<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gen Syi&#039;ah &#187; Bantahan</title>
	<atom:link href="http://www.gensyiah.com/category/bantahan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gensyiah.com</link>
	<description>Membongkar Kejahatan Syiah terhadap Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 06:43:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<image>
  <link>http://www.gensyiah.com</link>
  <url>http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2012/01/gens.png</url>
  <title>Gen Syi&#039;ah</title>
</image>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>MUI : Umar Syihab Salah!</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/mui-umar-syihab-salah.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/mui-umar-syihab-salah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 13:06:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1504</guid>
		<description><![CDATA[INFO PENTING!!! Pengunjung www.gensyiah.com yang kami hormati, dan kaum muslimin ahlussunnah dimanapun yang kami cintai. Sejak peristiwa pembakaran pesantren syiah di Sampang pada tanggal 29 Desember 2011, lalu masalah syiah kembali mencuat dan terjadi gonjang ganjing soal syiah, lebih-lebih setelah pembesar-pembesar ormas Islam membela syiah, dan DR. Umar Syihab menyatakan syiah tidak sesat dan mengatasnamakan [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>INFO PENTING!!!</strong></p>
<p>Pengunjung www.gensyiah.com yang kami hormati, dan kaum muslimin ahlussunnah dimanapun yang kami cintai.<br />
Sejak peristiwa pembakaran pesantren syiah di Sampang pada tanggal 29 Desember 2011, lalu masalah syiah kembali mencuat dan terjadi gonjang ganjing soal syiah, lebih-lebih setelah pembesar-pembesar ormas <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> membela syiah, dan DR. Umar Syihab menyatakan syiah tidak sesat dan mengatasnamakan sebagai ketua MUI atau ketua Umum MUI.<br />
Benarkah MUI menganggap syiah sebagai madzhab yang sah? Atau kelompok yang tidak sesat?<br />
Berikut berita terbaru dari MUI pusat tentang sikap resmi MUI Pusat thd masalah syi&#8217;ah :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ</p>
<p>Dewan Pimpinan MUI Pusat hari Selasa (9 Shafar 1433 H/ 3 Januari 2012) mengadakan rapat rutin. Agendanya membhs masalah syiah. Hasilnya antara lain sebagai berikut :</p>
<p>1. Rapat memutuskan Umar Syihab (salah satu ketua MUI, bukan ketua umum!) bersalah karena menyatakan syiah tidak sesat dengan mengatasnamakan institusi MUI. Yang berhak memberi statement adalah K.H. Ma&#8217;ruf Amin (selaku Koordinator Ketua 2 MUI) atau yang ditunjuk oleh Rapim DP MUI.</p>
<p>2. MUI tetap konsisten dengan Keputusan Rakernas MUI tanggal 7 Maret 1984 tentang faham Syiah (yang berbeda dengan ahlussunnah dan wajib diwaspadai).</p>
<p>Kita berharap kepada Allah kemudian kepada para ulama dan kyai yang ada di MUI pusat untuk segera mengeluarkan fatwa tentang sesatnya syi’ah yang memang jelas-jelas sesat, meskipun kita sudah sangat terlambat dari negara-negara islam lainnya yang sudah mengeluarkan fatwa sesat untuk syiah. Dalam kebaikan tidak ada kata terlambat, jika tidak sekarang, ya di waktu yang akan datang.</p>
<p>Sumber : MUI Pusat.</p>
<p>Abu Hamzah Malang, 25 Shafar 1433H/19 Januari 2012</p>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/mui-umar-syihab-salah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 05:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;MEREKA MEMALSUKAN KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK&#8221; Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi Bagian (1) Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.   Pendahuluan : Bismillahirrahmanirrahim. Buku ini adalah buku ke-2 dari Syaikh Idahram -yang bagi kami ia masih bersifat  majhul al-hal (tidak diketahui jatidirinya)- terkait dengan apa yang ia sebut sebagai trilogi data dan fakta penyimpangan salafi [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bukutamu' rel='bookmark' title='Buku Tamu'>Buku Tamu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/buku-den-syiah.html' rel='bookmark' title='Buku Gen Syi&#8217;ah'>Buku Gen Syi&#8217;ah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/pengantar-buku-gen-syiah.html' rel='bookmark' title='Pengantar Buku Gen Syi’ah'>Pengantar Buku Gen Syi’ah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>&#8220;MEREKA MEMALSUKAN</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK&#8221;</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Bagian (1)</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1369" title="1" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/1-197x300.jpg" alt="1 197x300 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="197" height="300" /></a></p>
<p dir="LTR"><strong>Pendahuluan :</strong></p>
<p dir="LTR"><em>Bismillahirrahmanirrahim</em>.<br />
Buku ini adalah buku ke-2 dari Syaikh Idahram -yang bagi kami ia masih bersifat  <em>majhul al-hal</em> (tidak diketahui jatidirinya)- terkait dengan apa yang ia sebut sebagai trilogi data dan fakta penyimpangan salafi wahabi. Sebelumnya adalah buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; dan Buku ke-3 dengan judul yang lebih heboh lagi: &#8220;Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi&#8221;.<span id="more-1368"></span></p>
<p dir="LTR">Buku pertama sudah kami soroti sedikit mengenai bahayanya yang sangat luas, dalam satu makalah yang kami beri judul &#8220;<strong>Waspada! Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham Rafidhah (Syi’ah Iran)&#8221;. </strong>Silakan<strong> </strong>baca di<strong> <a href="../../../../../waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html">http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html</a> </strong>Walaupun sebenarnya banyak kesalahan yang ada di dalamnya<strong>,</strong> namun yang sedikit itu kiranya sudah cukup bagi orang ahlussunnah untuk mengetahui mutu buku itu dan untuk mewaspadai buku dan para pengusungnya.</p>
<p dir="LTR">Sebenarnya kami tidak suka mengomentari tulisan orang lain, namun karena bagian dari kewajiban kami dalam memberi nasehat kepada umat, maka kami pun harus menulis komentar terhadap buku kedua ini.</p>
<p dir="LTR">Dalam promosinya di toko buku online  mereka menulis:</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Buku menjadi sangat berharga dan penting. Ia menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan.</em> Lalu, <em>apa jadinya jika buku-buku para ulama yang mewarisi ilmu dan petunjuk itu dikotori, diselewengkan, bahkan dipalsukan? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?&#8221;</em></span><em></em></p>
<p dir="LTR">Kita perlu bertanya kritis, apa benar buku ini menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan?! Lalu apa jadinya jika buku koreksian terhadap faham salafi ini &#8220;diselewengkan&#8221; dan berisi banyak fitnah? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?</p>
<p dir="LTR">Itu baru pertanyaan. Mohon para pembaca sabar sebentar, <em>insyaallah</em> akan kita buktikan bersama.</p>
<p dir="LTR"><em><br />
</em>Lalu lanjutan dari promosi itu berbunyi:</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Barangkali Anda terperanjat, kasus-kasus penyelewengan Salafi Wahabi dalam hal amanah ilmiah ini sangat banyak dan beragam</em><em>,</em> sebagaimana yang -insya&#8217;Allah- akan dikupas dalam buku ini, seperti: pemusnahan dan pembakaran buku; sengaja meringkas, mentahkik, dan mentakhrij kitab-kitab hadis yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyikan hadis-hadis yang tidak mereka sukai; menghilangkan hadis-hadis tertentu yang tidak sesuai dengan faham mereka; <em>memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya;</em> mengarang-ngarang hadits dan pendapat ulama; memerintahkan ulama mereka untuk menulis suatu buku, lalu mengatasnamakan buku itu dengan nama orang lain; tindakan intimidasi dan provokasi; membeli manuskrip; menyogok penerbit; sampai kepada pencurian buku-buku induk dan manuskrip untuk dihilangkan sebagian isinya, atau dimusnahkan semuanya.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><em>Masyaallah</em>, benarkah kita akan terperanjat setelah membaca buku ini?!</p>
<p dir="LTR">Saya semakin penasaran untuk segera menelaah buku ini, karena ingin tahu jawabannya.</p>
<p dir="LTR">Kemudian, kalau kita perhatikan di bagian atas sampul depan maka akan terpampang dua nama orang besar, yaitu bapak <strong>Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA. (Ketua Umum Pengurus Besar NU)</strong> dan <strong>Prof. DR. Azyumardi Azra, MA. M.PHIL (Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)</strong>. <em>Masyaallah</em>, dua nama tokoh nasional yang cukup terkenal dan berkedudukan. Namun apakah sudah menjamin bahwa buku yang diberi pengantar oleh tokoh-tokoh besar ini isinya bagus, benar dan bermutu?!</p>
<p dir="LTR"><em>Insyaallah</em> sebentar lagi kita akan mengetahui jawabannya.</p>
<p dir="LTR">Lalu di sampul belakang terpampang 5 foto tokoh yang dimintai mendukung buku tersebut. Coba perhatikan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1370" title="2" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/2.jpg" alt="2 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="317" height="480" /></a></p>
<p dir="LTR">Salah seorang mereka, nomor ke-3 (yaitu <strong>Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani M.A.</strong>)  menulis: <em>&#8220;<span style="background-color: #ffff00;">Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.&#8221;</span></em><em> </em></p>
<p dir="LTR">Benarkah demikian? Apakah kita juga merinding setelah membacanya? Mari kita buktikan bersama sebentar lagi.</p>
<p dir="LTR">Sementara <strong>KH. Wahfiudin, M.B.A</strong> (no. 5)  menulis: <span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan, memuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah.&#8221;</em></span></p>
<p dir="LTR">Benarkah buku ini dahsyat? Benarkah kita akan tercengang dibuatnya? Benarkah kupasannya akurat dan ilmiah?</p>
<p dir="LTR">Saya yakin pembaca semakin tidak sabar untuk membuktikannya.</p>
<p dir="LTR">Dalam membuktikan kali ini kita cukup melihat mutu terjemahan dan kesimpulannya. Sebab hal itu cukup untuk mengenali tingkat intelektualitas, keilmuan, ketakwaan dan kejujuran seseorang. Jika terjemahan salah dan kesimpulan menyesatkan karena berbalik menjadi menfitnah maka hal itu menjadi <strong><em>aurat mughallazhah</em></strong> alias kemaluan besar yang seharusnya ditutupi, bukan malah diumbar dan menelanjangi diri sendiri di hadapan publik.</p>
<p dir="LTR">Sekarang saatnya kita mulai, dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala saya katakan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="LTR"><em>Bismillahirrahmanirrahim</em></p>
<p dir="LTR"><strong>Aurat pertama:</strong></p>
<p dir="LTR">Di halaman 49-50 mereka menulis:</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;"><strong>Perintah untuk membakar Buku-Buku dan <span style="text-decoration: underline;">memalsukannya</span></strong></span></p>
<p dir="LTR">Berikut Scan buku tersebut:</p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1371" title="3" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/3.jpg" alt="3 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="369" /></a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1372" title="4" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/4.jpg" alt="4 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="335" height="600" /></a></p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>ولا نأمر باتلاف شيء من المؤلفات</strong><strong> </strong><strong>أصلاً، إلاّ ما اشتمل على ما يوقع الناس في الشرك، كروض الرياحين، أو يحصل</strong><strong> </strong><strong>بسببه خلل في العقائد، كعلم المنطق، فإنه قد حرمه جمع من العلماء، على أنا</strong><strong> </strong><strong>لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه</strong><strong> </strong><strong>؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله،</strong><strong> </strong><strong>وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك</strong></p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Perhatikan terjemahannya dalam buku ini:</strong></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1373" title="14" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/14.jpg" alt="14 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="198" /></a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1374" title="15" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/15.jpg" alt="15 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="100" /></a></p>
<p dir="LTR"><strong>Bandingkan dengan terjemahan kami:</strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Dan kami tidak memerintahkan untuk menghilangkan (memusnahkan) sesuatu pun dari kitab-kitab itu sama sekali, kecuali yang berisi sesuatu yang menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan, seperti <em>Raudh al-Rayyahiin</em>, atau apa yang bisa menyebabkan kerusakan dalam akidah, seperti ilmu manthiq, karena ia telah diharamkan oleh sejumlah ulama, <span style="background-color: #ffff00;">itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu</span>, dan seperti <em>Dalail al-Khairat</em>, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. <span style="background-color: #ffff00;">Dan <em>apa yang terjadi <span style="text-decoration: underline;">secara kebetulan</span> bagi sebagian orang baduwi</em><em> </em></span>dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya, padahal ia dan yang lainnya sudah <em><span style="text-decoration: underline; background-color: #ffff00;">dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari dan memeriksa, atau juga membakar-bakar.&#8221; </span>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p dir="LTR"><strong><br />
</strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Perhatikan <em>aurat</em> mereka:</strong></p>
<ol start="1">
<li dir="LTR">Dalam judul bahasan mereka tulis: &#8220;dan memalsukannya&#8221;.</li>
</ol>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1375" title="5" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/5.jpg" alt="5 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="42" /></a></p>
<p dir="LTR">Begitu pula dalam keterangan di bawahnya. Maka, kita yang berakal ini perlu bertanya, <strong>mana ucapan Syaikh Muhammad yang menyuruh pengikutnya untuk memalsukan buku-buku para ulama?!!</strong></p>
<p dir="LTR">Kalau demikian, siapa yang melakukan kebohongan publik?!</p>
<p dir="LTR">Saya sangat khawatir banyak pembaca berkhusnuzhan kepada para tokoh yang begitu meyakinkan mendukung buku ini sehingga menelan begitu saja apa yang ada di dalamnya meskipun itu dusta. <em>Astaghfirullah</em>. Semoga Allah mengampuni mereka dan melindungi umat <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> dari orang-orang alim yang membawa fitnah.</p>
<ol start="2">
<li dir="LTR">Kalimat &#8220;ajaran yang membuat manusia menjadi musyrik&#8221; diberi catatan kaki sebagai berikut: musyrik versi salafi wahhabi adalah orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul, tabarruk, peringatan maulid nabi, dzikir bersama, ziarah ke makam orang shaleh, dan tidak sependapat dengan mereka. Karena menurut mereka, umat Islam yang tidak mengkafirkan orang-orang yang mereka (salafi wahabi) kafirkan maka dia juga adalah kafir, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam buku mereka; Muhammd ibn Abdil Wahhab dkk: ad-<em>Durar as-Saniyyah</em>, op.cit, pada jilid 9 h. 289.</li>
</ol>
<p dir="LTR"> <img class="aligncenter size-full wp-image-1376" title="16" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/16.jpg" alt="16 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="107" /></p>
<ul>
<li>Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga <strong>Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki</strong> pun menggelarinya dengan sebutan <em>&#8220;Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin&#8221;</em> (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya <em>Mafahim Yajib an-Tushahhah</em><a title="" href="#_ftn1">[1]</a> halaman 202:</li>
</ul>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1377" title="6" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/6.jpg" alt="6 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="389" height="600" /></a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/17.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-1404" title="17" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/17.png" alt="17 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="487" height="81" /></a></p>
<p dir="LTR">&#8220;Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Nah, siapakah yang yang benar di antara keduanya? Jika Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki benar dalam pernyataannya bahwa Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah imam tauhid dan kepala ahli tauhid berarti Syaikh Idahram dan pendukung bukunya adalah &#8220;<em>jahil</em>&#8220;. Ataukah sebaliknya…?!</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">Lalu bandingkan dengan gelar yang diberikan oleh Syaikh Idahram dalam buku pertamanya, halaman 31, ia menjuluki Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai &#8220;ustadz kampung&#8221;!! Maka siapakah yang alim dan siapakah yang jahil? Syaikh Idahram yang masih <em>majhul</em> itu, yang menerjemah salah-salah sampai terbelok 180 derajat? Ataukah Sayyid Muhammad al-Maliki?!!</span> Saya serahkan kepada pembaca untuk menyimpulkan.</p>
<ul>
<li>Maka dari itu, Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab tidak mengkafirkan <em>tawassul</em>.</li>
</ul>
<p dir="LTR">Perhatikan ucapan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang dikutip oleh Sayyid al-Maliki, yang di sana Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab mengikuti jumhur bahwa tawassul dengan orang shalih itu makruh dan ini termasuk masalah <em>ijtihadiyyah</em>: berikut <em>scan</em> buku Sayyid Muhammad Alwi, 149:</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1378" title="7" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/7.jpg" alt="7 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="212" /></a></p>
