<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gen Syi&#039;ah &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://www.gensyiah.com/category/buku/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gensyiah.com</link>
	<description>Membongkar Kejahatan Syiah terhadap Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 06:43:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<image>
  <link>http://www.gensyiah.com</link>
  <url>http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2012/01/gens.png</url>
  <title>Gen Syi&#039;ah</title>
</image>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 8)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-8.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-8.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 05:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Khusus Untuk Pemuda Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA KEPADA AGAMA NABI -Shalallahu alaihi wasalam- DAN AHLUL BAIT) OLEH Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi diterjemah dan disajikan oleh Abu Hamzah al-Sanuwi 8. Al Kulaini di dalam kitab Al Kafi menyebutkan, “Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan bahwa mereka tidak mati kecuali karena kehendak mereka sendiri.”1 Sementara [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-7.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 7)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 7)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-2.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-4.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="CENTER"><strong>(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA </strong></p>
<p align="CENTER"><strong>KEPADA AGAMA NABI -Shalallahu alaihi wasalam- DAN AHLUL BAIT)</strong><br />
<strong>OLEH</strong><br />
<strong>Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi</strong><br />
<strong>diterjemah dan disajikan</strong><br />
<strong>oleh Abu Hamzah al-Sanuwi</strong></p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/03/buku.jpg"><img class="alignleft  wp-image-992" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="buku" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/03/buku.jpg" alt="buku Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 8)" width="212" height="300" /></a></p>
<p align="JUSTIFY">8. Al Kulaini di dalam kitab Al Kafi menyebutkan, “Bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan mati dan bahwa mereka tidak mati kecuali karena kehendak mereka sendiri.”<sup><a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"></a></sup><sup>1</sup> Sementara Al Majlisi di dalam kitabnya Biharul Anwar menyebutkan suatu hadits yang berbunyi, “Tidak ada seorang pun imam melainkan ia mati terbunuh atau diracun.”<sup><a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"></a></sup><sup>2</sup></p>
<p align="JUSTIFY">Jika seorang imam mengetahui perkara ghaib seperti disebutkan oleh Al Kulaini dan Al Hurr Al Amili, maka tentunya dia akan mengetahui makanan dan minuman apa yang akan disuguhkan kepadanya. Jika makanan tersebut diberi racun, maka dia akan mengetahui racun yang ada di dalamnya sehingga ia bisa menjauhinya. Jika dia tetap menyantapnya, berarti dia mati bunuh diri, karena dia tahu bahwa makanan tersebut diberi racun, dengan begitu berarti dia membunuh dirinya sendiri. Padahal Nabi -Shalallahu alaihi wasalam- telah memberitahukan bahwa orang yang bunuh diri berada di neraka. Lalu apakah kelompok Syi’ah rela hal ini terjadi pada imam-imam mereka?<span id="more-1502"></span></p>
<p align="JUSTIFY">9. Al Hasan bin Ali Radiallahuanhumengalah dan menyerahkan kekuasaannya kepada Muawiyah Radiallahuanhu pada saat banyak dukungan dan bala tentara berkumpul di sekelilingnya, sehingga memungkinkan bagi dirinya untuk melanjutkan peperangan. Tetapi pada sisi yang berlawanan, saudaranya Al Husain Radiallahuanhu tetap keluar dengan sedikit pasukan dan penolong untuk menghadapi Yazid, padahal pada saat itu mungkin sekali bagi dirinya untuk memilih perdamaian.</p>
<p align="JUSTIFY">Dengan demikian, keduanya tidak lepas dari kemungkinan bahwa salah satunya berada di atas kebenaran dan yang lain berada di atas kebatilan. Karena jika pengunduran diri Al Hasan yang mermiliki kemampuan untuk melanjutkan perang itu benar, maka keluarnya Husain (untuk menjadi pemimpin) dalam keadaan tidak memiliki kekuatan padahal mungkin untuk berdamai itu adalah batil. Sebaliknya jika keluarnya Al Husain dengan kelemahan yang ada pada dirinya dianggap benar, maka pengunduran dan sikap mengalah Al Hasan dengan kekuatan yang dimilikinya adalah batil.</p>
<p align="JUSTIFY">Pilihan ini memaksa kelompok Syi’ah pada posisi yang sangat sulit. Karena jika mereka mengatakan, bahwa keduanya berada di atas kebenaran, berarti mereka menggabungkan antara dua hal yang berlawanan, dan perkataan ini menghancurkan dasar keyakinan mereka. Dan jika mereka mengatakan pilihan Al Hasan salah, berarti mereka harus mengatakan bahwa keimaman Al-Hasan batil, sedangkan batilnya keimaman dirinya berarti pula membatalkan keimaman dan ke<em>ma’shum</em>an ayahnya, karena dia telah mewasiatkan (jabatan itu) kepadanya, seorang imam yang <em>ma’shum</em> tidak akan mewasiatkan kecuali kepada seorang imam yang <em>ma’shum</em> seperti dirinya sesuai madzhab mereka.</p>
<p>Jika mereka mengatakan pilihan Al Husain yang salah, berarti mereka harus mengatakan bahwa keimaman Al-Husain dan ke<em>ma’shum</em>an dirinya batal, dan batilnya keimaman dirinya berarti batal pula keimaman dan ke<em>ma’shum</em>an seluruh anak dan keturunannya, karena Al-Husain merupakan dasar (asal muasal) keimaman mereka karena dari nasabnyalah imamah itu berlangsung turun temurun. Jika asal muasalnya sudah salah (tidak benar), otomatis seluruh cabang-cabangnya juga salah.</p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a>1 Lihat: Ushulul Kafi karya Al Kulaini (1/ 258) dan kitab Al Fushul Al Muhimmah karya Al Hurr Al Amili (hal. 155).</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"></a>2 (43/ 364).</p>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-7.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 7)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 7)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-2.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-4.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-8.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 7)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-7.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-7.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 01:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Khusus Untuk Pemuda Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1469</guid>
		<description><![CDATA[(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA KEPADA AGAMA NABI -Shalallahu alaihi wasalam- DAN AHLUL BAIT) OLEH Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi diterjemah dan disajikan oleh Abu Hamzah al-Sanuwi 6. Kelompok Syi’ah mengklaim bahwa Fatimah -Radhiallahuanha- yang merupakan darah daging Nabi –Shalallahu alaihi wasalam- telah dihinakan di masa Abu Bakar –Radiallahuanhu-, dipatahkan tulang rusuknya, hendak dibakar rumahnya [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-6.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-3.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-4.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>KEPADA AGAMA NABI -Shalallahu alaihi wasalam- DAN AHLUL BAIT)</strong><br />
<strong> OLEH</strong><br />
<strong> Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi</strong><br />
<strong> diterjemah dan disajikan</strong><br />
<strong> oleh Abu Hamzah al-Sanuwi</strong></p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/03/buku.jpg"><img class="alignleft  wp-image-992" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="buku" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/03/buku.jpg" alt="buku Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 7)" width="212" height="300" /></a><br />
6. Kelompok Syi’ah mengklaim bahwa Fatimah -Radhiallahuanha- yang merupakan darah daging Nabi –Shalallahu alaihi wasalam- telah dihinakan di masa Abu Bakar –Radiallahuanhu-, dipatahkan tulang rusuknya, hendak dibakar rumahnya serta digugurkan janinnya yang mereka namai Al-Muhsin.<br />
Pertanyaan: Di manakah Ali saat itu semua terjadi? Mengapa diam saja tidak menuntut haknya, padahal dia adalah seorang pemberani yang pantang mundur?</p>
<p><span id="more-1469"></span><br />
7. Kita mendapatkan banyak diantara para pembesar sahabat yang menjalin hubungan pernikahan dengan keluarga Nabi –Shalallahu alaihi wasalam- dan menikah dengan mereka, begitu pula sebaliknya, terutama dua orang syaikh dari mereka (Abu Bakar dan Umar), sebagaimana hal itu disepakati oleh para ahli sejarah dan perawi hadits, baik dari kalangan sunni atau kelompok Syi’ah.<br />
Karena Nabi –Shalallahu alaihi wasalam-:<br />
- Menikah dengan Aisyah binti Abi Bakar –Radhiallahuanhuma-.<br />
- Menikah dengan Hafshah binti Umar –Radhiallahuanhuma- .<br />
- Menikahkan kedua puteri beliau (Ruqayyah kemudian Ummu Kultsum) dengan khalifatur Rasyid ketiga, seorang yang dermawan dan pemalu yaitu Utsman bin Affan -Radhiallahuanhu-, yang karenanya dia dijuluki Dzun Nuraini (seorang yang memiliki dua cahaya).<br />
Kemudian anaknya yang bernama Aban bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsum binti Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.<br />
Marwan bin Aban bin Utsman juga menikah dengan Ummul Qasim binti Al Hasan bin Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib.<br />
Lalu Zaid bin Amr bin Utsman menikah dengan Sakinah binti Al Husain.<br />
Dan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Fatimah binti Al Husain bin Ali.<br />
Kita cukup dengan menyebutkan tiga khalifah dari kalangan para sahabat, tanpa menyebutkan sahabat yang lain, yang mereka juga memiliki hubungan pernikahan (perbesanan) dengan ahlul bait, untuk menjelaskan bahwa ahlul bait juga mencintai mereka, karena itulah, terjadi hubungan pernikahan ini dan berbagai hubungan yang lain.<a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"></a><sup>1</sup><br />
Demikian pula, kita dapatkan bahwa ahlul bait memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama para sahabat Nabi –Shalallahu alaihi wasalam- , seperti disepakati oleh para ahli sejarah dan perawi hadits, baik dari kalangan kalangan sunni atau Syi’ah.<br />
Inilah Ali –Radhiallahuanhu- sebagaimana disebutkan di dalam beberapa sumber rujukan Syi’ah, memberi nama salah seorang anaknya dari pernikahannya dengan Laila binti Mas’ud Al-Hanzhaliyyah dengan nama Abu Bakar. Dan Ali adalah orang yang pertama kali di kalangan Bani Hasyim yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Bakar.<a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"></a><sup>2</sup><br />
Demikian pula, Al Hasan bin Ali memberi nama anak-anaknya: Abu Bakar, Abdurrahman, Thalhah dan Ubaidillah.<a name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"></a><sup>3</sup><br />
Dan juga Al Hasan bin Al Hasan bin Ali.<a name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"></a><sup>4</sup><br />
Serta Musa Al Kazhim memberi nama puterinya dengan Aisyah.<a name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"></a><sup>5</sup><br />
Bahkan ada di antara ahlul bait yang diberi kunyah (nama panggilan) dengan Abu Bakar, bukan nama baginya, seperti: Zainul Abidin bin Ali<a name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"></a><sup>6</sup> dan Ali bin Musa (Ar Ridha).<a name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"></a><sup>7</sup><br />
Sedangkan orang yang memberi nama anaknya dengan nama Umar –Radhiallahuanhu-, di antaranya Ali –Radhiallahuanhu-, dia memberi nama anaknya Umar Al Akbar dari istrinya yang bernama Ummu Habib binti Rabi’ah dan dia terbunuh di Al-Thaf bersama saudaranya Al Husain –Radhiallahuanhu- . Dan yang lain yaitu Umar Al Ashghar dari istrinya yang bernama Ash Shahba At Taghlabiyyah. Anak yang terakhir ini diberi umur panjang sesudah saudaranya yang lain, sehingga bisa mewarisi mereka.<a name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"></a><sup>8</sup><br />
Demikian pula Al Hasan bin Ali memberi nama kedua anaknya: Abu Bakar dan Umar.<a name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"></a><sup>9</sup><br />
Demikian pula Ali bin Al Hasan bin Ali.<a name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"></a><sup>10</sup><br />
Demikian pula Zainul Abidin.<br />
Demikan pula Musa Al Kazhim.<br />
Demikan pula Al Husain bin Zaid bin Ali.<br />
Demikian pula Ishaq bin Al Hasan bin Ali bin Al Hasan.<br />
Demikian pula Al Hasan bin Ali bin Al Hasan bin Al Husain bin Al Hasan.<br />
Dan banyak lagi, tetapi kita cukup menyebutkan sejumlah nama di atas dari kalangan pembesar dan pendahulu ahlul bait karena khawatir berkepanjangan.<a name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"></a><sup>11</sup><br />
Adapun orang yang memberi nama puterinya dengan Aisyah, di antaranya adalah: Musa Al Kazhim<a name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"></a><sup>12</sup> dan Ali Al Hadi.<a name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"></a><sup>13</sup><br />
Dan kita cukup menyebutkan Abu Bakar dan Umar serta Ummul mukminin Aisyah –Radhianllahuanha-.</p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a>1 Barangsiapa ingin penjelasan lebih tentang pembahasan hubungan pernikahan para sahabat dengan ahlul bait, maka silahkan merujuk kepada kitab “Ad Dur Al Mantsur minTuratsi Ahlil Bait” karya Al Faqih Al Imami Alauddin Al Madrasi, di dalamnya tedapat kekayaan dan tambahan dari apa yang telah kami sebutkan.</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"></a>2 Lihat: Al Irsyad karya Al Mufid (hal. 354), Muqatil Ath Thalibiyyin karyaAbul Faraj Al Ashbahani Asy Syi’I (hal. 91) dan Tarikh Al Ya’qubi Asy Syi’I (2/ 213).</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"></a>3 At Tanbih wal Irsyad karya Al Mas’udi Asy Syi’I (hal. 263).</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"></a>4 Muqatil Ath Thalibiyyin karyaAbul Faraj Al Ashbahani Asy Syi’I (hal. 188) cetakan Daar Al Ma’rifah.</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"></a>5 Kasyful Ghummah karya Al Arbili (3/ 26)</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"></a>6 Kasyful Ghummah karya Al Arbili (3/ 26)</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"></a>7 Muqatil Ath Thalibiyyin karyaAbul Faraj Al Ashbahani Asy Syi’I (hal. 561- 562) cetakan Daar Al Ma’rifah.</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"></a>8 Lihat: Al Irsyad karya Al Mufid hal. 354, Mu’jam rijalul Hadits karya Al Khu’I (13/ 51), Muqatil Ath Thalibiyyin karyaAbul Faraj Al Ashbahani Asy Syi’I hal84 cetakan Beirut. Umdatuth Thalib, hal. 361 cetakan An Najaf, Jala’ul Uyun hal. 570.</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"></a>9 Al Irsyad karya Al Mufid hal. 194, Muntahal Aamal jld. 1 hal. 240, Umdatuth Thalib hal.81, Jala’ul Uyun karya Al Majlisi hal. 582, Mu’jam Rijalul hadits karya Al Khu’I jld. 13 hal. 29, no. 8716, Ksayful Ghummah (2/ 201)</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"></a>10 Al Irsyad karya Al Mufid (2/ 155) dan Kasyful Ghummah (2/ 294).</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"></a>11 Penjelasan tentang hal itu ada di kitab Muqatil Ath Thalibiyyin dan sumber-sumber imamiyah lainnya, sebagai contoh lihat, Ad Dur Al Mantsur karya Alauddin Al Madrasi hal. 65- 69.</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc"></a>12 Al Irsyad hal. 302, Al Fushul Al Muhimmah 242, Kasyful Ghummah (3/ 26).</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p align="JUSTIFY"><a name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc"></a>13 Al Irsyad karya Al Mufid (2/ 312).</p>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-6.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-3.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-4.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 4)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-7.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syiah Menghina Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam dan Ahlul Bait</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/syiah-menghina-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-ahlul-bait.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/syiah-menghina-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-ahlul-bait.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 02:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[gen syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1456</guid>
		<description><![CDATA[Buku Gen Syiah Syi’ah secara dusta mengaku sebagai pecinta ahlul bait. Ucapan dan perbuatan mereka bertolak belakang dengan klaim mereka. Hal seperti ini tidaklah aneh atau asing pada diri anak cucu Majusi. Mereka telah berani menginjak-injak rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka telah menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam –semoga Allah melaknat mereka- [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/hukum-mendustakan-nabi-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Hukum mendustakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam'>Hukum mendustakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/putri-putri-manusia-terbaik-muhammad-rasululloh-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam'>Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>Buku Gen Syiah</strong></p>
<p dir="LTR">Syi’ah secara dusta mengaku sebagai pecinta ahlul bait. Ucapan dan perbuatan mereka bertolak belakang dengan klaim mereka. Hal seperti ini tidaklah aneh atau asing pada diri anak cucu Majusi. Mereka telah berani menginjak-injak rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka telah menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam –semoga Allah melaknat mereka- mereka telah menghina istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjadi ibu-ibu bagi kaum mukminin. Mereka juga telah berani menginjak-injak imam pertama mereka yang diyakini ma’shum. Sifat mereka ini menjadi sempurna dengan menghinakan al-Hasan, al-Husain, Ali ibn al-Hasan dan para imam lainnya. Sebagaimana pula mereka telah menghina putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan yang utama adalah Fathimah az-Zahra’ Radhiallahu ‘Anha. Ini belum lagi dengan penghinaan mereka terhadap semua Nabi dan Rasul.<span id="more-1456"></span></p>
<p dir="LTR">Ash-Shadug di dalam kitab “al-Amal” meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu: “Seandainya aku tidak menyampaikan apa yang aku diperintah dengannya dari perkara wilayahmu (kepemimpinanmu) maka leburlah seluruh amalku.”<a title="" href="#_ftn1">1</a></p>
<p dir="LTR">Sepertinya Allah yang Maha Suci tidak mengutus Rasul-Nya yang mulia melainkan hanya untuk menyampaikan wilayah Ali. Orang-orang yang tidak tahu diri itu telah mengecilkan kedudukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam demi mewujudkan kepentingan dan tujuan mereka yang kotor. Ini semua mereka lakukan karena mustahil bagi mereka untuk mendatangkan bukti dan dalil tentang wilayah Ali Radhiallahu ‘Anhu.</p>
<p dir="LTR">Al-Bahrani menukil dari as-Syyid ar-Ridah dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata: “Saya keluar menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya dapati beliau sedang ruku’ dan sujud, beliau berdo’a, “………………………</p>
<p dir="LTR">“Ya Allah dengan (demi) kehormatan hamba-Mu Ali ampunilah orang-orang yang bermaksiat dari umatku.”<a title="" href="#_ftn2">2</a></p>
<p dir="LTR">Coba perhatikanlah kenistaan ini, yang dengannya mereka ingin menunjukkan keutamaan Ali Radhiallahu ‘Anhu di atas Rasul yang diutus sebagai rahmat untuk alam semesta dan yang menjadi sayyid bagi manusia dari awal hingga akhir, sayyid kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.</p>
