemenag. MIUMI : “Itu bagian dari legitimasi ajaran sesat Syiah”

ShareJAKARTA (Jurnalislam.com) – Salah satu organisasi resmi Syi’ah di Indonesia, Ahlul Bait Indonesia (ABI) siang tadi menggelar Muktamar ke-II di Auditoriium KH. M. Rasjidi gedung Kementerian Agama RI. Menanggapi acara tersebut, Majelis More »

 

Izin Tamu Internasional Ceramah Di Masjid Istiqlal Wewenang Kemenag

Menurut Kiai Musthofa Ya’kub, kasus ulama Syiah ini bukan kasus pertama kali. Bahkan sudah terjadi beberapa kali

Izin Tamu Internasional Ceramah Di Masjid Istiqlal Wewenang Kemenag

Ceramah tokoh Syiah di Masjid Istiqlal yang menjadi perbincangan masyarakat

Hidayatullah.com- Lolosnya ulama Syiah asal Iran berceramah di Masjid Istiqlal hari Jum’at (21/11/2014) dinilai karena ada keikutsertaan dari pihak Kementerian Agama (Kemenag) RI terkait pemberian izin.

Sebab kewenangan untuk memberikan izin kepada seluruh tamu internasional (termasuk ulama Syi’ah Iran, red) untuk berceramah di Masjid Istiqlal Jakarta dipegang oleh Ketua Badan Pengelola Pelaksana Masjid Istiqlal di mana kewenangannya langsung di bawah pengawasan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).

Indikasi ini berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Dr. Ali Musthofa Ya’qub kepada hidayatullah.com Sabtu (22/11/2014) pagi saat dikonfirmasi terkait ceramah ulama Syi’ah dari Iran yang kini menjadi perbincangan masyarakat di jejaring sosial. [Baca: KH Ali Musthofa Ya’qub: Ceramah Ulama Syi’ah Di Istiqlal Bisa Bahayakan Umat dan NKRI]

Muktamar Syiah di Kementerian Agama Menyakiti Umat Islam

Penyelenggaraan Muktamar ABI di Kementerian Agama pada 14 November 2014 dinilai menyakiti umat Islam dan mendapatkan penolakan dari Umat Islam dan Ormas Islam.

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengatakan, Muktamar ABI Ke-II di atas, dengan menggunakan fasilitas Kemenag adalah bagian dari legitimasi ajaran sesat Syiah, sebagaimana telah difatwakan Majelis Ulama Indonesia.

“Kita tau, KH. M. Rasjidi adalah seorang ulama besar Indonesia yang telah lebih dulu menyadarkan umat akan kesesatan Syiah dengan bukunya yang terkenal, “Apa itu Syiah”. Karena itu, gedung yang dipakai ABI dengan menggunakan nama KH. M. Rasjidi sangat tidak rasional. Selain itu, acara di atas sangat tidak lpatut disenggarakan selain bertentangan dengan Edaran Depag di atas, juga bertentangan dengan fatwa MUI Jatim, No.Kep-01/SKF-MUI/JTM/1/2/2012,” ujar MIUMI dalam rilisnya , Jum’at (14/11).

MIUMI juga mengkritik Buku terbitan ABI berjudul, “Buku Putih Mazhab Syiah” yang di dalamnya beberapa poin penyesatan. Salah satunya melecehkan Sahabat Nabi dengan tidak mencantumkan 9 dari 10 Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga.

“Melegalkan kawin kontrak (mut’ah) dengan memfitnah Khilafah Umar sebagai orang pertama yang melarang mut’ah dan bukan dilarang langsung oleh Rasulullah saw dalam banyak hadis-hadis shahih,” ungkap MIUMI.

Baru-baru ini MUI mengeluarkan buku resmi terkait penyimpangan Syiah yang berjudul, ‘Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia’.

Menurut Wakil Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin, buku panduan ini hadir karena amanah fatwa MUI tahun 1984 untuk mewaspadai masuknya ajaran Syiah di Indonesia.