<p dir="LTR">Begitu pula beliau tidak mengkafirkan dzikir bersama, peringatan maulid nabi, ziarah ke makam orang shaleh apalagi orang yang tidak sependapat dengan mereka. Lalu di manakah mereka dianggap kafir oleh beliau? Di manakah beliau mengkafirkan itu semua?!! Kapan dan dimana….?</p>
<p dir="LTR">Nah, siapakah yang memelintir ucapan, menfitnah, memalsukan maksud dan menyesatkan pembaca?!!</p>
<p dir="LTR">Dengan demikian, maka apakah buku ini bisa menjadi <strong>sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan??!</strong> Kata dalam bahasa Arab <em>&#8220;Haihaata haihat!!!</em> Yang ada malah sebaliknya, umat Islam harus diperingatkan dari buku yang berisi fitnah seperti ini.</p>
<p dir="LTR">Dahsyat bukan?! Apakah Anda percaya?!! Tetapi inilah kenyataan buku Syaikh Idahram-2 ini.</p>
<ul>
<li>Kata Sayyid Muhammd Alwi al-Maliki: Syaikh Muhammd ibn Abdul Wahhab yang menjadi <em>imamut tauhid wa ra&#8217;sul muwahhidin</em> itu sangat mengingkari orang yang menuduh dan menfitnah beliau telah mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang shalih.  Sayyid Muhammad al-Maliki berkata: (scan hal 150)</li>
</ul>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/81.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1380" title="8" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/81.jpg" alt="81 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="172" /></a></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">&#8220;Syaikh Muhammd ibn Abdul Wahhab berlepas diri dari orang yang mengkafirkan orang yang bertawassul.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">Telah datang dari Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam suratnya yang ditujukan kepada penduduk Qashim, protesnya/ keingkarannya yang keras terhadap orang yang menisbatkan kepada beliau pengkafiran terhadap orang yang bertawassul dengan orang shalih. Beliau berkata:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">&#8220;Sesungguhnya Sulaiman ibn Suhaim telah berdusta atas nama saya hal-hal yang tidak pernah aku ucapkan, bahkan kebanyakan tidak pernah terlintas di benak saya, diantaranya: -ia mengatakan- saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan orang shalih, dan katanya saya mengkafirkan al-Bushiri karena ucapannya &#8220;Wahai manusia yang paling mulia&#8217; dan katanya aku membakar buku Dalail Khairat.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">Jawaban saya tentang masalah-masalah ini adalah saya katakan: &#8220;Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang agung.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR">Pembaca sekalian, kedustaan yang dilakukan oleh Sulaiman ibn Suhaim kini dilakukan oleh Syaikh Idahram dan semua orang yang mendukung bukunya!!!</p>
<p dir="LTR">Tidakkah Anda saksikan, siapakah yang berdusta di depan publik?!!</p>
<p dir="LTR">Apakah Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang berjuluk <em>imam at-tauhid dan pemimpin ahli tauhid</em>, ataukah penulis buku yang tidak dikenal jati dirinya ini?!</p>
<p dir="LTR">Saya serahkan kepada pembaca untuk menilai dengan adil dan jujur.</p>
<p dir="LTR">Waspadalah, jangan sampai Anda disimpangkan oleh hawa nafsu!!</p>
<p dir="LTR"><strong>Satu lagi surat Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang penting kata Sayyid adalah di hal 84, silakan Anda merujuk ke kitab aslinya.</strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Kemudian kalimat Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab: </strong></p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">على أنا لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه ؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله، وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك</p>
<p dir="LTR"><strong>diartikan :</strong></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1381" title="9" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/9.jpg" alt="9 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="102" /></a></p>
<p dir="LTR"> -          <strong>Bandingkan dengan terjemahan kami:</strong></p>
<p dir="LTR"><span style="text-decoration: underline; background-color: #ffff00;">&#8220;Itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu,</span> dan seperti <em>Dalail al-Khairat</em>, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. <span style="text-decoration: underline; background-color: #ffff00;">Dan <em>apa yang terjadi secara kebetulan bagi sebagian orang Baduwi </em>dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya,</span> padahal ia dan yang lainnya sudah <span style="background-color: #ffff00;"><em><span style="text-decoration: underline;">dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari, memeriksa dan membakar-bakar kitab).&#8221;</span></em></span><em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<p dir="LTR"><em><span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></em></p>
<p dir="LTR">Wahai pembaca yang dimuliakan Allah dengan diberi akal, ilmu dan iman!</p>
<p dir="LTR">Siapakah yang memalsukan berita? Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah orang yang melarang membakar kitab tetapi diberitakan oleh orang yang menamakan dirinya sebagai Syaikh Idahram bahwa beliau memerintah dan bersepakat dengan orang Baduwi untuk membakar buku orang Thaif?!!</p>
<p dir="LTR">Sungguh kebohongan besar di depan publik di siang bolong. Padahal judul buku mereka tidak <em>sungkan-sungkan</em> berbunyi:</p>
<p dir="LTR" align="center"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1382" title="10" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg" alt="10 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="292" /></a></p>
<p dir="LTR"> Saya khawatir ini termasuk dalam ujaran: &#8220;maling berteriak maling&#8221;.</p>
<ul>
<li><strong>Setelah Anda tahu kesalahan penulis buku ini dalam menerjemah, maka kesimpulannya pun juga pasti salah. Perhatikan  kesimpulan penulis: (<em>scan</em> buku halaman 51)</strong></li>
</ul>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1383" title="11" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/11.jpg" alt="11 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="352" /></a></p>
<p dir="LTR">Pembaca yang kami muliakan, dan yang dimuliakan oleh Allah dengan hati nurani, kecerdasan dan iman. Sebenarnya <span style="background-color: #ffff00;">saya merinding membaca terjemahan dan kesimpulan Syaikh idahram</span>. Bagaimana ia membalik fakta 180 derajat? Kalau begitu siapa yang tangannya sangat terampil, bisa memberi informasi bahkan tuduhan keji secara salah dan terbalik-balik?!</p>
<p dir="LTR">Melihat cara kutipan yang serampangan, kami jadi meragukan ketajaman dan kebenaran tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada salafi wahabi. Misalnya, dalam kitab <em>ad-Durar as-Saniyyah</em> sebelum paragraph yang dikutip oleh penulis, Syekh mengatakan bahwa beliau mengikuti akidah salaf shalih, bukan akidah khalaf, lalu dalam madzhab fikih ikut madzhab Imam Ahmad, lalu beliau menegaskan bahwa beliau menggunakan semua kitab para ulama.</p>
<p dir="LTR">Dan setelah kutipan itu, Syekh mengingkari tuduh-tuduhan keji tersebut. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL"><span style="background-color: #ffff00;"><strong>وأما</strong><strong> </strong><strong>ما يكذب علينا : سترا للحق، وتلبيسا على الخلق، بأنا نفسر القرآن برأينا،</strong><strong> </strong><strong>ونأخذ من الحديث</strong></span><strong> ما وافق فهمنا&#8230;. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; وأنا لا نعتمد على أقوال العلماء، <span style="background-color: #ffff00;">ونتلف مؤلفات أهل</span></strong><span style="background-color: #ffff00;"><strong> </strong><strong>المذاهب، لكون فيها الحق والباطل، وأنا مجسمة، وأنا نكفر الناس على الإطلاق</strong><strong> </strong><strong>أهل زماننا، ومن بعد الستمائة، إلا من هو على ما نحن عليه</strong></span><strong> .</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL"><span style="background-color: #ffff00;"><strong>جوابنا في كل مسألة من ذلك، سبحانك هذا بهتان عظيم ؛ فمن روى عنا شيئا من ذلك، أو نسبه إلينا، فقد كذب علينا وافترى</strong><strong> .</strong></span><strong></strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Adapun apa yang didustakan atas nama kami; demi untuk menutupi kebenaran, dan mengelabuhi manusia; katanya kami menafsiri al-Qur`an dengan pendapat kami, kami mengambil hadits yang sesuai dengan pemahaman kami…………… Dan kami tidak bersandar pada ucapan para ulama, kami melenyapkan kitab-kitab ahli madzhab karena berisi kebenaran dan kebatilan, kami mujassiim, kami  mengkafirkan manusia pada zaman kami secara mutlak, hingga setelah 600 tahun, kecuali orang-orang yang sesuai dengan apa yang ada pada kami.</em></p>
<p dir="LTR">Maka jawaban kami dari semua masalah itu adalah: &#8220;Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang besar. Maka barangsiapa meriwayatkan sesuatu dari hal itu atau menisbatkannya kepada kami maka dia benar-benar telah berdusta dan mengada-ada.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>&#8220;</p>
<p style="text-align: left;" dir="LTR" align="center">Jadi sekali lagi, secara meyakinkan dan terang-terangan Syaikh Idahram penulis buku</p>
<p style="text-align: left;" dir="LTR" align="center"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1382" title="10" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg" alt="10 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="292" /></a></p>
<p dir="LTR">telah melakukan dusta dan bohong di depan publik, dan menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang tidak bersalah itu dengan tuduhan-tuduhan keji sebagai orang sesat, mengkafirkan umat Islam, membakar kitab dan mengajarkan pengikutnya untuk memalsukan kitab para ulama dan lain sebagainya!!!</p>
<p dir="LTR">Maka terbuktilah ucapan bapak <strong>Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani M.A.</strong> dalam testimoninya yang mengatakan: <em>&#8220;<span style="background-color: #ffff00;">Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.&#8221;</span></em><strong>Karena saya benar-benar merinding jika mutu terjemahan buku ini seperti ini. Menyesatkan pembaca.</strong></p>
<p dir="LTR">Dan terbukti pula testimoni  Bapak <strong>KH. Wahfiudin, M.B.A.</strong>  yang berbunyi: <span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan&#8221;</em><em>. </em></span>Tetapi dahsyatnya bukan karen<em>a <strong>memuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah, </strong></em>melainkan karena <strong>&#8220;kesalahan terjemah yang fatal dan fitnah serta kedustaan.&#8221;</strong></p>
<p dir="LTR">Yang tidak terbukti adalah ucapan <strong>Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham</strong> saat mengatakan: <span style="background-color: #ffff00;">&#8220;Untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus&#8221;</span> sebagaimana pernyataannya berikut ini:</p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1384" title="12" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/12.jpg" alt="12 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="72" /></a></p>
<p dir="LTR"><strong>Sebab pemahaman penulis buku, terjemahan dan kesimpulannya rusak sebagaimana yang Anda ikuti bersama dalam makalah ini –dan makalah-makalah berikutnya insyaallah-. Jika tidak, maka apakah menuduh orang, menfitnah, dan memusuhi ulama secara salah, apakah itu pemahaman yang lurus? Apakah itu cerminan islam yang lembut, santun dan penuh kasih sayang?</strong> Jelas tidak, tetapi sangat dikhawatirkan justru perbuatan seperti yang dilakukan oleh penulis buku ini mendapat ancaman keras dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) </strong><span style="background-color: #ffff00;"><strong>وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا</strong></span><strong> (58)</strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. <span style="background-color: #ffff00;">dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.</span>&#8221; (QS. Al-Ahzab, 57-58)</p>
<p dir="LTR">Oleh karena itu, adanya dua nama tokoh nasional di cover depan</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1385" title="13" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/13.jpg" alt="13 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="87" /></a></p>
<p dir="LTR">dan 5 tokoh (termasuk Prof. DR. Azyumardi) di kover belakang bukan memperindah ataupun menguatkan buku ini, tetapi justru sebaliknya, buku ini mencoreng dan merendahkan martabat mereka. Andaisaja beliau-beliau itu tidak begitu saja memberikan dukungan, kata pengantar dan testimoni pada buku ini. Namun apa dikata, itu sudah menjadi kenyataan…!! <em>Wallahu a&#8217;lam bishshawab.</em></p>
<p dir="LTR">Semoga tanggapan ini bisa membantu menyadarkan orang-orang yang lalai. Aamiin.</p>
<p dir="LTR">Nantikan bagain kedua dari serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2. [*]</p>
<div>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Kitab Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki ini sudah dikritisi kesalahan-kesalahannya oleh Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz Al-Syaikh dalam buku yang berjudul <em>Hadzihi Mafahimuna</em>, yang dicetak dalam edisi Indonesia  dengan judul <em>Meluruskan Pemahaman</em>, terbitan Nashirul Haq.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> http://islamport.com/d/2/fqh/1/24/178.html</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya, Yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan Rasul- nya; seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bukutamu' rel='bookmark' title='Buku Tamu'>Buku Tamu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/buku-den-syiah.html' rel='bookmark' title='Buku Gen Syi&#8217;ah'>Buku Gen Syi&#8217;ah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/pengantar-buku-gen-syiah.html' rel='bookmark' title='Pengantar Buku Gen Syi’ah'>Pengantar Buku Gen Syi’ah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tragedi Hari Kamis</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/tragedi-hari-kamis.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/tragedi-hari-kamis.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 06:45:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1337</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu’alaikum wr wb Ustadz benarkah dalam shohih Bukhori ketika Rosululloh SAW sakit, beliua meminta secarik kertas untuk menuliskan suatu wasiat, naun sahabat ‘Umar R.A tidak mengindahkannya, bahkan melarang sahabat lain untuk mematuhi Beliau. Dan ini dijadikan dail org orang syi’ah untuk mengatakan bahwa sahabat ‘Umar tidak taat kepada Rosul? Adkah terdapat daam hadits [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dvd-peran-syiah-dalam-tragedi-palestina.html' rel='bookmark' title='DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina'>DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan :</p>
<p>Assalamu’alaikum wr wb<br />
Ustadz benarkah dalam shohih Bukhori ketika Rosululloh SAW sakit, beliua  meminta secarik kertas untuk menuliskan suatu wasiat, naun sahabat ‘Umar  R.A tidak mengindahkannya, bahkan melarang sahabat lain untuk mematuhi  Beliau. Dan ini dijadikan dail org orang syi’ah untuk mengatakan bahwa  sahabat ‘Umar tidak taat kepada Rosul? Adkah terdapat daam hadits dll yg  menyebutkan sahabat ‘Ali pernah membantah/tidak patuh kepada peritah  Rosululloh?<br />
Terima kasih atas jawabannya<br />
Wasslamu’alikum wr wb</p>
<p><span id="more-1337"></span></p>
<p>Jawaban :</p>
<p>Wa&#8217;alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Hadits tentang itu shahih dan ada namun pemaknaannya oleh syiah itu yang sesat .<br />
1. Kisah itu yang benar begini:<br />
Apakah yang dimaksud Tragedi dalam Hadits tersebut ?</p>
<p>Ibnu Abbas menyebut insiden kertas dan tinta sebagai sebuah “Tragedi”, namun kita harus menganalisa apa dasar dia mengatakan hal itu. Apakah Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai tragedi karena penolakan Umar untuk memberikan kertas dan tinta? Ini adalah apa yang Sy’ah klaim, tetapi klain ini tidak didasarkan pada pemahaman yang jauh dari prasangka atas teks tersebut. Apa yang kami temukan adalah bahwa Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai musibah tidak berkaitan dengan penolakan Umar, melainkan berkaitan dengan kenyataan bahwa sahabat saling berselisih pendapat di hadapan Nabi. Ini adalah perbedaan yang sangat penting untuk menunjukkan apa yang dilakukan Syi’ah adalah isu-isu untuk menempatkan pemahaman mereka ke dalam teks. Kita baca :</p>
<p>Ibnu Abbas keluar dan berkata : “ini sangat disayangkan (kehilangan yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan sesuatu untuk mereka karena perselisihan pendapat dan kegaduhan.<br />
<strong>(Shahih Bukhari, jilid 1, Buku 3, No. 114)</strong></p>
<p>Ibnu Abbas sendiri berkata :<br />
“Orang-orang (yang hadir di sana) berselisih pendapat dalam kejadian ini, dan hal yang tidak pantas berselisih pendapat di hadapan Nabi”.<br />
<strong>(Shahih Bukhari, Jilid 5, Buku 59, No. 716)</strong></p>
<p>Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang untuk pergi.</p>
<p>Kejadian yang serupa, Nabi marah dan memerintahkan orang-orang untuk pergi bukan karena Umar menolak beliau mengambil tinta dan kertas, melainkan karena orang-orang bertengkar dan membuat keributan di hadapan beliau. Kita baca :</p>
<p>Ketika mereka menimbulkan keributan di hadapan Nabi, Rasulullah berkata, “Pergi!” Dikisahkan oleh Ubaidullah: Ibn Abbas pernah berkata, “Sangat disayangkan bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka. “<br />
<strong>(Shahih Bukhari, jilid 7, buku 70, no. 573)</strong></p>
<p>Menjelang akhir hidup beliau, Nabi mengalami sakit kepala yang parah, dan kegaduhan dari pertengkaran orang-orang disekeliling beliau menyebabkan sakit pada kepala beliau. Kita baca:</p>