<p dir="LTR">An-Nu’mani secara dusta meriwayatkan dari imam Muhammad al-Baqir ‘Alaihi Sallam, ia berkata: “Ketika imam Mahdi muncul ia didukung oleh para malaikat dan orang pertama yang membai’atnya adalah Muhammad ‘Alaihi Sallam kemudian Ali ‘Alaihi Sallam.” Syaikh ath-Thusi meriwayatkan dari imam ar-Ridha ‘Alaihi Sallam bahwa di antar tanda-tanda munculnya al-Mahdi adalah dia akan muncul dalam keadaan telanjang di depan bulatan matahari.”<a title="" href="#_ftn3">3</a></p>
<p dir="LTR">Perhatikan baik-baik pengakuan mereka tentang pembai’atan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian Ali Radhiallahu ‘Anhu kepada al-Mahdi yang diduga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah makhluk Allah yang terbaik, apakah beliau akan berbai’at kepada orang yang di bawahnya? Berbai’at kepada orang yang telanjang bulat tanpa sehelai benangpun? Kerendahan macam apa yang dialamatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini?</p>
<p dir="LTR">Perhatikan orang-orang Syi’ah yang “dungu” itu. Mereka menetapkan telanjangnya keturunan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia akan muncul di hadapan umat dalam keadaan telanjang! Apakah ini yang disebut sebagai penghormatan kepada ahlul bait? Ataukah ini justru menjadi penghinaan yang terang-terangan?!</p>
<p dir="LTR">Al-Qummi menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ada di Makkah tidak ada orang yang berani mengganggu beliau karena kedudukan Abu Thalib. Mereka memprovokasi anak-anak kecil untuk mengganggu beliau.</p>
<p dir="LTR">Jika beliau keluar anak-anak kecil itu melemparinya dengan batu dan kerikil (dan debu). Maka beliau mengadukan hal itu kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu.”<a title="" href="#_ftn4">4</a></p>
<p dir="LTR">Mereka meriwayatkan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mi’raj ke langit beliau melihat Ali Radhiallahu ‘Anhu dan anak-anaknya yang telah sampai di sana sebelum Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi mengucap salam kepada mereka. Padahal beliau telah berpisah dengan mereka di bumi.<a title="" href="#_ftn5">5</a></p>
<p dir="LTR">Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya: “Dengan bahasa apakah Rabb anda berbicara dengan anda pada waktu mi’raj?” Beliau menjawab: “Dia berbicara kepadaku dengan bahasa Ali ibn Abi Thalib, hingga saya berkata “Engkaukah yang sedang berbicara kepadaku ataukah Ali?!”<a title="" href="#_ftn6">6</a></p>
<p dir="LTR">Aku memohon ampun kepada-Mu ya Ilahi…….!!! Kita biarkan kebebasan para pembaca yang mulia untuk menginterpretasikan apa yang dimaksud dengan riwayat yang keji ini!!</p>
<p dir="LTR">Mereka begitu rajin mengikuti langkah-langkah penghinaan, dengan berbagai rupa bentuk dan ukuran, sampai mereka meragukan kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena tiga putrinya; Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqayyah. Hal ini terjadi ketika mereka menafikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bapak mereka. Mereka –semoga dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia semuanya-mengatakan bahwa “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melahirkan mereka, tetapi mereka adalah anak-anak tirinya.”</p>
<p dir="LTR">Muhsin al-Amin menambahkan: “Para sejarawan menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya memiliki empat putri, dan setelah meneliti teks-teks sejarah ternyata kita tidak mendapatkan bukti yang menetapkan adanya putri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain Fathimah az-Zahra’.”<a title="" href="#_ftn7">7</a></p>
<p dir="LTR">Apakah semisal mereka bisa disebut sebagai “pecinta ahlul bait”?!</p>
<p dir="LTR">Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak selamat dari kejahatan mereka, maka istri-istri beliaupun lebih tidak selamat. Bahkan telah keluar fatwa “kafir” bagi ibu-ibu kaum mukminin terutama Aisyah dan Hafshah Radhiallahu ‘Anha.<a title="" href="#_ftn8">8</a></p>
<p dir="LTR">Cukuplah mengisyaratkan kepada apa yang beredar di kalangan Syi’ah bahwa firman Allah  “Dan Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat” (at-Tahrim: 10). Al-Qummi pembesar Syi’ah dalam bidang tafsir (dusta) itu menyatakan :” Demi Allah yang dimaksud dengan pengkhianatan itu adalah zina. Artinya hendaklah menegakkan hukuman zina terhadap Fulanah yang telah melakukan zina dalam perjalanan ke Bashrah. Ada seorang laki-laki mencintainya, maka tatkala dia (Aisyah) hendak menuju Bashrah Fulan tadi berkata kepadanya: Kamu tidak halal pergi tanpa mahram. Maka dia mengawinkan dirinya dengan Fulan tersebut. <a title="" href="#_ftn9">9</a></p>
<p dir="LTR">Dan yang dimaksud dengan Fulan adalah Thalhah.</p>
<p dir="LTR">Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Aisyah Radhiallahu ‘Anha adalah ibu bagi kaum mukminin semata.</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana mereka menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, putri-putrinya dan istri-istrinya, mereka juga telah menghina imam mereka yang pertama Ali Radhiallahu ‘Anhu. (Menurut mereka), ketika mereka melukiskannya sebagai pengemis –wa al-‘iyadzu billah-. Telah disebutkan oleh Salim ibn Qais penulis buku Syi’ah pertama kali bahwa Ali telah menaikkan Fathimah di atas himar, dan ia menuntun al-Hasan dan al-Husain. Disebutkan bahwa Ali tidak meninggalkan satu sahabatpun melainkan ia telah mendatanginya di rumahnya untuk meminta haknya atas nama Allah.<a title="" href="#_ftn10">10</a></p>
<p dir="LTR">Lihatlah penghinaan yang luar biasa ini, penghinaan terhadap Ali yang menuntun kedua putranya dan putrinya yang menaiki himar. Mereka berjalan berkeliling mendatangi rumah-rumah sahabat untuk meminta belas kasih mereka!!</p>
<p dir="LTR">Apakah sifat seperti ini layak bagi kedudukan ahlul bait dan bagi seorang pemimpin dari pemimpin pemimpin kaum muslimin? Cerita, hikayat dan dongeng!</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana al-Kulaini meriwayatkan di dalam <em>al-Kafi</em> bahwa Fathimah tidak suka diperistri oleh Ali. Riwayat itu sebagai berikut: “Tatkala Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahkan Ali dengan Fathimah ‘Alaihi Sallam. Ali masuk menemui Fathimah yang ketika itu ia menangis. Maka Ali menanyakan: “Apa yang membuatmu menangis?! Demi Allah seandainya dalam keluargaku ada yang lebih baik dengannya, aku tidak akan menikahkan engkau dengannya, dan aku tidak akan menikahkannya akan tetapi Allah yang telah menikahkannya”.<a title="" href="#_ftn11">11</a></p>
<p dir="LTR">Hingga imam mereka yang pertama dihina dan diturunkan derajatnya seperti ini?!</p>
<p dir="LTR">Di mana “cinta” yang selama ini diumbar……dimana ia bersembunyi?</p>
<p dir="LTR">Disebutkan oleh al-Ashfahani dari Ibn Abu Ishaq bahwa ia berkata: “Aku dimasukkan oleh ayahku ke dalam masjid pada hari Jum’at. Ia mengangkatku maka aku melihat Ali berkhutbah di atas mimbar, dia adalah orang tua yang botak, menonjol dahinya, bidang dadanya (lebar jarak antara dua pundaknya), jenggotnya memenuhi dadanya dan lemah matanya.”<a title="" href="#_ftn12">12</a></p>
<p dir="LTR">Sebagaimana mereka meyakini bahwa Ali adalah hewan bumi. Ja’far berkata “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi amirul mukminin ketika ia tidur di masjid dan berbantal tumpukan kerikil yang ia kumpulkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengerak-gerakkannya (menggugahnya) dengan kakinya kemudian mengatakan: “Bangunlah wahai “hewan Allah”. Maka seorang sahabatnya bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah sebagian kita boleh menyebut sebagian yang lain dengan nama ini?” beliau bersabda: “Tidak. Demi Allah. Nama tadi khusus untuknya”<a title="" href="#_ftn13">13</a>.</p>
<p dir="LTR">Inilah imam pertama mereka yang mereka katakan bahwa ia akan menjadi “Dabbah” (hewan melata)!</p>
<p dir="LTR">Betapa khawatirnya kita jika yang dimaksud adalah Ali Radhiallahu ‘Anhu akan menjadi hewan tunggangan bagi al-Mahdi ciptaan Syi’ah………..<em>hasbunallah</em>!!</p>
<p dir="LTR">Merekapun telah menghina paman Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abbas dan putranya Abdullah dan juga ‘Aqil ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Diriwayatkan oleh al-Kulaini bahwa Sudair bertanya kepada imam Muhammad al-Baqir: “Di manakah kecemburuan (ghirah) Bani Hasyim, kekuatan (syaukah) dan bilangan mereka yang banyak itu setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika dikalahkan oleh Abu Bakar, Umar dan orang-orang munafik lainnya?” Imam Muhammad al-Baqir berkata: “Siapa yang masih tersisa dari Bani Hasyim? Ja’far dan Hamzah yang menjadi bagian “as-Sabiqun al-Awwalun” dan “al-Mukminun al-Kamilun” telah meninggal dunia. Sementara dua orang yang lemah keyakinannya, yang hina jiwanya dan yang baru kenal <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> itulah yang tersisa, Abbas dan ‘Aqil.”<a title="" href="#_ftn14">14</a></p>
<p dir="LTR">Sebagaimana Syi’ah telah menuduh Ibn ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhu mencuri dari baitul mal di Bashrah sewaktu pemerintahan Ali Radhiallahu ‘Anhu. Mereka mengklaim bahwa Ali naik mimbar dan berkhutbah ketika mendengar kabar, dia menangis dan berkata: “Ini adalah putra paman Rasulullah, dia dalam ilmu dan kedudukannya melakukan hal seperti ini…. Bagaimana bisa dipercaya orang-orang yang berada dibawah tingkatannya…. Ya Allah aku telah bosan dengan mereka, tenangkan aku dari mereka… dan cabutlah aku kepada-Mu bukan sebagai orang yang lemah.”<a title="" href="#_ftn15">15</a></p>
<p dir="LTR">Al-Majlisi telah menyebutkan dalam bahasa Persia yang artinya: “Muhammad al-Baqir meriwayatkan dari imam Zainal Abidin ‘Alaihi Sallam dengan sanad yang dapat diandalkan bahwa ayat ini “Barang siapa di dunia ini buta maka di akhirat dia (juga) buta dan lebih sesat jalannya (QS. Al-Isra’: 72) turun pada diri Abdullah ibn Abbas dan bapaknya.”</p>
<p dir="LTR">Inilah penghinaan Syi’ah terhadap paman Nabi, Abbas dan ‘Aqil dengan kelemahan, kehinaan dan pengecut serta tidak sempurna imannya. Begitu pula penghinaan terhadap Abbas dan putranya Habr al-Ummah Abdullah ibn Abbas Radhiallahu ‘Anhu. Adapun ayat tadi telah diturunkan tentang perihal orang-orang kafir……..Akan tetapi masalahnya bukan untuk orang yang melihat melainkan untuk orang yang memiliki!</p>
<p dir="LTR">Mereka juga telah menghina al-Hasan dengan ucapan yang sangat menyakitkan. Mereka berkata tentangnya: “Wahai orang yang menghinakan kaum mukminin”.<a title="" href="#_ftn16">16</a></p>
<p dir="LTR">Begitu juga mereka telah menghina Ali Zainal Abidin imam keempat yang ma’shum bagi mereka, mereka menuduhnya sebagai ornag yang pengecut dan budak. Telah disebutkan dalam al-Kafi bahwa putra Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir berkata: “Sesungguhnya Yazid ibn Mu’awiyah memasuki Madinah ingin menunaikan haji. Dia mengutus kepada seorang Quraisy. Setelah ia datang dia menanyainya, “Apakah engkau mengakui bahwa engkau adalah budakku, jika aku mau aku menjualmu dan jika aku mau aku menjadikan kamu budak?” Orang itu menjawab: “Demi Allah! Wahai Yazid hasabmu (kebaikanmu dan keluargamu) tidak lebih mulia dariku di kalangan Quraisy, ayahmu juga tidak lebih utama dari ayahku, waktu jahiliyah ataupun waktu Islam dan engkau juga tidak lebih mulia dan tidak lebih baik dariku dalam agama ini. Bagaiman aku mengakui permintaanmu?” Maka Yazid berkata: “Jika kamu tidak menyukainya, Demi Allah aku pasti membunuhmu.&#8221;”Orang tadi menjawab: “Pembunuhan terhadapku olehmu tidak seagung pembunuhanmu terhadap al-Husain ibn Ali ‘Alaihi Sallam, putra Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka dia memerintahkan untuk membunuhnya. Dan terbunuhlah dia.</p>
<p dir="LTR">Kemudian dia mengutus kepada Ali ibn al-Husain ‘Alaihi Sallam, kemudian ia mengatakan kepadanya apa yang telah dikatakan kepada seorang Quraisy di atas. Maka Ali ibn al-Husain bertanya: “Bagaimana seandainya aku tidak mau mengakui apakah engkau akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh orang yang kemarin?” Yazid berkata: “Allah melaknatinya, ya.” Maka Ali ibn al-Husain (Ali Zainal Abidin) ‘Alaihi Sallam berkata: “Aku mengakui apa yang engkau minta. Aku adalah hamba yang dipaksa, jika kamu mau pertahankanlah aku dan jika kamu mau juallah aku.”<a title="" href="#_ftn17">17</a></p>
<p dir="LTR">Mereka menjadikan imam mereka yang tidak lain adalah cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mau mengakui dirinya sebagai budak yang dijual belikan!</p>
<p dir="LTR">Kami tidak habis pikir, bukankah orang-orang Majusi saja telah memiliki prinsip “Hidup mulia atau mati mulia”.</p>
<p dir="LTR">Kalian benar-benar telah menghina ahlul bait secara habis-habisan hingga merampas harga diri dan kemuliaan!</p>
<p dir="LTR">Adapun Muhammad al-Baqir imam kelima yang ma’shum bagi mereka, juga telah merasakan sengatan orang-orang Syi’ah. Zurarah ibn A’yun menjulukinya sebagai: “Orang tua yang tidak mengerti ilmu permusuhan”.<a title="" href="#_ftn18">18</a></p>
<p dir="LTR">Dia juga berkata: “Allah merahmati Abu Ja’afar, sesungguhnya di dalam hatiku ada unsur berpaling dari padanya.”<a title="" href="#_ftn19">19</a></p>
<p dir="LTR">Dia juga berkata: “Sahabat kamu juga tidak memiliki pengetahuan tentang ucapan para tokoh (orang-orang besar).”<a title="" href="#_ftn20">20</a></p>
<p dir="LTR">Mereka juga menjuluki Ja’far, imam yang keenam sebagai “bermuka ganda”. Pernah ia memuji Abu Hanifah di hadapan Muhammad ibn Muslim, setelah ia keluar Ja’far mencelanya. Hal ini diriwaytkan oleh al-Kulaini dalam kisah yang panjang.</p>
<p dir="LTR">Mereka menasabkannya kepada Ja’far bahwa ia berkata: “Sesungguhnya aku berbicara di atas 70 wajah, di dalam semuanya ada jalan keluar bagiku.”<a title="" href="#_ftn21">21</a></p>
<p dir="LTR">Ahli hadits mereka, Muhammad al-Baqir al-Majlisi dalam kitan Jala’ al-‘Uyun menyebutkan: “Dari kakekku dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Jika dilahirkan Ja’far ibn Muhammad ibn Ali ibn al-Husian maka julukilah “shadiq”, karena jika lahir anak kelima dari anak-anaknya (ash-Shadiq) yang bernama Ja’far dan mengaku sebagai imam secara dusta dan membuat kebohongan atas nama Allah, dia di sisi Allah adalah Ja’far al-kadz-dzab.”<a title="" href="#_ftn22">22</a></p>
<p dir="LTR">Yang mereka maksud dengan Ja’far al-kadz-dzab adalah putra imam yang suci salah satu imam ma’shum bagi Syi’ah. Ja’far al-kadz-dzab berdasarkan klaim mereka adalah saudara kandung imam ghaib, Muhammad al-Hasan al-‘Ashari (al-Mahdi, imam kedua belas).</p>
<p dir="LTR">Sebagaimana mereka berkata tentangnya: “Dia pelaku maksiat secara terang-terangan, fasik, rusak, pemabuk berat, tokoh paling rendah yang pernah aku lihat dan yang paling menghina diri sendiri, tak bernilai dan tak berharga!”<a title="" href="#_ftn23">23</a></p>
<p dir="LTR">Setelah ini semua apakah Syi’ah pecinta ahlul bait?!</p>
<p dir="LTR">Sesungguhnya ahlul bait lebih mulia dan lebih suci dari pada bangkai-bangkai seperti mereka itu! Yang anjingpun tidak akan sudi mengendusnya!!</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">1</a> <em>Tafsir Nur ats-Tsaqalain</em>. Jilid I. Hal 654.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">2</a> <em>Al-Burhan fi Tafsir al-Qur’an</em>. Jilid Iv. Hal 226.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">3</a> <em>Al-Kafi fi al-Ushaul</em>. Jilid I. Hal 504</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref4">4</a> Tafsir al-Burhan. Jilid II. Hal 404.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref5">5</a> <em>Ibid</em>.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref6">6</a> <em>Kasyf al-Ghummah</em>. Jilid I. Hal 106.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref7"> <em>Dairah al-Ma’arif al-Islamiyah asy-Syi’iyyah</em>. Jilid I. Hal 27. Dar al-Ma’arif. Beirut; Kasyf al-Ghitha’. Ja’far an-Najefi. Hal 5..</a></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref8">8</a> <em>Bihar</em><em> al-Anwar</em>. Jilid XXII. Hal 227-247.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref9">9</a> <em>Ibid</em>. hal 240-245; <em>Tafsir al-Qummi</em>. Jilid II. Hal 344.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref10">10</a> <em>Kitab Salim ibn Qais</em>. Hal 82-83.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref11">11</a> <em>Al-Furu’ min al-Kafi</em>.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref12">12</a> <em>Maqatil ath-Thalibin</em>. Hal 27-48.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref13">13</a> <em>Bihar</em><em> al-Anwar. Jilid</em> XIII. Hal 213.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref14">14</a> <em>Hayat al-Qulub</em>. Jilid II. Hal 846; <em>Furu’ al-Kafi</em>. Jilid III, kitab <em>ar-Rawdhah</em>.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref15">15</a> <em>Rijal al-Kasy-syi : 57</em></p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref16">16</a> <em>Rijal al-Kasysyi</em>. Hal 111.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref17">17</a> <em>Ar-Rawdhah min al-Kafi</em>. Jilid VIII. Hal 234-235.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref18">18</a> <em>Al-Kafi fi al-Ushul</em>.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref19">19</a> <em>Rijal al-Kasysyi</em>. Hal 152. Biografi Abu Bashir.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref20">20</a> <em>Ibid</em>. hal 133.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref21">21</a> <em>Bashair ad-Darajat</em>. Jilid III.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref22">22</a> <em>Jala’ al-‘Uyun. Al-Majlisi</em>. Hal 348.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref23">23</a> <em>Ibid</em>.</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/hukum-mendustakan-nabi-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Hukum mendustakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam'>Hukum mendustakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/putri-putri-manusia-terbaik-muhammad-rasululloh-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam'>Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/syiah-menghina-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-ahlul-bait.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasus Tanah Fadak</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/kasus-tanah-fadak.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/kasus-tanah-fadak.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 01:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[gen syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, Syi’ah telah menciptakan kisah-kisah fiktif berdasarkan kekuatan imajinatif mereka yang keruh. Mereka ciptakan kasus fadak[1] untuk mempengaruhi orang-orang bodoh di sekitar mereka. Dan untuk memberi gambaran bahwa ahlul bait dan Abu Bakar serta khulafa’ rasyidin sesudahnya tidak berada dalam satu kesatuan dan keharmonisan dan mereka di atas perbedaan yang berkepanjangan. Untuk tujuan ini [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bantuan-abu-bakar-umar-dan-utsman-kepada-ali-ketika-menikah-dengan-fathimah.html' rel='bookmark' title='Bantuan Abu Bakar, Umar, dan Utsman Kepada Ali Ketika Menikah Dengan Fathimah'>Bantuan Abu Bakar, Umar, dan Utsman Kepada Ali Ketika Menikah Dengan Fathimah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/nama-nama-yang-dicintai-oleh-imam-ali-dan-putra-putranya.html' rel='bookmark' title='Nama-nama yang dicintai oleh Imam Ali dan Putra-putranya'>Nama-nama yang dicintai oleh Imam Ali dan Putra-putranya</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/putri-putri-manusia-terbaik-muhammad-rasululloh-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam'>Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasa, Syi’ah telah menciptakan kisah-kisah fiktif berdasarkan kekuatan imajinatif mereka yang keruh. Mereka ciptakan kasus fadak<a href="#_ftn1">[1]</a> untuk mempengaruhi orang-orang bodoh di sekitar mereka. Dan untuk memberi gambaran bahwa ahlul bait dan Abu Bakar serta khulafa’ rasyidin sesudahnya tidak berada dalam satu kesatuan dan keharmonisan dan mereka di atas perbedaan yang berkepanjangan. Untuk tujuan ini Syi’ah telah memainkan peran, menggerakkan pena-pena mereka dan lisan-lisan mereka dengan tinta celaan dan cercaan, pemfasikan dan pentakfiran serta kemurtadan untuk Abu Bakar, Umar dan seluruh sahabat Radhiallahu ‘Anhu.<span id="more-1334"></span></p>