Kyai Ma’ruf juga menjelaskan bahwa Syiah di Indonesia, tidak bisa kita pungkiri melakukan praktek makian kepada sahabat-sahabat Nabi.

sumber : http://news.fimadani.com/read/2014/11/15/muktamar-syiah-di-kementerian-agama-menyakiti-umat-islam/

Syiah Dalam Pandangan Prof. Rasjidi (2)

apa-itu-SYIAHSetelah memaparkan asal-usul Syiah dengan singkat, padat dan akurat, kini Prof. Rasjidi melanjutkan pembahasannya pada aspek perpecahan yang terjadi pada internal Syiah disertai penyebabnya. Menurut peletak dasar Kementrian Agama ini, golongan Syiah tidak merupakan satu kesatuan alias bercerai berai antara satu dengan lainnya, penyebabnya adalah (1) karena mereka berbeda dalam ajaran-ajarannya, ada yang mendewa-dewakan para Imam dan mengkafirkan pihak lain (takfir), namun ada pula yang moderat dan hanya menganggap keliru terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengannya, dan (2) karena keturunan Ali  radhiallau ‘anhu (RA) dan putranya banyak, maka sering terjadi perbedaan dalam menentukan mana yang menjadi imam dan mana yang tidak, (hlm. 7).
Untuk menopang pendapatnya, Prof. Rasjidi menyertekan kutipan gambar geneologi Ali (RA), (hlm. 8). Ia juga menjelaskan bahwa kelompok-kelompok Syiah sudah banyak yang telah punah setelah melalui proses seleksi alam dan waktu yang alami, dan kini hanya tinggal dua golongan besar, yaitu Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, (hlm. 9).
Untuk itulah pengetahuan mengenai dua golongan di atas mutlak dimiliki jika ingin mengenal Syiah secara komprehensif. Rasjidi menulis, dinamakan Syiah Imamiyah karena yang menjadi  dasar akidah mereka adalah soal Imam—dalam arti Khalifah. Mereka mengatakan bahwa Ali berhak menjadi khalifah, bukan hanya karena kecakapannya atau sifat-sifat yang disebutkan namanya oleh Rasulullah. Imam pertama adalah Ali, kemudian Hasan, lalu Husain. Mengenal nama para imam termasuk rukun iman. Dan, oleh sebab Ali telah ditunjuk dengan menyebutkan namanya oleh Nabi, maka Abu Bakar dan Umar adalah orang yang merampas hak khalifah dan telah bertindak zalim. Ada pun kelompok Zaidiyah dari Yaman adalah lebih moderat, bagi mereka Rasulullah tidak menunjuk Ali dengan menyebut namanya, akan tetapi hanya dengan deskripsi. Oleh sebab itu, mereka tidak menghukum Abu Bakar dan Umar. Bagi Zaidiyah, khalifah Abu Bakar dan Umar sah, walaupun Ali lebih utama, (hlm. 10).

Syiah dalam Pandangan Prof. Dr. H. M. Rasjidi (1)

Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi, selanjutnya disebut Rasjidi, lahir di Kotagede Yogyakarta 20 Mei 1915 dan meninggal dunia pada 30 Januari 2001. Ia menempuh sekolah dasar di Muhammadiyah Yogyakarta, kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang, dibawah bimbingan dan asuhan Syekh Ahmad Surkati. Semangat mencari ilmunya makin tinggi, karena yang mengajar di situ bukan hanya guru-guru dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan, dan Mekkah.
Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama. Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya. Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab  dapat dinilai dengan kemampunnya menghafal kitab Nahwu—salah satu ilmu paling penting dalam bahasa Arab dan bagian dari ilmu dua belas—Alfiyah Ibnu Malik dalam usia 15 tahun, hal ini menjadikan dirinya diangkat sebagai asisten pengajar gramatika bahasa Arab. Selain itu, Rasjidi juga telah hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as-Sullam.”
Kecerdasan, ketekunan, dan haus akan ilmu disertai perkenalannya dengan guru-guru Timur Tengah menjadikan Rasjidi bersemangat untuk melanjutkan studinya di Mesir. Ketika di negeri Fir’aun, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) juga ia diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah dan lain-lain. Sehingga kemudian Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab hingga  bahasa Belanda. Bahkan di sana Ia menjadi seorang hafizh alias hafal Alquran 30 juz.
Dikisahkan pada awal mula Rasjidi berada di Mesir, dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary pengarang Tafsir al Jawahir yang masyhur serta sahabat karib Syekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas III), Rasjidi diuji untuk masuk kelas V. Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya berhasil meraih diploma Sekolah Menengah Umum dan hafal Alquran 30 juz, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran bahasa Inggeris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Prancis, maka di Mesir diploma Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat itu, Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.
Ia kemudian melanjutkan ke Universitas al Azhar, Kairo. Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama. Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence (Lc). Di kelas itu mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari Mesir, Albania dan Sudan. Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Sorbone, Paris. Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l’Evolution de l’Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).
Rasjidi adalah Menteri Agama pertama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II. Ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah terlibat di antaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University Canada.
Dinilai dari sudut mana pun, sumbangsih jasa-jasa Rasjidi buat negara ini tidak ternilai harganya, terutama jika ditilik dari kacamata Pendidikan Internasional. Jepang, Perancis, Kanada, Amerika memerlukan tenaganya pada zamannya. Sarjana Cairo pertama dari Mahasiswa Indonesia dengan Nilai Mumtaz (cumlaude) ini dalam hidupnya sangat sederhana, jujur dan amanah.
Beliau adalah Ketua Diplomatik RI pertama yang mengikuti utusan diplomat Mesir yang berkunjung ke Ibu kota Jogyakarta Th. 1947. Saat Blokade Agresi Militer Belanda diperketat, rombongan diplomat Indonesia menyelinap dengan mengikuti pesawat diplomat Mesir yang berangkat menuju negara-negara Arab. Maka lahirlah perjanjian-perjanjian dengan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar yang diakui oleh dunia Internasional.