<p>Selama sakit beliau, Nabi Allah meminta tinta dan kertas. Karena beliau kemudian mengalami sakit yang bertambah parah, Umar turun tangan dan mengatakan beliau jangan dibebani oleh apapun dan Al-Qur’an adalah cukup bagi kita sebagaimana beliau telah mengatakannya (mungkin yang dimaksud Umar Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah telah bersabda di haji Wada’ mengenai Al-Qur’an). Tetapi sebagian sahabat mendukung untuk membiarkan beliau mendikte. Nabi tidak menyukai keributan dan meminta orang-orang untuk pergi. Pada saat itu beliau sedang menderita sakit kepala yang hebat dan ini adalah alasan mengapa Umar menyarankan untuk tidak menyulitkan beliau dengan cara apapun. Ketika rasa sakit beliau (Nabi) sudah berkurang, beliau memanggil orang-orang ke dalam dan (meriwayatkan tiga hal).<br />
<strong>(Tarikh <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>, Jilid 1, hal 244-245)</strong></p>
<p>Dan itulah yang terjadi, suara-suara keributan memperburuk sakit kepala Nabi, dan inilah yang menyebabkan Nabi menjadi marah, bukan karena penolakan Umar. Sesudah semua itu, bukan penolakan Umar yang memperburuk sakit kepala Nabi melainkan kegaduhan yang keras akibat pertengkaran yang menyebabkannya. Kita baca:</p>
<p>Tetapi para sahabat Nabi berselisih pendapat mengenai hal ini dan menimbulkan suara keributan. Oleh karena itu Nabi berkata kepada mereka, “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar di hadapanku.” Ibnu Abbas keluar dan berkata, “Sangat disayangkan (sebuah musibah yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”<br />
<strong>(Shahih Bukhari, Jilid 1, buku 3, no 114)</strong></p>
<p>Nabi sendiri telah menjelaskan alasan mengapa beliau marah dimana beliau bersabda “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar dihadapanku” perhatikan, Nabi marah atas pertengkaran mereka satu sama lain, dan bukan karena Umar menolak memberikan beliau tinta dan kertas. Nabi tidak mengatakan “pergi” ketika Umar menolak tinta dan kertas, melainkan beliau mengatakan “pergi” saat orang-orang mulai bertengkar diantara mereka. Ini penting untuk membuka mata syi’ah pada poin ini. Kita baca:</p>
<p>Ketika mereka terlibat pembicaraan yang kacau dan mulai saling berdebat di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “bangun (dan pergi)” Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas selalu mengatakan: “itu adalah suatu kehilangan yang besar, sungguh suatu kehilangan yang besar,sehubungan dengan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”<br />
<strong>(Shahih Muslim, Kitab 013, No. 4016)</strong></p>
<p>Hal yang sangat penting untuk direnungkan adalah bahwa Nabi berkata “pergi” ditujukan kepada semua orang yang berada di ruangan, bukan hanya kepada Umar atau mereka yang menolak beliau akan tinta dan kertas. Nabi berkata “pergi” bahkan ditujukan juga kepada mereka yang ingin membawakan tinta dan kertas. Ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa Nabi marah kepada mereka semua, dan beliau marah kepada mereka karena pertengkaran mereka satu sama lain. Jika Nabi hanya marah kepada mereka yang berusaha menolak tinta dan kertas saja, maka sungguh hal yang tidak masuk akal Nabi berkata dengan marah “pergi” kepada mereka yang menghendaki untuk memenuhi permintaan beliau.</p>
<p>Logikanya, jika Nabi ingin menyampaikan pesan, maka beliau seharusnya mengatakan “pergi” hanya untuk orang-orang yang mencegah beliau dari hal itu, dan beliau seharusnya mengatakan “tetap tinggal” kepada mereka yang berharap memenuhi permintaan beliau. Apa yang mencegah Nabi untuk mengatakan hal yang mudah “Umar pergi” atau “pergi” ditujukan kepada kelompok yang menolak permintaan beliau?, sebaliknya Nabi mengatakan “pergi” kepada kedua belah pihak, menyalahkan mereka semua karena bertengkar satu sama lain. Sungguh kita temukan bahwa kedua belah pihak meninggalkan ruangan, dan pada akhirnya Nabi tidak menulis pesan untuk mereka. Jika paradigma Syi’ah benar, maka seharusnya Nabi senang dengan mereka yang ingin memenuhi permintaan beliau, tetapi justru Nabi marah kepada mereka dikarenakan mereka bertengkar.</p>
<p>Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu sebagai pengganti beliau?</p>
<p>Da’i Syi’ah mengklaim bahwa Nabi meminta tinta dan kertas agar beliau bisa menuliskan wasiat yang mana beliau diduga ingin menunjuk Ali sebagai pengganti beliau. Mereka menuduh Umar mencegah Nabi dari melakukan hal itu.</p>
<p>Jika Nabi benar ingin menuliskan wasiat untuk menunjuk Ali sebagai pengganti beliau, maka mengapa beliau tidak melakukan hal itu sebelum beliau wafat? Kejadian tinta dan kertas terjadi pada hari Kamis, sedangkan Nabi wafat pada hari Senin. Nabi masih memiliki lebih dari 3 hari untuk menulis wasiat semacam itu, namun beliau tidak melakukan hal itu. Baik sumber Sunni maupun Syi’ah tidak menunjukkan bahwa Nabi menulis wasiat itu dalam tiga hari setelah peristiwa hari Kamis. Syi’ah mengklaim bahwa Umar mencegah Nabi dari menulis mengenai Ali dalam wasiat beliau, Kita tanyakan kepada mereka, apakah Umar bin Khattab selalu bersama dengan Nabi 24 jam berturut-turut selama masa tiga hari tersebut? Tentu saja tidak, Kita tahu bahwa hal ini tidak terjadi, dan bahkan riwayat Syi’ah bercerita tentang bagaimana Ali dan beberapa anggota keluarga dekat bersama dengan Nabi di hari-hari terakhir. Namun, Nabi tidak menulis dokumen tersebut dalam tiga hari terakhir tersebut.</p>
<p>Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa Nabi tidak mengucapkan apa yang ingin beliau tuliskan hari itu, dan tak ada seorangpun tahu, lalu mengapa dan bagaimana Syi’ah mengklaim bahwa mereka mengetahui hal itu? Masalah itu adalah bagian dari hal yang ghaib, pengetahuan yang tidak dapat ditangkap oleh manusia, sehingga siapapun yang mengklaim dirinya mengetahui dengan pasti mengenai informasi itu, maka mereka hanyalah pembohong atau orang bodoh. Hari ini kita melihat bagaimana Syi’ah mengklaim bahwa kejadian tersebut bersangkutan dengan penunjukkan Ali Radhiallahu ‘Anhu. Namun bagaimana mereka bisa mengetahui hal itu sedangkan Nabi tidak pernah menyebutkannya, tidak juga Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Hasan ataupun Husein pernah mengklaim mengetahui hal itu.</p>
<p>Jika Ali mengetahui bahwa Nabi menuliskan sebuah wasiat yang menguntungkannya, maka mengapa dia tidak menggunakannya sebagai bukti untuk hak kekhalifahannya? Ketika Ali diperlombakan dengan khalifah Abu Bakar dan Utsman Radhiallahu ‘Anhu, dia (Ali) membawa banyak bukti untuk mendukung klaim-klaimnya terhadap dua orang itu, tetapi dia tidak pernah menyebutkan adanya wasiat yang ditulis atas namanya. Kita menemukan bahwa cerita syi’ah adalah murni kira-kira : apa dasar mereka mengklaim bahwa wasiat itu adalah wasiat penunjukkan Ali? Mengapa kita tidak bisa mengklaim bahwa Nabi menginginkan menulis sesuatu seperti hari turunnya lailatul Qadar atau bahkan penunjukkan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu? Jika Syi’ah bersikeras bahwa Nabi akan menuliskan wasiat untuk Ali, maka apa yang mencegah kami untuk mengklaim bahwa itu sebenarnya untuk Abu Bakar? Tidak ada bukti apapun. Jika Syi’ah mengemukakan bukti, maka kita pun memiliki bukti, seperti penunjukkan Abu Bakar sebagai Imam Shalat!.<br />
2. Ahlul bait tidak patuh ada yaitu sebelum nabi meminta kertas tersebut:<br />
Ketika kondisi Nabi shalalallahu ‘alaihi wa sallam terus memburuk, keluarga beliau berkumpul disekeliling beliau dan meminta beliau meminum obat untuk penyakit beliau, tetapi Nabi menolaknya, dan melarang ahlul bait beliau -termasuk Ali, Abbas, Fatimah dan istri-istri beliau- untuk memberi beliau obat apapun. Namun, Keluarga Nabi tidak menaati perintah langsung beliau, bahkan sebaliknya memilih memberikan secara paksa obat tersebut kepada Nabi. Mereka berpendapat Nabi telah lalai dalam mengurus diri beliau sendiri, hal itu karena sifat mulia beliau yang hanya khawatir mengenai orang lain tanpa peduli apapun mengenai diri beliau sendiri. Intinya, Nabi begitu marah dengan perlakuan ini maka beliau menghukum mereka dengan membuat mereka sendiri meminum obat tersebut.</p>
<p>Di sini, kami meriwayatkan sedikit riwayat-riwayat mengenai insiden ini :</p>
<p>Semua keluarga beliau – istri-istri beliau, putri beliau (Fathimah), al-Abbas, dan Ali – berkumpul (di sekeliling beliau). Asma berkata “sakit beliau ini tidak lain adalah radang selaput dada, sehingga kita paksa beliau untuk meminum obat” dan kita melakukannya, dan setelah beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah melakukan itu pada beliau.<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari Jilid 9, hal 178)</strong></p>
<p>Lalu beliau (Nabi) datang dan memasuki rumahnya dan rasa sakit bertambah sampai beliau kelelahan. Kemudian sebagian istri beliau berkumpul di sekitarnya, Ummu Salamah dan Maimunah-dan beberapa istri dari kaum Muslimin (di antara mereka Asma)-sementara paman beliau Abbas ada bersama beliau, dan mereka setuju untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” tetapi mereka melakukannya (sebagai gantinya). Ketika beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah memperlakukan dia (dengan obat-obatan) demikian. Ketika mereka mengatakan bahwa itu paman beliau … beliau (Nabi) bertanya mengapa mereka melakukan itu .. ketika beliau bertanya mengapa mereka melakukan itu, pamannya berkata: “Kami takut bahwa Anda terkena radang selaput dada.” Dia (Nabi ) menjawab: “Ini adalah penyakit yang Allah tidak akan menimpakannya kepadaku. Jangan biarkan seorangpun yang berhenti di rumah ini sampai mereka telah dipaksa untuk meminum obat ini (yaitu sebagai hukuman)”.<br />
<strong>(Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, hal 680)</strong></p>
<p>Mereka sepakat untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Al-Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” dan (Rasulullah) dipaksa.<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 178)</strong></p>
<p>Kami (Ahlul Bait) memaksa Rasulullah untuk meminum obat selama beliau sakit. Beliau mengatakan jangan memaksa beliau, tapi kami mengatakan bahwa orang sakit tidak suka obat. Setelah beliau sembuh, ia (Nabi) berkata: “Janganlah seorang pun tetap tinggal di rumah sampai (semua orang dari kalian) telah dipaksa untuk meminum obat ini …”<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 177)</strong></p>
<p>Ketika mereka mengatakan bahwa mereka takut bahwa beliau (Nabi) mungkin terkena radang selaput dada, beliau (Nabi) berkata: “Ini adalah dari Setan dan Allah tidak akan menimpakan hal itu padaku.”<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 178)</strong></p>
<p>Jika Syi’ah tersinggung dengan pernyataan Nabi disebut “mengigau”, maka mereka tentunya juga tersinggung pada pernyataan bahwa beliau menderita penyakit dari Setan? Apakah ada diantara Syi’ah ingin mengkritik ketidaktaatan Ahlul Bait terhadap Nabi di sini? Sebaliknya, Syi’ah -seperti kita- akan mengatakan bahwa mereka ahlul bait hanya khawatir akan kondisi Nabi lebih dari Nabi khawatir tentang diri beliau sendiri. Itu semua disebut “pembangkangan” karena kecintaan kepada Nabi dan mereka tidak dapat dipersalahkan untuk hal itu. Demikian pula Umar meminta Nabi untuk beristirahat tidak mungkin dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang tercela.</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dvd-peran-syiah-dalam-tragedi-palestina.html' rel='bookmark' title='DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina'>DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/tragedi-hari-kamis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bantahan Terhadap Tuduhan Kaum Muslimin Sebagai Teroris</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-tuduhan-kaum-muslimin-sebagai-teroris.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-tuduhan-kaum-muslimin-sebagai-teroris.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 03:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[أسرع وأقصر وأفضل رد على اتهام المسلمين بالإرهاب الداعية بيير فوجل يرد بأسرع وأقصر وأفضل رد سمعته فى حياتى على اتهام المسلمين بالإرهاب خير الكلام ماقل ودل Cara Tercepat dan Terbaik Dalam Membantah Tuduhan Terhadap Kaum Muslimin sebagai Terroris Ustadz Pierre Vogel membantah tuduhan tersebut dengan lebih cepat dan lebih pendek dan bantahan terbaik yang pernah saya dengar dalam hidup saya untuk dakwaan Muslim dengan terorisme. Siapakah yang menyulut perang dunia [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/palestina-diantara-teroris-yahudi-dan-teroris-rafidhah.html' rel='bookmark' title='Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah'>Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-makalah-ulil-abshar-1.html' rel='bookmark' title='Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (1)'>Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-makalah-ulil-abshar-7.html' rel='bookmark' title='Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (7)'>Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (7)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong><span style="color: red; font-family: Arial; font-size: xx-large;">أسرع وأقصر وأفضل رد على اتهام المسلمين بالإرهاب</span></strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong><span style="color: black; font-family: Arial; font-size: x-large;">الداعية بيير فوجل يرد بأسرع وأقصر وأفضل رد سمعته فى حياتى على اتهام المسلمين بالإرهاب</span></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong><span style="color: black; font-family: Arial; font-size: x-large;">خير الكلام ماقل ودل</span></strong></p>
<p style="text-align: center; font-size: x-large;"><strong>Cara Tercepat dan Terbaik</strong><br />
<strong> Dalam Membantah Tuduhan Terhadap Kaum Muslimin sebagai Terroris</strong></p>
<p>Ustadz Pierre Vogel membantah tuduhan tersebut dengan lebih cepat dan lebih pendek dan bantahan terbaik yang pernah saya dengar dalam hidup saya untuk dakwaan Muslim dengan terorisme.</p>
<p>Siapakah yang menyulut perang dunia pertama? Apakah orang <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >islam</a>?</p>
<p>Siapakah yang menyulut perang dunia kedua? Apakah orang islam?</p>
<p>Siapakah yang menjatuhkan bom atom atas Hiroshima (dan Nagasaki)? Apakah orang islam?</p>
<p>Siapakah yang membantai 20 juta orang aborigin di Australia? Apakah orang islam?</p>
<p>Siapakah yang membantai lebih dari 100 juta suku indian merah di utara Amerika? Apakah mereka orang islam?</p>
<p>Dan Siapakah yang membantai lebih dari lebih dari 50 juta indian mereh di Amerika Selatan? Apakah mereka orang islam?</p>
<p>Siapakah yang mengambil lebih dari 150 juta manusia dari Afrika sebagai budak, yang mana 77 % dari mereka mati di jalan dan dikubur di lautan atlantik? Apakah orang islam?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukan, bukan orang islam.</p>
<p>(Lalu siapa terorisnya?)</p>
<p><span id="more-1248"></span></p>
<p>Sebaik-baik ucapan adalah yang singkat dan mengena.<br />
<object width="425" height="349"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/jeUFaC7N88A?fs=1&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/v/jeUFaC7N88A?fs=1&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/palestina-diantara-teroris-yahudi-dan-teroris-rafidhah.html' rel='bookmark' title='Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah'>Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-makalah-ulil-abshar-1.html' rel='bookmark' title='Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (1)'>Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-makalah-ulil-abshar-7.html' rel='bookmark' title='Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (7)'>Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (7)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/bantahan-terhadap-tuduhan-kaum-muslimin-sebagai-teroris.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 06:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Ahli Kalam]]></category>
		<category><![CDATA[wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1195</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hamzah (bag. 2) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk merampungkan bagian kedua ini. Kita lanjutkan dengan bagian Kelima: Saudara saya yang disebut -atau yang menamakan dirinya- anak bau kencur itu menceritakan bahwa Abu Hamzah megucapkan: “Bid’ah dalam beribadah adalah membuat cara-cara baru dalam ibadah yang belum pernah diajarkan pada masa Rasulullah saw, [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html' rel='bookmark' title='Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)'>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/info-dialog.html' rel='bookmark' title='Info Dialog'>Info Dialog</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Abu Hamzah</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(bag. 2)</strong></p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan kepada saya untuk merampungkan </em></strong><strong><em>bagian kedua ini. Kita lanjutkan dengan bagian</em> Kelima: </strong></p>
<p><strong>Saudara saya yang disebut -atau yang menamakan dirinya- anak bau kencur itu menceritakan bahwa Abu Hamzah megucapkan: <em>“Bid’ah dalam beribadah adalah membuat cara-cara baru dalam ibadah yang belum pernah diajarkan pada masa Rasulullah saw,</em></strong><em> seperti membaca <strong>sholawat</strong> yang disusun oleh kalangan ulama <strong>shufi</strong>, berdoa dengan doa-doa yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw dan sahabat dan berdzikir secara keras dan bersama-sama <strong>sehabis shalat berjamaah</strong>.”</em></p>
<p><strong><em>Mendengar pernyataan ini, seorang peserta yang masih belum selesai S1 di STAIN Jember </em></strong><em>bertanya kepada<strong> Abu Hamzah, “Kalau bapak mendefinisikan bid’ah seperti itu, kami punya tiga pertanyaan berkaitan dengan konsep bid’ah yang Anda sampaikan.</strong></em></p>