<p>Di antara sekian banyak dongeng ciptaan mereka adalah kasus fadak yang akan kami turunkan laporannya langsung dari sumber-sumber mereka. Setelah itu kita persilahkan pembaca yang mulia untuk menilai dan menghukumi bahwa begitu rendah dan bodoh mereka itu.</p>
<p>Ibn al-Maitsam asy-Syi’i meriwayatkan di dalam syarah Nahj al-Balaghah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika wafat dan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dibai’at sebagai khalifatur-rasul dalam memimpin orang-orang mukmin, Fathimah putri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  mengirim kepadanya hak waris yang harus diterima oleh Fathimah dari harta Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  yang telah diberikan Allah kepadanya yang berupa tanah fadak. Maka Abu Bakar menjawabnya bahwa Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda: “Kami (para Nabi) tidak mewariskan harta, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah. Sesungguhnya keluarga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  makan dari harta ini yakni harta Allah.” Demi Allah saya tidak akan merubah sedikitpun dari shadaqah-shadaqah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  yang sudah ada di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Dan saya benar-benar akan melaksanakannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  melaksanakannya.” Dia berkata: “Demi Zat yang jiwaku ada ditangan-Nya sungguh kerabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  lebih saya cintai dari pada saya menyambung kerabat saya.”</p>
<p>Maka Fathimah merelakan putusan Abu Bakar itu, dia tidak berbicara tentangnya hingga wafat. Hal ini telah diriwayatkan oleh sebagian kitab Syi’ah, antara lain Ibn al-Maitsam dalam Syarah Nahj al-Balghah. Dia menyebutkan bahwa Abu Bakar berkata kepadanya: “Sesungguhnya engakau memiliki hak seperti hak ayahmu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  mengambil kebutuhan pokok kalian dari Fadak, sedangkan sisanya dibagi di jalan Allah. Dan atas Allah Engkau akan aku perlakukan sebagaimana Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  berbuat”. Maka Fathimah ridha dengan putusan itu dan mengambil janji dari Abu Bakar.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Senada dengan yang di atas disebutkan oleh ad-Danbali di dalam syarahnya.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Akan tetapi, Syi’ah sebagaimana biasanya selalu menghadirkan kebohongan dan ini telah menjadi karakter mereka. Mereka tidak pernah merasa tenang dan tentram kecuali dengan memecah belah para sahabat. Kasus fadak ini mereka jadikan sebagai salah satu pintu masuk untuk mempengaruhi orang-orang yang tidak mengerti apa-apa. Mereka telah berbaju dengan baju setan, merajut kebohongan demi kebohongan sampai mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur.</p>
<p>Al-Majlisai asy-Syi’i yang jahat itu mengatakan: “Sesungguhnya termasuk musibah yang teramat besar adalah Abu Bakar dan Umar telah mengghasab (mengambil secara zalim) tanah fadak dari tangan ahlul bait……sesungguhnya musibah yang agung itu adalah ketika Abu Bakar mengghasab khilafah dari amirul mukminin, dan mengambil bai’at Muhajirin dan Anshar secara paksa. Kemudian ketamakannya terhadap Fadak telah membuat hukumnya keras, karena ia khawatir jika Fadak jatuh ke tangan ahlul bait maka orang-orang akan cenderung kepada mereka karena harta, dan meninggalkan orang-orang zalim tersebut. Maka dia ingin membuat mereka (ahlul bait) miskin tidak memiliki apa-apa. Sehingga tidak diminati oleh orang-orang karena itu mereka membuat riwayat palsu yang sangat keji, “Kami kelompok para Nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Sungguh, alangkah jahatnya pendukung kesesatan ini!….mereka dan dusta adalah saudara kembar yang tidak akan mungkin terpisah!!</p>
<p>Mereka mendustakan ahlu sunnah dan menuduh bahwa Abu Bakar dan Umarlah yang telah memalsu hadits atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Perlu diketahui hadits di atas “Kami para Nabi tidak mewariskan” benar-benar telah datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  dan disebut di dalam kutub shahih milik umat <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>. Perawinya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad, Abdur-Rahman ibn ‘Auf, al-Abbas ibn Abdul Muththalib dan istri-istri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  di samping Abu Bakar.</p>
<p>Mereka mengira bahwa Abu Bakar dan Umar telah memalsukan hadits , tetapi mereka lupa bahwa imam mereka yang ma’shum yang kelima Muhammad al-Baqir telah meriwayatkan dari bapak-bapaknya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Hal ini ada dalam kitab al-Kafi, kitab yang paling shahih setelah al-Qur’an menurut mereka. Mereka mengatakan: al-Kafi adalah <em>kafin</em> (cukup) bagi Syi’ah. Al-Kulaini meriwayatkan dari Hammad ibn Isa dari al-Qaddah dari Abu Abdillah as ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda: “Barang siapa meniti satu jalan menempuh sebuah ilmu maka Allah membimbingnya ke surga……keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan rembulan atas bintang-bintang di malam lailatul qadar. Sesungguhnya ulama adalah para pewaris anbiya’, mereka tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil dari padanya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dalam riwayat lain dari Ja’far Abu Abdillah: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Anbiya’. Hal itu karena para Nabi tidak mewariskan dirham ataupun dinar melainkan mewariskan hadits-hadits dari hadits-hadits mereka.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ini adalah dari kitab kalian, bagaimana tanggapanmu?</p>
<p>Apakah sudah buta matamu sebagimana telah buta hatimu?!</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah mengomentari hadits ini dengan mengatakan: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melindungi para Nabi dengan tidak mewariskan dunia, supaya tidak ada syubhat bagi orang yang ingin menjelekkan kenabian mereka. Supaya tidak dikatakan para Nabi adalah pencari dunia lalu mereka wariskan kepada para ahli warisnya.”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Yang lebih mengherankan lagi adalah, Fathimah bukan satu-satunya ahli waris Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Abbas paman Nabi juga termasuk ahli warisnya, akan tetapi tidak pernah kita mendengar dari Syi’ah kecuali Fathimah Radhiallahu ‘Anha. Bahkan dua putri Abu Bakar dan Umar juga telah menghalangi anak-anaknya dari warisan.</p>
<p>Supaya semakin jelas bahwa mereka tidak berbicara melainkan hanya bualan, karangan dan tipuan, dan ini adalah inti mazhab mereka, kita sebutkan bahwa dalam mazhab mereka disebutkan “Wanita itu tidak mewarisi gedung-gedung dan tanah.” Al-Kulaini menyebut bab khusus dengan judul “Wanita tidak mewarisi sedikitpun dari gedung dan tanah”. Dia telah menyebutkan banyak riwayat, di antaranya riwayat Abu Ja’far imam keempat yang ma’shum –bagi mereka- bersabda: “Sesungguhnya para wanita tidak mewarisi sedikitpun (apapun) dari tanah dan gedung.”</p>
<p>Ash-Shadug ibn Babawaih dalam shahihnya “<em>Man la Yahdhuruhu al-Faqih</em>” meriwaytakan dari Abu Abdillah Ja’far imam kelima yang ma’shum bagi mereka sesungguhnya Muyassar berkata: “Saya bertanya kepada Ja’far tentang para wanita, mengenai hak warisnya, beliau bersabda “Adapun tanah dan gedung maka tidak ada hak waris di dalamnya bagi mereka.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Jika wanita tidak mewarisi tanah dengan gedung lalu bagaimana Fathimah Radhiallahu ‘Anha bisa mewarisi Fadak?</p>
<p>Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai kini kita tetap berhujjah atas mereka dengan kitab-kitab mereka dan sabda-sabda para imam mereka.</p>
<p>Supaya lebih jelas lagi, saudara al-Baqir Zaid ibn al-Husain telah bersaksi atas kesesatan Syi’ah dan fitnah mereka terhadap Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu. Dia telah berkata tentang kasus fadak: “Demi Allah seandainya urusan itu kembali ke tanganku pasti aku menghukuminya dengan hukum Abu Bakar.”<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Abu Ja’far Muhammad al-Baqir ditanya tentang hal tersebut oleh seseorang dari mereka: “Allah menjadikan kau sebagai tebusan anda. Bagaimana pendapat anda apakah Abu Bakar dan Umar telah menzalimi hak anda? Atau apakah mereka berdua telah merampas sesuatu dari hak anda? Beliau menjawab, “Tidak Demi Zat yang menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya yang menjadi pemberi peringatan. Keduanya tidak menzalimi kami sedikitpun sekalipun itu seberat satu biji Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Saya bertanya: “Aku menjadi tebusan anda, apakah aku boleh loyal kepada keduanya? Dia berkata, “Ya tentu. Loyallah kepada keduanya di dunia dan di akhirat. Dan apa saja yang menimpamu maka ada dalam tanggunganku.”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Jika demikian, maka apakah yang akan engkau katakan wahai Rafidhi, yang menolak agama Allah!</p>
<p>Itu tadi adalah pandangan ahlul bait tentang kasus fadak. Dan semuanya berasal dari kitab kalian sendiri.</p>
<p>Apakah setelah ini kalian masih mengaku memiliki hujjah dan bukti yang kuat?!</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Fadak adalah nama desa di Khaibar, ada yang mengatakan di salah satu sudut Hijaz. Di sana ada kebun kurma, yang telah dianugerahkan oleh Allah untuk Nabi-Nya secara murni, sebab kaum muslimin tidak mengerahkan pasukan ke sana.(Ibn Hisyam 2/337, 353 ; lisan al-Arab 10/473).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Syarh Nahj al-Balaghah</em>. Jilid V. hal 107.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ad-Dunnah an-Najifiyah</em>. Hal 331-332. Cet. Iran.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Haqq al-Yaqin</em>. Hal 191.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Al-Ushul min al-Kafi</em>. Jilid I. Hal 34.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Ibid</em>. hal 32.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Minhaj as-Sunnah</em>. Jilid IV. Hal 195.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Al-Furu’ min al-Kafi</em>. Kitab al-Faraidh wa al-Mirats. Jilid IV. Hal 347.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> <em>Syarh Nahj al-Balaghah</em>. Ibn Abi al-Hadid. Jilid IV. Hal 82.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> <em>Ibid</em>.</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bantuan-abu-bakar-umar-dan-utsman-kepada-ali-ketika-menikah-dengan-fathimah.html' rel='bookmark' title='Bantuan Abu Bakar, Umar, dan Utsman Kepada Ali Ketika Menikah Dengan Fathimah'>Bantuan Abu Bakar, Umar, dan Utsman Kepada Ali Ketika Menikah Dengan Fathimah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/nama-nama-yang-dicintai-oleh-imam-ali-dan-putra-putranya.html' rel='bookmark' title='Nama-nama yang dicintai oleh Imam Ali dan Putra-putranya'>Nama-nama yang dicintai oleh Imam Ali dan Putra-putranya</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/putri-putri-manusia-terbaik-muhammad-rasululloh-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam'>Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/kasus-tanah-fadak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bantuan Abu Bakar, Umar, dan Utsman Kepada Ali Ketika Menikah Dengan Fathimah</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/bantuan-abu-bakar-umar-dan-utsman-kepada-ali-ketika-menikah-dengan-fathimah.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/bantuan-abu-bakar-umar-dan-utsman-kepada-ali-ketika-menikah-dengan-fathimah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 03:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[gen syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1331</guid>
		<description><![CDATA[BANTUAN ABU BAKAR, UMAR DAN UTSMAN KEPADA ALI KETIKA MENIKAH DENGAN FATHIMAH Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saling mencintai karena Allah dan dalam urusan Allah. Seorang di antara mereka senantiasa berpikir tentang kebutuhan saudaranya. Memenuhi hak dan menolong adalah sifat mereka. Akan tetapi Rafidhah tidak pernah merasa tenang melainkan dengan merusak dan mengeruhkan suasana [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-utsman-radhiallahu-%e2%80%98anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-umar-radhiallahu-anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/baiat-ali-radhiallahu-anhu-kepada-utsman-radhiallahu-anhu.html' rel='bookmark' title='Bai&#8217;at Ali Radhiallahu &#8216;Anhu kepada Utsman Radhiallahu &#8216;Anhu'>Bai&#8217;at Ali Radhiallahu &#8216;Anhu kepada Utsman Radhiallahu &#8216;Anhu</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANTUAN ABU BAKAR, UMAR DAN UTSMAN KEPADA ALI KETIKA MENIKAH DENGAN FATHIMAH</strong></p>
<p>Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saling mencintai karena Allah dan dalam urusan Allah. Seorang di antara mereka senantiasa berpikir tentang kebutuhan saudaranya. Memenuhi hak dan menolong adalah sifat mereka. Akan tetapi Rafidhah tidak pernah merasa tenang melainkan dengan merusak dan mengeruhkan suasana persaudaraan yang indah di antara mereka.<span id="more-1331"></span></p>
<p>Rasa cinta dan bersih hati begitu lekat dengan para sahabat Radhiallahu ‘Anhu, sehingga mereka menjadi perumpamaan yang sangat elok dan abadi. Sebut saja misalnya ketika Abu Bakar, Umar dan Utsman mereka bersama-sama membantu Ali Radhiallahu ‘Anhu dalam kesuksesan pernikahannya dengan Fathimah Radhiallahu ‘Anha. Kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa kitab-kitab Syi’ah telah mendokumentasikan fakta sejarah yang menakjubkan ini.</p>
<p>Al-Majlisi, juru bicara Syi’ah dalam soal cela mencela ini ternyata telah menguatkan hal tersebut. Dia meriwayatkan bahwa Abu Bakar bekata kepada Umar dan Sa’ad: “Ayo, mari kita pergi ke Ali ibn Abi Thalib untuk mendorongnya dan memaksanya agar meminta hal tersebut dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yakni menikahi Fathimah), jika dia enggan karena fakirnya kita membantunya untuk itu”. Sa’ad menjawab: “Hebat sekali yang engaku pikirkan”. Akhirnya mereka pergi ke rumah amirul mukminin ‘Alaihi Sallam…..tatkala mereka sampai, dia bertanya: “Apa gerangan yang membuat kalian datang kemari pada saat seperti ini”. Abu Bakar menejelaskan: “Wahai Abu Hasan, tidak ada perkara kebaikan melainkan engkau telah mendahuluinya.….lalu apakah kiranya yang menghalangimu untuk meminta dari Rasullulah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam putrinya yang bernama Fathimah?” Ketika Ali mendengar ucapan itu dari Abu Bakar air matanya berderai dan membasahi pipinya. Dia berkata: “Engkau telah merobek lukaku, engkau telah mengingatkan dan mengobarkan angan-angan dan mimpiku yang telah lama aku sembunyikan. Siapa orang yang tidak ingin mempersuntingnya? Tetapi langkahku tertahan karena kefakiranku, aku merasa malu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika aku mengucapkannya sementara keadaanku seperti ini?”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Maka Abu Bakar dan Umar mengupayakan pernikahannya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyetujui perkawinan ini. Di sini Utsman tidak mau ketinggalan, ia ingin ikut berperan dalam pernikahan ini karena mereka semua adalah bersaudara yang saling mencintai dan mengasihi. Ali menceritakan peristiwanya sendiri: “Ketika aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminang Fathimah beliau berkata, “Juallah baju besimu dan bawalah kemari uangnya, supaya aku bisa menyiapkan untukmu dan untuk putriku Fathimah apa yang membuat kalian bahagia.” Ali berkata: “Aku ambil baju besiku, aku bawa ke pasar dan aku menjualnya dengan harga 400 dirham hajariyah yang hitam kepada Utsman ibn Affan. Setelah uangnya aku pegang dan baju besiku dipegang olehnya dia berkata, “Hai Abul Hasan! Bukankah sekarang aku lebih berhak dengan baju besi ini dari pada dirimu dan engkau lebih berhak dengan uang itu dari pada diriku?” Aku berkata: Ya. Dia berkata, “Sesungguhnya baju besi ini hadiah dariku untukmu.” Lalu aku ambil baju dan uangnya, langsung menuju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sesampainya di sana aku letakkan baju dan uangnya di hadapan beliau, lalu aku ceritakan kebaikan Utsman, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendo’akannya dengan kebaikan”.<a href="#_ftn2">[2]</a> Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima uang dirham itu dengan kedua tangannya dan diberikannya kepada Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dengan mengatakan: “Belikan untuk Fathimah apa yang membuatnya baik, dari pakaian dan perabotan rumah.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyertakan Ammar ibn Yasir dan beberapa sahabatnya untuk menemani Abu Bakar. Di pasar mereka menawar hal-hal yang bagus dan mereka tidak membelinya melainkan setelah menyodorkannya kepada Abu Bakar dan Abu Bakar menganggapnya bagus….setelah pembelian selesai, Abu Bakar membawa sebagian barang dan sisanya dibawa oleh para sahabat lain yang bersamanya”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Bahkan tidak berhenti sampai di sini. Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiallahu ‘Anhu menjadi saksi dalam pernikahan yang diberkahi ini. Anas Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Saya berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian beliau didatangi wahyu, setelah beliau selesai menerima wahyu beliau berkata kepadaku, “Ya Anas! Apakah engkau mengerti apa yang dibawa kepadaku oleh Jibril ‘Alaihi Sallam dari Pemilik Arsy?” Saya berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Saya diperintahkan untuk menikahkan Fathimah dengan Ali. Pergilah dan panggillah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair dan sebanyak bilangan mereka dari kaum Anshar.”</p>
<p>Anas berkata: “Maka saya berangkat mengundang mereka untuk Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tatkala mereka duduk di majlis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata –setelah bertahmid kepada Allah- : “Kemudian sesungguhnya aku mempersaksikan kepada kalian bahwa aku telah mengawinkan Fathimah dengan Ali dengan mahar 400 dirham, satu mitsqal perak”<span style="text-decoration: underline;">.<a href="#_ftn4"><span style="text-decoration: underline;">[4]</span></a></span></p>
<p>Apakah kiranya yang akan diucapkan oleh mereka?</p>
<p>Sepertinya kita tidak mendengar suara kalian sama sekali!</p>
<p>Kemudian inilah kalian telah mengakui bahwa pernikahan Fathimah dengan Ali adalah dengan berdasarkan dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah telah memilih Ali untuk Fathimah, yang dia itu putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu bagaimana dengan Nabi sendiri yang diutus oleh Allah, bukankah Allah yang telah memilihkan untuknya istri-istrinya?</p>