MENTERI AGAMA MENDUKUNG PROYEK SYIAH DI INDONESIA ? BAG.2

syiahmenurutsyiahDi pengantar Menteri Agama terhadap buku Syiah menurut Syiah ada banyak keganjilan dan kejanggalan. Artinya, sekelas menteri agama yang muslim seharusnya mencerminkan keislaman yang bagus, namun yang ada, semakin kita resapi ternyata nafas liberalism dan pluralism sangat kental. Apakah dituliskan oleh pluralis? atau oleh syiah tim penulis buku? Wallahu a’lam. Yang jelas kita sadar bahwa mentri agama adalah pejabat politik tidak harus faham agama.

 2 kejanggalan sudah kami sebutkan di makalah pertama. Sekarang kita lanjutkan dengan yang lain:

1. Di halaman (i) disebutkan:

“Menjadi sunni, syiah dan lain sebagainya……karena kehendak-Nya. Nyaris manusia tidak terlibat sama sekali di dalamnya.”

Ini adalah ucapan Jabariyyah musyrikah. Persis seperti yang diabadikan oleh Allah dalam al-Qur`an surat al an’am 148:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ (148)

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”

 Luar biasa, ucapan kaum musyrik jabariyyah yang sudah dibatalkan oleh Allah sejak 1400 tahun lalu masih diulang-ulang oleh kaum liberal hari ini, dan ironisnya mereka mengatakan ini adalah pikiran maju dan modern!

 Mereka seolah mengatakan: “Ya Allah kami sunni, kami syi’i, kami liberal , kami komunis, dan lainnya, itu semua adalah takdir-Mu dan kodrat-Mu ya Allah. Seandainya Engkau tidak meridhai hal ini niscaya Engkau tidak membiarkannya dan tidak menakdirkannya. Karena Engkau membiarkannya dan menakdirkannya berarti Engkau meridhainya!!” persis ucapan musyriq quraisy yang jabariyyah, yang menyembah berhala dan mengharamkan onta dengan sifat-sifat tertentu yang mereka sebut Bahirah, Saibah, Washilah dan ham, lalu berkata: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun. Karena Allah menghendaki kami dan bapak kami mempersekutukan-Nya dan mengharamkan hewan dengan model tertentu maka ini menunjukkan kalau Allah ridha dengan kami dan kesyirikan kami”. Masyaallah, subhanallah. Alangkah miripnya dua ucapan ini. Nau’udzu billah minal khudzlan.

2. Di halaman (ii) di alinea 2 ditulis:

“umat Islam Indonesia…..terusun dalam Bangunan social yang potensial bisa retak. Ini disebabkan antara lain karena masih ada dari mereka yang terlalu terbenam dalam kesadaran masa lalu.

syiah indonesia bersorak sorai

begitulah kesan dari perkembangan yang ada di tanah air. salah satunya bisa anda baca sebagai berikut:

status fb Ismail Amin :

syiah-di-depag

Sobat2 yang baik…

Hari ini, ABI Ormas Islam Syiah mengadakan Muktamar II dikantor Kementerian Agama RI…

Hari ini pula, warga Syiah yg bertahun2 mengungsi dinyatakan siap untuk dipulangkan dikampung halamannya di Sampang… bahkan ust. Tajul Muluk jg sdh dibebaskan…