<p><strong><em>Pertama, bagaimana dengan redaksi shalawat yang disusun oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i dan lain-lain, yang jelas-jelas tidak ada contohnya dalam hadits </em></strong><em>Rasulullah saw. Beranikah Anda mengatakan bahwa dengan sholawat yang mereka susun, <strong>berarti Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i itu termasuk ahli bid’ah?<span id="more-1195"></span></strong></em></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>Saya katakan: Secara umum kutipan ini benar, tetapi perlu saya jelaskan bahwa selama saya berdakwah tidak pernah saya <em>langsung</em> menjadikan dzikir dengan suara keras <strong>sehabis shalat berjama&#8217;ah itu</strong> sebagai contoh bid&#8217;ah –meskipun memang demikian pendapat yang rajih, jika itu dengan cara jama&#8217;i dan terus menerus-. Saya dalam hal ini senantiasa menirukan ucapan imam Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> bahwa yang <em>mustahab</em> atau <em>sunnah</em> setelah shalat berjama&#8217;ah adalah dzikir <strong>sendiri-sendiri secara sirri,</strong> kecuali jika imam ingin mengajarkan atau memberitahukan kepada jama&#8217;ah apa yang dia baca maka ia mengeraskan hingga mereka faham lalu kembali <em>sirri.</em> Perhatikan ucapan Imam Syafi&#8217;i berikut terutama yang warna biru dan bergaris bawah (berikut terjemahannya):</p>
<p style="text-align: right;">الأم &#8211; (ج 1 / ص 150)</p>
<p style="text-align: right;">باب كلام الامام وجلوسه بعد السلام</p>
<p style="text-align: right;">&#8230;&#8230; عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته قام النساء حين يقضى تسليمه ومكث النبي صلى الله عليه وسلم في مكانه يسيرا &#8230;.</p>
<p style="text-align: right;">&#8230;..عن عباس قال كنت: أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبير &#8230;&#8230;..عن أبى الزبير أنه سمع عبد الله بن الزبير يقول كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته يقول بصوته الاعلى &#8221; لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير ولا حول ولا قوة إلا بالله ولا نعبد إلا إياه له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن لا إله إلا الله مخلصين له الدين ولو كره الكافرون &#8220;</p>
<p style="text-align: right;">(قال الشافعي) وهذا من المباح للامام وغير المأموم قال: <span style="color: #3366ff;"><strong><span style="text-decoration: underline;">وأى إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن واختيار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر</span></strong></span> فإن الله عزوجل يقول &#8221; ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها &#8221; يعنى والله تعالى أعلم الدعاء ولا تجهر ترفع ولا تخافت حتى لا تسمع نفسك وأحسب ما روى ابن الزبير من تهليل النبي صلى الله عليه وسلم وما روى ابن عباس من تكبيره كما رويناه <span style="color: #3366ff;"><strong><span style="text-decoration: underline;">(قال الشافعي) وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه ذلك</span></strong></span> لان عامة الروايات التى كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم ]</p>
<p style="text-align: right;">الأم &#8211; (ج 1 / ص 151)</p>
<p style="text-align: right;">[ تهليل ولا تكبير وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصفت ويذكر انصرافه بلا ذكر وذكرت أم سلمة مكثه ولم يذكر جهرا <span style="color: #3366ff;"><strong><span style="text-decoration: underline;">وأحسبه لم يكث إلا ليذكر ذكرا غير جهر</span></strong></span> فإن قال قائل ومثل ماذا؟ قلت مثل أنه صلى على المنبر يكون قيامه وركوعه عليه وتقهقر حتى يسجد على الارض وأكثر عمره لم يصل عليه ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بعد عنه كيف القيام والركوع والرفع يعلمهم أن في ذلك كله سعة واستحب أن يذكر الامام الله شيئا في مجلسه قدر ما يتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطول من ذلك فلا شئ عليه وللمأموم أن ينصرف إذا قضى الامام السلام قبل قيام الامام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصراف الامام أو معه أحب إلى <span style="color: #3366ff;"><strong><span style="text-decoration: underline;">له وأستحب للمصلى منفردا وللمأموم أن يطيل الذكر بعد الصلاة ويكثر الدعاء رجاء الاجابة بعد المكتوبة</span></strong></span><strong><span style="text-decoration: underline;">.</span></strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #3366ff;">"….imam mana saja yang berdzikir kepada Allah dengan apa yang telah saya jelaskan, dengan suara keras atau pelan, atau dengan lainnya maka baik. Pilihan (yang baik) untuk imam dan makmum adalah berdzikir kepada Allah sehabis shalat dan menyamarkan dzikir, kecuali jika seorang imam yang wajib (para jama'ah) belajar darinya maka ia mengeraskan hingga yakin bahwa jama'ah telah belajar darinya kemudian (kembali) menyamarkan. …..Saya kira bel</span>iau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam m<span style="color: #3366ff;">engeraskan sedikit agar manusia mempelajari hal itu…… saya kira beliau</span> Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tid<span style="color: #3366ff;">ak duduk kecuali untuk berdzikir dengan dzikir yang tidak keras….Saya menganjurkan kepada orang yang shalat, baik sendirian maupun makmum agar memperpanjang dzikir sehabis shalat dan memperbanyak doa dengan harapan diijabahi setelah shalat fardhu." (<em>Al-Umm</em>, 1/150)</span></p>
<p>Baiklah, sekarang kita bahas dulu pengertian dan pembagaian bid'ah secara singkat, agar kita bisa memahami masalah ini dengan benar:</p>
<p><strong>Bid'ah</strong> secara bahasa adalah membuat hal baru tanpa ada contoh sebelumnya. Hal baru ini ada yang hasanah (baik) dan ada yang sayyiah (buruk). Persis sebagaimana sunnah, secara bahasa sunnah adalah <em>thariqah</em> dan <em>sirah</em> (jalan atau cara yang ditempuh), maka secara bahasa, ada <em>sunnah hasanah</em> dan ada <em>sunnah sayyiah</em>, ada sunnah Nabi dan ada sunnah selain Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Namun secara istilah yang dimaksud dengan sunnah adalah sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, dan yang dimaksud dengan bid'ah adalah hal baru yang menyalahi Sunnah Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu secara istilah, setiap sunnah itu <em>hasanah</em> dan setiap bid'ah itu <em>sayyiah</em>. Dalam hal ini Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallambersabda:</p>
<p style="text-align: right;">عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي ،عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ</p>
<p><em>"Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya setiap hal baru itu bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di neraka."</em> (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih) [Abu Dawud, no. 4607, Tirmidzi no. 2676]</p>
<p>Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i menggunakan kata sunnah secara bahasa -saat beliau mengungkapkan sikapnya kepada sebagian ahli bid&#8217;ah (ahli ahwa`)- beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #3366ff;">سُنَّتِي فِيهِ سُنَّةُ عُمَرَ فِي صَبِيغٍ</span></p>
<p><em>&#8220;Sunnahku (caraku) terhadap orang itu adalah sunnah Umar (cara Umar) terhadap Shabigh (yaitu dipukul dengan pelepah kurma dan diarak di kota serta diasingkan).&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Al-Imam al-Syafi’i juga menerangkan pembagian bid&#8217;ah menurut bahasa sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اَلْمُحْدَثَاتُ من الأمور ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أو</strong><strong> </strong><strong>أثراً</strong><strong> </strong><strong>أَوْ إِجْمَاعًا  فهذه بِدْعَةُ ضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ من الْخَيْرِ</strong><strong> </strong><strong>لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ</strong><strong> </strong><strong>مَذْمُوْمَةٍ. .قد قال عمر في قيام رمضان: &#8220;نعمت البدعة</strong><strong> </strong><strong>هذه </strong><strong>&#8220;.))</strong><strong> (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩</strong><strong>).</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“Muhdatsat (hal-hal baru) dalam perkara-perkara itu ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, maka ini adalah bid&#8217;ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru diadakan dari kebaikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, Sunnah, atsar dan Ijma’) maka ia adalah muhdatsah yang tidak tercela. Umar ra telah berkata tentang qiyam Ramadhan: sebaik-baik bid&#8217;ah adalah ini”</em> (Al-Baihaqi, <em>Manaqib al-Syafi’i</em>, 1/469).</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Membuat hal baru ini ada dua bidang:</span></strong></p>
<p>Pertama<strong>: Bidang dunia</strong> (hal yang <strong>biasa</strong> diperlukan dan bermanfaat dalam hidup di <strong>dunia</strong> ini) seperti alat-alat transportasi, alat-alat komunikasi modern dst. Maka ini <strong>hukum asalnya adalah mubah</strong> (tidak termasuk dalam istilah bid&#8217;ah).</p>
<p>Diantara dasarnya adalah sabda Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam dalam riwayat Hammad ibn Salamah dari Hadits Anas Radhiallahu &#8216;Anhu yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ‏</strong></p>
<p><em>&#8220;Kalian lebih mengerti tentang urusan dunia kalian.&#8221;</em></p>
<p>Juga riwayat Abu Kamil al-Jahdari dari hadits Thalhah dikeluarkan oleh al- Bazzar dengan lafazh:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِمَا يُصْلِحُكُمْ فِي دُنْيَاكُمْ</strong></p>
<p><em>&#8220;Kalian lebih mengerti tentang apa yang memperbaiki dalam urusan dunia kalian.&#8221;</em></p>
<p>Oleh karena itu <strong>tidak tepat ucapan</strong> orang yang mengatakan bahwa &#8220;kalau Anda mengatakan semua bid&#8217;ah itu sesat maka jangan pakai motor, komputer, HP, kereta api, kaca mata dan lain-lain karena itu adalah bid&#8217;ah. Jika Anda memakainya itu berarti Anda mengakui bahwa tidak semua bid&#8217;ah itu jelek.&#8221;</p>
<p>Juga tidak tepat ucapan di sebagian <strong>situs pembela bid&#8217;ah</strong> yang menolak (atau menakwil) hadits <em>&#8220;<strong>kullu</strong> bid&#8217;atin dhalalah</em>&#8221; dengan mengatakan:<strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong>“Terus terang, Muka Anda juga bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi Saw. Saya ucapkan selamat menjadi orang sesat. Sebab Nabi Saw. tidak pernah memakai resleting, kemeja,  motor, atau mobil seperti Anda. Semua itu bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat!”</strong></p>
<p>Ucapan senada begitu sering kita dengar dari seorang guru atau alim ketika menerangkan tentang bid&#8217;ah. Sungguh naïf! Itu bukan bid&#8217;ah yang tercela, tetapi jika ada yang ngeyel menyatakan itu bid&#8217;ah, maka yang dimaksud adalah bid&#8217;ah secara bahasa! Sekali lagi secara bahasa! Bukan bid&#8217;ah dalam istilah, yang dihukumi oleh baginda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, &#8220;setiap yang bid&#8217;ah itu adalah sesat!&#8221; Kalau kita pahami hal ini secara benar, niscaya tidak akan keluar dari lisan kita ucapan dan pernyataan yang menggelikan seputar bid&#8217;ah!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua<strong>: Bidang <em>diin</em></strong> (agama, yang menjadi tugas dan urusan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam). Maka membuat perkara baru dalam hal ini hukumnya haram.</p>
<p>Dasarnya antara lain, sabda Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallamdari Ummul Mukminin Radhiallahu &#8216;Anha, yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>« مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ </strong><strong>فَهُوَ رَدٌّ »</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَفِي لَفْظٍ (( مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ))</strong></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini apa yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak&#8217;.&#8221;</em><br />
Dan dalam riwayat lain milik Muslim, <em>&#8220;Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar agama kami atasnya maka ia tertolak.&#8221; </em></p>
<p>Ibn Rajab al-Hanbali dalam <em>Jami&#8217;ul Ulum wal-Hikam</em> mengatakan: sebagian lafazhnya adalah:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَنْ أَحْدَثَ فِي <span style="text-decoration: underline;">دِينِنَا</span> مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</strong></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mengada-adakan hal baru dalam agama kami ini apa yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak&#8217;.&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Itulah redaksi yang dikeluarkan oleh Imam Abu Ja&#8217;far Muhammad ibn Sulaiman ibn Habib al-Asadi al-Misshishi al-Baghdadi yang dikenal dengan <strong>Luwain</strong> (w. 245 H) dalam kitabnya yang dikenal dengan <em>Juz` min Hadits Luwain al-Misshishi</em> no. 69, yang kemudian disebutkan oleh Imam al-Baghawi dalam <em>Syarah al-Sunnah</em> dan Imam Nawawi dalam <em>al-Majmu&#8217;</em> (3 tempat), Syaikh &#8216;Adhuddin al-Iyji dalam <em>al-Mawaqif</em>, Syaikh Abdul Muhsin al-Badr dalam <em>al-Hats &#8216;Ala Ittiba&#8217; as-sunnah wat-Tahdzir minal Bida&#8217; wa Bayan Khathariha</em>, Syaikh Abdullah ibn Abdul Aziz at-Tuwaijiri dalam Tesisnya <em>al-Bida&#8217; al-Hawliyyah</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bid&#8217;ah dalam agama ini ada 2</span></strong> (bisa juga dibagi berdasarkan sudut pandang lain):</p>
<ol>
<li><strong>Bid&#8217;ah      <em>qawliyyah I&#8217;tiqadiyyah</em></strong>: seperti makalah-makalah (ucapan-ucapan) kelompok      Jahmiyyah, Murji&#8217;ah, Mu&#8217;tazilah, Khawarij, Rafidhah (Syi&#8217;ah), Shufiyyah      Ghulat (ekstrim), Quburiyyah, Musyabbihah, Mujassimah, Mu&#8217;atthilah,      &#8216;Aqlaniyyah, Bathiniyyah, JIL dan firqah-firqah sesat lainnya, beserta      keyakinan mereka. Bid&#8217;ah keyakinan hari-hari naas, termasuk bid&#8217;ah tidak      mau menjenguk orang sakit di hari Sabtu karena keyakinan hari naas.</li>
<li><strong>Bid&#8217;ah      ibadah</strong>:      seperti bertaqarrub (mendekat) kepada Allah dengan ibadah yang tidak      pernah disyari&#8217;atkan. Hal ini ada banyak bentuk:
<ol>
<li><strong>Bid&#8217;ah pada asal ibadah</strong> itu sendiri, seperti:
<ol>
<li><strong>Membuat shalat baru</strong> yang tidak disyariatkan, seperti shalat Raghaib di Jum&#8217;at pertama bulan Rajab, Shalat Alfiyyah malam Nishfu Sya&#8217;ban, shalat Kifayah, shalat Asyura`, shalat Syukur atas kematian Aisyah yang diajarkan Yasir Habib ar-rafidhi az-Zindiq al-la&#8217;iin, Shalat al-Khamis setelah shalat Jum&#8217;at di akhir Ramadhan dengan keyakinan bahwa itu bisa menebus semua shalat selama setahun lalu atau selama seumur yang ditinggalkan.</li>
<li><strong>Membuat</strong> <strong>puasa baru</strong> yang tidak disyariatkan seperti <em>puasa mutih</em>, puasa pati geni, puasa ngebleng, puasa awal tahun dan akhir tahun dlsb.</li>
<li><strong>Membuat hari raya baru</strong> yang tidak disyariatkan seperti menyalakan api unggun atau lilin setiap malam nishfu sya&#8217;ban, memakai pacar, celak dan membuat makanan khusus <strong>di hari Asyura`,</strong> merayakan hari raya <strong>maulid Nabi Isa &#8216;Alaihi Sallam</strong>, dll).</li>
<li><strong>Bertaqarrub dengan sujud</strong> saja selain sujud shalat, sujud syukur, sujud tilawah, dan sujud sahwi. Begitu pula taqarrub dengan ruku&#8217; saja.</li>
<li><strong>Mencium kuburan,</strong> mengetuk-ngetuk bagungan kuburan, atau mengusap-usap batu nisan atau pagar kuburan, atau sujud pada kuburan, saat ziarah kubur para wali.</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Bid&#8217;ah tambahan dalam       ibadah</strong>,       seperti menambah satu rakaat pada shalat fardhu, tambahan syahadat (<em>asyhadu       anna &#8216;aliyyan waliyyullah/hujjatullah</em>) dalam adzan orang syiah, <strong>Tatswib</strong> (<em>ucapan as-Shalatu Khairun minannaum</em>) pada adzan selain subuh,       menambah shalawat dalam shalat dengan ucapan: <em>warham muhammadan wa ali       Muhahammad kama rahimta &#8216;ala ibrahim</em>, menambah basuhan keempat dalam       wudhu` secara sengaja, dan mengusap leher dalam wudhu&#8217;.<strong> </strong></li>
<li><strong>Bid&#8217;ah       dalam sifat ibadah</strong> yang disyariatkan, seperti dzikir syar&#8217;i secara berjamaah dan dengan       lagu, membebani diri dalam ibadah hingga keluar dari batasan sunnah, Berdzikir       (misalnya tahlil atau istighfar) dengan keras dan jama&#8217;i saat mengiringi       jenazah, membaca       al-Quran dengan lagu sampai menyalahi tajwid dan mengaburkan makna.<br />
Imam Mengucapkan ta&#8217;awwudz dalam shalat dengan keras.</li>
<li><strong>Bid&#8217;ah       dengan mengkhususkan waktu</strong> ibadah yang tidak dikhususkan oleh Syara&#8217; seperti       mengkhususkan <em>nishfu sya&#8217;ban</em> dengan puasa dan <em>qiyamullail</em>,       meskipun puasa dan <em>qiyamullail</em> itu hukum asalnya disyariatkan,       akan tetapi pengkhususannya pada malam itu perlu dalil.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dengan demikian bid&#8217;ah tercela itu adalah: (1) hal baru</strong><strong> (2) dalam</strong><strong> agama</strong><strong> (aqidah maupun ibadah) (3) yang menyalahi sunnah</strong><strong>; sunnah Nabi dan Sunnah sahabat.</strong></p>
<p><strong>Keenam</strong><strong> : </strong>soal pertama dari saudaraku yang &#8220;bau kencur&#8221; (andaikan saja saya tahu namanya sehingga saya bisa memanggil dan mendoakannya): <strong>&#8220;Bagaimana dengan redaksi shalawat yang disusun oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i dan lain-lain, yang jelas-jelas tidak ada contohnya dalam hadits </strong>Rasulullah saw. Beranikah Anda mengatakan bahwa dengan sholawat yang mereka susun, <strong>berarti Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i itu termasuk ahli bid’ah?</strong></p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<ol>
<li> <strong>Yang saya katakan adalah &#8220;</strong><em>seperti membaca sholawat yang disusun oleh kalangan ulama shufi</em><strong>.&#8221; Sementara ibnu Mas&#8217;ud, Imam Syafi&#8217;i bukan ulama sufi, tetapi ulama ahlussunnah, jadi masalahnya jelas berbeda.</strong></li>
<li><strong>Shalawat sufi banyak yang bermasalah dari sisi kandungan dan keyakinan tentangnya, seperti shalawat Wahidiyyah, dan shalawat Tijaniyyah, shalawat Mirghaniyyah Khatmiyyah. Juga shalawat-shalawat yang lain seperti yang ada </strong>dalam kitab <em>Al-Wasîlatu `l-Hariyyah Fî `s-Shalawâti ‘Âlâ Khairi `l-Bariyyah</em> tulisan Syaîkh Ahmad Qusyairi ibn Shiddîq (Pasuruan Jatim, wafat 22 Syawal 1392 H) yang<em> </em>berisikan 80 <em>Shalawat</em>.