<p>Bagaiamana kalian mengakui adanya perintah Allah dalam pernikahan Ali dengan Fathimah sementara kalian mengingkari pernikahan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan putri Abu Bakar, Aisyah Radhiallahu ‘Anha. Padahal hal itu adalah perintah dan pilihan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala!</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, sehingga mereka berusaha mengubah apa yang ada pada mereka.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Jala’ al-‘Uyun</em>. Jilid I. Hal 169. Cet Kitab Furusyi <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>iyah. Teheran.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Al-Man</em>aqib. Al-Khawarizmi. Hal 235-252. Cet Najef; Kasyf al-Ghummah. Jilid I. Hal 359; Bihar al-Anwar. Hal 39, 40. Cet <em>Teheran.</em></p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Al-Amali. Jilid I. Hal 39; Al-Manaqib.</em> Al-Mazindani. Jilid II. Hal 20. Cet India; <em>Jala’ al-‘Uyun</em>. Jilid I. Hal 176.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Kasyf al-Ghummah. Jild I. Hal 348. Cet. Tibriz; <em>Bihar al-Anwar</em>. Jilid I. Hal 47-48.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-utsman-radhiallahu-%e2%80%98anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-umar-radhiallahu-anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/baiat-ali-radhiallahu-anhu-kepada-utsman-radhiallahu-anhu.html' rel='bookmark' title='Bai&#8217;at Ali Radhiallahu &#8216;Anhu kepada Utsman Radhiallahu &#8216;Anhu'>Bai&#8217;at Ali Radhiallahu &#8216;Anhu kepada Utsman Radhiallahu &#8216;Anhu</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/bantuan-abu-bakar-umar-dan-utsman-kepada-ali-ketika-menikah-dengan-fathimah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bai&#8217;at Ali Radhiallahu &#8216;Anhu kepada Utsman Radhiallahu &#8216;Anhu</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/baiat-ali-radhiallahu-anhu-kepada-utsman-radhiallahu-anhu.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/baiat-ali-radhiallahu-anhu-kepada-utsman-radhiallahu-anhu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 07:06:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gen Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[gen syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1328</guid>
		<description><![CDATA[Mamduh Farhan Buhairi Ali Radhiallahu ‘Anhu telah membai’at Utsman dan menetapkan kekhalifahannya, berbeda dengan apa yang disuarakan oleh anak cucu Majusi. Dalam salah satu khutbahnya Ali Radhiallahu ‘Anhu membantah Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu. Dia berkata: “Sesungguhnya “syura” adalah milik Muhajirin dan Anshar, jika mereka telah bersepakat memilih seseorang dan menyebutnya sebagai imam maka Allah meridhainya. Jika [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-utsman-radhiallahu-%e2%80%98anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-umar-radhiallahu-anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/aisyah-radhiallahu-anha-ibunda-kaum-mukminin.html' rel='bookmark' title='Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah'>Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Mamduh Farhan Buhairi</p>
<p>Ali Radhiallahu ‘Anhu telah membai’at Utsman dan menetapkan kekhalifahannya, berbeda dengan apa yang disuarakan oleh anak cucu Majusi. Dalam salah satu khutbahnya Ali Radhiallahu ‘Anhu membantah Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu. Dia berkata: “Sesungguhnya “syura” adalah milik Muhajirin dan Anshar, jika mereka telah bersepakat memilih seseorang dan menyebutnya sebagai imam maka Allah meridhainya. Jika dia keluar dari perkara mereka, keluar dengan karena celaan atau bid’ah maka mereka mengembalikannya dari yang menyebabkan ia keluar. Jika dia menolak maka mereka memeranginya karena telah mengikuti langkah yang bukan langkahnya kaum mukminin, dan Allah menyerahkannya kepada arah yang ia kehendaki”.<a href="#_ftn1">[1]<span id="more-1328"></span></a></p>
<p>Ali Radhiallahu ‘Anhu adalah satu di antara enam orang yang ditunjuk oleh Umar al-Faruq untuk memilih satu di antara enam orang itu sebagai khlifah kaum muslimin. Dan hasil musyawarah menentukan Utsman, maka yang pertama kali membai’at adalah Abdur-Rahman ibn ‘Auf kemudian Ali Radhiallahu ‘Anhu.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Ali Radhiallahu ‘Anhu mengatakan: “Ketika Umar al-Faruq ditikam ia menunjukku sebagai orang keenam dari enam orang (yang ditunjuknya). Maka aku masuk di tempat yang Umar telah menempatkan aku, dan aku tidak suka jika aku memecah jama’ah kaum muslimin dan memecah kekuatan mereka. Kalian telah membai’at Utsman maka aku (juga harus) membai’atnya”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Al-Amali</em>. Jilid II. Hal 121. Cet Najef.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Thabaqat Ibn Sa’ad</em>. Jilid III. Hal 42.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Al-Amali</em>. <em>Op</em>. <em>Cit</em>.</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-utsman-radhiallahu-%e2%80%98anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait Kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/sikap-ahlul-bait-kepada-umar-radhiallahu-anhu.html' rel='bookmark' title='Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu'>Sikap Ahlul Bait kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/aisyah-radhiallahu-anha-ibunda-kaum-mukminin.html' rel='bookmark' title='Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah'>Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/baiat-ali-radhiallahu-anhu-kepada-utsman-radhiallahu-anhu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-23.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-23.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 01:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Awas! Buaya Meneteskan Air Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[awas]]></category>
		<category><![CDATA[buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[Awas! Taring Syi&#8217;ah Menancap Di Bumi Pertiwi. Sebagian pengamat menyatakan bahwa paham syi&#8217;ah masuk ke negri Indonesia jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahkan kesultanan Pasai atau Samudra Pasai yang berdiri di sekitar kota Kota Lhokseumawe, atau Aceh Utara pada sekitar tahun 1267 M, ditengarai oleh sebagian pengamat berkulturkan Syi&#8217;ah. Bahkan salah seorang raja kesultanan ini [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-18.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-4.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 4)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 4)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-16.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Awas! Taring Syi&#8217;ah Menancap Di Bumi Pertiwi.</strong></p>
<p>Sebagian pengamat menyatakan bahwa paham syi&#8217;ah masuk ke negri Indonesia jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahkan kesultanan Pasai atau Samudra Pasai yang berdiri di sekitar kota <a title="Kota Lhokseumawe" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Lhokseumawe">Kota Lhokseumawe</a>, atau <a title="Kabupaten Aceh Utara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Utara">Aceh Utara</a> pada sekitar tahun 1267 M, ditengarai oleh sebagian pengamat berkulturkan Syi&#8217;ah. Bahkan salah seorang raja kesultanan ini pernah didampingi dua orang Persia terkenal, yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraj dan Taj Ad-Din dari Isfahan. (<a href="#_ftn1">[1]</a>)</p>
<p>Bahkan sebagian lain, lebih jauh menengarai bahwa Syi&#8217;ah telah masuk ke Indonesia sejak abad ke- 9. Praduganya ini berdasarkan pada asumsi bahwa kerajaan <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> pertama yang berdiri di Nusantara, yaitu kerajaan Peureulak (Perlak) yang konon, didirikan pada 225H/845M telah menganut paham Syi&#8217;ah. Sebagaimana diketahui bahwa Kerajan ini didirikan oleh para pelaut-pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat yang mula-mula datang untuk mengislamkan penduduk setempat. Belakangan mereka mengangkat seorang Sayyid Maulana Abdul &#8216;Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang konon katanya menganut paham politik Syi&#8217;ah, sebagai sultan Perlak.(<a href="#_ftn2">[2]</a>)<span id="more-1136"></span></p>
<p>Manapun pendapat yang benar, sebagian pengamat telah menyimpulkan bahwa pengaruh ajaran Syi&#8217;ah telah dirasakan di negri kita sejak jauh hari. Dan mereka berusaha menguatkan kesimpulan itu dengan beberapa indikasi berikut:<br />
<strong>1. </strong><strong>Perayaan </strong><strong>Hoyak Tabuik</strong><strong>.</strong></p>
<p>Tradisi ini dapat anda temui di Pariaman Sumatra Barat. Perayaan Hoyak Tabuik atau juga dikenal dengan Perayaan Tabot konon pertama kali dilaksanakan oleh <a title="Syeh Burhanuddin (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Syeh_Burhanuddin&amp;action=edit&amp;redlink=1">Syeikh Burhanuddin</a> Ulakan yang dikenal sebagai <a title="Imam Senggolo (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Imam_Senggolo&amp;action=edit&amp;redlink=1">Imam Senggolo</a> pada tahun <a title="1685" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1685">1685</a>.</p>
<p>Perayaan ini dimulai pada hari pertama bulan Muharam hingga hari kesepuluh.  Puncak dari upacara tradisional ini adalah prosesi mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husain yang gugur di Padang Karbala.</p>
<p>Perayan serupa juga dapat anda temukan di Bengkulu, <a title="Painan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Painan">Painan</a>, <a title="Padang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Padang">Padang</a>, <a title="Pariaman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pariaman">Pariaman</a>, <a title="Maninjau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maninjau">Maninjau</a>, <a title="Pidie" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pidie">Pidie</a>, <a title="Banda Aceh" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Banda_Aceh">Banda Aceh</a>, <a title="Meuleboh (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Meuleboh&amp;action=edit&amp;redlink=1">Meuleboh</a> dan <a title="Singkil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singkil">Singkil</a>. Hanya saja di sebagian daerah perayaan ini lebih dikenal dengan Tabot atau Tabut.<br />
<strong>2. </strong><strong>Tari Jari-jari Karbala.</strong></p>
<p>Tarian ini adalah salah satu tarian khas daerah Bengkulu ini juga memiliki kultur dan makna yang sama dengan tradisi tabot.<br />
<strong>3. </strong><strong>Peringatan Syura atau Suro (</strong><strong>Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo)</strong><strong>.</strong></p>
<p>Bagi masyarakat jawa, atau Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya, bulan Muharram atau yang sering disebut dengan bulan Suro adalah bulan yang penuh nahas. Karenannya penduduk setempat berpantangan mengadakan pernikahan atau membangun rumah atau bercocok tanam pada bulan ini. Dan untuk menebus kesialan yang diyakini, mereka mengadakan upacara grebeg suro. Semua itu sebagai bias langsung dari peringatan tragedi pedih yang pernah terjadi di bulan itu, yaitu terbunuhnya Al Husain bin Alin bin Abi Thalib <em>radhiallahu &#8216;anhuma</em>.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Tradisi membaca Barzanji dan Diba&#8217;i</strong></p>
<p>Sebagian kalangan meyakini bahwa kebiasaan membaca barzanji atau diba&#8217;i adalah wujud nyata dari hubungan NU dengan ajaran Syi&#8217;ah.</p>
<p>Dan masih banyak lagi tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang diklaim oleh sebagian orang berafiliasi dengan simbul-simbul agama Syi&#8217;ah.</p>
<p>Hanya saja dari mencermati berbagai data di atas, ada satu fenomena unik yang pantas untuk dicermati dan sekaligus disyukuri, yaitu:</p>
<p>1.  Anggapan bahwa berbagai tradisi dan kesultanan di atas adalah bernuansakan atau bahkan berasal dari ajaran Syi&#8217;ah tidak sepenuhnya dapat diterima. Karenanya ternyata banyak pihak, diantaranya Buya Hamka meragukan anggapan tersebut.</p>
<p>2.  Diantara hal yang mementahkan anggapan sebagian orang itu ialah fakta umat islam di Indonesia sendiri. Anda pasti mengetahui bahwa umat islam di Indonesia sejak dahulu kala menganut mazhab Imam As Syafi&#8217;i dan tidak menganut mazhab Ja&#8217;fari. Ini bukti kuat nan akurat bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak melalui para penganut ajaran Syi&#8217;ah.</p>
<p>3.  Kalaupun kesultanan dan berbagai warisan budaya di atas benar berafiliasi dengan ajaran syi&#8217;ah, maka ini menjadi bukti kuat bahwa ajaran Syi&#8217;ah sejak jauh hari telah terbukti tidak cocok untuk disebarkan di Indonesia. Oleh karena itu, para penggiat ajaran Syi&#8217;ah kala itu hanya berhasil membuat suatu tradisi atau upacara atau amalan ritual belaka. Padahal sebagian tokohnya telah berhasil menjadi orang kepercayaan sebagian raja-raja Islam kala itu. Sedangkan inti dari doktrin agama Syi&#8217;ah, berupa pengkafiran sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, meragukan keabsahan Al Qur&#8217;an, dan lainnya tetap saja tidak dapat merubah arah keagamaan muslim Indonesia.</p>
<p>Ini bukti kuat bahwa berbagai doktrin agama Syi&#8217;ah nyata-nyata bertentangan dengan kultur penduduk Indonesia yang lembut dan jauh dari permusuhan, caci maki dan kebencian. Masyarakat Indonesia memiliki karakter lemah lembut, tenggang rasa, sehingga tidak sejalan dengan ajaran Syi&#8217;ah yang lembaran sejarahnya dilumuri oleh  cacian, kekerasan dan pertumpahan darah.</p>
<p>4.  Adanya kesamaan dalam beberapa hal, tidak serta merta dapat dijadikan bukti bahwa masyarakat setempat berpahamkan Syi&#8217;ah atau telah memiliki hubungan langsung dengan ajaran Syi&#8217;ah. Karenanya tidak ada seorangpun yang mengklaim bahwa agama Islam masuk ke Indonesia di bawa oleh para penganut agama hindu, padahal betapa banyak tradisi dan ritual agama Hindu yang diamalkan oleh umat Islam.</p>
<p><strong>Sekelumit Metode Penyebaran Agama Syi&#8217;ah Di Indonesia.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Berusaha menyusupkan ajaran Syi&#8217;ah pada berbagai tradisi masyarakat.</strong></p>
<p>Sejak jatuhnya ORBA dan ditabuhnya genderang reformasi, para penggiat agama Syi&#8217;ah di negri kita mendapatkan ruang gerak yang lebih luasa guna melancarkan propagandanya. Karenanya mereka berusaha memanfaatkan berbagai tradisi dan simbol yang diyakini berafiliasi dengan ajaran Syi&#8217;ah, untuk dijadikan sebagai media sosialisasi dan penyebaran agama Syi&#8217;ah.</p>
<p>Mereka berusaha menyusupkan ajaran syi&#8217;ah kedalam berbagai ritual dan budaya yang ada di tengah masyarakat.</p>
<p>Karenanya, betapa girangnya DUBES Iran ketika mengetahui adanya tradisi Tabut atau Tabot di tanah Minang Dan Bengkulu. Tidak ingin kehilangan momentum, ia segera mengadakan kunjungan ke sana. Yang sangat disayangkan, panitia perayaan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan memberikan kata sambutan. Bahkan tidak ada satupun dari ormas Islam, termasuk MUI setempat yang merespon kunjungan ini.</p>
<p>Sudah dapat ditebak, dalam orasinya DUBES Iran Behrooz Kamalvandi memuja agama Syiah. Bukan sebatas itu, kunjungannya ini berlangsung selama 2 hari dan dengan membawa rombongan 10 orang dan mengikut sertakan <em>Televisi Nasional Iran</em> untuk meliput acara <em>Tabuik Pariman</em><em> (Tabut Pariaman)</em>. (<a href="#_ftn3">[3]</a>)</p>
<p>Gayungpun bersambut, Dubes Iran terus melanjutkan upaya penjinakan salah satu &#8220;basis ahlissunnah&#8221; yang selama ini memiliki slogan: &#8220;<em>Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah.&#8221;</em> Ia menjanjikan akan memindahkan daerah tujuan wisata (DTW) warganya ke Asia Tenggara dari Malaysia ke Sumatera Barat (Sumbar) pada 2009. Dan konon jumlah wisatawan Iran ke Malaysia berjumlah 15 ribu orang.<strong> </strong>(<a href="#_ftn4">[4]</a>)</p>
<p>Anda bisa bayangkan bila wisatawan Iran benar-benar berpindah ke SUMBAR:</p>
<p>- Jerat nikah mut&#8217;ah terbuka lebar.</p>
<p>- Penyebaran agama Syi&#8217;ah menjadi pesat.</p>
<p>- Tidak dapat dihindari, gadis-gadis SUMBAR pun berpeluang memperpanjang daftar korban nikah mut&#8217;ah.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/asyura.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1137" title="asyura" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/asyura.jpg" alt="asyura Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)" width="185" height="143" /></a><br />
Acara Arba&#8217;in/peringatan Asyura&#8217; Di Kutai</td>
<td><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/asyura2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1138" title="asyura2" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/asyura2.jpg" alt="asyura2 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 23)" width="189" height="143" /></a><br />
Pj Bupati Kutai Kartanegara (H.Sjahruddin)&nbsp;</p>
<p>Ketika memberi sambutan pada acara Asyura&#8217;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>2. </strong><strong>Meningkatkan Hubungan Bilateral Antara Kedua negara.</strong></p>
<p>Hubungan bilateral, baik dalam sekala pemerintah pusat atau pemerintah daerah terus semakin diintensifkan. Dimulai dari kunjungan kepala negara, menteri, mahkamah agung, dewan perwakilan rakyat, dan tidak ketinggalan berbagai pemerintah daerah kedua belah pihak.</p>
<p>Diantara pemerintah daerah yang telah menjalin hubungan dengan beberapa pemerintah daerah, dan bahkan telah berganti kunjungan ialah Pemda Pariaman dan Bogor.</p>
<p>Sebagaimana kedua negara juga berkomitmen untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara kedua negara.</p>
<p>Dari wujud meningkatnya hubungan perdagangan Iran ke Indonesia ialah dengan dibangunnya kilang minyak di Banten dan Tuban-Jawa Timur.</p>
<p>Sudah barang tentu, dengan adanya perusahaan-perusahaan Iran yang masuk ke Indonesia, jumlah warga negara Iran di Indonesia turut meningkat pula. Dan bersama meningkatnya jumlah warga negara Iran di Indonesia, maka meningkat pula penebaran agama Syi&#8217;ah.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Meberangus Ketabuan Syi&#8217;ah Di Tengah Umat Islam Indonesia.</strong></p>
<p>Hingga saat ini, umat Islam di Indonesia masih tetap bangga dan yakin bahwa mereka beragama Islam dengan pahaman <em>ahlissunnah wal jama&#8217;ah. </em>Tidak mengherankan bila merekapun merasa bersebrangan dengan paham bersebrangan dengan paham Syi&#8217;ah. Oleh karena itu para penjaja paham Syi&#8217;ah mendapatkan tantangan  yang cukup berat untuk menyebarkan pahamnya di masyarakat Indonesia. Dan salah satu langkah yang mereka tempuh guna memudahkan dakwah mereka, ialah dengan mengikis ketabuan dan memperpendek jurang pemisah antara mereka dengan umat Islam Indonesia. Bila langkah ini telah tercapai, maka jalan menjadi mulus dan hamparan karpet merahpun terbentang di hadpan para penjaja paham Syi&#8217;ah. Berikut beberapa indikasi yang menunjukkan akan adanya fase ini:</p>
<p><strong>A. </strong><strong>Pendekatan Terhadap Sebagian ORMAS Islam.</strong></p>
<p>Diantara indikasi yang menunjukkan akan hal itu ialah pernyataan Dr. Said Aqil Siraj mantan Wakil Katib Syuriah PBNU, dan mantan Mentri Agama RI: &#8221; Harus diakui pengaruh Syi&#8217;ah di NU sangat besar dan mendalam. Kebiasaan membaca barzanji atau diba&#8217;i yang menjadi ciri khas masyarakat NU misalnya secara jelas berasal dari tradisi Syi&#8217;ah.&#8221;</p>
<p>Ungkapan senada dalam beberapa kesempatan juga disampaikan  oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid). (<a href="#_ftn5">[5]</a>)</p>
<p>Saya yakin anda tidak dapat menerima ucapan kedua tokoh ini, karena anda mengetahui bahwa ormas NU berasaskan paham <em>asy &#8216;ariyah</em> dan bermazhabkan dengan mazhab Imam As Syafi&#8217;i. Fakta ini mementahkan anggapan mereka berdua, karena Syi&#8217;ah berpaham dan bermazhabkan Ja&#8217;fariyah.</p>
<p>Ucapan keduanya ini mengindakasikan telah adanya pendekatan yang begitu kuat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Syi&#8217;ah kepada kedua tokoh ini secara khusus dan ormas NU secara umum.</p>
<p><strong>B. </strong><strong>Propaganda bahwa Perbedaan antara Sunni dan Syi&#8217;ah hanya sebatas Masalah Furu&#8217;.</strong></p>
<p>Propaganda ini rupanya cukup ampuh, sampai-sampai tokoh sekaliber Din Syamsuddin yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terpengaruh dengannya. Pada Konferensi Islam Sedunia, Senin (5/05/2008), yang berlangsung di Teheran beliau menegaskan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada wilayah cabang (<em>furu’iyat</em>), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat pada penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.</p>
<p>Lebih jauh, Din Syamsuddin menyatakan: &#8220;Kedua kelompok (Sunnah &amp; Syi&#8217;ah) harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan <em>tasamuh</em> atau toleransi. (<a href="#_ftn6">[6]</a>)</p>
<p>Aneh bin ajaib, tokoh sekaliber bapak Din Syamsyudin beranggapan bahwa perbedaan antara Syi&#8217;ah dan Sunnah hanya sebatas masalah <em>furu&#8217;.</em></p>