Hari ini pula, JK melalui Jubirnya meralat pernyataannya dan mengakui Syiah bagian dari Islam sehingga di KTPnya diperkenankan mengisi kolom agama dgn Islam…

dan hari ini pula…

Wakil Menteri Agama RI Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA yg saat ini sedang berada di Qom, bersama sejumlah cendekiawan muslim dari berbagai negara sedang mempresentasekan makalah hasil pembacaan dan pengkajiannya atas pemikiran filosofi dan Qur’ani Allamah Thabathabai rahimahullah..

hari ini, hari yang mngharukan :’)

Happy Ied Jum’at Mubarak…

kita katakan: pertarungan antara hak dan batil adalah isi dunia, dalam setiap pergumulan kebatilan selalu berada di atas dan lantang, namun tidak lebih dari sekedar buih. sebentar lagi akan lenyap dan yang tinggal di bumi adalah yang bermanfaat yaitu al=Haq.
wal aqibatu lilmuttaqin

Syi’ah ABI Gelar Muktamar Ke-II di Gedung Kemenag. MIUMI : “Itu bagian dari legitimasi ajaran sesat Syiah”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Salah satu organisasi resmi Syi’ah di Indonesia, Ahlul Bait Indonesia (ABI) siang tadi menggelar Muktamar ke-II di Auditoriium KH. M. Rasjidi gedung Kementerian Agama RI. Menanggapi acara tersebut, Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) melalui pernyataannya memandang bahwa Kemenag secara tidak langsung telah melegalkan Syi’ah di Indonesia.

Berikut pernyataan MIUMI yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Jum’at (14/11/2014) selengkapnya.

Ahlul Bait Indonesia (ABI) adalah salah satu organisasi resmi Syiah di Indonesia yang telah banyak melakukan penyesatan kepada umat Islam, salah satunya adalah terbitnya buku, “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah yang Muktabar, Sebuah Uraian untuk Kesepahaman demi Kerukunan Umat Islam, Jakarta, 2012″. Dalam buku tersebut, sedikitnya, terdapat beberapa poin penyesatan, antara lain:

KEMENAG LEGALKAN ALIRAN SESAT SYIAH

Ahlul Bait Indonesia, disingkat ABI adalah salah satu organisasi resmi Syiah di Indonesia yang telah banyak melakukan penyesatan kepada umat Islam, salah satunya adalah terbitnya buku, “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah yang Muktabar, Sebuah Uraian untuk Kesepahaman demi Kerukunan Umat Islam, Jakarta, 2012″. Dalam buku tersebut, sedikitnya, terdapat beberapa poin penyesatan, antara lain:

1) Melecehkan sahabat Nabi dengan tidak memasukkan 9 dari 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk syurga( hal. 40-49).

2) Melegalkan kawin kontrak (mut’ah) dengan memfitnah Khalifah Umar sebagai orang pertama yang melarang mut’ah dan bukannya langsung dilarang oleh Rasulullah saw dalam banyak hadis-hadis shahih, (hal. 49).

3) Bertentangan dengan surat edaran Departemen Agama No. D/BA01/4865/1983,  tentang hal ihwal ajaran Syiah tahun 1983 bahwa semua ajaran syiah tersebut bertentangan dengan ajaran islam yg sesungguhnya.

Kini, Dewan Pengurus Pusat ABI akan melangsungkan acara Muktamar Organisasi yang ke-II diawali dengan pembukaan dan seminar bertema “Menguatkan Nasionalisme, Menolak Intoleransi dan Ekstremisme” pada hari Jumat 14 November 2014/21 Muharram 1436 bertempat di Auditorium KH. M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jl MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat.

Kita tau, KH. M. Rasjidi adalah seorang ulama besar Indonesia yang telah lebih dulu menyadarkan umat akan kesesatan Syiah dengan bukunya yang terkenal, “Apa itu Syiah”. Karena itu, Gedung yang dipakai ABI dengan menggunakan nama KH. M. Rasjidi sangat tidak rasional. Selain itu, acara di atas sangat tidak lpatut disenggarakan selain bertentangan dengan Edaran Depag di atas, juga bertentangan dengan fatwa MUI Jatim, No.Kep-01/SKF-MUI/JTM/1/2/2012.

Muktamar ABI Ke-II di atas, dengan menggunakan fasilitas Kemenag adalah bagian dari legitimasi ajaran sesat Syiah.

Maka, umat Islam Indonesia harus bersatu untuk menolak acara Muktamar di atas, demi menghindari terjadinya konflik yang lebih besar di tubuh umat Islam. Sebagaimana diketahui, Syiah dan Ahlussunnah adalah ibarat minyak dan air karena perbedaan pokok-pokok ajaran. (JAKARTA, 14/11/2914-HUMAS MIUMI).