<ul>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 5 ia berkata: &#8220;Ini <em>Shalawat</em> Imâm Al-Ghazali dan Al-Ghauts Al-Jilanî. An-Nabhani menukil dari As-Sya’rani dari As-Syauni melalui mimpi bahwa membaca <em>shalawat</em> ini sekali sama dengan 10 ribu (<em>shalawat</em> biasa).</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 18 dia berkomentar: Syaîkh Al-Dirabiy dan lainnya menyebutkan bahwa Syaîkh ‘Abdu `l-Qâdir Al-Jilanî mendapatkannya tertulis pada batu dan bahwasanya ia sama dengan 50 ribu <em>shalawat</em>, dan dia bermimpi bahwa Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam berkata kepadanya bahwa shalawat itu sama dengan 70 ribu <em>shalawat</em>.</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 29 dia berkomentar: Dalam <em>Kunuzu `l-Asrâr</em> disebutkan, barangsiapa menyebutnya seribu kali (1000 x) maka Allâh melapangkan kesulitannya dan meluluskan hajatnya apapun hajat itu. Begitu pula orang yang menyebut nama Allâh As-Sarî’ (Yang Maha Cepat) seribu kali (1000 x) dengan mengatakan, &#8220;Yâ Sarî&#8221;.</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 30 dia berkata: <em>shalawat</em> yang diajarkan langsung (<em>musyafahatan</em>) oleh Rasûlullâh Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam (setelah Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam wafat) kepada Sayyid ‘Abdullâh Al-’Ilmi. Ini telah diuji coba (mujarab) untuk setiap hajat.</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 39 dia berkomentar: Ini <em>Shalawat</em> <em>Al-Fâti<span style="text-decoration: underline;">h</span></em> milik Al-Ârif Al-Kabîr Sayyidi Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Al-Bakri. As-Shawi dan lainnya mengutip dari pengarangnya bahwa barangsiapa ber<em>shalawat</em> dengan <em>shalawat</em> ini sekali seumur hidup, maka tidak akan masuk neraka. Abû `l-’Abbâs At-Tîjânî telah berkata sebagaimana dalam <em>Jawâhiru `l-Ma’ânî</em> bahwa <em>shalawat</em> ini turun kepada Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Al-Bakri dalam satu <em>sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>îfah</em> (lembaran) dari Allâh. Sebagian berkata: membacanya sekali sama dengan 10.000 <em>shalawat</em> biasa. Ada yang mengatakan 600.000. Barangsiapa merutinkan selama 40 hari maka diampuni dari semua dosa. Membacanya seribu kali dalam malam Kamis atau Jum’at atau Senin maka akan berkumpul dengan Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> ke 41 dia berkomentar: <em>Shalawat</em> milik Sayyidi Syaîkh Mushthafa Al-Bakri, dikutip dari <em>Lau<span style="text-decoration: underline;">h</span>u `l- ma<span style="text-decoration: underline;">h</span>fûzh</em>. Membaca sekali sama dengan 70.000 <em>Dalâ`il</em> (Khairaat).</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 70 yang di dalamnya terdapat kata-kata: &#8220;Ya Allâh ber<em>shalawat</em>lah kepada sayyid kami Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad hingga tidak tersisa sedikitpun dari <em>shalawat</em>-Mu!!&#8221; Dia berkata; &#8220;Dibaca tiap hari, minimal 4 kali untuk menghilangkan  kesusahan dan menolak balak. Bahkan ia <em>mujarab</em> (telah diuji coba) untuk segala sesuatu dengan izin Dzat Yang Maha Kuasa.</li>
<li>Pada <em>shalawat</em> nomor 72 dia berkata: <em>Shalawat</em> disebutkan oleh Syaîkh Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Shâli<span style="text-decoration: underline;">h</span> Ar-Rais dalam Fatwanya, dia menyebutkan sebuah <span style="text-decoration: underline;">h</span>adîts dari Jabir Radhiallahu &#8216;Anhu bahwa barangsiapa membacanya pagi sore maka ia telah melelahkan 70 malaikat pencatat (pahala) selama seribu pagi (seribu hari), dan tidak tersisa sedikit pun dari hak Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam melainkan ia telah tunaikan, dan diampuni untuknya dan kedua orang tuanya dan dikumpulkan bersama keluarga Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad…&#8221;<a href="#_ftn1"><strong><sup><strong><sup>[1]</sup></strong></sup></strong></a></li>
<li>Selain itu shalawat bid&#8217;ah banyak didapati di kitab <em>Dalail al-Khairat wa Syawariq al-Anwar Fi Dzikr al-Shalati &#8216;ala an-nabiyyil Mukhtar</em>, karya syaikh sufi Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman al-Jazuli as-Syamlani (w. 870 H). <em>Jami&#8217; al-Shalawat wa Majma&#8217; as-Sa&#8217;adat fi as-shalat &#8216;ala Sayyidil Sadat,</em> karya Syaikh Sufi yang kesohor Yusuf ibn Ismail al-Nabhani (w. 1350 H),</li>
</ul>
<p><em>Subhanallah!</em> Anda bisa bayangkan betapa pengaruh teori <em>kasyaf</em> dan mimpi ini begitu kuat menancap dalam hati banyak kaum muslimin sehingga banyak menimbulkan keyakinan-keyakinan baru yang tidak dikenal sebelumnya, dengan alasan bahwa ajaran atau keyakinan itu ia dapat langsung dari Allâh Subhanahu wa Ta&#8217;ala atau langsung diajari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam. Bisa kita bayangkan seandainya setiap orang mengaku diajari langsung oleh Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam atau mendapat <em>ilham</em> tentang satu amalan. Sangat mungkin atas dasar teori ini pula, begitu banyak sekte dan ajaran menyimpang di masa kita sekarang ini, yang mematikan sunnah Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.Nah, shalawat-shalawat inilah yang saya maksudkan bukan shalawat ibnu Mas&#8217;ud, dan Imam Syafi&#8217;i, dll.</li>
<li> <strong>Shalawat itu ibadah yang bersifat doa,</strong><strong> boleh dengan redaksi sendiri untuk hajatnya, asal memenuhi </strong>dua syarat, yakni ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<br />
<strong>Ikhlas dalam bershalawat berarti :</strong></p>
<ul>
<li>Hanya mengharapkan ridha Allah<em> Ta’ala </em>dan pahala dari-Nya.</li>
<li>Teks shalawat yang dibaca tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip ikhlas maupun syariat. Atau dengan kata lain, tidak bermuatan syirik dan kekufuran, semisal <em>istighatsah </em>kepada selain Allah<em> Ta’ala</em>, menisbatkan sesuatu yang merupakan hak khusus Allah kepada selain-Nya dan yang semisal. Aturan kedua ini tentunya diterapkan pada teks-teks shalawat produk manusia yang tidak ma&#8217;shum, bukan berasal dari Nabi<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lebih-lebih shalawat shufiyyah.</li>
<p><strong>Meneladani Rasulullah</strong><em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><strong> dalam bershalawat, </strong>maksudnya :</p>
<li>Mencontoh shalawat yang diajarkan beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan inilah yang paling utama.</li>
<li>Bila menggunakan susunan shalawat dari selain Nabi<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, disyaratkan tidak mengandung unsur kesyirikan maupun <em>ghuluw</em> (sanjungan yang berlebihan) kepada beliau.</li>
<li>Bershalawat pada momen-momen yang beliau syariatkan, dan dengan bilangan yang sudah beliau tentukan. [5]</li>
<li>Memperbanyak membaca shalawat semampunya, dalam rangka mengamalkan firman Allah <em>Ta’ala </em>dalam QS.al-Ahzab/33:56 dan sabda Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut di atas.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Shalawat yang digubah oleh sahabat Ibn Mas&#8217;ud Radhiallahu &#8216;Anhu:</strong>
<p style="text-align: right;"><strong>حَدَّثَنَا</strong><strong> </strong><strong>الْحُسَيْنُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ عَبْدِ</strong><strong> </strong><strong>اللَّهِ</strong><strong> </strong><strong>حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ</strong><strong> </strong><strong>أَبِي</strong><strong> </strong><strong>فَاخِتَةَ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ <span style="color: #3366ff;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ</span></strong><span style="color: #3366ff;"><strong> </strong><strong>مَسْعُودٍ قَالَإِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى</strong><strong> </strong><strong>اللَّهُ</strong><strong> </strong><strong>عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ</strong><strong> </strong><strong>لَا</strong><strong> </strong><strong>تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ</strong><strong> </strong><strong>فَعَلِّمْنَا، قَالَ: قُولُوا</strong><strong> اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ</strong><strong> </strong><strong>وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ</strong><strong> </strong><strong>وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ</strong><strong> </strong><strong>وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ</strong><strong> </strong><strong>مَقَامًا</strong><strong> </strong><strong>مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ</strong><strong> </strong><strong>اللَّهُمَّ صَلِّ</strong><strong> </strong><strong>عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ</strong><strong> </strong><strong>عَلَى</strong><strong> </strong><strong>إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ</strong><strong> </strong><strong>اللَّهُمَّ</strong><strong> </strong><strong>بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا</strong><strong> </strong><strong>بَارَكْتَ عَلَى</strong><strong> </strong><strong>إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ</strong><strong> </strong><strong>مَجِيدٌ</strong></span><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Abdullah bin Mas’ud berkata: Apabila kamu semua bersolawat kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, maka baguskanlah shalawat kepadanya, karena kamu tidak tahu, mungkin saja shalawat kamu itu diberitahukan (disampaikan) kepada beliau. Lalu mereka bertanya: kalau begitu ajarkanlah kami (cara bersolawat yang bagus kepada beliau)! Lalu beliau (Abdullah bin Mas’ud) menjawab: katakan, Ya Allah jadikanlah segala solawat-Mu, rahmat-Mu, dan berkah-Mu, kepada Sayyid para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, penutup para nabi, yaitu Muhammad Hamba dan Rasul-MU, pemimpin kebaikan, dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau maqam terpuji yang akan diiri oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian.</p>
<p>Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau  memberikan shalwat pada Ibrahim, dan keluarga Ibrahum sesungguhnya Engkau maha terpuji dan Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Agung.&#8221;</p>
<p>(HR. Ibn Majah no 906, <strong>dhaif</strong>. Didhaifkan oleh Al-Albani dalam takhrij kitab <em>Fadhlusshalah &#8216;alan</em> <em>Nabi</em> milik Ismail al-Qadli no. 61; oleh Husain Salim Asad dalam <em>Musnad Abu Ya&#8217;la</em> 9/175; Al-Haitsami dalam <em>Majma&#8217; al-Zawaid</em> dan al-Bushiri dalam <em>Mishbah al-Zujajah</em> mengatakan: &#8220;para perawinya tsiqat kecuali al-Mas&#8217;udi, diakhir usianya pikiranya berubah kacau, tidak membedakan haditsnya yang pertama dari yang akhir, maka layak ditinggalkan. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hibban.&#8221; Ia memiliki syahid (saksi) hadits lain riwayat dari Ibn Umar dalam Musnad Ahmad ibn Manii&#8217;, sehingga ada yang menghasankan)</li>
<li><strong>Shalawat dan dzikir dari sahabat bisa diamalkan </strong><br />
Anda masih ingat kaedah yang dibuat oleh Imam Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em>:&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أو أثراً أَوْ إِجْمَاعًا  فهذه بِدْعَةُ ضَّلالَةِ</p>
<p><em>&#8220;Apa saja yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, maka ini adalah bid&#8217;ah dhalalah (tersesat).&#8221;</em><br />
Oleh karena itu atsar dari sahabat termasuk sunnah, bukan bid&#8217;ah. Dalam hal ini ahlussunnah memiliki kaedah:<br />
Syaikh Zakariya ibn Ghulam al-Bakistani dalam kitab Ahkam al-Adzkar halaman 16, kaedah ke 14, mengatakan:<br />
&#8220;Dzikir yang terikat dengan waktu dan tempat yang datang dari sahabat bisa diamalkan. Dzikir-dzikir yang datang dari setelah mereka yaitu <em>tabi&#8217;in</em> dan <em>atba&#8217; tabi&#8217;in</em> maka tidak diamalkan. Karena para ulama menyebutkan bahwa apa yang datang dari para sahabat dari hal yang tidak ada ruang bagi pendapat dan ijtihad di dalamnya maka hukumnya adalah marfu&#8217;. Dzikir adalah termasuk ibadah yang tidak ada ruang bagi pendapat, sehingga apa yang datang dari sahabat dari dzikir hukumnya dianggap marfu&#8217; (termasuk ajaran Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam) dan menjadi hujjah. Adapun yang datang dari para tabi&#8217;in maka tidak dihukumi marfu&#8217; tetapi ijtihad dari yang mengucapkannya dan tidak disyariatkan mengamalkannya, karena ia bukan hujjah.&#8221;</li>
<li><strong>Shalawat Imam Syafi&#8217;i</strong><br />
Imam Syafi&#8217;I berijtihad. Menulis shalawat di mukaddimah kitabnya <em>ar-Risalah,</em> (1/16)&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><strong>فصلى الله على نبينا كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون وصلى عليه في الاولين والآخرين أفضل وأكثر وأزكى ما صلى على أحد من خلقه</strong> وزكانا وإياكم بالصلاة عليه أفضل ما زكى أحد من أمته بصلاته عليه والسلام عليه ورحمة الله وبركاته وجزاه الله عنا أفضل ما جزى مرسلا عن من أخرجت للناس دائنين بدينه الذي ارتضى واصطفى به ملائكته ومن أنعم عليه من خلقه فلم تمس بنا نعمة ظهرت ولا بطنت نلنا بها<strong> </strong>حظا في دين أو دفع بها عنا مكروه فيهما وفي واحد منهما إلا ومحمد صلى الله عليه سببها القائد إلى خيرها والهادي إلى رشدها الذائد عن الهلكة وموارد السوء في خلاف الرشد المنبه للاسباب التي تورد الهلكة القائم بالنصيحة في الارشاد والانذار فيها فصلى الله على محمد وعلى آل محمد كما صلى على إبراهيم وآل إبراهيم إنه حميد مجيد</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh Imam syafi&#8217;i sah dalam agama <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>, tidak ada larangan sama sekali. Siapa pun dari kita boleh menulis di mukaddimah khutbah atau kitab tahmid dan shalawat dari rangkaian sendiri asal isinya tidak bertentangan dengan syara&#8217;.</li>
<li><strong>Kaitan mujtahid dengan bid&#8217;ah</strong><br />
Orang yang betul-betul mujtahid tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang bid&#8217;ah kecuali hanya <em>faltah</em> (ketergelinciran yang tidak disengaja), kita sebut demikian karena mujtahid tidak bermaksud mengikuti mutasyabihat untuk mencari fitnah dan mencari takwil kitab, artinya tidak mengikuti hawa nafsunya, dan tidak menjadikannya sebagai tumpuan. Buktinya, jika kebenaran tampak nyata baginya maka ia tunduk dan mengakuinya. Oleh karena itu seandainya shalawat yang ditulis oleh Imam Syafi&#8217;i itu –misalnya- termasuk bid&#8217;ah maka kita tetap tidak menyebut beliau sebagai ahli bid&#8217;ah, apalagi telah terbukti bahwa hal itu boleh-boleh saja dalam syariat ini. (Baca macam-macam orang yang dikaitkan dengan bid&#8217;ah dalam <em>al-I&#8217;tisham</em>).</li>
<li><strong>Shalawat (atau syari&#8217;at secara umum) tidak diambil dari mimpi</strong><br />
Sepakat ahlussunnah bahwa mimpi bukan sumber syariat, dan bahwa mengambil syariat dari mimpi termasuk manhaj bid&#8217;ah, khususnya shufiyyah quburiyyah. Contoh, disebutkan bahwa Abul Mawahib al-Syadzili berkata: Saya bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam lalu beliau berkata kepada saya: jika kamu punya hajat dan kamu ingin memenuhinya  maka bernadzarlah untuk Nafisah al-Thahirah<a href="#_ftn2">[2]</a>, meskipun hanya satu fils, sesungguhnya hajatmu pasti terkabul.&#8221; (<em>Thabaqat al-Sya&#8217;rani</em>, 2/74)&nbsp;</p>
<p>Coba perhatikan mimpi syaithani ini mengajak orang untuk berbuat syirik, merusak tauhid yang diperjuangkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam selama 23 tahun dalam masa kenabiannya.</p>
<p>Kembali kepada masalah shalawat. Diceritakan dalam kitab <em>Jala’ al-Afham</em> page 230, dan al-Hafiz al-Sakhawi dalam kitabnya <em>al-Qaul al-Badi’</em> page 254:</p>
<p style="text-align: right;">وقال عبد الله بن عبد الحكم: &#8220;رأيت الشافعي في النوم، فقلت. ما فعل الله بك؟ قال: رحمني وغفر لي وزفني إلى الجنة كما تزف العروس, ونثر علي كما ينثر على العروس، فقلت: بم بلغت هذه الحال؟ فقال لي قائل: يقول لك بما في كتاب الرسالة من الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم&#8221;. قلت: فكيف ذلك؟ قال: وصلى الله على محمد عدد ما ذكره الذاكرون، وعدد ما غفل عن ذكره الغافلون. قال: فلما أصبحت نظرت في الرسالة فوجدت الأمر كما رأيت: النبي صلى الله عليه وسلم&#8221;</p>
<p>Abdullah bin al-Hakam berkata: Aku bermimpi bertemu al-Imam al-Syafi’i setelah beliau meninggal. Aku bertanya: Apa yang Allah lakukan padamu? Beliau menjawab: Allah mengasihiku dan mengampuniku – sampai dengan- Lalu aku (Imam Syafi’i) bertanya kepada Allah: dengan apa aku memperoleh derajat ini? Lalu ada orang yang menjawab: dengan solawat yang kau tulis di dalam kitab al-Risalah:</p>
<p style="text-align: right;">صلى الله على محمد عدد ما ذكره الذاكرون وعدد ما غفل عن ذكره الغافلون .</p>
<p>Abdullah bin al-Hakam berkata: Pagi harinya aku tengok kitab al-Risalah, ternyata solawat di dalamnya sama dengan yang aku tenggok di dalam mimpiku.</p>
<p>Lafazh selawat Imam al-Syafi&#8217;i yang masyhur adalah seperti berikut;</p>
<p style="text-align: right;">اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون</p>
<p>Disebutkan lafazh ini diambil daripada kitab beliau <em>al-Risalah</em>. Namun lafazh selawat Imam al-Syafi&#8217;i yang asal yang terdapat di dalam kitab <em>al-Risalah</em> (hlm. 16) tersebut agak berbeda sedikit dengan tambahan yang agak panjang yaitu sebagaimana yang sudah kami sebut di atas.</p>