<p>Anda pasti bertanya-tanya, apakah menurut beliau pengkafiran seluruh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah masalah <em>furu&#8217;?</em> Apakah idiologi <em>imamah</em> yang menyatakan bahwa seluruh pemimpin umat Islam selain dari ke 12 imam agama Syi&#8217;ah adalah pemimpin yang tidak sah, juga termasuk masalah furu&#8217;? Apakah kultus terhadap ke-12 imam juga masalah furu&#8217;?</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Anggapan Syi&#8217;ah ekstrim telah punah, yang tersisa Syi&#8217;ah Moderat</strong></p>
<p>Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, seorang tokoh yang konon ahli di bidang tafsir Al Qur&#8217;an dalam bukunya yang berjudul : <em>Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah</em>? menekankah bahwa kelompok ekstrim Syi&#8217;ah yang menuhankan para Imam telah punah. Yang tersisa pada zaman ini hanyalah <em>Syi&#8217;ah Imamiyah.</em>(<a href="#_ftn7">[7]</a>)  <em> </em></p>
<p>Walau demikian penjelasan beliau, akan tetapi pada buku yang sama beliau banyak menukil ucapan salah seorang tokoh Syi&#8217;ah Imamiyah yang bernama: Abdul Husain Syarafuddin Al Musawi. (<a href="#_ftn8">[8]</a>)</p>
<p>Anda bisa bayangkan, dari namanya saja telah terbaca sikap ekstrim yang begitu kelewat batas,  <em>Abdul Husain </em>(Hamba Husain). Saya heran, mengapa tokoh sekaliber Prof. Dr. Quraish Shihab kok dapat melewatkan fakta semacam ini tanpa ada komentar atau kritikan sedikitpun. Apakah adanya nama-nama semacam ini pada para tokoh Syi&#8217;ah Imamiyah belum cukup sebagai bukti akan sikap ekstrim Syi&#8217;ah Imamiyyah?</p>
<p>Saudaraku! Nama-nama semacam ini dapat anda temukan dengan mudah pada masyarakat Syi&#8217;ah, baik di zaman dahulu atau sekarang. Berikut beberapa nama tokoh Syi&#8217;ah yang serupa dengan itu:</p>
<ul>
<li>Abdul Husain bin Ali wafat tahun 1286 H, ia adalah seorang tokoh terkemuka agama syi&#8217;ah pada zamannya, sampai-sampai dijuluki dengan Syeikhul &#8216;Iraqain (Syeikh kedua Iraq/ Iraq &amp; Iran).</li>
<li>Abdul Husain Al Aminy At Tabrizi 1390 H, penulis buku <em>Al Ghadir.</em></li>
<li>Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy Al &#8216;Aamily 1377 H, penulis buku <em>Abu Hurairah, </em>kitab<em> Kalimatun Haula Ar Riwayah, </em>Kitab<em> An Nash wa Al Ijtihaad, Al Muraja&#8217;aat</em></li>
<li>Abdul Husain bin Al Qashim bin Sholeh Al Hilly wafat tahun 1375 H.</li>
<li>Abduz Zahra&#8217; (Hamba Az Zahra&#8217;/Fatimah) Al Husainy, penulis kitab: <em>Mashaadiru Nahjil Balaaghah wa Asaaniduhu.</em></li>
</ul>
<p>Lebih mengherankan, pada buku yang sama, hal: 104, Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab menukilkan ucapan Khumeini berikut:</p>
<p>إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل.</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya imam memiliki kedudukan yang terpuji serta tingkat yang tinggi serta kekhilafahan terhadap alam yang tunduk kepada kekuasaannya (kekhilafahan itu) semua atom (butir-butir) alam raya. Sesungguhnya merupakan bagian dari pemahaman aksioma mazhab kami adalah bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dicapai oleh malaikat yang didekatkan (Allah ke sisi-Nya) tidak juga oleh nabi yang di utus (Allah)</em>.&#8221;</p>
<p>Ingin sekali rasanya bertanya epada Prof Dr. Qurish Shihab: Adakah idiologi yang lebih ekstrim dibanding idiologi yang diucapkan oleh tokoh revolusioner sekter Syi&#8217;ah Imamiyah ini? Bila ini adalah sikap dan keyakinan tokoh terkemuka, lalu bagaimana sikap rakyat dan masyarakat awam mereka?</p>
<p><strong>D. </strong><strong>Publikasi buku-buku yang menghujat para sahabat.</strong></p>
<p>Beberapa waktu silam, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan sebuah buku dalam edisi Indonesia, yang berjudul: <em>“Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin</em>” , karya Faraj Fouda (Judul aslinya: <em>al-Haqiqah al-Ghaybah</em>).</p>
<p>Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa yang oleh penulis disebut sebagai sisi kelam dari sejarah Islam.</p>
<p>Saudaraku! Tahukan, apa yang dimaksud dengan sisi kelam dari sejarah Islam? Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan ialah zaman Khulafaurrasyidin. Zaman yang menurut umat islam sebagai masa keemasan, ternyata oleh Fouda dianggap  sebaliknya. Menurutnya, zaman itu tidak layak disebut sebagai masa keemasan umat Islam, tapi “<em>zaman biasa</em>”. <em>“Tidak banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak jejak memalukan</em>.” (<a href="#_ftn9">[9]</a>)</p>
<p>Pada buku ini, Faraj Fouda nyata-nyata melecehkan sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu, khalifah ketiga dan sekaligus menantu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , bukan hanya sekali bahkan dua kali.</p>
<p>Berikut contoh dari ucapan Fouda yang begitu biadab tentang sahabat Utsman:</p>
<p><em>”Namun Usman membawa umat Islam ke dalam polemik tentang sosok dirinya. Para pemimpin di dalam Ahl al-Hall wa al-’Aqdi membuat konsensus untuk melarikan diri dari kepemimpinannya, baik lewat cara pemecatan menurut kalangan ahli pikirnya, maupun kekerasan menurut kalangan garis kerasnya. Wibawanya terguncang di mata rakyat, sampai sebagian masyarakatnya menghunus pedang yang siap mencincangnya dan menohoknya ketika berada di atas mimbar. Bahkan sebagian menghinanya dengan sebutan Na’tsal, sebutan untuk orang Kristen Madinah bernama Na’tsal yang kebetulan berjenggot lebat seperti Usman. Para pemuka sahabat pun menentangnya, ini adalah sesuatu yang sangat terang benderang menunjukkan bahwa ia keluar dari ketentuan al-Quran dan Sunnah. Karena itu, muncul seruan secara terang-terangan untuk membunuhnya. Hadits Aisyah meriwayatkan: “Bunuhlah Na`tsal, dan terlaknatlah Na`tsal.”</em> (<a href="#_ftn10">[10]</a>)</p>
<p>Selanjutnya, untuk lebih mempertajam citra buruk Usman Radhiallahu ‘Anhu Fouda menulis secara dramatis kisah kematian Usman dan pemakamannya:</p>
<p><em>”Ia terbunuh oleh tangan umat Islam sendiri yang bersepakat memberontak dan mengepung rumahnya. Dan anda dapat saja membayangkan bahwa kematian Usman telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan, permusuhan sebagian umat Islam atas dirinya berlangsung setelah kematiannya&#8230;.”</em> (<a href="#_ftn11">[11]</a>)</p>
<p>Walau demikian adanya, buku ini mendapat apresiasi yang begitu istimewa dari Prof. Dr. Syafi`i Maarif, yang dikenal sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta (UNY). Berikut sebagian dari komentar beliau tentang buku ini : <em>”Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.</em></p>
<p>Sanjungan beliau di atas dimuat pada sampul belakang buku ini. (<a href="#_ftn12">[12]</a>)</p>
<p>Mengherankan bukan? Seorang yang bergelar  Prof. Dr. di bidang filsafat sejarah, dapat berhati dingin membaca hujatan kepada sahabat Utsman bin Affan, dan bahkan memuji pelakunya.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Sandiwara Iran &#8220;bermusuhan&#8221; Dengan Israel &amp; Amerika.</strong></p>
<p>Diantara metode yang ditempuh oleh para penggiat agama Syi&#8217;ah ialah dengan memanfaatkan sandiwara yang berjudul : Iran &#8220;bermusuhan&#8221; dengan Negara Yahudi Israel dan Amerika.</p>
<p>Isu ini sangat efektif untuk menarik simpati umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sampai-sampai terkesan bahwa negara Iran yang nota bene adalah penganut agama Syi&#8217;ah adalah satu-satunya negara pembela kepentingan umat Islam di zaman sekarang.</p>
<p>Karenanya tatkala Indonesia yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB turut menyetujui resolusi no: 1747 yang hanya berisikan kecaman terhadap Iran atas kegiatannya pengayaan uranium. Betapa solidaritas umat Islam di Indonesia begitu besar kepada Presiden SBY, sampai-sampai DPR mengajukan hak interpelasi.</p>
<p>Dengan adanya kejadian semacam ini, menjadikan masyarakat kurang peka terhadap berbagai trik para penggiat agama Syi&#8217;ah bahkan menjadi lebih terbuka untuk menerima berbagai kenylenehan ajaran mereka.</p>
<p>Saudaraku, agar anda menjadi tahu apa sebenarnya isu &#8220;permusuhan&#8221; dengan bangsa Yahudi, saya mengajak saudara untuk merenungkan beberapa fakta berikut:</p>
<p>A- Iran adalah negara yang memiliki komunitas yahudi terbesar setelah Israel. Menurut sumber resmi pemerintah Iran, jumlah pemeluk agama Yahudi di Iran berkisar antara 25- 30 ribu penduduk. Bahkan di kota Teheran didapatkan lebih dari 10 Synagogue (tempat ibadah umat Yahudi). Akan tetapi, masjid-masjid Ahlussunnah tidak satupun yang mereka biarkan berdiri tegak di sana. Bukan sekedar itu saja, orang-orang Yahudi diberi ruang yang begitu istimewa, yaitu dengan diberikan kesempatan untuk memiliki perwakilan di parlemen. Sebagaimana umat Yahudi di Iran memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan para penganut agama Syi&#8217;ah. Suatu hal yang tidak mungkin dirasakan oleh komunitas ahlussunnah. Bahkan komunitas Yahudi Iran hingga saat ini bebas untuk berkunjung ke karib-kerabat mereka di Israel, tanpa ada gangguan sedikitpun, baik dari pemerintah Iran atau penduduk setempat.(<a href="#_ftn13">[13]</a>)</p>
<p>B-  Adanya hubungan perdagangan antara Iran dan Israel. Sejak zaman Syah Vahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Israel. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syi&#8217;ah yang dipimpin oleh Khumaini. Pada tahun 1982 M, Israel menjual persenjataan yang berhasil mereka rampas dari para pejuang Palestina di Lebanon dengan harga 100 juta dolar Amerika. (<a href="#_ftn14">[14]</a>)</p>
<p>Bahkan pada tahun 1980 s/d1985, Israel merupakan negara pemasok senjata terbesar ke Iran. (<a href="#_ftn15">[15]</a>)</p>
<p>Sandiwara &#8220;permusuhan&#8221;  Iran dan Israel mulai terbongkar, ketika pesawat kargo Argentina yang membawa persenjataan dari Israel ke Iran tersesat, sehingga masuk ke wilayah Uni Soviet, dan akhirnya ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan Uni Soviet. Dikisahkan Iran membeli persenjataan dari Israel seharga 150 juta Dolar Amerika, sehingga untuk mengirimkan seluruh senjata tersebut, dibutuhkan 12 kali penerbangan.(<a href="#_ftn16">[16]</a>)</p>
<p>C- Perdagangan antara kedua negara (Iran &amp; Israel) hingga kini juga terus berkelanjutan. Sebagai salah satu buktinya, harian Palpress News Agency (وكالة فلسطين برس للأنباء) edisi 25/04/2009 melaporkan bahwa di kota Teheran, telah dipasarkan buah-buahan yang diinpor dari Israel.</p>
<p>D- Bila anda mengikuti berita internasional, anda pasti pernah membaca pemberitaan bahwa pada hari Selasa 12/1/2010 ahli nuklir Iran yang bernama Masoud Ali-Mohammadi yang berdomisili di kota Teheran ibu Kota Iran mati di dekat rumahnya akibat serangan bom. Dan Kementerian Luar Negeri Iran langsung menuduh kaki tangan AS dan Israel di balik serangan bom itu.</p>
<p>Aneh bukan? Iran telah memiliki bukti bahwa Israel dan Amerika telah mengadakan sernagan di Teheran dan telah menewaskan ahli nuklirnya. Walau demikian, tidak ada reaksi pemerintah Iran dan para penganut Syi&#8217;ah tetap berdarah dingin dan tidak satupun tentara Iran yang dikirim untuk membalas serangan tersebut.<br />
<strong>5. </strong><strong>Jaringan Kantor Berita IRIB, Mass Media Lokal, Situs dan Penerbit.</strong></p>
<p>Diantara metode yang digunakan para penggiat agama Syia&#8217;ah ialah memanfaatkan keberadaan IRIB (radio Iran sesi bahasa Indonesia), beberapa mass media, penerbi dan situs di jaringan internet yang memiliki loyal terhadap agama Syi&#8217;ah.</p>
<p>Diantara yang terbaru ialah masuknya televisi Al Manar milik Hizbullah-Lebanon.</p>
<p>Diketahui bersama bahwa Indosat telah menyewakan transponder Satelit Palapa C selama tiga tahun dari April 2008 sampai April 2011 M kepada TV Al Manar. Dengan kerjasama ini, televisi Al Manar dapat menjangkau berbagai negara di Asia Tenggara, Cina, Taiwan sampai ke Australia.</p>
<p>Sudah bisa di tebak, bahwa televisi Al Manar ini pasti berperan sebagai pencair kebekuan dan kekakuan sikap umat Islam di Indonesia terhadap Syi&#8217;ah yang merupakan idiologi Hizbullah pemilik stasiun ini.</p>
<p>Adapun mass media lokal, penerbit buku, dan berbagai yayasan yang menjajakan paham Syi&#8217;ah mulai banyak bertebaran, dan biasanya mereka menggunakan nama <em>ahlul bait, </em>atau salah satu tokoh mereka sebagai nama yayasan atau penerbit mereka.</p>
<p><strong> </strong></p>
<hr size="1" />
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> ) Sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmad Baso, salah seorang staf PBNU. Majalah SYIAR edisi Muharram 1428 H.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> ) Sebagaimana yang dilakukan oleh <a href="http://media.isnet.org/islam/Etc/Kattani.html">Abdul Hayyie al-Kattani</a>, pada makalahnya yang berjudul: Sunnah-Syi&#8217;ah di Indonesia: Perspektif Ilmu Hadits</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> ) Sumber: www.hidayatullah.com</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> ) Sumber http://www.antara.co.id/view/?i=1230902078&amp;c=EKB&amp;s=</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> ) Babak Kedua Sengketa Gus Dur &#8211; Abu Hasan, oleh Ulil Abshar Abdallah, Tempo Interaktif, Selasa, 26 Maret 1996 | 09:36 WIB</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> ) Sumber : http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=1101.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> ) Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah? Hal: 70 &amp; 83</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> ) Sebacai contoh, silahkan buka buku : Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?, hal: 58, 123 &amp;124.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> ) Kebenaran yang Hilang, hal.xv.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> ) Kebenaran yang Hilang, hal. 25.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> ) Idem.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a>) Sumber: Memuja Fouda, Menfitnah Sahabat, oleh Asep Sobari, Lc, http://www.darulkautsar.net/article.php?ArticleID=879</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> ) Roger Cohen of The International Herald Tribune, 22 Februari 1999 M.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> ) Sumber:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(الحرب المشتركة: إيران وإسرائيل) حسين علي هاشمي ص 35. والقبس الكويتية</strong><strong> 4/12/1986</strong><strong>،  مجلة أكتوبر المصرية في عددها آب1982، مجلة ميدل إيست البريطانية في</strong><strong> </strong><strong>عددها تشرين الثاني 1982</strong>.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> )  Sumber :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>(</strong><strong> </strong><strong>الحرب المشتركة إيران وإسرائيل) حسين علي هاشمي ص 35</strong></p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> )  Sumber :</p>
<p style="text-align: right;"><strong>( </strong><strong>الحرب المشتركة</strong><strong> </strong><strong>إيران وإسرائيل ( حسين علي هاشمي ص 23، والمجلة السويدية</strong><strong> TT </strong><strong>في 18</strong><strong> </strong><strong>آذار 1984.</strong></p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-18.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-4.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 4)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 4)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-16.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-23.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 22)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-22.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-22.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 01:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Awas! Buaya Meneteskan Air Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[awas]]></category>
		<category><![CDATA[buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Impian Di Siang Bolong: Menyandingkan Sunnah &#38; Syi&#8217;ah. Persatuan umat Islam di atas kebenaran, yang dilandasi oleh pengamalan syari&#8217;at Islam dengan utuh dan benar adalah harapan setiap muslim. Bukan sekedar harapan belaka, akan tetapi mempersatukan umat adalah tanggung jawab dan perintah Allah Ta&#8217;ala. Dan sudah barang tentu, berjuang untuk mewujudkan cita-cita luhur ini di dunia [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-15.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 15)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 15)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-18.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-20.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 20)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 20)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Impian Di Siang Bolong: Menyandingkan Sunnah &amp; Syi&#8217;ah. </strong></p>
<p>Persatuan umat <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> di atas kebenaran, yang dilandasi oleh pengamalan syari&#8217;at Islam dengan utuh dan benar adalah harapan setiap muslim. Bukan sekedar harapan belaka, akan tetapi mempersatukan umat adalah tanggung jawab dan perintah Allah Ta&#8217;ala. Dan sudah barang tentu, berjuang untuk mewujudkan cita-cita luhur ini di dunia nyata adalah amal ibadah yang sangat agung.</p>
<p>Terlalu banyak dalil, baik dari Al Qur&#8217;an ataupun As Sunnah yang menjelaskan akan hal ini. Diantaranya dalil-dalil itu ialah firman Allah Ta&#8217;ala berikut:</p>
<p style="text-align: right;">[وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ[ الأنفال 46</p>
<p><em>"Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berselesih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." </em> Al Anfal 46.<span id="more-1133"></span></p>
<p>Pada ayat ini, Allah Ta'ala memerintahkan umat Islam agar senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah juga melarang mereka dari persengketaan dan perselisihan. Selanjutnya ayat ini menjelaskan dampak yang menimpa mereka bila mereka melanggar dua perintah ini. Hati mereka menjadi gentar, dan kekuatannya sirna.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tak henti-hentinya menekankan hal ini kepada umatnya.</p>
<p style="text-align: right;">(لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُم عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ الله إِخْوَاناً، المُسْلِم أَخُو المًُسْلِم لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ) متفق عليه</p>
<p><em>"Janganlah engkau saling iri/hasad, janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), janganlah saling membenci, janganlah saling merencanakan kejelekan, janganlah sebagian dariu kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara orang muslim lainnya, tidaklah ia menzhalimi saudaranyanya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang lain, dan tidaklah ia menghinanya." </em>Muttafaqun 'alaih</p>
<p>Dan sudah barang tentu, sebagai seorang muslim, andapun mendambakan terwujudnya cita-cita luhur ini. Bukankah  demikian?</p>
<p>Akan tetapi, akankah cita-cita luhur nan terpuji anda ini dapat anda wujudkan dengan para pengikut Syi'ah? Mungkin saja anda bersikap optimis dan berkata : Mungkin dan masih tersisa peluang untuk mewujudkannya.</p>
<p>Saudaraku! Ada baiknya bila anda mengambil pelajaran dari para pejuang persatuan antara Ahlussunnah dengan sekte Syi'ah sebelum anda. Dan Alangkah indahnya bila anda mengindahkan pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut:</p>
<p style="text-align: right;">(لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ) متفق عليه</p>
<p><em>"Tidak pantas seorang mukmin tersengat di satu lubang sebanyak dua kali." </em> Muttafaqun 'alaih</p>
<p>Karenanya, berikut ini saya mengajak anda untuk tidak mengulang pengalaman pahit yang telah menimpa banyak tokoh sebelum anda. Berikut beberapa tokoh <em>Ahlissunnah</em> yang pernah terperdaya oleh permainan "<em>sandiwara</em>" para aktor <em>taqrib</em> (persatuan) dari sekte Syi'ah.<br />
<strong>1. </strong><strong>Dr. Mustofa As Siba'i.</strong></p>
<p>Beliau adalah salah satu tokoh dunia Islam paling bersemangat menggalakkan dan menyerukan <em>taqrib </em> antara Ahlissunnah dengan Syi'ah. Beliau memulai petualangannya dari diri beliau sendiri, sehingga beliau mulai memaparkan fiqih Syi'ah dalam karya-karya tulis dan mata kuliah beliau di fakultas Syari'ah Universitas Damaskus.</p>
