<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gen Syi&#039;ah &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.gensyiah.com/category/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.gensyiah.com</link>
	<description>Membongkar Kejahatan Syiah terhadap Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 06:43:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
<image>
  <link>http://www.gensyiah.com</link>
  <url>http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2012/01/gens.png</url>
  <title>Gen Syi&#039;ah</title>
</image>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 2)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-2.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 06:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1433</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;MEREKA MEMALSUKAN KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK&#8221; Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi Bagian (2) Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag. Belakangan diketahui bahwa nama Syaikh Idahram adalah Marhadi kelahiran 1975, sengaja dia samarkan dengan membalik hurufnya menjadi Idahram mengikuti model bahasa Kera Ngalam/Arek Malang.  Kemudian dia beri gelar Syaikh di depannya, yang di negeri kita ini [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html' rel='bookmark' title='Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)'>Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/parade-bedah-buku-membongkar-aurot-trilogi-buku-karya-syaikh-idahram.html' rel='bookmark' title='Parade Bedah Buku &#8220;Membongkar Aurot Trilogi Buku Karya Syaikh Idahram&#8221;'>Parade Bedah Buku &#8220;Membongkar Aurot Trilogi Buku Karya Syaikh Idahram&#8221;</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html' rel='bookmark' title='Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)'>Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>&#8220;MEREKA MEMALSUKAN</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK&#8221;</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Bagian (2)</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.</strong></p>
<p dir="LTR">Belakangan diketahui bahwa nama Syaikh Idahram adalah Marhadi kelahiran 1975, sengaja dia samarkan dengan membalik hurufnya menjadi Idahram mengikuti model bahasa Kera Ngalam/Arek Malang.  Kemudian dia beri gelar Syaikh di depannya, yang di negeri kita ini maknanya adalah orang yang sepuh usia dan sepuh ilmunya, ternyata kenyataannya  tidak demikian. Ini bisa disebut sebagai perbuatan mengecoh atau mengelabui yang dalam bahasa arab dan dalam disiplin ilmu hadits disebut tadlis. Oleh karena itu mulai sekarang kita panggil dengan panggilan Ustadz, sebagaimana lazimnya di Indonesia.  Ustadz Idahram, penulis buku &#8220;</p>
<p dir="LTR" align="center"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1434" title="01" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/01.jpg" alt="01 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="292" /></a></p>
<p dir="LTR">Secara meyakinkan dan terang-terangan telah melakukan &#8220;kedustaan kebohongan&#8221; di depan publik, dengan menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan tuduhan-tuduhan keji sebagai orang yang ajarannya sesat, (setan berbentuk manusia, pemimpin aliran sesat yang sudah diprediksi oleh Nabi sebelumnya dan diperintahkan untuk dibunuh dan dijanjikan pahala bagi yang membunuhnya, karena ia dan kelompoknya melakukan teror kepada umat <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>), mengkafirkan umat Islam, membakar kitab dan mengajarkan pengikutnya untuk memalsukan kitab para ulama dan lain sebagainya. Hal itu didasarkan pada pemahamannya (terjemahannya) yang salah fatal terhadap ucapan Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab!!!<span id="more-1433"></span></p>
<p dir="LTR">Pembaca yang kami hormati, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata:</p>