<p>Menurut mimpi tersebut, seolah-olah shalawat imam Syafi&#8217;i ini berfadhilah, namun demikian sepakat ahlussunnah bahwa yang terbaik adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu seandainya ada orang nadzar untuk bershalawat maka cara memenuhinya adalah dengan membaca shalawat ibrahimiyyah ajaran nabi, bukan shalawat buatan imam asyafi&#8217;i, karena ialah shalawat yang paling afdhal sebagaimana yang ada dalam kitab <em>Raudhah al-Thalibin wa &#8216;Umdatul Muftin</em> 4/102, <em>al-Majmu&#8217;</em> 3/464; <em>Asnal Mathalib</em> 22/18) [*]</p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="text-decoration: underline;">ولكن الأمر الهام الذي يجب</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">أن يعلم أن العلماء قد قرروا أنه لا يؤخذ أي حكم شرعي من رؤية النبي صلى</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">الله عليه وسلم في المنامات</span></strong><strong> لأن الشريعة الإسلامية قد تمت وكملت قبل وفاة</strong><strong> </strong><strong>سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم قال الله تعالى {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ</strong><strong> </strong><strong>لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ</strong><strong> </strong><strong>الإِسْلاَمَ دِينًا} سورة المائدة الآية 3.كما أن مصادر التشريع معلومة</strong><strong> </strong><strong>ومعروفة وقد بينها الأصوليون وهي الكتاب والسنة والإجماع والقياس والمصادر</strong><strong> </strong><strong>التبعية على خلاف بينهم فيها وليس منها الرؤى ولا المنامات ولا يحتج بالرؤى</strong><strong> </strong><strong>في باب الأحكام الشرعية إلا من ضعف عقله وزاغ عن طريق الحق والصواب .فليست</strong><strong> </strong><strong>الرؤى والمنامات من مصادر التشريع وهذا هو الحق والصواب وماذا بعد الحق</strong><strong> </strong><strong>إلا الضلال ؟ وأكثر ما يؤخذ من الرؤى أن تكون بشارة أو نذارة لا أن تكون</strong><strong> </strong><strong>مصدراً للتشريع</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><br />
</strong><strong>قال <span style="text-decoration: underline;">الإمام النووي</span> عند كلامه على رؤى الرواة [ قال القاضي عياض رحمه الله</strong><strong>: </strong><strong>هذا ومثله استئناس واستظهار على ما تقرر من ضعف أبان لا أنه يقطع بأمر</strong><strong> </strong><strong>المنام ولا أنه تبطل بسببه سنة ثبتت ولا تثبت به سنة لم تثبت وهذا بإجماع</strong><strong> </strong><strong>العلماء , هذا كلام القاضي </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وقال</strong><strong> </strong><strong>الإمام النووي أيضاً: [ لو كانت ليلة الثلاثين من شعبان, ولم ير الناس</strong><strong> </strong><strong>الهلال, فرأى إنسان النبي صلى الله عليه وسلم في المنام، فقال له: الليلة</strong><strong> </strong><strong>أول رمضان لم يصح الصوم بهذا المنام، لا لصاحب المنام ولا لغيره ] المجموع</strong><strong>6/292</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong><strong>وقال الإمام النووي أيضاً عند كلامه على خصائص النبي صلى الله عليه</strong><strong> </strong><strong>وسلم :[ ومنه أن من رآه في المنام فقد رآه حقاً فإن الشيطان لا يتمثل في</strong><strong> </strong><strong>صورته ولكن لا يعمل بما يسمعه الرائي منه في المنام مما يتعلق بالأحكام إن</strong><strong> </strong><strong>خالف ما استقر في الشرع لعدم ضبط الرائي لا للشك في الرؤيا لأن الخبر لا</strong><strong> </strong><strong>يقبل إلا من ضابط مكلف والنائم بخلافه ] تهذيب الأسماء واللغات1/43</strong><strong><br />
</strong><strong><span style="text-decoration: underline;">وقال الشاطبي</span></strong><strong>:[ وأما الرؤيا التي يخبر فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم</strong><strong> </strong><strong>الرائي بالحكم فلا بد من النظر فيها أيضاً لأنه إذا أخبر بحكم موافق</strong><strong> </strong><strong>لشريعته فالحكم بما استقر وإن أخبر بمخالف فمحال لأنه صلى الله عليه وسلم</strong><strong> </strong><strong>لا ينسخ بعد موته شريعته المستقرة في حياته لأن الدين لا يتوقف استقراره</strong><strong> </strong><strong>بعد موته على حصول المرائي النومية لأن ذلك باطل بالإجماع فمن رأى شيئاً من</strong><strong> </strong><strong>ذلك فلا عمل عليه وعند ذلك نقول عن رؤياه غير صحيحة إذ لو رآه حقاً لم</strong><strong> </strong><strong>يخبر بما يخالف الشرع ] الاعتصام 1/321. وانظر أيضاً الموافقات</strong><strong> </strong><strong>للشاطبي1/114-115.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وقال <span style="text-decoration: underline;">شيخ الإسلام ابن تيمية</span>[ الرؤيا المحضة التي لا دليل</strong><strong> </strong><strong>على صحتها لا يجوز أن يثبت بها شيء بالاتفاق ] مجموع الفتاوى 27/457</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وقال</strong><strong> </strong><strong><span style="text-decoration: underline;">ابن حزم الظاهري</span></strong><strong>[ الشرائع لا تُؤْخَذ بالمنامات ] المحلى 6 / 507 </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>.وقال</strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">الشوكاني</span></strong><strong>:[ المسألة السابعة: في رؤيا النبي صلى الله عليه وسلم ذكر جماعة</strong><strong> </strong><strong>من أهل العلم منهم الأستاذ أبو إسحاق أن يكون حجة ويلزم العمل به وقيل حجة</strong><strong> </strong><strong>ولا يثبت به حكم شرعي وإن كانت رؤية النبي صلى الله عليه وسلم رؤية حق</strong><strong> </strong><strong>والشيطان لا يتمثل به لكن النائم ليس من أهل التحمل للرواية لعدم حفظه وقيل</strong><strong> </strong><strong>إنه يعمل به ما لم يخالف شرعاً ثابتاً ، ولا يخفاك أن الشرع الذي شرعه</strong><strong> </strong><strong>الله لنا على لسان نبينا صلى الله عليه وسلم قد كمله الله عز وجل وقال</strong><strong> {</strong><strong>الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ }ولم يأتنا دليل يدل على أن رؤيته</strong><strong> </strong><strong>في النوم بعد موته صلى الله عليه وسلم إذ قال فيها بقول أو فعل فيها فعلاً</strong><strong> </strong><strong>يكون دليلاً وحجة بل قبضه الله إليه عند أن كمَّل لهذه الأمة ما شرعه لها</strong><strong> </strong><strong>على لسانه ولم يبق بعد ذلك حاجة للأمة في أمر دينها وقد انقطعت البعثة</strong><strong> </strong><strong>لتبليغ الشرائع وتبينها بالموت وإن كان رسولاً حياً وميتاً وبهذا تعلم أن</strong><strong> </strong><strong>لو قدَّرنا ضبط النائم لم يكن ما رآه من قوله صلى الله عليه وسلم أو فعله</strong><strong> </strong><strong>حجة عليه ولا على غيره من الأمة ] إرشاد الفحول إلى تحقيق الحق من علم</strong><strong> </strong><strong>الأصول ص249.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وقال الشيخ <span style="text-decoration: underline;">العلامة عبد العزيز بن باز</span> :[ ، ولا يجوز أن يعتمد</strong><strong> </strong><strong>عليها في شيء يخالف ما علم من الشرع ، بل يجب عرض ما سمعه الرائي من النبي</strong><strong> </strong><strong>من أوامر أو نواهي أو خبر أو غير ذلك من الأمور التي يسمعها أو يراها</strong><strong> </strong><strong>الرائي للرسول صلى الله عليه وسلم على الكتاب والسنة الصحيحة ، فما وافقهما</strong><strong> </strong><strong>أو أحدهما قبل ، وما خالفهما أو أحدهما ترك؛ لأن الله سبحانه قد أكمل لهذه</strong><strong> </strong><strong>الأمة دينها وأتم عليها النعمة قبل وفاة النبي صلى الله عليه وسلم فلا</strong><strong> </strong><strong>يجوز أن يقبل من أحد من الناس ما يخالف ما علم من شرع الله ودينه سواء كان</strong><strong> </strong><strong>ذلك من طريق الرؤيا أو غيرها وهذا محل إجماع بين أهل العلم المعتد بهم ،</strong><strong> </strong><strong>أما من رآه عليه الصلاة والسلام على غير صورته فإن رؤياه تكون كاذبة كأن</strong><strong> </strong><strong>يراه أمرد لا لحية له ، أو يراه أسود اللون أو ما أشبه ذلك من الصفات</strong><strong> </strong><strong>المخالفة لصفته عليه الصلاة والسلام ، لأنه قال عليه الصلاة والسلام</strong><strong> : " </strong><strong>فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي " فدل ذلك على أن الشيطان قد يتمثل في غير</strong><strong> </strong><strong>صورته عليه الصلاة والسلام ويدعي أنه الرسول صلى الله عليه وسلم من أجل</strong><strong> </strong><strong>إضلال الناس والتلبيس عليهم . ثم ليس كل من ادعى رؤيته صلى الله عليه وسلم</strong><strong> </strong><strong>يكون صادقا وإنما تقبل دعوى ذلك من الثقات المعروفين بالصدق والاستقامة على</strong><strong> </strong><strong>شريعة الله سبحانه ، وقد رآه في حياته صلى الله عليه وسلم أقوام كثيرون</strong><strong> </strong><strong>فلم يسلموا ولم ينتفعوا برؤيته كأبي جهل وأبي لهب وعبد الله بن أبي بن سلول</strong><strong> </strong><strong>رأس المنافقين وغيرهم ، فرؤيته في النوم عليه الصلاة والسلام من باب أولى</strong><strong> ] </strong><strong>ونقل صاحب تهذيب الفروق والقواعد السنية عن العلامة العطار قوله: ولا يلزم</strong><strong> </strong><strong>من صحة الرؤيا التعويل عليها في حكم شرعي لاحتمال الخطأ في التحمل وعدم</strong><strong> </strong><strong>ضبط الرائي ] تهذيب الفروق والقواعد السنية 4/270. </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وقد وجدت كلاماً <span style="text-decoration: underline;">للإمام</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">القرافي</span></strong><strong> في مسألة قريبة من مسألة الطلاق الزوجة بناءً على الرؤية حيث</strong><strong> </strong><strong>قال:[فلو رآه عليه الصلاة والسلام فقال له : إن امرأتك طالق ثلاثاً , وهو</strong><strong> </strong><strong>يجزم بأنه لم يطلقها فهل تحرم عليه ; لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم لا</strong><strong> </strong><strong>يقول إلا حقاً وقع فيه البحث مع الفقهاء واضطربت آراؤهم في ذلك بالتحريم</strong><strong> </strong><strong>وعدمه لتعارض خبره عليه الصلاة والسلام عن تحريمها في النوم وإخباره في</strong><strong> </strong><strong>اليقظة في شريعته المعظمة أنها مباحة له , </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>والذي يظهر لي أن إخباره عليه</strong><strong> </strong><strong>الصلاة والسلام في اليقظة مقدم على الخبر في النوم لتطرق الاحتمال للرائي</strong><strong> </strong><strong>بالغلط في ضبط المثال , فإذا عرضنا على أنفسنا احتمال طروء الطلاق مع الجهل</strong><strong> </strong><strong>به واحتمال طروء الغلط في المثال في النوم وجدنا الغلط في المثال أيسر</strong><strong> </strong><strong>وأرجح , ومن هو من الناس يضبط المثال على النحو المتقدم إلا أفراد قليلة من</strong><strong> </strong><strong>الحفاظ لصفته عليه الصلاة والسلام وأما ضبط عدم الطلاق فلا يختل إلا على</strong><strong> </strong><strong>النادر من الناس والعمل بالراجح متعين , وكذلك لو قال له عن حلال : إنه</strong><strong> </strong><strong>حرام , أو عن حرام إنه حلال , أو عن حكم من أحكام الشريعة قدمنا ما ثبت في</strong><strong> </strong><strong>اليقظة على ما رأى في النوم لما ذكرناه كما لو تعارض خبران من أخبار اليقظة</strong><strong> </strong><strong>صحيحان فإنا نقدم الأرجح بالسند أو باللفظ أو بفصاحته أو قلة الاحتمال في</strong><strong> </strong><strong>المجاز أو غيره فكذلك خبر اليقظة وخبر النوم يخرجان على هذه القاعدة</strong><strong> ] </strong><strong>الفروق 4/245-246</strong><strong>.<br />
</strong><strong>وأخيراً أذكر ما قاله<span style="text-decoration: underline;"> الشاطبي</span>:[ وعلى الجملة فلا يستدل بالرؤيا في الأحكام</strong><strong> </strong><strong>إلا ضعيف المنّة نعم يأتي المرئي تأنيساً وبشارة ونذارة خاصة بحيث لا</strong><strong> </strong><strong>يقطعون بمقتضاها حكماً ولا يبنون عليها أصلاً وهو الاعتدال في أخذها حسبما</strong><strong> </strong><strong>فهم من الشرع فيها ] الاعتصام 1/322.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وبعد هذه النقول عن فحول أهل العلم</strong><strong> </strong><strong>أقول لا شك أنه لا يصح في دين الإسلام الاعتماد على الرؤى والأحلام في</strong><strong> </strong><strong>إثبات الأحكام ولا يجوز للمرء أن يطلق زوجته بناءً على تلك المنامات</strong><strong> .</strong></p>
</li>
</ol>
<p>Bersambung ke bag-3</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Qusyairi ibn Shiddîq Al-Bâsuruani (1392), <em>Al-Wasîlatu `l-<span style="text-decoration: underline;">H</span>ariyyah Fi `s-Shalawâti ‘Alâ Khairi `l-Bariyyah</em>, diterbitkan oleh ‘Umar ibn A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Qusyairi ibn Shiddîq, tt</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Nafisah bint Zaid ibn Hasan ibn Ali bin Abi Thalib, makamnya di Mesir diagungkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html' rel='bookmark' title='Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)'>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/info-dialog.html' rel='bookmark' title='Info Dialog'>Info Dialog</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syubhat Syiah</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/syubhat-syiah.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/syubhat-syiah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 06:39:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syubhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=954</guid>
		<description><![CDATA[Dijawab oleh : Mamduh farhan al-Buhairi Syiah: Hai Wahhabi, jangan membawa nama Sunni untuk menghujat umat lain yang tidak sependapat dengan pemikiran antum! Wahabi atau Salafi sama saja. Modalnya cuma bisa bahasa Arab saja! Hanya orang-orang wahabi atau salafi yang doyan makan hadits Abu Hurairah. Sampai yang tidak mau make hadits Abu Hurairah dianggap sesat. [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/200-syubhat-syiah-dan-bantahannya.html' rel='bookmark' title='200 Syubhat Syiah dan Bantahannya'>200 Syubhat Syiah dan Bantahannya</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/halal-haram-dalam-agama-syiah.html' rel='bookmark' title='Halal Haram dalam Agama Syiah'>Halal Haram dalam Agama Syiah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html' rel='bookmark' title='Keadilan untuk Orang Syiah'>Keadilan untuk Orang Syiah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Dijawab oleh : <strong>Mamduh farhan al-Buhairi</strong></p>
<p><strong>Syiah:</strong> Hai Wahhabi, jangan membawa nama Sunni untuk menghujat umat lain yang tidak sependapat dengan pemikiran antum! Wahabi atau Salafi sama saja. Modalnya cuma bisa bahasa Arab saja! Hanya orang-orang wahabi atau salafi yang doyan makan hadits Abu Hurairah. Sampai yang tidak mau make hadits Abu Hurairah dianggap sesat. Di NU ada tradisi tawassul, begitupula di Syi’ah. Jadi masih ada persamaan. Cuma Wahabi atau Salafi yang tidak memperbolehkan. Beginilah kalau kenalnya cuma sama <strong>Bapak Kucing (Abu Hurairah)</strong>. Mengapa Abu Hurairah tidak diganti saja dengan julukan yang lebih baik. Masa orang hebat julukannya lucu. Katanya sahabat Nabi, tapi kenapa bisa mendapat gelar seperti itu? Ana yakin itu hanya cerita fiktif dari Wahabi.<span id="more-954"></span></p>
<p><strong>Jawab Syaikh Mamduh</strong>: Saya sangat senang dengan keterus terangan ini, karena hal itu semakin memperjelas akhlaq Anda yang sebenarnya di hadapan manusia. Sebagaimana telah menjadi jelas bagi mereka tentang keyakinan menyimpang Anda terhadap para sahabat Radhiallahu ‘Anhu.</p>
<p>Saya akan menjawab Anda dengan sesuatu yang tidak Anda bayangkan, sebuah jawaban yang dengan izin Allah akan mengejutkan Anda. Anda ingin mengelabui manusia dengan klaim Anda bahwa Syi’ah dan NU itu sama, hanya karena mereka membolehkan tawassul. Baiklah, pertama, Anda lupa bahwa kami juga membolehkan tawassul, akan tetapi tawassul yang masyru’, bukan tawassul yang dilarang (yang tidak ada dalilnya dari al-Qur`an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).</p>
<p>Sebenarnya bukan ini masalahanya. Permasalahan yang sesungguhnya adalah klaim Anda yang mengesankan bahwa Anda sama dengan NU. Maka apakah bisa kita pahami dengan ungkapan itu bahwa NU melecehkan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu sebagaimana Anda dan Syi’ah melecehkannya Radhiallahu ‘Anhu?</p>
<p>Apakah bisa kita pahami bahwa NU mencaci para sahabat Radhiallahu ‘Anhu dan berkeyakinan akan kemurtadan dan kekafiran mereka?</p>
<p>Apakah NU menuduh zina Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dan bahwa dia ada di dalam neraka?</p>
<p>Apakah NU tidak mengakui kekhilafahan Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman?</p>
<p>Apakah NU meyakini para imam syi’ah dan bahwa mereka semua ma’shum?</p>
<p>Apakah NU meyakini bolehnya nikah mut’ah dan mengamalkannya?</p>
<p>Apakah NU meyakini al-Mahdi al-Muntazhar yang bersembunyi di goa sejak lebih dari seribu tahun yang lalu?</p>
<p>Apakah NU meyakini kakufuran orang yang tidak mengimani imam-imam mereka?</p>
<p>Apakah NU meyakini bahwa al-Qur`an ini telah diubah-ubah?</p>
<p>Apakah NU mengikuti madzhab Ja&#8217;fari bukan madzhab Syafi&#8217;i? Begitu seterusnya, pertanyaan ini bisa memanjang…! Dan jawabannya sama, TIDAK. Sekarang para pembaca bisa mengetahui dengan sederhana apakah NU sama dengan Anda (wahai orang Syi’ah) ataukah tidak?</p>
<p>Adapun pelecehan Anda dan menghina sahabat yang mulia, Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, maka itu saya hadiahkan kepada saudara-saudara kami di MUI, biar mereka yang menjawab.</p>
<p>Anda mengklaim bahwa yang memberi nama Abu Hurairah itu adalah Wahhabi, padahal nama tersebut telah ada 1200 tahun sebelum dakwah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Dia diberi nama demikian karena dia memiliki seekor kucing kecil yang menyertainya sejak kecil. Dan adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggilnya dengan nama itu. Para sahabat dan tabi’in, serta orang-orang datang setelah mereka, termasuk di antara mereka adalah Imam syafi’i, dan ulama ahli hadits, berikut seluruh ulama telah menukil nama tersebut. Maka apakah mereka semua adalah Wahhabi?! Saya memohonkan hidayah kepada Allah untuk  Anda.</p>