<p>Beliau berkeyakinan bahwa salah satu sarana ampuh untuk mewujudkan <em>"taqrib"</em> ialah adanya kunjungan imbal balik antara ulama' kedua kelompok. Sebagaimana ulama' kedua kelompok sudah sepantasnya menerbitkan buku-buku yang menyeru umat Islam agar bersatu dan melupakan perbedaan.(<a href="#_ftn1">[1]</a>)</p>
<p>Pada tahun 1953 H, Dr. Mustofa berkesempatan untuk mengunjungi Abdul Husain Syarafudin Al Musawi, salah satu aktor <em>&#8220;taqrib&#8221;</em> dari sekte Syi&#8217;ah yang bermukim di Lebanon Selatan, atau yang disebut dengan &#8220;Jabal &#8216;Amil&#8221;. Ketika beliau berkunjung ke rumah Abdul Husai, didapatkan beberapa tokoh sekte Syi&#8217;ah sedang berada di rumahnya. Tidak ingin kehilangan momentum, maka Dr Mustofa-pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mensosialisasikan gagasannya.</p>
<p>Setali tiga uang, gagasan Dr Mustofa ini langsung diamini dan tidak disiasiakan oleh Abdul Husain. Tidaklah Keduanya berpisah kecuali setelah dicapai kesepakatn untuk memprakarsai suatu muktamar besar yang menghadirkan ulama&#8217; kedua kelompok. Dr. Mustofa As Sibai begitu girang dengan keberhasilan yang ia capai ini, sehingga beliaupun semakin giat mensosialisasikan gagasanya ini.</p>
<p>Akan tetapi betapa terkejutnya beliau, ketika mendengar berita bahwa Abdul Husain Al Musawi menerbitkan satu karaya tulisnya yang berjudul: &#8220;Fi Abi Hurairah&#8221; (Seputar Abu Hurairah). Suatu buku yang dipenuhi dengan cacian, kutukan bahkan pengkafiran sahabat Abu Hurairah. Berikut diantara ucapan Abdul Husain yang benar-benar meluluh lantahkan harapan dan gagasan Dr, Mustofa:</p>
<p style="text-align: right;">أن أبا هريرة كان منافقا كافرا وأن الرسول قد أخبر عنه بأنه من أهل النار</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Abu Hurairah adalah seorang munafik lagi kafir, dan Rasulullah telah mengabarkan bahwa ia adalah salah satu penghuni neraka.&#8221; </em>(<a href="#_ftn2">[2]</a>) <em> </em></p>
<p><em> </em>Dari pengalaman pahitnya ini, Dr Mustofa As Sibai menarik satu kesimpulan berikut:</p>
<p style="text-align: right;">أن المقصود من دعوة التقريب هي تقريب أهل السنة إلى مذهب الشيعة لا تقريب المذهبين كل منهما إلى الآخر</p>
<p><em>&#8220;Sebenarnya maksud dari ajakan taqrib &#8220;pendekatan&#8217; ialah mendekatkan Ahli As Sunnah kepada mazhab Syi&#8217;ah, dan bukan mendekatkan masing-masing dari kedua mazhab kepada lainnya.&#8221;</em>(<a href="#_ftn3">[3]</a>) <em> </em></p>
<p>Demikianlah saudaraku, hasil dari eksperimen Dr Mustofa As Sibai dalam hal &#8220;<em>taqrib&#8221;/ </em>pendekatan antara<em> </em>Ahli As Sunnah dengan Syi&#8217;ah.</p>
<p>Diantara fakta yang menguatkan kesimpulan Dr Mustofa di atas ialah fenomena &#8220;<em>Darut Taqrib</em>&#8216;. Yaitu satu badan yang bertugas memperjuangkan terwujudnya <em>taqrib </em>antara<em> </em>kedua kelopok. Badan ini hanya ada di kota Kaero –Mesir yang nota bene sebagai salah satu basis dan pusat <em>Ahli As Sunnah</em>.  Akan tetapi badan ini tidak ditemukan di berbagai kota Iran, Lebanon Selatan atau pusat-pusat Syi&#8217;ah lainnya.<br />
<strong>2. </strong><strong>Syeikh Musa Jarullah.</strong></p>
<p>Belia adalah salah satu ulama&#8217; dari Turkistan, lahir pada tahun 1295 H dan wafat di Mesir pada tahun 1369 H.</p>
<p>Penelitian beliau memiliki makna yang begitu luar biasa. Betapa tidak, percobaan beliau dimulai dari studi literatur sekte Syi&#8217;ah yang begitu banyak. Beliau telah menelaah berbagai referensi terpercaya Syi&#8217;ah, diantaranya :</p>
<p>-      Ushulul Kafi wa Furu&#8217;uhu</p>
<p>-      Man La Yahdhuruhu Al Faqih.</p>
<p>-      Seluruh kitab Al Wafi.</p>
<p>-      Mir&#8217;aatul &#8216;Uqul.</p>
<p>-      Bihaarul Anwar.</p>
<p>-      Ghayatul Maram.</p>
<p>-      Kasyful Ghitha.</p>
<p>-      Dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Tidak hanya sampai di sini, beliau melanjutkan penelitiannya dengan berinteraksi langsung dengan para penganut Syi&#8217;ah. Beliau menyempatkan diri  untuk tinggal di tengah-tengah masyarakat Syi&#8217;ah di Irak dan Iran selama lebih dari tujuh bulan. Simaklah pengakuan beliau berikut ini:</p>
<p style="text-align: right;">جلت في بلاد الشيعة طولا وعرضا سبعة أشهر وزيادة، وكنت أمكث في كل عواصمها أياما أو أسابيع، وأزور معابدها ومشاهدها ومداسها وأحضر محافلها وحفلاتها في العزاء والمآتم وكنت احضر حلقات الدروس في البيوت والمساجد وحجراتها، وكنتت أستمع ولا أتكلم بكلمة وكنت أجول في شوارع العواصم وأحيائها ودروب القرى وأزقتها لأرى الناس في حركاتهم وسكناتهم على أحوالهم اليومية.</p>
<p><em>&#8220;Selama tujuh bulan atau lebih, aku berkeliling di seluruh penjuru negeri Syi&#8217;ah. Di setiap kota-kota besar,s aya singgah selama beberapa hari atau minggu. Padanya saya mengunjungi berbagai tempat ibadah, pekuburan, dan sekolahan mereka. Sebagaimana aku juga menyempatkan diri untuk menghadiri perayaan, dan pesta ria mereka pada setiap acara peringatan kematian. Aku menyempatkan diri untuk mengunjungi majlis ta&#8217;lim mereka, baik yang diadakan di perumahan, masjid, halaman masjid, sekolahan ataupun. Selama ini aku hanya mendengarkan tanpa memberikan komentar sepatah katapun. Aku juga berkeliling di jalan-jalan perkotaan, perumahan dan pedesaan guna menyaksikan dari dekat aktifitas sehari-hari masyarakat dari dekat.&#8221;</em>(<a href="#_ftn4">[4]</a>) <em> </em></p>
<p>Untuk lebih menguatkan hasil penelitiannya, beliau juga menemui tokoh-tokoh sentral sekte Syi&#8217;ah. Diantara yang beliau jumpai ialah Muhsin Al Amin Al Husaini, dan</p>
<p>Semua itu beliau lakukan dengan harapan dapat menemukan celah bagi terwujudnya persatuan antar <em>Ahlisunnah </em>dengan Syi&#8217;ah.</p>
<p>Setelah puas membaca literatur Syi&#8217;ah, dilanjutkan dengan menyaksikan fakta masyarakat Syi&#8217;ah, dan bergerilya dari satu pemuka Syi&#8217;ah ke pemuka lainnya, beliau sampai pada satu kesimpulan yang meyakinkan. Beliau berkesimpulan bahwa sekte Syi&#8217;ah telah menutup rapat semua celah persatuan dengan <em>ahlissunnah</em>. Karenanya beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right;">إني أرى أن إقامة الحد على أم المؤمنين عائشة وتكفير أهل البيت وعامة الصحابة ودعوى أن فئة من الصحابة حرفت القرآن وغيرته وبدلته نابعة من عقيدة قوم ] دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا[</p>
<p>"<em>Saya berkesimpulan bahwa idiologi : menegakkan hukum dera atas Ummul Mukminin 'Aisyah, mengkafirkan ahlul bait, dan kebanyakan sahabat Nabi, anggapan bahwa ada sebagian sahabat yang telah menyelewengkan, merubah dan mengganti Al Qur'an, bersumberkan dari idiologi kaum yang dikisahkan pada ayat berikut : </em></p>
<p style="text-align: right;">[ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا]</p>
<p><em>&#8220;mereka mendakwa Allah Yang Maha Penurah mempunyai anak.&#8221; </em>(Maryam 91). (<a href="#_ftn5">[5]</a>)</p>
<p>Demikianlah hasil penelitian dan perjuangan Syeikh Musa Jarullah dalam mewujudkan impian persatuan antara <em>Ahlissunnah </em>dengan Syi&#8217;ah. Beliau sampai pada kesimpulan bahwa impian ini sama halnya dengan menyatukan antara agama Islam dengan agama Yahudi atau Nasrani.</p>
<p>Menurut hemat anda, mungkinkah agama anda tercinta, Islam dipersatukan dengan agama yahudi? Dan relakah diri anda untuk disandingkan dengan umat yahudi dan Nasrani?</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Dar At Taqrib Baina Al Mazahib Al Islamiyah.</strong></p>
<p>Salah satu upaya <em>taqrib </em>antara <em>Ahlissunnah</em> dengan Syi&#8217;ah yang paling besar ialah ditandai dengan berdirinya satu ormas yang secara khusus mengurusi masalah ini. Ormas ini berdiri pada tahun 1364 H atas prakarsa seorang tokoh terkemuka Syi&#8217;ah Iran yang bernama Muhammad Taqi Al Qummi.</p>
<p>Akan tetapi uniknya, ormas yang digagas oleh tokoh Syi&#8217;ah ini didirikan bukan di Iran atau pusat komunitas Syi&#8217;ah lainnya. Ormas ini justru didirikan di pusat ahlissunnah, yaitu Kaero-Mesir. Dan tidak selang waktu berapa lama, ormas ini menerbitkan majalah yang diberi nama &#8220;<em>Risalatul Islam&#8221;</em>.</p>
<p>Dengan dana besar dan propaganda yang begitu menggiurkan, banyak dari tokoh terkemuka ahlissunnah yang kepincut dan turut mendukung berbagai kegiatan ormas ini. Diantara mereka ialah : As Syeikh Abdullatif Muhammad As Subki, Syeikh Muhammad Arafah, Dr. Muhammad Al Bahy, Syeikh Muhammad Toha As Sakit, Syeikh Universitas Al Azhar kala itu yaitu Mahmud Syaltut.</p>
<p>Syeikh Mahmud Syaltut adalah salah satu ahlissunnah yang paling bergairah dan paling jauh terperangkap oleh kata-kata manis para aktor <em>taqrib </em>dari sekte Syi&#8217;ah. Begitu jauhnya pengaruh kata-kata manis tersebut, sampai membuat Syeikh Mahmud Syaltut mengeluarkan fatwa bolehnya beribadah dengan mazhab Syi&#8217;ah Itsna &#8216;Asyari&#8217;ah atau yang sering disebut dengan Mazhab Ja&#8217;fari. (<a href="#_ftn6">[6]</a>)</p>
<p>Anda bisa bayangkan betapa girangnya para aktor <em>taqrib </em>dari sekte Syi&#8217;ah ketika berhasil mendapatkan fatwa ini.</p>
<p>Hari demi hari berlalu sejak berdirinya ormas ini, dan wajah asli dari para penggagas oramas inipun mulai tersingkap. Terlebih-lebih setelah ormas ini rajin mempublikasikan buku-buku sekte Syi&#8217;ah di Mesir, semisal :</p>
<p>-      Al Mukhtashor An Nafi&#8217; karya Najmuddin Al Hilli wafat thn: 767 H.</p>
<p>-      Wasa&#8217;il As Syi&#8217;ah wa Mustadrakuha, karya Muhammad bin Ali bin Hasan Al Hur Al &#8216;Amili, wafat thn: 1104 H.</p>
<p>-      Tafsir Majma&#8217; Al Bayan, karya At Thabrasi, wafat thn: 548 H.</p>
<p>-      Tazkiratul Fuqaha&#8217;, karya Al Hasan bin Yusuf Al Hily, wafat thn: 726 H.</p>
<p>-      Dan buku-buku lainnya.</p>
<p>Wajah dan misi para penggagas pendirian ormas ini semakin tersingkap lebar setelah majalah <em>&#8220;Risalatul Islam&#8221; </em> memuat tulisan Muhammad Sholeh Al Ha&#8217;iry seorang tokoh Syi&#8217;ah Iran yang berjudul: &#8220;Manhaj &#8216;Amali Lit Taqrib&#8221; (Pedoman Praktis Untuk Mewujudkan Pendekatan).</p>
<p>Pada artikel ini Al Ha&#8217;iry dengan tegas menyeru ahlussunnah agar dalam urusan agama berlandaskan dengan kedelapan referensi terpercaya sekte Syi&#8217;ah. Dan agar mereka mengizinkan dua pengajian umum untuk masyarakat Mesir  :</p>
<p>-      Kajian Fiqih Syi&#8217;ah</p>
<p>-      Kajian Idiologi (akidah) Syi&#8217;ah. (<a href="#_ftn7">[7]</a>)</p>
<p>Wajah asli para penggagas <em>&#8220;sandiwara taqrib&#8221;</em> semakin nampak jelas, setelah Muhammad Taqi Al Qummi melalui majalah &#8220;<em>Risalatus Islam</em>&#8221; menyeru umat Islam di Mesir agar menerima idiologi Syi&#8217;ah sebagaimana mereka dapat menerima fiqih Syi&#8217;ah. Simaklah ucapan Al Qummi berikut:</p>
<p style="text-align: right;">فماذا عليهم لو استقبلوا ما وراء الفقه كما استقبلوا الفقه، وما الفرق بين الفروع العملية والفروع العلمية</p>
<p><em>&#8220;Apa salahnya bila mereka (penduduk Mesir) menerima dengan tangan terbuka berbagai permasalahan diluar masalah fiqih praktis, sebagaimana halnya mereka telah dapat menerima fiqih praktis Syi&#8217;ah. Apalah bedanya antara berbagai masalah furu&#8217; amaliah (fiqih praktis) dari berbagai masalah furu&#8217; ilmiyah (idiologi).&#8221;</em>(<a href="#_ftn8">[8]</a>) <em> </em></p>
<p>Setelah kedok tersingkap, maka para ulama&#8217; <em>ahlis sunnah </em> yang pada awalnya terlena dengan &#8220;<em>sandiwara</em> <em>taqrib&#8221;</em> tanpa ragu-ragu segera menyatakan diri keluar dan berlepas diri dari keanggotaan <em>&#8220;Daruttaqrib&#8221;</em> beserta segala kegiatannya<em>.</em></p>
<p>Syeikh Muhibuddin Al Khatib salah satu saksi hidup menggambarkan kejadian ini dengan berkata: <em>&#8221; Setelah sebelumnya sekian lama &#8220;darut takhrib (pusat perusakan)&#8221; yang dahulu diberi nama dengan &#8220;darut taqrib&#8221; berhasil memperdaya anggotanya, sekarang seluruh tokoh umat Islam ramai-ramai keluar dari keanggotaannya. Sehingga tidaklah tersisa dari anggotanya kecuali segelintir orang yang hanyut dalam buaian materi yang mereka peroleh darinya. Adapun para ulama&#8217; yang benar-benar tulus, maka mereka semuanya tanpa ragu-ragu melepaskan dirinya dari keanggotaan &#8220;darut taqrib&#8221;, setelah kedoknya terbuka. Pasca terbongkarnya jati diri agama Syi&#8217;ah dan propaganda &#8220;taqrib&#8221; yang dijajakan oleh pemuka-pemuka Syi&#8217;ah, mereka beramai-ramai meninggalkan pusat ini dan juga berbagai &#8220;sandiwara&#8221; yang dipersiapkan untuk mereka perankan.&#8221;</em> <em> </em></p>
<p>Karena kedok <em>&#8220;darut taqrib&#8221;</em> telah tersingkap dan wajah bengis sekte Syi&#8217;ah nampak dengan jelas di hadapan umat islam di Mesir, tak urung gagallah permainan <em>&#8220;sandiwara taqrib&#8221; </em>yang mereka rancang.</p>
<p>Tidak ingin misinya gagal, maka para penggagas sandiwara ini segera merintis rumah industri sandiwara <em>&#8220;taqrib&#8221;</em> baru. Rumah industri baru ini mereka beri nama: <em>&#8220;Daru Ahlil Bait&#8221;.</em></p>
<p>Rumah industri ini berupaya menyebarkan paham Syi&#8217;ah dengan menggunakan cara-cara yang lebih lembut dari yang ditempuh <em>&#8220;darut taqrib&#8221;.</em> <em>Dar Ahlul Bait</em> menyebarkan paham Syi&#8217;ahnya melalui pusat-pusat pengobatan, pusat-pusat bimbingan belajar, pembagian sembako, selebaran-selebaran dan juga mengadakan berbagai seminar. Semuanya bertujuan menebarkan paham Syi&#8217;ah di tengah-tengah masyarakat Ahlus Sunnah di Mesir.</p>
<p>Sejak tahun 1973 M,<em> Dar Ahlul Bait </em>ini<em> </em>mendapatkan izin resmi dari Departeman Sosial pemerintah Mesir, sehingga leluasa menjalankan berbagai kegiatannya.</p>
<p>Demikianlah sekelumit tentang pengalaman pahit ulama&#8217;-ualama&#8217; kita dengan <em>&#8220;sandiwara taqrib&#8221; </em>antara<em> </em>Ahlis Sunnah dengan Syi&#8217;ah. Pengalaman mereka semakin meyakinkan bahwa Ahlis Sunnah bergandengan tangan dengan Syi&#8217;ah hanyalah bualan belaka. Bahkan hanya sekedar obat bius yang disuntikkan ke tubuh umat islam, agar mereka lengah dan lalai dari berbagai kegiatan para penjaja ajaran Syi&#8217;ah.</p>
<p>Saudaraku! sudikah anda bila anda diajak untuk mengutuk sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Relakah anda, bila Al Qur&#8217;an yang anda imani diragukan keabsahannya? Mungkinkah anda dapat mentolerer orang yang menyeru umat Islam menghamparkan karpet merah bagi orang-orang yang berencana memindahkan kiblat anda dari kota Makkah ke kota Najef? Dan relakah bila suatu saat putri-putri anda dijadikan bulan-bulanan lelaki hidung belang dengan sebutan &#8220;nikah mut&#8217;ah&#8221;? Inilah tebusan yang harus anda bayarkan sebelum terwujudnya persatuan atau <em>taqrib </em>dengan para penganut agama Syi&#8217;ah. Relakah anda melakukan itu saudaraku?</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> )  As Sunnah wa Makanutuha Fi At Tasyri&#8217; oleh Dr. Mustofa As Siba&#8217;i hal: 23.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> )  Idem hal: 23-24.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> )  Idem hal: 24.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> )  Al Wasyi&#8217;ah Fi Naqdi Aqa&#8217;id As Syi&#8217;ah oleh Musa Jarullah hal: 24.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> )  Idem, hal: 322</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> ) Fatwa Syeikh Mahmud Syaltut dapat anda temukan dan baca di kitab : Mas&#8217;alah At Taqrib Baina Ahlissunnah wa As Syi&#8217;ah oleh Dr. Nashir Al Qifari 2/309.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> ) Majalah Risalatul Islam jilid 8/403 &amp;  Mas&#8217;alah At Taqrib Baina Ahlissunnah wa As Syi&#8217;ah oleh Dr. Nashir Al Qifari 2/179.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> ) Majalah Risalatul Islam, thn : 2, edisi: 2, Jumadi Tsani, tahun : 1369 H, jilid 2/169 &amp; Mas&#8217;alah At Taqrib Baina Ahlissunnah wa As Syi&#8217;ah oleh Dr. Nashir Al Qifari 2/180.</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-15.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 15)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 15)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-18.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 18)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-20.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 20)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 20)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-22.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 21)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-21.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-21.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 01:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Awas! Buaya Meneteskan Air Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[awas]]></category>
		<category><![CDATA[buaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1126</guid>
		<description><![CDATA[Rekam Jejak Kelam Penganut Sekte Syi&#8217;ah. Sejarah setiap umat dan bangsa begitu berharga bagi generasi penerusnya. Suatu bangsa dan umat yang melalaikan sejarah pendahulunya ialah umat yang lemah dan telah kehilangan jati dirinya. Tidak heran bila dalam Al Qur&#8217;an Al Karim dan Asunnah kita mendapatkan banyak anjuran agar kita mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu. [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-16.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-10.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-13.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 13)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 13)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rekam Jejak Kelam Penganut Sekte Syi&#8217;ah. </strong></p>
<p>Sejarah setiap umat dan bangsa begitu berharga bagi generasi penerusnya. Suatu bangsa dan umat yang melalaikan sejarah pendahulunya ialah umat yang lemah dan telah kehilangan jati dirinya.</p>
<p>Tidak heran bila dalam Al Qur&#8217;an Al Karim dan Asunnah kita mendapatkan banyak anjuran agar kita mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu. Dengan demikian, kita dapat menghindari berbagai jalan yang telah menghantarkan mereka kepada kehancuran:</p>
<p style="text-align: right;">[قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ [ آل عمران 137</p>
<p><em>"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).". </em>Ali Imran 137<span id="more-1126"></span></p>
<p style="text-align: right;">[أَفَلَمْ يَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ  [ يوسف 109</p>
<p><em>"Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka." </em>Yusuf 109</p>
<p style="text-align: right;">[ لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ [ يوسف 111</p>
<p><em>"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal."</em> Yusuf 111</p>
<p>Dan seusai menceritakan kisah nabi Musa <em>'alaihissalam </em>dan musuh bebuyutannya, yaitu Fir'aun, Allah Ta'ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">[إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَى [ النازعات 26</p>
<p><em>"Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya)."</em> An Nazi'aat 26</p>
<p>Dan pada banyak kesempatan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan para sahabatnya agar tidak mengulangi kesalahan orang-orang terdahulu. Diantara ketika sahabat kesayangannya, yaitu Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu memintakan keringanan bagi seorang wanita yang mencuri agar tidak dipotong tangannya. Menghadapi permohonan sahabat kesayangannya ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersikap tegas dan bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">(إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقِيمُونَ الْحَدَّ عَلَى الْوَضِيعِ ، وَيَتْرُكُونَ الشَّرِيفَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ فَاطِمَةُ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا) رواه البخاري</p>