<p dir="RTL"><strong>  </strong><strong>وكثير</strong><strong> </strong><strong>من الناقلين ليس قصده الكذب، لكن المعرفة بحقيقة أقوال الناس من</strong><strong> </strong><strong>غير نقل</strong><strong> </strong><strong>ألفاظهم، وسائر ما به يعرف مرادهم قد يتعسر على بعض الناس، ويتعذر</strong><strong> </strong><strong>على</strong><strong> </strong><strong>بعضهم</strong><strong> </strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Banyak dari orang yang mengutip bukan maksudnya berdusta tetapi mengetahui hakekat ucapan manusia tanpa mengutip redaksi mereka, dan semua apa yang dengannya bisa diketahui maksud mereka, terkadang sulit atas sebagian manusia, dan tidak mungkin bagi sebagian mereka (yang lain).&#8221; (Lihat Minhaj as-Sunnah, 6/3030)</p>
<p dir="LTR">Ibnul Qayyim berkata:</p>
<p dir="RTL"><strong>صحة الفهم</strong><strong> </strong><strong>وحسن القصد من أعظم نعم الله التي أنعم بها على عبده، ثم قال</strong><strong>  </strong><strong>وصحة الفهم</strong><strong> </strong><strong>نور يقذفه الله في قلب العبد، يميز به بين الصحيح والفاسد،</strong><strong> </strong><strong>والحق والباطل،</strong><strong> </strong><strong>والهدى والضلال، والغي والرشاد</strong><strong>  <sup>(</sup></strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Benarnya pemahaman dan bagusnya maksud (niat) adalah termasuk nikmat Allah yang paling agung yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Kemudian berkata: Benarnya  pemahaman adalah cahaya yang dilontarkan oleh Allah di hati hamba-Nya, dengannya ia membedakan antara yang benar dan yang rusak, yang hak dan yang batil, petunjuk dan kesesatan, penyimpangan dan kelurusan.&#8221; (lihat A&#8217;lamul Muwaqqi&#8217;iin, 1/87)</p>
<p dir="LTR">Oleh karena itu mari kita memohon kepada Allah ilmu yang benar dan pemahaman yang tepat, khususnya pada saat menghadapi masalah yang rumit. Syaikhul islam ibn Taimiyah kalau menghadapi masalah sulit yang sudah buntu pikiran berdoa kepada Allah diantaranya dengan:</p>
<p dir="RTL"><strong>يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني.</strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Wahai Yang Maha mengajari Ibrahim ajarilah aku dan wahai yang Memahamkan Sulaiman fahamkanlah aku.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Karena jika tidak diberi ilmu dan pemahaman maka akan terjerumus kepada kekeliruan, kezhaliman dan fitnah, serta menelanjangi auratnya sendiri di hadapan orang –di dunia dan juga di akhirat jika tidak bertaubat- seperti yang kita saksikan bersama dialami oleh Ustadz Marhadi ini. –Alhamdulillah alladzi &#8216;afana mimma ibtalahu bih-</p>
<p dir="LTR">Berikut ini adalah auratnya yang kedua:</p>
<p dir="LTR">Di halaman 166-167 dia menulis sebagai berikut :</p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1435" title="02" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/02.jpg" alt="02 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="353" /></a></p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/03.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1436" title="03" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/03.jpg" alt="03 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="459" /></a></p>
<p dir="LTR">Komentar:</p>
<p dir="LTR">1. Sudah kita terangkan bahwa tawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan kufur dan bukan syirik, selalu saja orang menuduh Syaikh mengkafirkan orang yang bertawassul. Faham yang salah ini juga dibawa oleh KH. Muhammad Idrus Ramli penulis buku Madzhab Asy&#8217;ari benarkah ahlussunnah? saat bertemu dengan saya di Surabaya<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>. Faham ini  juga dibawa oleh Tenku Dzulkarnaen dalam bukunya  Salah Faham halaman 237.</p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/04.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1437" title="04" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/04.jpg" alt="04 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="283" /></a></p>
<p dir="LTR">Ternyata mereka ikut KH. Sirajuddin Abbas penulis 40 Masalah Agama, dan KH. Sirajuddin mengikuti orang lain sebelumnya.</p>
<p style="text-align: center;" dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/05.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1438" title="05" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/05.jpg" alt="05 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="240" height="346" /></a></p>
<p dir="LTR">Di dalam makalah pertama sudah kita buktikan bahwa menuduh syaikh mengkafirkan orang yang bertawassul adalah fitnah, tuduhan, kebohongan dan kebatilan.</p>
<p dir="LTR">2. Model Terjemah yang menyesatkan:</p>
<p dir="LTR">Ucapan Syaikh begitu jelas dan gamblang:</p>