<p>(Dimuat di <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Qiblati</a> edisi 3 tahun ke-6 halaman  39-41)</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/200-syubhat-syiah-dan-bantahannya.html' rel='bookmark' title='200 Syubhat Syiah dan Bantahannya'>200 Syubhat Syiah dan Bantahannya</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/halal-haram-dalam-agama-syiah.html' rel='bookmark' title='Halal Haram dalam Agama Syiah'>Halal Haram dalam Agama Syiah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html' rel='bookmark' title='Keadilan untuk Orang Syiah'>Keadilan untuk Orang Syiah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/syubhat-syiah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 04:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Ahli Kalam]]></category>
		<category><![CDATA[wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=950</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Abu Hamzah Bismillahirrahmanirrahim. Selesai saya mengisi kajian di Mojokerto, Ahad, 23 R. awal 1432 H/ 27 Februari 2011 M, tiba-tiba ada peserta yang maju menyodorkan selembar kertas. Setelah saya baca judulnya, sayapun tersenyum. Saya katakan: “Ya, kebetulan tadi malam saya sudah tahu saat melihat di internet.” Terus dia meminta kepada saya untuk memberikan [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/iqamat-shalat-subuh-menurut-para-ulama.html' rel='bookmark' title='Iqamat Shalat Subuh Menurut Para Ulama'>Iqamat Shalat Subuh Menurut Para Ulama</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/iran-membunuh-dua-ulama-sunni.html' rel='bookmark' title='Iran Membunuh Dua Ulama Sunni'>Iran Membunuh Dua Ulama Sunni</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>oleh : Abu Hamzah</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><em>Bismillahirrahmanirrahim.</em></strong></p>
<p><strong>Selesai saya mengisi kajian di Mojokerto, Ahad, 23 R. awal 1432 H/ 27 Februari 2011 M, tiba-tiba ada peserta yang maju menyodorkan selembar kertas. Setelah saya baca judulnya, sayapun tersenyum. </strong><strong>Saya katakan: “Ya, kebetulan tadi malam saya sudah tahu saat melihat di internet.” Terus dia meminta kepada saya untuk memberikan tanggapan terhadap pemberitaan yang dianggapnya janggal dan lucu tersebut. Saya pun menyanggupinya. <span id="more-950"></span></strong></p>
<p><strong>Maka saya katakan:</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>الحمد لله رب العلمين، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا مجمدا عبده ورسوله، اللهم صل على نبينا محمد وعلى آله وأزواجه وذرياته وصحايته ومن تبع سنته بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:</strong></p>
<p><strong>Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala </strong><strong>atas hidayah <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> dan sunnah ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi </strong><strong>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</strong><strong>, keluarganya, dan para sahabatnya serta pengikut sunnahnya hingga akhir zaman:</strong></p>
<p><strong>Berita yang di internet dan yang disodorkan oleh jama&#8217;ah di Mojokerto itu lengkapnya sebagai berikut:</strong></p>
<p><strong>[DIALOG ULAMA WAHHABI VS ANAK BAU KENCUR </strong></p>
<p><strong>Pada bulan Desember 2009, organisasi al-Irsyad Jember mengadakan pelatihan akidah Syi’ah selama lima hari.</strong> Di antara pembicaranya adalah <strong>seorang tokoh Wahhabi dari Malang, Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag, yang dikenal dengan Ustadz Abu Hamzah. </strong>Ia dikenal dengan Ustadz Salafi yang memiliki jam terbang tinggi. <strong>Beberapa perguruan tinggi salafi, membanggakan Abu Hamzah karena menjadi salah satu dosen tamu istimewa</strong>nya.</p>
<p>Ternyata dalam pelatihan yang semula difokuskan pada persoalan ajaran <strong>Syi’ah, Abu Hamzah</strong> juga memberikan materi <strong>tentang bid’ah, dengan mengkaji kitab Ushul al-Bida’, karangan Ali Hasan al-Halabi, ulama Wahhabi </strong>dari Yordania yang murid <strong>Syaikh Nashir al-Albani. </strong></p>
<p>Dalam materi yang disampaikannya, <strong>Abu Hamzah </strong>berkata begini, <strong><em>“Bid’ah dalam beribadah adalah membuat cara-cara baru dalam ibadah yang belum pernah diajarkan pada masa Rasulullah saw,</em></strong><em> seperti membaca sholawat yang disusun oleh kalangan ulama shufi, berdoa dengan doa-doa yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw dan sahabat dan berdzikir secara keras dan bersama-sama sehabis shalat berjamaah.”</em></p>
<p><strong>Mendengar pernyataan ini, seorang peserta yang masih belum selesai S1 di STAIN Jember </strong>bertanya kepada<strong> Abu Hamzah, “Kalau bapak mendefinisikan bid’ah seperti itu, kami punya tiga pertanyaan berkaitan dengan konsep bid’ah yang Anda sampaikan.</strong></p>
<p><strong>Pertama, bagaimana dengan redaksi shalawat yang disusun oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i dan lain-lain, yang jelas-jelas tidak ada contohnya dalam hadits </strong>Rasulullah saw. Beranikah Anda mengatakan bahwa dengan sholawat yang mereka susun, <strong>berarti Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i itu termasuk ahli bid’ah?</strong></p>
<p><strong>Kedua, kalau Anda menganggap doa-doa yang disusun oleh para ulama termasuk bid’ah, bagaimana Anda menanggapi doa yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal, </strong>yang dibaca oleh beliau selama 40 tahun dalam sujud ketika shalat.</p>
<p>Beliau membaca doa berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ</strong></p>
<p>“Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan <strong>Muhammad bin Idris al-Syafi’i</strong>“.<br />
<strong>Doa ini dibaca oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam setiap sujud dalam shalatnya selama empat puluh tahun. </strong>Pertanyaan kami, beranikah Anda menganggap Imam Ahmad bin Hanbal termasuk ahli bid’ah yang akan masuk neraka?</p>
<p><strong>Ketiga, kalau Anda menganggap berdzikir secara berjama’ah itu bid’ah, bagaimana Anda menanggapi Ibnu Taimiyah yang melakukan dzikir jama’ah setiap habis sholat shubuh, lalu dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah sampai Matahari naik ke atas,</strong> dan ia selalu menatapkan matanya ke langit. Padahal apa yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah ini tidak ada contohnya dari Rasulullah saw. Pertanyaan kami, <strong>beranikah Anda menganggap Ibnu Taimiyah termasuk ahli bid’ah dan ahli neraka?”</strong></p>
<p><strong>Mendengar pertanyaan ini, akhirnya Abu Hamzah diam seribu bahasa, tidak bisa menjawab.</strong> Dan akhirnya dia membicarakan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan. <strong>Dan begitulah, Ustadz Abu Hamzah yang pernah berguru kepada banyak Syaikh Wahhabi di Saudi Arabia itu, dikalahkan oleh seorang anak bau kencur</strong> yang belum selesai meraih gelar S1 di STAIN Jember.<br />
Wallahu a’lam.]</p>
<p>Demikian berita tersebut secara lengkapnya.</p>
<p>*****</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">TANGGAPAN:</span></p>
<p><strong>Pertama</strong><strong>: saya berterimakasih kepada saudara saya yang disebut dengan istilah &#8220;anak bau kencur&#8221; dalam makalah tadi, atas pemberitaannya sehingga mengangkat nama saya sekaligus mengangkat dakwah sunnah yang saya bawa. </strong><strong>Semoga Allah membalasnya dengan baik. Juga saya berharap agar saudara saya tadi benar-benar bertawadhu&#8217; karena Allah supaya menjadi amal shalih yang besar manfaatnya. Sebab saya tidak tahu yang menyebutnya “anak bau kencur” itu dirinya sendiri atau orang lain? <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</strong></p>
<p><strong>Kedua</strong><strong>: Saya berharap saudara saya itu mau memberitakan secara utuh biar lepas dari amanah. Sebab kalimat: &#8220;</strong><strong>Dan akhirnya dia membicarakan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan.</strong> <strong>Dan begitulah, Ustadz Abu Hamzah ….. itu, dikalahkan oleh seorang anak bau kencur&#8221;</strong> <strong>ini mengundang pertanyaan penting: </strong></p>
<p><strong>&#8220;Apa saja hal-hal yang dibicarakan Abu Hamzah, yang dianggap oleh anak bau kencur ini tidak ada kaitannya dengan pertanyaan?&#8221;</strong><strong> Siapa tahu hal-hal itu justru memang jawabannya, tetapi tidak difahami oleh anak bau kencur ini? Ataukah “hal-hal/ jawaban itu” tidak didengar atau tidak diingatnya?”</strong></p>
<p><strong>Kalau kita cermati, berita ini hanya berisi sedikit latar belakang yang membuat dia bertanya, kemudian pertanyaan dan persepsi penanya</strong><strong>, tidak ada berita tentang jawaban Abu Hamzah. Dia hanya menggiring orang lain dengan opininya: &#8220;</strong>dia<strong> </strong>membicarakan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan.&#8221;</p>
<p>Terus, kelemahan berita tadi adalah adanya pemberitaan sifat yang tidak seimbang, (alias Jomplang), yaitu antara dua berita yang ditonjolkan tentang Abu Hamzah.</p>
<ul>
<li>Pertama &#8220;Ia dikenal dengan Ustadz Salafi yang memiliki jam terbang tinggi. <strong><em>Beberapa perguruan tinggi salafi, membanggakan Abu Hamzah karena menjadi salah satu dosen tamu istimewa</em></strong>nya&#8221;.</li>
<li>Kedua: <strong>&#8220;Mendengar pertanyaan ini, akhirnya Abu Hamzah diam seribu bahasa, tidak bisa menjawab</strong>.&#8221;Menurut saya, orang yang berakal pasti bertanya-tanya: masak sih, orang yang jam terbangnya tinggi terus berstatus sebagai pemberi materi diam seribu bahasa begitu saja?!! Apalagi di sebagian situs ditulis &#8220;Senior Salafy wahabi VS Mahasiswa&#8221; atau &#8220;<em>DIALOG ULAMA WAHHABI</em> VS <em>ANAK BAU KENCUR</em> &#8220;. Kemudian setelah  diam seribu bahasa disebutkan -yang secara kasarnya-  bahwa &#8220;ia ngomong ngalur ngidul yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan?!! Ini bagi orang yang tidak mengenal Abu Hamzah tetapi mau berfikir. Adapun bagi yang mengenalnya maka jelas tidak akan percaya. Maka berita seperti ini tidak efektif bagi orang yang tahu atau yang berfikir. Seperti sengaja dipilih kata-kata itu untuk mengesankan &#8220;wahhabi itu bodoh, ulamanya saja bodoh apalagi pengikutnya, maka jangan dekat-dekat dengan mereka biar tidak jadi bodoh&#8221;. Kira-kira begitu…!</li>
<li><strong>Ketiga: </strong><strong>Dia menyebut Abu Hamzah sebagai wahhabi.</strong><strong>Pertanyaannya: Gelar wahhabi yang disematkan pada Abu Hamzah itu pujian atau celaan? Jika pujian maka tidak mungkin, sebab saudara saya yang katanya bau kencur ini tidak sedang memujinya, melainkan ingin menjatuhkannya, dan menunjukkan bahwa ia berhasil mengalahkannya. </strong><strong>Baik, kalau begitu kata wahhabi digunakan untuk mencela? Ya. Di antara buktinya mereka mengatakan:</strong>
<ol>
<li>Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekah pada masanya di sekitar masa akhir kesultanan Utsmaniyyah, dalam kitab Târikh yang beliau tulis menyebutkan sebagai berikut:“Pasal; Fitnah kaum Wahhabiyyah. Dia -Muhammad ibn Abdil Wahhab- pada permulaannya adalah seorang penunut ilmu di wilayah Madinah. Ayahnya adalah salah seorang ahli ilmu, demikian pula saudaranya; Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Ayahnya, yaitu Syekh Abdul Wahhab dan saudaranya Syekh Sulaiman, serta banyak dari guru-gurunya mempunyai firasat bahwa Muhammad ibn Abdil Wahhab ini akan membawa kesesatan. Hal ini karena mereka melihat dari banyak perkataan dan prilaku serta penyelewengan-penyelewengan Muhammad ibn Abdil Wahhab itu sendiri dalam banyak permasalahan agama. Mereka semua mengingatkan banyak orang untuk mewaspadai dan menghindarinya. Di kemudian hari ternyata Allah menentukan apa yang telah menjadi firasat mereka pada diri Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia telah banyak membawa ajaran sesat hingga menyesatkan orang-orang yang bodoh.&#8221;</li>
<li><strong>Mereka (para komentator) di www.aswaja-nu.com menulis komentar seperti ini:</strong>
<ul>
<li><strong>Anjing-anjing wahabi muncul&#8230;.dasar hati batu&#8230;dikasih fakta malah bantah !!</strong></li>
<li><strong>wahabi emang anjingnya Inggris.</strong></li>
</ul>
</li>
<li>Selain itu, ada juga yang menulis &#8220;jauhi fitnah faham wahabi&#8221;, &#8220;Wahabi adalah Yahudi khawarij&#8221;.</li>
<li>Ada pula yang menulis sebuah artikel sekitar sepuluh halaman berjudul <strong><em>”Membongkar Kedok Wahabi, Satu Dari Dua Tanduk Setan”.</em></strong> Dan lain-lain.</li>
</ol>
<p>Dengan demikian istilah wahhabi dimaknai &#8220;pengikut Muhammad ibn Abdul wahhab yang sesat&#8221;, atau &#8220;orang bodoh sesat karena mengikuti faham orang sesat”.<br />
Jika demikian maka saya berhak bertanya kepada saudaraku yang berjuluk “bau kencur” ini, juga yang lainnya dari orang yang menggunakan istilah wahhabi untuk menyebut orang yang menyalahi tradisinya –meski tradisi itu menyalahi agama Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam:</p>
<ol>
<li>Bukankah kata wahhabi itu nisbat kepada <em>Al-Wahhab</em> (Allah Yang Maha memberi, menganugerahi? seperti <em>rahmani</em> nisbat kepada <em>Al-Rahman</em>, <em>Rabbani</em> nisbat kepada <em>al-Rabb</em>, <em>ilahi</em> nisbat kepada <em>al-Ilah</em>? Bolehkah kata <em>rahmani, rabbani, ilahi dan wahhabi</em> untuk gelar cacian dan celaan, atau untuk menjadi julukan bagi kelompok sesat? Kalau tidak boleh, kenapa diteruskan, diwariskan dan dilestarikan?!</li>
<li>Kalau madzhab yang dinisbatkan kepada nama para imam saja (seperti madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi&#8217;i dll) mendapatkan tempat dan terpuji, lalu madzhab yang dinisbatkan kepada Al-Wahhab (wahhabi) atau nisbat kepada Nabi Muhammad (muhammadi) ditolak dan dicela? Jika nama imam digunakan untuk makna positif, lalu kenapa nama Allah atau Muhammad digunakan untuk makna negatif? Apakah kita umat Islam ridha terhadap istilah yang rancu ini?</li>
<li>Jika Anda <em>inshaf </em>(adil), lebih bagus mana nisbat kepada Allah: ilahi, rahmani, rabbani, wahhabi ataukah nisbat kepada kain wol (shuf), yaitu shufi?</li>
<li>Jika yang Anda anggap sesat itu <span style="text-decoration: underline;">Muhammad</span> Putra Syaikh Abdul Wahhab, lalu kenapa Allah (al-Wahhab) yang dicela? Bukankah seharusnya kelompoknya disebut muhammadi atau muhammadiyyah? Kenapa itu tidak dilakukan?</li>
<li>Jika yang salah itu anaknya yang bernama Muhammad, lalu kenapa hujatan itu menggunakan nama bapaknya yang bernama Abdul Wahhab? Sementara bapaknya tidak ikut-ikutan, bahkan menurut Syaikh Ahmad Zaini Dahlan tadi ayahnya itu adalah seorang ahli ilmu yang juga memvonis sesat putranya? Kenapa justru nama bapaknya dijadikan simbol kesesatan itu?!</li>
<li>Jadi, istilah <strong>wahhabi</strong> kalau digunakan untuk menghujat syaikh Muhammad maka larinya justru kepada Allah dan kepada ayahnya, sementara beliau selamat dari celaan itu. Maka apakah kalian mencela Allah al-Wahhab atau ayah syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab?</li>
<li>Kalau kenyataannya rancu seperti ini, lalu siapa yang pertama kali membuat istilah celaan itu? Apakah ahli ilmu ahlussunnah? Ataukah musuh sunnah? Ataukah orang jahil? <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</li>
<li>Maksud saya kalau mau mencela ajaran Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab jangan menggunakan wahhabi, tapi gunakanlah istilah lain, agar kita tidak mewarisi kebodohan.</li>
<li>Tetapi kalau kata wahhabi digunakan untuk makna positif, untuk menyebut pengikut sunnah Nabi Muhammad r yang memberantas bid&#8217;ah maka aku katakan seperti yang diucapkan <strong>Mulla Imran</strong> seorang penyair syi’ah yang sudah taubat kepada sunnah:<br />
<strong>إِنْ كاَنَ تَابِعُ أَحْمَدَ مُتَوَهِّبًا****فَأَنَا الْمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِي</strong><strong> </strong><em>&#8220;Jika pengikut Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam disebut wahhabi, maka aku akui bahwa aku adalah wahhabi.&#8221;</em></p>
<p>Ini seperti ucapan <strong>Imam</strong> <strong>Syafi&#8217;i</strong> <em>rahimahullah</em> yang seumur-umur tidak ada kaitannya dengan rafidhah majusiyyah kok dituduh rafidhi –oleh Khawarij, menurut Imam Baihaqi-  maka beliau berkata:</p>
<p><em>&#8220;Jika rafdh (rifdh) itu adalah cinta keluarga Muhammad, maka silakan jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalahh rafidhi.&#8221;</em><a href="#_ftn1"><em><strong>[1]</strong></em></a></p>
<p>Juga sama dengan ibn Taimiyyah yang dituduh <em>nashibi</em> (karena mencintai sahabat Nabi), beliau membantah mereka:<br />
<strong>إن كان نصباً حب صحب محمدٍ * * * فاليشهد الثقلان أني ناصبي</strong><strong> </strong></p>
<p><em>&#8220;Jika <strong>nashb</strong> adalah cinta para sahabat Nabi Muhammad maka silakan disaksikan oleh jin dan manusia bahwa aku adalah nashibi.&#8221;</em><a href="#_ftn2"><em><strong>[2]</strong></em></a><em> </em></li>
</ol>
</li>
<li> <strong>Keempat </strong>: untuk meyakinkan orang awam kalau Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab (pelopor dakwah pembaharuan, pemurnian tauhid dan penghidupan sunnah) itu sesat,  dan fahamnya yang mereka sebut secara salah &#8220;faham wahhabi&#8221; itu sesat, maka para musuh beliau itu tidak segan-segan membuat tuduhan yang kejam misalnya:- Syaikh Muhammad membenci Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, dan melarang orang mencintai Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.