<p><em>"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian terjerumus dalam kebinasaan, dikarenakan sikap mereka yang pilih kasih. Mereka bersikap tegas dengan menegakkan hukuman kepada rakyat jelata, akan tetapi mereka membiarkan orang terpandang melakukan kejahatan. Sungguh demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, andailah Fatimah melakukan perbuatan itu (mencuri) niscaya akan aku potong tanagnnya." </em>Riwayat Bukhari.</p>
<p>Dahulu Khalifah Umar bin Al Khatthab Radhiallahu ‘Anhu menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;">إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية</p>
<p><em>"Sesungguhnya simbol-simbol agama <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >islam</a> akan terurai satu demi satu, bila telah ada generasi dari umat islam yang tidak mengenal bagaimana kehidupan jahiliyyah."</em></p>
<p>Seusai menyebutkan ucapan Kholifah Umar bin Al Khatthab Radhiallahu ‘Anhu ini, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p style="text-align: right;">وهذا حال كثير ممن نشأ في عافية الإسلام وما عرف ما يعارضه ليتبين له فساده فإنه لا يكون في قلبه من تعظيم الإسلام مثل ما في قلب من عرف الضدين.</p>
<p><em>"Dan demikianlah halnya kebanyakan orang-orang yang terlahirkan di tengah-tengah komunitas Islam, sedangkan ia tidak pernah mengetahui selainnya, dengan demikian ia kurang mengetahui sejauh mana kesesatan ajaran selain Islam. Generasi yang demikian ini, biasanya kurang bisa mengagungkan agama islam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang muslim yang mengetahui Islam dan lainnya." </em>(<a href="#_ftn1">[1]</a>)</p>
<p>Berangkat dari ini, saya mengajak saudaraku sekalian untuk sedikit mengamati rekam jejak para penganut agama Syi&#8217;ah sepanjang sejarah ummat Islam.</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pembantaian Jama&#8217;ah Haji Dan Pencongkelan Hajar Aswad.</strong></p>
<p>Saudaraku, pernahkah anda mengetahui orang kafir yang berani menyerang dan membantai Jama&#8217;ah Haji yang sedang bertowaf di sekitar Ka&#8217;bah. Mayat-mayat jama&#8217;ah haji mereka cemplungkan ke dalam sumur Zam-zam. Hajar Aswad yang melekat di sudut Ka&#8217;bah mereka congkel. Belum cukup dengan perbuatan keji itu, musuh Islam itupun meneruskan kebengisannya dengan mencongkel pintu Ka&#8217;bah, merobek kiswah dan berusaha mencongkel talang emasnya?.</p>
<p>Ketahuilah saudaraku! Tindakan kejam nan bengis itu benar-benar pernah terjadi. Akan tetapi yang sangat mengejutkan, ternyata kejahatan itu tidaklah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, atau nasrani atau Hindu. Kebengisan itu justru dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang islam. Aneh bukan?</p>
<p>Saya rasa, saudara tidak perlu terlalu heran, sebab demikianlah faktanya. Tidak heran bila musuh-musuh Islam berusaha mendukung dan membela berbagai sekte sesat yang ada di tengah-tengah umat islam. Karena dengan meminjam tangan-tangan merekalah kaum Yahudi dan Nasrani dapat melakukan berbagai tindak kejahatannya.</p>
<p>Ini adalah salah satu bukti nyata akan kebenaran sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:</p>
<p style="text-align: right;">(إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عليهم عَدُوًّا من سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قال يا محمد إني إذا قَضَيْتُ قَضَاءً فإنه لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عليهم عَدُوًّا من سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عليهم من بِأَقْطَارِهَا حتى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا  رواه مسلم</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya aku pernah memohon kepada Allah (Tuhanku) agar Ia tidak membinasakan umatku dengan bencana yang merata, dan agar Ia tidak memberikan kesempatan kepada musuh dari selain diri mereka sendiri yang akan menguasai seluruh negri mereka. Dan sesungguhnya Allah (Tuhanku) berfirman: Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku telah memutuskan dan keputusanku tidak dapat ditentang. Sesungguhnya Aku telah mengabulkan permintaanmu: agar Aku tidak membinasakan umatmu dengan bencana yang merata, dan agar Aku tidak memberikan kesempatan kepada musuh dari selain diri mereka sendiri yang akan menguasai seluruh negri mereka, walaupun mereka telah bersatu padu dari seluruh penjuru dunia. Kebinasaan umatmu hanya akan terjadi bila sebagian dari umatmu telah membinasakan dan menawan sebagian lainnya.&#8221;</em> Muslim.</p>
<p>Inilah yang mendasari kaum Yahudi, Nasrani dan lainnya rela menggelontorkan dana yang begitu besar kepada berbagai yayasan, atau ormas atau sekte umat Islam.</p>
<p>Untuk mengetahui sejarah kelam yang pernah menodai lembaran sejarah umat islam, berikut saya sarikan kejadiannya.</p>
<p>Pada tahun 317 H, satu pasukan besar dibawah pimpinan Abu Thahir Al Qirmithy, tepatnya pada hari Tarwiyah tanggal 8 Zul Hijjah tiba di kota Mekkah. Tanpa menunda sedikitpun, pasukan Abu Thahir langsung membantai jama&#8217;ah haji yang berada di kota Makkah dan merampas harta mereka. Dengan bengisnya mereka membatai setiap orang muslim yang mereka temui di sana. Tanah suci, bulan suci dan sedang mengamalkan ibadah thowaf mengelilingi Ka&#8217;bah tidak membangkitkan rasa iba sedikitpun pada diri Abu Thahir dan pasukannya. Bahkan Abu Thahir dengan kesombongannya duduk di pintu Ka&#8217;bah, sambil memandangi pasukannya membantai jamah haji.</p>
<p>Setelah tidak tersisa seorangpun dari jama&#8217;ah haji yang ada di Masjid Haram, Abu Thahir memerintahkan pasukannya untuk mencemplungkan mayat-mayat mereka ke dalam sumur Zam-zam. Dan setelah sumur Zam-zam –penuh dengan mayat, sisanya dikuburkan di tempat ia terbunuh di dalam Masjid Haram.</p>
<p>Selanjutnya Abu Thahir memerintahkan pasukannya untuk mencongkel pintu Ka&#8217;bah, dan merobek-robek Kiswah Ka&#8217;bah untuk dibagikan kepada pasukannya. Belum puas dengan kejahatannya, Abu Thahir kembali memerintahkan salah seorang pasukannya untuk melepas Talang Emas yang ada di dalah satu sudut atas Ka&#8217;bah, akan tetapi orang tersbeut terjungkal hingga akhirnya binasa. Menyaksikan kejadian itu, Abu Thahir mengurungkan niatnya mengambil Talang Emas dan mengalihkan perhatiannya ke Hajar Aswad. Abu Thahir memerintahkan seorang pasukannya untuk mencongkel Hajar Aswad. Selanjutnya Hajar Aswad ini ia bawa pulang ke tempat tinggalnya di daerah Bahrain atau yang sekarang dikenal dengan wilayah Qatif, pesisir timur dari Kerajaan Saudi Arabia. Hajar Aswad terus berada dalam genggamannya selama 22 (dua puluh dua) tahun lamanya. (<a href="#_ftn2">[2]</a>)</p>
<p>Tatkala perbuatan Abu Thahir ini terdengar oleh Abu Muhammad Ubaidullah Al &#8216;Alawi pendiri dinasti Fatimiyyah yang berasaskan agama Syi&#8217;ah, ia segera menuliskan surat berisi teguran kepada Abu Thahir:<strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;">قد حققتَ على شيعتنا ودعاة دولتنا اسم الكفر والإِلحاد بما فعلتَ، وإن لم تردّ على أهل مكّة وعلى الحجّاج وغيرهم ما أخذتَ منهم، وتردّ الحجر الأسود إلى مكانه، وتردّ كسوة الكعبة، فأنا بريء منك في الدنيا والآخرة.</p>
<p><em>&#8220;Dengan perbuatanmu ini engkau telah membuktikan kepada masyarakat bahwa para pengikut kita (Syi&#8217;ah kita) dan kaki tangan negara kita adalah orang-orang kafir dan sesat. Bila engkau tidak segera mengembalikan harta penduduk Mekkah, para jamaah haji,  Hajar Aswad, dan Kiswah Ka&#8217;bah, maka sejak sekarang aku berlepas diri darimu di dunia dan akhirat.&#8221;</em></p>
<p>Setelah Abu Thahir membaca surat teguran dari pemimpinnya, yang sekaligus perintis dinasti Ubaidiyyah atau Fatimiyyah, iapun segera berusaha mengumpulkan kembali harta penduduk Mekah yang masih tersisa dan segera mengirimkannya bersama Hajar Aswad ke kota Mekkah.</p>
<p>Dan pada waktu yang sama, ia juga membalas surat teguran Abu Muhammad Ubaidullah Al &#8216;Alawi dengan menuliskan surat berikut:</p>
<p style="text-align: right;">إنّ الناس اقتسموا كسوة الكعبة وأموال الحُجّاج، ولا أقدر على منعهم.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya pasukanku telah membagi-bagi Kiswah Ka&#8217;bah dan harta para jama&#8217;ah haji, sedangkan aku tidak kuasa untuk mencegah mereka dari melakukan hal itu.&#8221;</em> (<a href="#_ftn3">[3]</a>)</p>
<p>Saudaraku! Apa perasaan anda tatkala mengetahui bahwa ternyata salah satu sekte dari agama Syi&#8217;ah pernah melakukan kejahatan bengis seperti ini? Mungkinkah masih tersisa rasa simpatik di hati anda walau hanya sedikit, kepada para penganut paham yang telah mendoktrin pengiklutnya melakukan kejahatan keji semacam ini?</p>
<p>Mungkin ada dari saudara yang berkata: Ah itu adalah kejahatan perorangan sehingga tidak mewakili seluruh penganut agama Syi&#8217;ah.</p>
<p>Saudaraku! Saya harap saudara belum melupakan data-data yang telah saya paparkan sebelumnya. Diantara data yang meruntuhkan anggapan saudara ini ialah riwayat berikut:</p>
<p style="text-align: right;">قال الأصبغ بن نباتة: بينا نحن ذات يوم حول أمير المؤمنين عليه السلام في مسجد الكوفة، إذا قال: يا أهل الكوفة، لقد حباكم الله عز وجل بما لم يحب به من فضل مصلاكم؛ بيت آدم وبيت نوح وإدريس ومصلى إبراهيم الخليل، ومضلى أخي الخضر عليهم السلام، ومصلاي، وإن مسجدكم هذا لأحد الأربعة المساجد التي اختارها الله عز وجل لأهلها &#8230;.. ولا تذهب الأيام والليالي حتى ينصب الحجر الأسود فيه، وليأتين عليه زمان يكون مصلى المهدي من ولدي ومصلى كل مؤمن، ولا يبقى على وجه الأرض مؤمن إلا كان به أو حن قلبه إليه.</p>
<p><em>&#8220;Al Asbagh bin Nabatah mengisahkan: Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di sekitar Amirul Mukminin &#8216;alaihissalaam di dalam Masjid kota Kufah, tiba-tiba ia berkata: Wahai penduduk Kufah, sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengaruniakan kepada kalian  suatu keutamaan buat masjid kalian ini, suatu hal yang tidak pernah Ia karuniakan kepada selain kalian. Masjid kalian ini adalah rumah Nabi Adam, Nuh, Idris, dan tempat solat Nabi Ibrahim Al Khalil,dan saudaraku Khidir &#8216;alaihimussalam. Dan Masjid kalian ini adalah satu dari keempat masjid yang Allah Azza wa Jalla pilihkan untuk para penduduknya. &#8230;.. Tidaklah hari dan malam berlalu (datang qiyamat) hingga <strong>Hajar Aswad</strong> benar-benar telah disematkan padanya. Dan sungguh akan datang suatu masa, masjid ini menjadi tempat solat Imam Mahdi dari anak keturunanku, dan juga tempat solat setiap orang mukmin. Saat itu, <strong>tidaklah ada seorang mukmin melainkan akan mengunjunginya atau hatinya menjadi rindu untuk mengunjunginya</strong>.&#8221; </em></p>
<p>Riwayat ini dapat anda temukan di beberapa referensi terpercaya agama Syi&#8217;ah, diantaranya: <em>Man laa Yahdhuruhu Al Faqih </em>1/231, karya As Syeikh<em> </em>As Shoduq wafat thn 381 H, <em>Tafshil Wasaa&#8217;ilus Syi&#8217;ah (Aalul Bait) </em>5/258, karya Al Hur Al &#8216;Amily wafat thn: 1104 H, <em>Bihaarul Anwaar</em> 97/390, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H, &amp; <em>Kasyful Ghitha&#8217;</em> 1/212, karya As Syeikh Ja&#8217;far Al Ghitha&#8217; Qadah wafat thn: 1228 H.</p>
<p>Dan semoga gambar &#8220;Ka&#8217;bah&#8221; tiruan karya para penganut agama Syi&#8217;ah yang ada di kota Najaf – Iraq belum terlupakan dari memori ingatan anda.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Membunuh Imam Abu Bakar An Nabulsi.</strong></p>
<p>Beliau adalah seorang ulama&#8217; ahli ibadah dan zuhud. Beliau ditangkap oleh kaki tangan Al Mu&#8217;iz Al Fathimi, pemimpin dinasti Ubaidiyyah. Ketika beliau telah dihadapkan kepada Al Mu&#8217;iz, beliau ditanya oleh Al Mu&#8217;iz: Telah sampai kepadaku bahwa engkau berkata: Andai aku memiliki sepuluh anak panas, niscaya yang sembilan akan panahkan kepada pasukan Romawi, sedangkan sisanya akan aku bidikkan kepada para penguasa Mesir (Dinasti Ubaidiyah)? Ditanya demikian, Imam Abu Bakar AN Nabulsi menjawab: Aku tidak pernah mengatakan demikian. Al Mu&#8217;izpun menyangka bahwa beliau telah ruju&#8217; dari ucapannya, sehingga ia bertanya: Lalu apa yang engkau ucapkan? Abu Bakar An Nabulsi menjawab: Seyogyanya kita membidikkan sepuluh anak panah kepada kalian sedangkan satunya kepada pasukan Romawi. Mendengar jawabannya ini, Al Mu&#8217;iz merasa keheranan dan kembali bertanya: Mengapa demikian? Abu Bakar An Nabulsi menjawab: Karena kalian telah merombak agama umat Islam, membantai orang-orang shaleh, memadamkan cahaya Allah, dan mengaku-ngaku sesuatu yang bukan milik kalian. Selanjutnya Al Mu&#8217;iz memerintahkan agar beliau diarak keliling kota, lalu pada hari kedua beliau dipukuli dengan keras, dan pada hari ketiga beliau dikelupas kulitnya hingga meninggal dunia. (<a href="#_ftn4">[4]</a>)</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Bersekongkol dengan Holako Khan.</strong></p>
<p>Petakal kelam ini bermula pada tahun 642 H, yaitu ketika  Khalifah Abbasiyyah yang berjuluk Al Musta&#8217;shim Billah Abdullah bin Manshur Al Abbasi menunjuk Muhammad bin Ahmad bin Ali Al Alqamy sebagai wazir (setingkat perdana menteri). (<a href="#_ftn5">[5]</a>)</p>
<p>Mendapatkan kepercayaan dan kehormatan besar seperti ini dari khalifah umat islam bukannya bersyukur. Jiwa kotor dan hina yang menetap dalam dirinya menjadikannya membalas air susu Khalifah umat islam dengan air tuba. Dengan memanfaatkan kedudukannya yang stategis dalam khilafah islamiyah Muhammad Al Alqamy menjalankan makar dan kejahatannya.</p>
<p>Makar kejinya ini diwujudkan dengan menghapuskan nama-nama pasukan Khilafah dari daftar gaji, sehingga kebanyakan dari merekapun terpaksa keluar dari kesatuan pasukan khilafah. Sampai-sampai, untuk mempertahankan hidup, banyak dari pasukan yang mengemis di pintu-pintu masjid dan pasar . Puncaknya, ketika pasukan Tar-tar menyerbu kota Baghdad, pasukan khilafah yang semula berjumlah 100.000 (seratus ribu), karena perlakuan tidak manusiawi itu hanya tersisa sekitar 10.000 (sepuluh ribu) pasukan.(<a href="#_ftn6">[6]</a>)</p>
<p>Setelah Muhammad Al Alqamy berhasil melumpuhkan pasukan khilafah, ia segera mengirimkan surat kepada Holako Khan. Ia menceritakan keadaan khilafah islamiyyah di Baghdad yang telah lemah, dan jumlah pasukannya yang tinggal sedikit. Ia memberi semangat kepada Holako Khan agar segera datang dengan pasukannya guna menyudahi Khilafah &#8216;Abbasiyah.</p>
<p>Semua itu ia lakukan demi mewujudkan impiannya membumi hanguskan sang khalifah, para ulama&#8217; dan seluruh ahlus sunnah. Sebagaimana dengan makar keji ini, Muhammad Al Alqamy berharap  mendapatkan kesempatan untuk mengembalikan kejayaan dinasti Fatimiyah yang belum lama sirna dari bumi Mesir.</p>
<p>Sudah dapat ditebak, ketika Holako Khan bersama pasukannya yang berjumlah 200.000 (dua ratus ribu) tiba di kota Baghdad, pada bulan Zul Hijjah tahun 655 H. tanpa susah payah ia dapat menundukkan segala perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam. Tak ayal lagi, selama 40 (empat puluh) hari berturut-turut umat islam dari penduduk kota Baghdad dan sekitarnya dibantai oleh pasukan Tar-tar. Sebagian ulama&#8217; ahli sejarah menaksir jumlah umat Islam yang menjadi korban kebengisan Holako Khan dan pasukannya mencapai 2 juta muslim. (<a href="#_ftn7">[7]</a>)</p>
<p>Hari-hari kelam yang merudung umat Islam di kota Baghdad ini tidak menjadikan  Muhammad Al Alqami menjadi iba. Bahkan sebaliknya ia merasa bangga dan berbahagia menyaksikan semua kejadian pilu tersebut, dan tambah bersemangat untuk terus melancarkan pengkhiatan selanjutnya.</p>
<p>Bersama karib kerabat dan orang-orang kepercayaannya menemui Holako Khan. Setelah ia berjumpa dengan pemimpin Tar-tar ini, segera ia kembali dan memberikan saran kepada Khalifah Al Musta&#8217;shim Billah Abdullah bin Manshur Al Abbasi bernegoisasi langsung dengan pemimpin Tar-tar. Muhammad Al Alwqamy menyarankan kepada sang Khalifah agar menawarkan separo penghasilan negri Irak sebagai tebusan perdamaian antara keduanya.</p>
<p>Selanjutnya sang khalifahpun menuruti saran dari perdana menteri kepercayaannya ini. Bersama 700 orang yang terdiri dari para <em>qadhi</em> (hakim), ulama&#8217;, ahli ibadah, pejabat khilafah dan pemuka masyarakat, sang khalifah menuju ke tempat kediaman Holako Khan.</p>
<p>Setibanya disana, mereka dihalangi oleh pasukan Holako Khan, dan yang diizinkan masuk hanya 17 (tujuh belas) orang saja. Setelah Khalifah bersama segelintir orang kepercayaannya masuk ke tempat Holako Khan, seluruh pengiring khalifah yang menanti di luar rumah,  dibantai, dan tidak seorangpun dari mereka dibiarkan hidup.</p>
<p>Seusai bernegoisasi dengan Holako Khan, sang Khalifah dengan diiringi oleh Khaujah Nushairuddin At Thusi dan Muhammad Al Alqami kembali ke istana Khalifah. Tanpa menunda sedikitpun, sang Khalifah segera mengirimkan emas, perhiasan, permata  dan barang-barang berharga lainnya kepada Holako Khan, dengan harapan hatinya menjadi lunak.</p>
<p>Diluar dugaan sang Khalifah, disaat ia berusaha membuat perdamaian dengan Holako Khan, kedua tokoh Syi&#8217;ah di atas, melakukan perngkhianatan berikutnya. Keduanya membisikkan kepada Holako Khan agar tidak menjalin perjanjian apapun dengan Khalifah. Muhammad Al Alqami mengatakan kepada Holako bahwa perjanjian apapun yang ia jalin dengan Khalifah tidak hanya akan berumur panjang. Perjanjian damai antara mereka paling lama berumur satu atau dua tahaun, dan selanjutnya hubungan merekapun akan kembali seperti sedia kala.</p>
<p>Belum cukup dengan pengkhianatan itu, kedua tokoh Syi&#8217;ah inipun meneruskan pengkhianatan keduannya dengan menganjurkan Holako Khan agar membunuh sang Khalifah.</p>
<p>Tak ayal lagi, Holako Khan merasa mendapatkan masukan yang sangat berharga dan otentik. Betapa tidak, pengakuan tentang perilaku sang Khalifah datang dari perdana menterinya langsung, sehingga menurutnya layak untuk dipercaya. Karenanya, ketika sang Khalifah kembali menemuinya, segera ia memerintahkan pasukannya agar membunuh sang khalifah. (<a href="#_ftn8">[8]</a>)</p>
<p>Kebengisan pasukan Holako Khan bukan hanya menimpa umat manusia secara khusus, bahkan karya ilmiyah dan budaya juga turut mejadi korbannya. Diriwayatkan oleh para ulama&#8217; ahli sejarah bahwa beribu-ribu karya ulama&#8217; baik yang berkaitan dengan ilmu agama atau lainnya dilarung ke dalam sungai Tigris (Dijlah). Sampai air sungai berubah warna menjadi hitam untuk beberapa hari akibat terkena tinta kitab-kitab manuskrip yang luntur.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Kebengisan Dinasti Sofawiyah.</strong></p>
<p>Dinasti Sofawiyah adalah keturunan Syeikh Sofiyuddin Al Ardibily, wafat thn 735, yang menguasai Iran dan sekitarnya sejak tahun 907 H hingga tahun 1148 H. Dinasti inilah yang merubah agama masyarakt Iran. Bila sebelumnya komunitas Syi&#8217;ah hanya sebesar 10 % dari total penduduk, setelah berdirinya dinasti ini, berubah menjadi 60 % Syi&#8217;ah.(<a href="#_ftn9">[9]</a>)</p>
<p>Dengan kekuatan, pembantai, dan berbagai macam intimidasi, para penguasa dinasti ini menyebarkan paham Syi&#8217;ah di negri Iran dan sekitarnya.</p>
<p>Para ahli sejarah telah mencatatkan berbagai macam bentuk kejahatan para penguasa dinasti ini. Dan berikut ringkasan kebengisan dan kejahatan mereka</p>
<p><strong>a.</strong><strong> Melaknati ketiga Al Khulafa&#8217; Ar Rasyidin.</strong></p>
<p>Mencela sahabat secara umum dan ketiga <em>al Khulafa&#8217; ar Rasyidin</em> adalah ciri khas para penganut aliran syi&#8217;ah sejak dahulu kala. Akan tetapi pada masa dinasti Sofawiyah, celaan dan kutukan ini dilakukan secara terbuka, di jalan-jalan, pasar-pasar dan bahkan dari atas mimbar masjid oleh para khatib dan penceramah. (<a href="#_ftn10">[10]</a>)</p>
<p>Karena belum puas dengan itu, Syah Ismail terus melampiaskan kebenciaannya terhadap <em>ahlissunnah</em>, sampaipun para ulama&#8217; yang telah lama meninggal dunia tidak selamat dari kebenciannya. Karena itu, ia membongkar kuburan Imam Abu Hanifah, Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dan juga ulama&#8217; lainnya. (<a href="#_ftn11">[11]</a>)</p>
<p>Setiap orang yang tidak setuju dengan perilaku ini, maka ia akan dibantai dengan cara-cara yang bengis. Sampai-sampai korban kebengisannya mencapai angka yang sangat fantastis, yaitu sekitar  satu juta jiwa. (<a href="#_ftn12">[12]</a>)</p>
<p>Akibat ulah para penguasa Iran yang semena-mena terhadap umat Islam dan para ulama&#8217; secara umum, Khalifah Utsmaniyah kala itu yang berkedudukan di Turki merasa terpanggil untuk menghentikan kelaliman yang menimpa umat islam.</p>