<p dir="RTL"><strong>من لم يكفر المشركين، أو شك في كفرهم، أو صحح مذهبهم كفر</strong></p>
<p dir="LTR">Yang artinya: &#8220;barang siapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kufur mereka atau membenarkan madzhab mereka maka ia kafir.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Namun sangat disayangkan Ustadz Marhadi menerjemah sesuai dengan keinginan dirinya bukan sesuai dengan keinginan pemilik ucapan. Dia terjemahkan: &#8220;barang siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melakukan dzikir jama&#8217;i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi&#8217;raj, dll, pen.- atau ragu untuk mengkafirkan mereka, atau membenarkan madzhab mereka maka dia telah kafir.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Untuk mengetahui bahaya dan lucunya model terjemahan ini, mari kita terapkan pada ayat-ayat al-Qur`an. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>فَاقْتُلُوا </strong><span style="background-color: #ffff00;"><strong>الْمُشْرِكِين</strong></span><strong>َ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ </strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu -yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama&#8217;i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi&#8217;raj, dll, pen.- dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.&#8221; (QS. At-Taubah, 5)</p>
<p dir="RTL"><strong>أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ </strong><span style="background-color: #ffff00;"><strong>الْمُشْرِكِين</strong><strong>َ  </strong></span></p>
<p dir="LTR">&#8220;Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif&#8221; dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama&#8217;i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi&#8217;raj, dll, pen.-.&#8221; (QS. An-Nahl, 123)</p>
<p dir="LTR">Atau kita terapkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:</p>
<p dir="RTL"><strong>أَخْرِجُوْا </strong><strong>الْمُشْرِكِيْنَ</strong><strong> مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ</strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Keluarkan orang-orang musyrik-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama&#8217;i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi&#8217;raj, dll, pen.-  dari jazirah arab.&#8221; (HR. Bukhari, Muslim)</p>
<p dir="LTR">Pertanyaannya : apakah boleh menerjemah dengan cara begini? Jelas tidak boleh. Mengapa? Sebab bukan itu yang dimaksud oleh Allah dan Rasulnya. Begitu pula, tidak boleh menerjemah ucapan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab Rahimahullah dengan cara begitu sebab bukan begitu yang beliau maksud. Dari mana kita tahu maksudnya? Dari ucapannya dan penjelasannya, dari penjelasan para muridnya dan pengikutnya. Jika kita menerjemah tidak berdasarkan maksud si pembicara maka kita telah berbuat zhalim, dusta, dan nista.</p>
<p dir="LTR">3. Maksud ucapan syaikh yang sebenarnya:</p>
<p dir="LTR">Syaikh Muhammad berkata : Ketahuilah bahwa pembatal islam itu ada 10 :</p>
<p dir="RTL"><strong>الأول : من النواقض العشرة : الشرك في عبادة الله تعالى ، قال الله تعالى : { إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ } 1) وقال تعالى : { إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ } ومنه الذبح لغير الله ، كمن يذبح للجن أو للقبر.</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> الثاني : من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا.</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>الثالث : من لم يكفّر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر .</strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Pertama</strong> : Syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman yang artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.&#8221; (QS. An-Nisa`: 116). Dan dia berfirman yang artinya: &#8220;Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.&#8221; (QS. Al-Maidah: 72) diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti untuk jin atau untuk kuburan.</p>
<p dir="LTR"><strong>Kedua</strong> : Barang siapa menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara yang ia berdoa kepada mereka dan meminta syafaat kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka maka ia kafir secara ijma&#8217;.</p>