<ul>
<li>Syaikh Muhammad membenci shalawat, melarang orang bershalawat.</li>
<li>Syaikh Muhammad mencela para wali, menghina dan merendahkan para wali serta tidak beriman dengan karamah wali.</li>
<li>Syaikh mencela para ulama yang terdahulu maupun yang sezaman dengannya, termasuk imam madzhab empat.</li>
<li>Syaikh mengkafirkan kaum muslimin di masanya.</li>
<li>Syaikh membuat agama baru.</li>
<li>Syaikh menghidupkan pikiran Khawarij</li>
<li>dan sebagainya.</li>
</ul>
<p>Maka perlu bertanya kembali: Siapa yang membuat istilah wahhabi untuk beliau dan pengikutnya? siapa yang memusuhi beliau? Apa tujuan mereka? Saya serahkan kepada Anda semua.</p>
<p>Marilah kita  mengingat ucapan Amirul Mukminin Ali Radhiallahu &#8216;Anhu yang sangat berharga:</p>
<p style="text-align: right;">الحق لا يعرف بالرجال اعرف الحق تعرف أهله:</p>
<p><em>&#8220;Kebenaran tidak diukur dengan orang, kenalilah kebenaran maka kamu akan tahu orangnya.&#8221;</em><a href="#_ftn3"><em><strong>[3]</strong></em></a><em> </em></li>
</ul>
<p><strong>Lalu bagaimanakah jawaban kami selanjutnya terhadap berita Dialog Ulama Wahhabi vs anak bau kencur?</strong></p>
<p><strong>Tunggu lanjutannya. Hilangkan keraguan dan rasa penasaran. </strong><strong>(Tapi mohon bersabar, karena menunggu jadwal) [*]</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Ibn Hajar al-Hatami, <em>al-Shawa&#8217;iq al-Muhriqah &#8216;ala ahlirrafdhi wad-dhalalti waz-zandaqah</em>, 2/388; Ibn Asakir, <em>Tabyin kidzbil Mufatri</em>, 1/363.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Dar` Ta&#8217;arudh al-&#8217;Aql wan-Naql</em>, 1/133; Ibnul Qayyim, <em>Madarijussalikin</em>, 1/88</p>
<p style="text-align: right;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> قال<strong> الشاطبي</strong> رحمه الله: &#8220;إذا ثبت أن الحق هو المعتبر دون الرجال فالحق أيضا لا يعرف دون وسائطهم، بل بهم يتوصل إليه وهم الأدلاء على طريقه&#8221; الإعتصام 548.<br />
وقال شيخ الإسلام رحمه الله: &#8220;..فأئمة المسلمين الذين اتبعوهم وسائل وطرق وأدلة بين الناس وبين الرسول عليه الصلاة والسلام، يبلغونهم ما قاله ويفهمونهم مراده بحسب اجتهادهم واستطاعتهم&#8221; الفتاوى 20/224.<br />
وانظر&#8221; إرشاد النقاد إلى تيسير الاجتهاد&#8221; للصنعاني رحمه الله 105 وكتاب &#8220;الروح&#8221; لابن القيم 357.</p>
<p style="text-align: right;">قال<strong> الغزالي</strong> رحمه الله: &#8220;فاعلم أن من عرف الحق بالرجال حار في متاهات الضلال، فاعرف الحق تعرف أهله إن كنت سالكا طريق الحق وإن قنعت بالتقليد والنظر إلى ما اشتهر من درجات الفضل بين الناس، فلا تغفل الصحابة وعلو منصبهم&#8221; الاحياء 1/29.<br />
وقال<strong> ابن الجوزي </strong>رحمه الله: &#8220;اعلم أن المقلد على غير ثقة فيما قلد فيه وفي التقليد إبطال منفعة العقل لأنه إنما خلق للتأمل والتدبر، وقبيح بمن أعطي شمعة يستضيء بها أن يطفئها ويمشي في الظلمة!.<br />
واعلم أن عموم أصحاب المذاهب يعظم في قلوبهم الشخص فيتبعون قوله من غير تدبر لما قال وهذا عين الضلال، لأن النظر ينبغي أن يكون إلى القول لا إلى القائل كما قال علي رضي الله عنه لحارث بن حوط وقد قال له: أتظن أن طلحة والزبير كانا على باطل؟<br />
فقال له: يا حارث! إنه ملبوس عليك إن الحق لا يعرف بالرجال اعرف الحق تعرف أهله&#8221; اهـ تلبيس إبليس منتقاه 77 وانظر أقاويل الثقات 228, وصيد الخاطر36-37.<br />
ولذلك يقال: من الأخطاء التي يراها المرء في حياة كثير منا في هذا المجال أن ترى اختيارنا للأقوال ليس مبنيا على الاستدلال، وإنما بمجرد أن القائل بهذا القول إمام كبير! أو لأن القائل بهذا القول أكثر علما ممن قال بسواه! أو هو قول الأكثرين! أو لأن المقبل عليه أكثر! أو لأنه المشهور! أو نحو ذلك مما يدل على أن السالك لهذا الدرب حاله كحال العوام الذين يعتبرون الصناعة بالصانع كما قال المناوي رحمه الله: &#8220;ودأبهم (أي العوام) أن يعتبروا الصناعة بالصانع خلاف قول علي رضي الله عنه الحق لا يعرف بالرجال اعرف الحق تعرف أهله&#8221; فيض القدير1/17.<br />
فالحق -إذن- لا يوزن بالرجال وإنما يوزن الرجال بالحق بل كل قول يُحْتَجُّ له خلا قول النبي عليه الصلاة والسلام فإنه يحتج به.</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/iqamat-shalat-subuh-menurut-para-ulama.html' rel='bookmark' title='Iqamat Shalat Subuh Menurut Para Ulama'>Iqamat Shalat Subuh Menurut Para Ulama</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/iran-membunuh-dua-ulama-sunni.html' rel='bookmark' title='Iran Membunuh Dua Ulama Sunni'>Iran Membunuh Dua Ulama Sunni</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Qur&#8217;an adalah Wahyu Verbal, Tekstual, dan Eksplisit</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/al-quran-adalah-wahyu-verbal-tekstual-dan-eksplisit.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/al-quran-adalah-wahyu-verbal-tekstual-dan-eksplisit.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 07:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Mewaspadai Gerakan Konstektualisasi Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan terhadap “Pembacaan Baru Atas Al-Qur’an: Go Beyond Text” (Bagian 16) Sebagai penutup Ulil mengingatkan: “Harap jangan lupa: wahyu verbal dalam al-Qur`an hanyalah separuh wahyu yang harus dilengkapi dengan wahyu non-verbal. Dengan cara itulah kita bisa menghindari sikap bibliolaristik.” (alinea 13) Sebelumnya Ulil juga mengatakan: “bahwa wahyu tekstual adalah “separoh” saja dari wahyu al-Qur`an yang [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/ayat-ayat-kauniyah-dalam-al-quran.html' rel='bookmark' title='Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an'>Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/qath%e2%80%99i-dan-zhanni-dalam-ushul-fiqh.html' rel='bookmark' title='Qath’i dan Zhanni, dalam ushul fiqh'>Qath’i dan Zhanni, dalam ushul fiqh</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/manusia-sebagai-partner-dari-wahyu.html' rel='bookmark' title='Manusia sebagai &#8220;Partner&#8221; dari Wahyu'>Manusia sebagai &#8220;Partner&#8221; dari Wahyu</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><strong>Bantahan terhadap “Pembacaan Baru Atas Al-Qur’an: Go Beyond Text” (Bagian 16)</strong></h2>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2009/05/konstektual.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-55" style="margin: 5px;" title="konstektual" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2009/05/konstektual.jpg" alt="konstektual Al Quran adalah Wahyu Verbal, Tekstual, dan Eksplisit" width="183" height="300" /></a>Sebagai penutup Ulil mengingatkan: “<strong><em>Harap jangan lupa: wahyu verbal dalam al-Qur`an hanyalah separuh wahyu yang harus dilengkapi dengan wahyu non-verbal. Dengan cara itulah kita bisa menghindari sikap bibliolaristik.”</em></strong> (alinea 13)</p>
<p>Sebelumnya Ulil juga mengatakan: “<strong><em>bahwa wahyu tekstual adalah “separoh” saja dari wahyu al-Qur`an yang sesungguhnya (yang lain adalah “wahyu implisit” (dalam bentuk konteks sosial),… </em></strong><strong>(alinea 10)</strong></p>
<p><span id="more-881"></span>Ucapan ini sangat beracun dan sesat, kandungannya adalah:</p>
<p>a.       al-Qur`an yang ditulis oleh Rasulullah dan dikumpulkan oleh para sahabat dan yang ada ditangan kaum muslimin diseluruh dunia ini adalah bukan al-Qur`an yang sesungguhnya, karena yang ada sekarang hanyalah separoh al-Qur`an, tidak utuh, yang separoh tidak didokumentasikan. Ini adalah kufur yang nyata seperti nyata mata Dajjal yang buta sebelah.</p>
<p>b.       Tidak ada yang menyadari bahwa  al-Qur`an yang ada ini hanya separoh al-Qur`an yang seharusnya, semenjak zaman Nabi dulu hingga abad 15 ini, bahkan sengaja diabaikan, sampai kemudian datang Ulil di Indonesia pada abad 15 H ini mencoba untuk melengkapi al-Qur`an dengan cara menggalinya dari konteks sosial yang ada di Indonesia.</p>
<p>c.       Nama lain al-Qur`an menurut Ulil adalah wahyu tekstual, wahyu verbal, wahyu eksplisit dan kitab suci tertulis.</p>
<p>d.      Pengalaman manusia disebut oleh Ulil dengan istilah wahyu konteks sosial, wahyu non verbal, wahyu implisit, kitab suci tidak tertulis. Dan inilah separoh wahyu al-Qur`an yang hilang itu. Makanya diperlukan mediasi akal yang merumuskan al-Qur`an. Karena itu menurut Ulil sumber hukum dalam <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> seharusnya al-Qur`an dan pengalaman historis manusia. (bagian 1 alenia 15)</p>
<p>Gaya Ulil didalam menggilas al-Qur`an dan melibas Islam sama dengan para pendahulunya yaitu menggunakan metode “zukhrufal Qouli Ghurura” dengan cara melucuti istilah-istilah syar’i lalu menggantinya dengan istilah baru yang beracun. Ibn al-Qayyim <strong>رحمه الله</strong> telah mengingatkan: “diantara ungkapan-ungkapan yang dibenci (dalam Islam) adalah menjuluki “dalil-dalil al-Qur`an dan sunnah dengan istlah <em>Zhawahir Lafzhiyah</em> (pernyataan tekstual) dan <em>Majazat</em> (metafora). Karena penamaan ini menurunkan kehormatannya dari hati. Apalagi jika disandingkan dengan penamaan syubhat-syubhat ahli kalam dan para filosof dengan sebutan <em>Qawathi’ Aqliyah </em>(kepastian yang bersifat logis), maka tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, betapa banyak kerusakan akal, agama, dunia, dan akhirat yang diakibatkan oleh kedua istilah ini.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Ibn al-Qayyim, <em>Zad al-Ma’ad;</em> tahqiq al-Arnauth (Beirut, al-Risalah, 141) jilid  hal 433</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/ayat-ayat-kauniyah-dalam-al-quran.html' rel='bookmark' title='Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an'>Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/qath%e2%80%99i-dan-zhanni-dalam-ushul-fiqh.html' rel='bookmark' title='Qath’i dan Zhanni, dalam ushul fiqh'>Qath’i dan Zhanni, dalam ushul fiqh</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/manusia-sebagai-partner-dari-wahyu.html' rel='bookmark' title='Manusia sebagai &#8220;Partner&#8221; dari Wahyu'>Manusia sebagai &#8220;Partner&#8221; dari Wahyu</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/al-quran-adalah-wahyu-verbal-tekstual-dan-eksplisit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia sebagai &#8220;Partner&#8221; dari Wahyu</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/manusia-sebagai-partner-dari-wahyu.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/manusia-sebagai-partner-dari-wahyu.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 23:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Mewaspadai Gerakan Konstektualisasi Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Bantahan terhadap “Pembacaan Baru Atas Al-Qur’an: Go Beyond Text” (Bagian 15) Ulil melanjutkan: “kita perlu mengangkat kembali posisi manusia kedalam martabat yang diberikan al-Qur`an sendiri kepadanya, dengan memperhitungkan kemaslahatan manusia sebagai “partner” dari wahyu.” Dalam ucapan diatas Ulil telah berdusta atas nama Allah atau atas nama al-Qur`an. Di manakah Allah menjadikan manusia sebagai “partner” dari [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/b-pembacaan-%e2%80%9cbaru%e2%80%9d-atas-al-quran-go-beyond-text.html' rel='bookmark' title='B. Pembacaan “Baru” Atas Al-Qur`An: Go Beyond Text'>B. Pembacaan “Baru” Atas Al-Qur`An: Go Beyond Text</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/ayat-ayat-kauniyah-dalam-al-quran.html' rel='bookmark' title='Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an'>Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/putri-putri-manusia-terbaik-muhammad-rasululloh-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam'>Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;"><strong>Bantahan terhadap “Pembacaan Baru Atas Al-Qur’an: Go Beyond Text” (Bagian 15)</strong></h2>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2009/05/konstektual.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-55" style="margin: 5px;" title="konstektual" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2009/05/konstektual.jpg" alt="konstektual Manusia sebagai Partner dari Wahyu" width="183" height="300" /></a>Ulil melanjutkan: “<strong><em>kita perlu mengangkat kembali posisi manusia kedalam martabat yang diberikan al-Qur`an sendiri kepadanya, dengan memperhitungkan kemaslahatan manusia sebagai “partner” dari wahyu.</em></strong>”<br />
Dalam ucapan diatas Ulil telah berdusta atas nama Allah atau atas nama al-Qur`an. Di manakah Allah menjadikan manusia sebagai “partner” dari wahyu? Kapankah al-Qur`an berbicara bahwa manusia itu sejajar dengan wahyu? Di Surat apakah dan di ayat berapa? Apakah berupa pernyataan atau isyarat? Ataukah tahrif terhadap ayat-ayat al-Qur`an?!</p>
<p><span id="more-807"></span></p>
<p>Yang ada dalam al-Qur`an adalah, manusia itu hamba Allah, diciptakan oleh Allah untuk menyembah, tunduk, patuh, dan taat kepada-Nya, menghamba dan mengabdi kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”</em> (al-Dzariyat: 56)</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku&#8221;.”</em> (al-Anbiya: 5)</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”</em> (al-Anbiya: 92)</p>
<p>Manusia itu mengabdikan seluruh aktivitasnya, hidup dan matinya untuk Allah. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,”</em> (al-an’am: 162)</p>
<p>Menundukkan hawa nafsunya kepada kehendak syariat Allah, mengembalikan seluruh persoalan dan perselisihan kepada hukum Allah dan rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ </strong>!<strong> وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu&#8217;min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.&#8221; &#8220;Kami mendengar dan kami patuh.&#8221; Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” </em> (al-Nur: 51-5)</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” </em> (al-Hujurat: 1)</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu&#8217;min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu&#8217;min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”</em> (al-Ahzab: 36)</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”</em> (al-Nisa’: 65)</p>
<p>Jika manusia konsisten dengan iman dan takwa ini maka Allah memberinya kehidupan yang baik didunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (al-Nahl: 97)</p>
<p>Keberkahan langit akan diturunkan dan keberkahan bumi akan dikeluarkan. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> (al-a’raf: 96)</p>
<p>Kendali kepemimpinan dunia akan diberikan dan kedamaian pasti diciptakan.</p>
<p style="text-align: right;"><strong> وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”</em> (al-Nur: 55)</p>
<p>Tetapi sebaliknya kalau dia menolak syari’at dan petunjuk Allah, maka ia menjadi seperti hewan atau lebih rendah dari hewan.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ </strong>]<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”</em> (al-a’raf: 179)</p>
<p>Di dunia ia sesat dan di akhirat ia buta lagi sengsara.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta&#8221;.” </em>(Thaha: 124)</p>
<p>Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu?! Sungguh keji mulut mereka, semoga kutukan Allah menimpa orang-orang yang dzalim.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?&#8221; Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”</em> (Al-an’am: 144)</p>
<p style="text-align: right;">[<strong> وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ </strong>]<strong></strong></p>
<p><em>“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: &#8220;Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka&#8221;. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.”</em> (Hud: 18)</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/b-pembacaan-%e2%80%9cbaru%e2%80%9d-atas-al-quran-go-beyond-text.html' rel='bookmark' title='B. Pembacaan “Baru” Atas Al-Qur`An: Go Beyond Text'>B. Pembacaan “Baru” Atas Al-Qur`An: Go Beyond Text</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/ayat-ayat-kauniyah-dalam-al-quran.html' rel='bookmark' title='Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an'>Ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/putri-putri-manusia-terbaik-muhammad-rasululloh-shollallohu-alaihi-wa-sallam.html' rel='bookmark' title='Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam'>Putri-Putri Manusia Terbaik Muhammad Rasululloh Shollallohu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/manusia-sebagai-partner-dari-wahyu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obama Berdusta!</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/obama-berdusta.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/obama-berdusta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 03:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hamzah ibn Komari al-Sanuwi Saat Obama menulis &#8221; for we are all children of God.&#8221; Dalam tulisan tangan yang diserahkan kepada Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub, di Masjid Istiqlal, Rabu 10 November 2010, lalu ia tanpa sadar telah berdusta! Ia mengikuti orang-orang yahudi dan nashrani yang berkata dusta atas Allah [...]
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Abu Hamzah ibn Komari al-Sanuwi</strong></p>
<p>Saat Obama menulis &#8221; for we are all children of God.&#8221; Dalam tulisan tangan yang diserahkan kepada Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub, di Masjid Istiqlal, Rabu 10 November 2010, lalu ia tanpa sadar telah berdusta! Ia mengikuti orang-orang yahudi dan nashrani yang berkata dusta atas Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ</p>
<p>Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: &#8220;Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya&#8221;. (QS alMaidah: 18)</p>
<p><span id="more-733"></span>Oleh karena itu Allah memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam untuk mubahalah, meminta orang Yahudi agar mengharap mati kalau dia memang anak dan kekasih Allah. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?&#8221; (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS alMaidah: 18).</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِندَ اللَّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ٩٤</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ ٩٥</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ٩٦</p>
<p>94. Katakanlah: &#8220;Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah[75] kematian(mu), jika kamu memang benar.</p>
<p>95. dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.</p>
<p>96. dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah, 94-96)</p>
<p>[75] Maksudnya: mintalah agar kamu dimatikan sekarang juga.</p>
<p>Allah berfiman:</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِن زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ٦</p>
<p style="text-align: right; font-size: 20px;">وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ< ٧</p>
<p>6. Katakanlah: &#8220;Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar&#8221;.</p>
<p>7. mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. dan Allah Maha mengetahui akan orang-orang yang zalim. (QS. Al-Jumah 6-7).</p>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/obama-berdusta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