<p>Untuk merealisasikan Khalifah keinginan mulia ini, sang Khalifah memimpin langsung pasukan besar dengan membawa serta peralatan perang yang lengkap. Dan dengan puji Allah Yang Maha Esa, umat islam berhasil terbebaskan dari cengkraman dinasti Sofawiyah yang bengis.(<a href="#_ftn13">[13]</a>)</p>
<p><strong>b. </strong><strong>Peringatan hari kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.</strong></p>
<p>Salah seorang penguasa dinasti Sofawiyah, yaitu yang bernama Syah Ismail bin Haidar wafat thn: 1501 H, memprakarsai peringatan hari kematian Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu. Dia pulalah yang mencetuskan gagasan <em>tathbir, </em> yaitu memukul-mukul kepala dengan benda tajam hingga berdarah, punggung dengan rantai besi hingga memar, dan menampar wajah dan dada. Syah Ismail juga memerintahkan agar para pengikutnya mengenakan pakaian berwarna hitam dan berpantangan menikah pada bulan Muharam. Semua itu dalam rangka memperingati hari kematian Al Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu.</p>
<p>Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Syah Ismail mengadobsi hal-hal ini dari perayaan umat Nasrani terhadap har kematian Isa bin Maryam. Karena itu, konon Syah Ismail senantiasa mengundang umat Nasrani untuk turut menghadiri peringatan <em>&#8216;Asyura&#8217;</em> ini. (<a href="#_ftn14">[14]</a>)</p>
<p>Peringatan ini terbukti menjadi sarana paling ampuh guna menyebarkan paham Syi&#8217;ah dan di tengah-tengah masyarakat. Suara genderang, liputan media yang kuat, bait-bait syair, dan isak tangis peserta peringatan, menanamkan simpati kepada para penganut paham Syi&#8217;ah. (<a href="#_ftn15">[15]</a>)</p>
<p><strong>c. Merubah Azan Dengan Menambahkan Kata&#8221; Asyhadu Anna Aliyan Waliyullah&#8221;.</strong></p>
<p>Sejatinya, penambahan ini pernah terjadi pada abad ke-3 atau ke-4 hijriyah, akan tetapi kala itu ditentang dengan keras sampaipun oleh sekte Syi&#8217;ah Imamiyah. Akan tetapi Syah Ismail kembali menghidupkan hal ini dan memaksakan kehendaknya, tanpa menggubris reaksi saiapapun. Dan sejak masa Syah Ismail hingga kini, penambahan azan ini terus menerus diamalkan oleh sekte Syi&#8217;ah, tanpa ada yang mengingkarinya.(<a href="#_ftn16">[16]</a>)</p>
<p>Saudaraku! Dahulu para pemuka sekte Syi&#8217;ah dengan kleras mengingkari penambahan kalimat ini, sampai-sampai tokoh ahli hadits mereka yang bernama <em>As Syeikh As Shoduq </em>berkata:</p>
<p>المفوضة لعنهم الله قد وضعوا أخبارا وزادوا في الآذان : (محمد وآل محمد خير البرية) مرتين، وفي بعض رواياتهم بعد أشهد أن محمدا رسول الله: (أشهد أن عليا ولي الله) مرتين، ومنهم من روى بدل ذلك : (أشهد أن عليا أمير المؤمنين حقا) مرتين. ولا شك أن عليا ولي الله وأنه أمير المؤمنين حقا، وأن محمدا وآله خير البرية، ولكن ذلك ليس في أصل الأذان، وإنما ذكرته ذلك ليعرف بهذه الزيادة المتهمون بالتفويض المدلسون أنفسهم في جملتنا.</p>
<p><em>&#8220;Sekte Al Muawidhah –semoga Allah melaknati mereka- telah memalsukan beberapa riwayat, dan menambah bacaan azan dengan kalimat : &#8220;Muhammad dan keluarga Muhammad adalah sebaik-baik manusia&#8221;, sebanyak dua kali. Pada sebagian riwayat lain, setelah bacaan : syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah, ditambah bacaan: &#8220;saya bersaksi bahwa ali adalah wali Allah&#8221;, sebanyak dua kali. Dan dari mereka ada yang mengganti bacaan ini dengan kalimat: &#8220;Aku bersaksi bahwa Ali Amirul Mukmini Sejati&#8221; sebanyak dua kali. Tidak ada keraguan bahwa Ali adalah wali Allah, dia adalah Amirul Mukminin sejati, Muhammad dan keluarganya adalah sebaik-baik manusia. Akan tetapi semua bacaan itu tidak termasuk dari rangkaian kalimat azan. Saya merasa perlu untuk menyinggungnya, agar diketahui bahwa tambahan bacaan ini adalah ulah sekte Al Mufawwidhah yang mengaku-aku sebagai bagian dari sekte Syi&#8217;ah.&#8221; </em>(<a href="#_ftn17">[17]</a>) <em> </em></p>
<p>At Thusi, yang juga tokoh terkemuka sekte Syi&#8217;ah, wafat thn: 460 H, juga menegaskan hal yang serupa:</p>
<p>أما ما روي في شواذ الأخبار من قول : أشهد أن عليا ولي الله وآل محمد خير البرية، فمما لا يعمل عليه في الأذان والإقامة، فمن عمل بها كان مخطئا.<em> </em><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Adapun tambahan yang diriwayatkan pada berbagai riwayat yang aneh (lemah), yaitu ucapan: &#8220;Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah&#8221; dan: &#8220;Aku bersaksi bahwa keluarga Muhammad adalah sebaik-baik manusia&#8221;, adalah suatu hal yang tidak pernah di amalkan pada azan dan juga iqamah. Dengan demikian, orang yang melakukannya, maka ia telah berbuat kesalahan.&#8221; </em>(<a href="#_ftn18">[18]</a>)</p>
<p>Demikianlah saudaraku! Para penguasa dinasti As Shofawiyah berhasil merubah agama sekte Syi&#8217;ah. Sesuatu yang dahulu ditentang dan dikutuk oleh tokoh-tokoh Syi&#8217;ah, akan tetapi sejak dinasti As Shofawiyah hingga sekarang telah menjadi bagian dari prinsip dan simbol ajaran mereka.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Pengeboman kota Makkah &amp; Penikaman Jama&#8217;ah Haji.</strong></p>
<p>Lagi-lagi para pengikut agama Syi&#8217;ah membuktikan bahwa mereka tidak menghormati kesucian kota Makkah. Pada tanggal 3 Dzul Hijjah tahun 1406  H, petugas imigrasi bandara Jeddah berhasil menggagalkan penyelundupan bahan peledak C4 sebanyak 51 Kg, yang dilakukan oleh jamaah haji Iran.</p>
<p>Dan pada tahun 1407 H, jama&#8217;ah Haji Iran mengadakan demonstrasi besar-besaran di kota makkah. Bukan hanya demo, mereka juga merusak beberapa fasilitas umum, dan bahkan membawa senjata tajam guna melukai jamaah hajian lain yang mereka temui.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1128" title="1" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/13.jpg" alt="13 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 21)" width="192" height="200" /></a><br />
Gambar 1</td>
<td style="text-align: center;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/23.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1129" title="2" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/23.jpg" alt="23 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 21)" width="205" height="197" /></a><br />
Gambar 2</td>
<td style="text-align: center;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/32.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1130" title="3" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/04/32.jpg" alt="32 Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 21)" width="199" height="196" /></a><br />
Gambar 3</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Gambar 1 &amp; 2: Jamaah Iran berdemontrasi<br />
Gambar 3: Pisau lipat dan senjata tajam yang digunakan untuk melukai jama&#8217;ah haji lain yang menghalangi demonstrasi Iran di kota Makkah.</p>
<p>Belum cukup puas dengan kejahatan di atas, kembali para penganut agama Syi&#8217;ah melancarkan kejahatannya. Pada hari senin tanggal 7 Dzul Hijjah 1409 H, tepatnya seusai sholat Isya&#8217;, pengikut Hizbullah Kuwait yang nota bene berpaham Syi&#8217;ah meledakkan dua bom di sekitar Masjidil Haram.</p>
<p>Dan tatkala para pelaku pengeboman berhasil ditangkap mereka mengakui bahwa yang memerintahkan mereka untuk melakukan kejahatan itu ialah Muhammad Baqir Al Mahri, yang nota bene adalah wakil Ayatullah Khumaini.</p>
<p>Dan tatkala para eksekutor pengeboman berhasil ditangkap dan oleh pemerintah Saudi Arabia menjatuhkan hukuman pancung kepada mereka, para pemeluk agama Syi&#8217;ahpun menghadiahkan predikat masti syahid. Dan kini, para penganut agama Syi&#8217;ah di Kuwait menuntut agar pemerintah Saudi Arabia mengembalikan jasad mereka guna dihormati sebagai para pejuang yang mati Syahid. (<a href="#_ftn19">[19]</a>)</p>
<p>Saudaraku! Demikianlah pemahaman dan praktek jihad yang diimani dan diamalkan oleh para penganut agama Syi&#8217;ah. Apakah anda setuju dengan pemahaman dan praktek jihad ala Syi&#8217;ah ini?</p>
<p>Bila umat Islam yang sedang menunaikan rukun Islam kelima mereka yaitu ibadah haji, mereka korban dan tidak mereka hargai, maka mungkinkah mereka akan menghargai dan menghormati anda yang sedang berada di tengah-tengah keluarga anda?</p>
<p>Bila kesucian kota Mekkah tidak lagi mereka jaga, sehingga tega mengadakan pengeboman, dan menumpahkan darah selain kelompoknya, maka mungkinkah mereka akan menjaga kehormatan kota Jakarta dan kota-kota lainya di negri kita tercinta?</p>
<p>Saudaraku! Andai saudara adalah orang yang membenci pemerintah Saudi Arabia, akan tetapi akankah kebencian anda ini menjadikan anda lupa akan kesucian kota Mekkah?</p>
<p>Mungkinkah para penganut agama Syi&#8217;ah benar-benar telah menghapuskan kota Mekkah dari daftar kota-kota suci mereka? Mungkinkah &#8220;duplikat Ka&#8217;bah&#8221; yang mereka bangun di kota Kufah, telah menginspirasi mereka untuk membuat kekacauan di kota Mekkah, agar umat Islam berpaling darinya dan berpindah ke &#8220;ka&#8217;bah&#8221; mereka?</p>
<p>Saudaraku! Mungkin anda berkata, berbagai kejadian itu adalah bagian dari sejarah yang telah usah, sehingga sudah sepantasnya dilupakan dan tidak lagi diceritakan.</p>
<p>Tapi, coba anda kembali mengikuti dan mencermati ulah para penganut agama Syi&#8217;ah sakarang!</p>
<p>Kembali parfa penganut agama Syi&#8217;ah berusaha berulah dan memperbaharui sejarahnya.</p>
<p>Pada sore hari Jum&#8217;at tanggal 25 Safar 1430 H, tepatnya di pekuburan Baqi&#8217;. Mereka berusaha menggali kuburan &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em>. Para demonstran yang berjumlah ribuan berusaha mengambili tanah kuburan &#8216;Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> dengan tangan mereka dan kemudian memasukkan tanah tersebut ke dalam saku baju mereka. Karena pemuda Syi&#8217;ah yang berusaha mengambil tanah dari kuburan &#8216;Aisyah<em> radhiallahu &#8216;anha</em> berjumlah banyak, sampai-sampai tanah yang menutupi jasad beliau hanya tersisa tinggal beberapa jengkal.</p>
<p>Akan tetapi atas kebesaran dan kuasa Allah, pasukan anti huru hara Kerajaan Saudi segera tiba di tempat dan segera dapat menguasai keadaan, dan menghalau para demonstran.</p>
<p>Bagi anda yang ingin menyaksikan kejahatan para penganut agama Syi&#8217;ah di pekubuiran Baqi&#8217; silahkan kunjungi link:</p>
<p><a href="http://www.dd-sunnah.net/records/view/action/view/id/1781/">http://www.dd-sunnah.net/records/view/action/view/id/1781/</a></p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=rzEKEC8VNso&amp;feature=fvsr">http://www.youtube.com/watch?v=rzEKEC8VNso&amp;feature=fvsr</a></p>
<p>Demikianlah perilaku para pengikut agama Syi&#8217;ah terhadap Kota Mekkah dan Kota Madinah, dua kota suci umat islam.</p>
<p>Setelah anda mengetahui ulah mereka ini, masihkah ada rasa simpatik kepada mereka? Atau masihkah ada harapan bahwa para pengikut agama Syi&#8217;ah akan membela agama Islam di kancah internasional, apalagi sampai berhadapan dengan Amerika dan Zionis?</p>
<p>Menurut hemat anda, mungkinkah orang yang benar-benar beriman tega menodai kesucian kota Makkah dengan pengeboman, demonstrasi, dan menghina kuburan &#8216;Aisyah Istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> )  Dar&#8217;ut Ta&#8217;arud Al &#8216;Aqel wa An Naqel 5/259.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> )  Al Kamil Fi At Tarikh oleh Ibnul Atsir 7/53-54 &amp; Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  11/182 &amp; 252.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> )  Al Kamil Fi At Tarikh oleh Ibnul Atsir 7/54.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> )  Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  11/284 &amp; Siyar A&#8217;alam An Nubala&#8217; 16/149.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> ) Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  13/192.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> )   Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  13/234-235.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> )  Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  13/235.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> ) Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/234.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> ) &#8216;Audatus Sofawiyyin hal: 20</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> ) Lamhaat Ijtima&#8217;iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/58.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> ) Lamhaat Ijtima&#8217;iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/54 &amp; 70.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> )  Lamhaat Ijtima&#8217;iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/43.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> )  Idem 1/81-85.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> )  &#8216;Audatus Sofawiyyin hal: 11.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> ) Lamhaat Ijtima&#8217;iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/59.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> ) Lamhaat Ijtima&#8217;iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/59 &amp; &#8216;Audatus Sofawiyyin hal: 11.</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> )  Man laa Yahdhuruhu Al Faqih, oleh As Syeikh As Shaduq, wafat thn: 381 H, hal: 1/290-291.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> )  An Nihayah Fi Mujarradi Al Fiqhi wa Al Fatawa, oleh Abu Ja&#8217;far Muhammad bin Al Hasan At Thusy wafat thn 460, hal: 69.</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> )  Sumber: Harian Saudi Arabia Al Watan edisi 20/10/2009.</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-16.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 16)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-10.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 10)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-13.html' rel='bookmark' title='Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 13)'>Awas! Buaya Meneteskan Air Mata (Bag. 13)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/awas-buaya-meneteskan-air-mata-bag-21.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-6.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-6.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 01:16:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Khusus Untuk Pemuda Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA KEPADA AGAMA NABI SAW DAN AHLUL BAIT) OLEH Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi diterjemah dan disajikan oleh Abu Hamzah al-Sanuwi &#160; Kita telah mendapatkan banyak di antara para pembesar sahabat yang menjalin hubungan pernikahan dengan keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menikah dengan mereka, begitu pula sebaliknya, terutama dua [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-3.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-5.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 5)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 5)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-2.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a class="aligncenter" title="Khusus Untuk Pemuda Syiah" href="&lt;img alt="></a><img class="size-medium wp-image-992 alignleft" title="buku" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/03/buku-212x300.jpg" alt="buku 212x300 Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 6)" width="189" height="263" /></p>
<p style="text-align: center;">(189 PERTANYAAN YANG DAPAT MENUNTUN MEREKA KEPADA AGAMA NABI SAW DAN AHLUL BAIT)</p>
<p style="text-align: center;">OLEH</p>
<p style="text-align: center;">Sulaiman ibn Shalih al-Kharasyi</p>
<p style="text-align: center;">diterjemah dan disajikan</p>
<p style="text-align: center;">oleh Abu Hamzah al-Sanuwi</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p>Kita telah mendapatkan banyak di antara para pembesar sahabat yang menjalin hubungan pernikahan dengan keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menikah dengan mereka, begitu pula sebaliknya, terutama dua orang syaikh dari mereka (Abu Bakar dan Umar), sebagaimana hal itu disepakati oleh para ahli sejarah dan perawi hadits, baik dari kalangan sunni atau kelompok Syi’ah.<span id="more-1259"></span>Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:<br />
Menikah dengan Aisyah binti Abi Bakar Radhiallahu ‘Anha.<br />
Menikah dengan Hafshah binti Umar Radhiallahu ‘Anha.<br />
Menikahkan kedua puteri beliau (Ruqayyah kemudian Ummu Kultsum) dengan khalifatur Rasyid ketiga, seorang yang dermawan dan pemalu yaitu Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu, yang karenanya dia dijuluki Dzun Nuraini (seorang yang memiliki dua cahaya).<br />
Kemudian anaknya yang bernama Aban bin Utsman menikah dengan Ummu Kultsum binti Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.<br />
Marwan bin Aban bin Utsman juga menikah dengan Ummul Qasim binti Al Hasan bin Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib.<br />
Lalu Zaid bin Amr bin Utsman menikah dengan Sakinah binti Al Husain.<br />
Dan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Fatimah binti Al Husain bin Ali.<br />
Kita cukup dengan menyebutkan tiga khalifah dari kalangan para sahabat, tanpa menyebutkan sahabat yang lain, yang mereka juga memiliki hubungan pernikahan dengan ahlul bait, untuk menjelaskan bahwa ahlul bait juga mencintai mereka, karena itulah, terjadi hubungan pernikahan ini dan berbagai hubungan yang lain.<br />
Demikian pula, kita dapatkan bahwa ahlul bait memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti disepakati oleh para ahli sejarah dan perawi hadits, baik dari kalangan kalangan sunni atau Syi’ah.<br />
Inilah Ali Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana disebutkan di dalam beberapa sumber rujukan Syi’ah, memberi nama salah seorang anaknya dari pernikahannya dengan Laila binti Mas’ud Al-Hanzhaliyyah dengan nama Abu Bakar. Dan Ali adalah orang yang pertama kali di kalangan Bani Hasyim yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Bakar.<br />
Demikian pula, Al Hasan bin Ali memberi nama anak-anaknya: Abu Bakar, Abdurrahman, Thalhah dan Ubaidillah.<br />
Dan juga Al Hasan bin Al Hasan bin Ali.<br />
Serta Musa Al Kazhim memberi nama puterinya dengan Aisyah.<br />
Bahkan ada di antara ahlul bait yang diberi kunyah dengan Abu Bakar, bukan nama baginya, seperti: Zainul Abidin bin Ali  dan Ali bin Musa Ar Ridha.<br />
Sedangkan orang yang memberi nama anaknya dengan nama Umar Radhiallahu ‘Anhu, di antaranya Ali Radhiallahu ‘Anhu, dia memberi nama anaknya Umar Al Akbar dari istrinya yang bernama Ummu Habib binti Rabi’ah dan dia terbunuh di Ath Thaf bersama saudaranya Al Husain Radhiallahu ‘Anhu. Dan yang lain yaitu Umar Al Ashghar dari istrinya yang bernama Ash Shahba At Taghlabiyyah. Anak yang terakhir ini diberi umur panjang sesudah saudaranya yang lain, sehingga bisa mewarisi mereka.<br />
Demikian pula Al Hasan bin Ali memberi nama kedua anaknya: Abu Bakar dan Umar.<br />
Demikian pula Ali bin Al Hasan bin Ali.<br />
Demikian pula Zainul Abidin.<br />
Demikan pula Musa Al Kazhim.<br />
Demikan pula Al Husain bin Zaid bin Ali.<br />
Demikian pula Ishaq bin Al Hasan bin Ali bin Al Hasan.<br />
Demikian pula Al Hasan bin Ali bin Al Hasan bin Al Husain bin Al Hasan.<br />
Dan banyak lagi, tetapi kita cukup menyebutkan sejumlah nama di atas dari kalangan pembesar dan pendahulu ahlul bait karena khawatir berkepanjangan.<br />
Adapun orang yang memberi nama puterinya dengan Aisyah, di antaranya: Musa Al Kazhim  dan Ali Al Hadi.<br />
Dan kita cukup menyebutkan Abu Bakar dan Umar serta Ummul mukminin Aisyah Radhiallahu ‘Anhuma.</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-3.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 3)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-5.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 5)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 5)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-2.html' rel='bookmark' title='Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)'>Khusus Untuk Pemuda Syiah (bag. 2)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/khusus-untuk-pemuda-syiah-bag-6.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