<p dir="LTR"><strong>Ketiga </strong>: Barang siapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu-ragu tentang kufurnya mereka atau membenarkan madzhab mereka maka ia kafir.&#8221; (Ini disebut oleh beliau dalam beberapa kitabnya; al-Wajibat al-Mutahattimat &#8216;ala kulli muslim wa muslimah, daftar isi oleh abu ayyub al-Sulaiman, hal. 4;)</p>
<p dir="LTR">Sementara dalam kitab ar-Rasail al-Syakhshiyyah, daftar isi oleh abu Ayyub al-Sulaiman, risalah 32, ditujukan kepada Muhammad ibn Faris, hal 125, disebutkan contoh syirik (pembatal pertama):</p>
<p dir="RTL"><strong>ومنه</strong><strong> الذبح لغير الله كمن يذبح للجن أو القباب.</strong></p>
<p dir="LTR">Diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti untuk jin atau untuk kubah-kubah kuburan.&#8221; Ini juga disebutkan dalam dalam kitab Mausu&#8217;ah Muallafat al-Imam Muhammad Ibn Abdul wahhab, yang dikumpulkan oleh Abu Ayyub al Sulaiman, 8/125, hanya saja ayat dari surat al-Maidah tidak disebut.</p>
<p dir="LTR">Sementara dalam kitab Nawaqidhul Islam tulisan syaikh Abdul Aziz ibn Baz, disebutkan contoh syirik (pembatal pertama):</p>
<p dir="RTL"><strong>ومن ذلك دعاء الأموات ، والاستغاثة بهم ، والنذر والذبح لهم.</strong></p>
<p dir="LTR">Diantaranya adalah berdoa (meminta hajat) kepada orang mati, istighatshah (meminta pertolongan keselamatan, pada saat genting) kepada mereka, bernadzar dan menyembelih karena mereka .</p>
<p dir="LTR">Kemudian Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdillah al-Rajihi dalam kitab As`Ilah Wa Ajwibah Fil Iman Wal Kufr, pada soal ke 23 ditanyakan:</p>
<p dir="RTL">ما معنى قول الشيخ محمد بن عبد الوهاب في الناقض الثالث من نواقض الإسلام : (من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحَّح مذهبهم فهو مثلهم)؟</p>
<p dir="RTL">الجواب:</p>
<p dir="RTL">معنى هذا أن من اعتقد أن المشركين على حق أو توقَّف في ذلك فهو كافر ؛ لأنه لم يكفر بالطاغوت ؛ لأن التوحيد لا بد فيه من أمرين :</p>
<p dir="RTL">الأمر الأول : الكفر بالطاغوت .</p>
<p dir="RTL">الأمر الثاني : الإيمان بالله .</p>
<p dir="RTL">وهذا هو معنى : ( لا إله إلا الله ) وأن معناها : لا معبود بحقٍ إلا الله</p>
<p dir="LTR">Jawab :</p>
<p dir="LTR">Maknanya, barang siapa meyakini bahwa orang musyrik itu berada di atas kebenaran atau dia diam tidak mau bersikap (ragu-ragu) dalam hal itu maka dia kafir sebab dia tidak menyatakan kufur kepada thaghut, sebab tauhid itu harus mengandung 2 unsur : pertama : kufur kepada thaghut dan kedua : iman kepada Allah.</p>
<p dir="LTR">Ini adalah makna Laa ilaaha illallah, yang artinya : tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.</p>
<p dir="LTR">***</p>
<p dir="LTR">Syaikh dalam Rasailnya telah menjelaskan macam-macam syirik akbar dengan dalil-dalilnya, yaitu:</p>
<ul>
<li>Syirik berdoa kepada selain Allah</li>
<li>Syirik taat yaitu mentaati para pemimpin dan ulama su` dalam mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan, atau menghukumi dengan selain yang Allah turunkan.</li>
<li>Syirik mahabbah bersama Allah</li>
<li>Syirik iradah dan al-qashd; yaitu menampakkan Islam dan menyembunyikan kufur</li>
</ul>
<p dir="LTR">Beliau juga menjelaskan perbedaannya dengan syirik ashghar.</p>
<p dir="LTR">Jadi tidak ada yang disebut syirik tawassul, syirik dzikir jama&#8217;i, syirik perayaan maulid dlsb seperti yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuhnya.</p>
<p dir="LTR">Sementara Syaikh ibn Baz (7/415) menjelaskan:</p>
<p dir="RTL">ومن لم يكفر الكافر فهو مثله :<br />
إذا أقيمت عليه الحجة وأبين له الدليل فأصر على عدم التكفير ,كمن لا يكفر <span style="background-color: #ffff00;">اليهود أ والنصارى أو الشيوعيين</span> أو نحوهم ممن كفره <span style="background-color: #ffff00;">لا يلتبس</span> على من له أدنى بصيرة وعلم .</p>
<p dir="LTR">&#8220;Barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir maka ia sama dengannya:</p>
<p dir="LTR">Jika telah ditegakkan hujjah dan dijelaskan padanya dalil lalu ia masih bersikeras untuk tidak mau mengkafirkan, seperti orang yang tidak mau mengkafirkan orang yahudi, atau nasrani atau komunis atau yang sepadan dari orang-orang yang kufurnya tidak samar atas orang yang memiliki ilmu dan pemahaman minimal.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Lalu beliau menjelaskan tentang orang yang tidak mengkafirkan tarikusshalah (28/234):</p>
<p dir="RTL">ومن شك في كفر هذاـ (تارك الصلاة) ـ <span style="background-color: #ffff00;">لا يكون كافرا</span> ؛<br />
لأنه محل اجتهاد بين أهل العلم ، فمن رأى بالأدلة الشرعية أنه كافر وجب عليه تكفيره ،<br />
ومن شك في ذلك، ولم تظهر له الأدلة، ورأى أنه لا يكفر كفرا أكبر بل كفر أصغر،<br />
فهذا معذور في اجتهاده، <span style="background-color: #ffff00;">ولا يكون كافرا بذلك</span></p>
<p dir="LTR">&#8220;Barang siapa meragukan kufurnya orang yang tidak shalat maka tidak kafir. Karena ia adalah medan untuk berijtihad antara ahli ilmu. Barang siapa melihat berdasarkan dalil-dalil syar&#8217;i bahwa ia kafir maka wajib mengkafirkannya, barang siapa meragukan hal itu dan belum tampak terang baginya dalil-dalil, dan melihat bahwa dia tidak kafir dengan kekuruan yang besar tetapi kufur kecil maka orang ini dimaklumi alasannya dalam ijtihadnya, dan tidak kafir karenanya.&#8221;</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.alagidah.com/vb/showthread.php?t=1429">http://www.alagidah.com/vb/showthread.php?t=1429</a></p>
<p dir="LTR">Sekali lagi, tidak ada yang namanya mengkafirkan orang yang tawassul, maulid Nabi dlsb.</p>
<p dir="LTR">Lebih jelasnya silakan disimak penjabaran dari pembatal Islam ke-3 tadi, yang disyarah oleh Nashir ibn Hamd :</p>
<p dir="RTL">__________</p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>ناصر بن حمد الفهد</strong><strong><br />
</strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">الناقض الثالث : من لم يكفر المشركين</a></p>
<p dir="RTL"><strong>فإن قاعدة (من </strong><strong>لم</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>الكافر فهو كافر</strong><strong>) قاعدة معروفة مشهورة ، وهي</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">الناقض </a><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">الثالث </a></strong><strong>من نواقض الإسلام التي ذكرها الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى حيث قال</strong><strong> :<br />
(</strong><strong>الثالث : </strong><strong><span style="text-decoration: underline;">من لم</span></strong><strong></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">المشركين </a></span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">أو يشك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر</span></strong><strong>) .<br />
</strong><strong>إلا أن هذه القاعدة ليست على هذا الإطلاق ، بل فيها تفصيل من أغفله وقع في</strong><strong> </strong><strong>الباطل من تكفير المسلمين أو ترك الكفار الأصليين بلا تكفير ، وتفصيل هذا</strong><strong> </strong><strong>الأمر كما يلي</strong><strong> :<br />
</strong><strong>اعلم أولاً أن الأصل في هذه القاعدة ليس من جهة</strong><strong> </strong><strong>ملابسة الكفر قولاً أو فعلاً ، <span style="text-decoration: underline;">بل من جهة رد الأخبار وتكذيبها</span> ، فمن ترك</strong><strong> </strong><strong>الكافر بلا تكفير كان هذا منه تكذيباً بالأخبار الواردة في تكفيره ، فعلى</strong><strong> </strong><strong>هذا لا بد أن يكون الخبر الوارد في التكفير صحيحاً متفقاً عليه ، ولا بد أن</strong><strong> </strong><strong>يكون من ترك التكفير راداً لهذه الأخبار ، فالمكفرات ليست واحدة ، والوقوع</strong><strong> </strong><strong>فيها أيضاً ليس على مرتبة واحدة ، ولبيان هذا الأمر لا بد من التفريق</strong><strong> </strong><strong>بينها ، وهذا ينقسم إلى قسمين</strong><strong> :<br />
</strong><strong>القسم الأول : </strong><strong>الكافر الأصلي</strong><strong> :</strong><strong><br />
</strong><strong>كاليهودي والنصراني والمجوسي وغيرهم ، فهذا من لم يكفره أو شك في كفره أو صحح مذهبه فإنه</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>بالإجماع كما ذكره غير واحد من أهل العلم ، لأن في هذا رداً للنصوص</strong><strong> </strong><strong>الواردة في بطلان غير عقيدة المسلمين وكفر من ليس على دين الإسلام</strong><strong> .<br />
</strong><strong>القسم الثاني : </strong><strong>المرتد عن الإسلام</strong><strong> :</strong><strong><br />
</strong><strong>وهذا على قسمين</strong><strong> :<br />
</strong><strong>الأول : من أعلن كفره وانتقاله من الإسلام إلى غيره كاليهودية أو النصرانية أو الإلحاد ، فحكمه حكم القسم السابق (الكافر الأصلي</strong><strong>) .<br />
</strong><strong>الثاني : من ارتكب ناقضاً من نواقض الإسلام إلا أنه يزعم أنه على الإسلام ولم</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>بهذا</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">الناقض </a></strong><strong>فهو على قسمين أيضاً</strong><strong> :<br />
</strong><strong>الأول : من ارتكب ناقضاً صريحاً مجمعاً عليه كسب الله سبحانه وتعالى مثلاً فإنه</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>بالإجماع ، ومن توقف في تكفيره أحد رجلين</strong><strong> :<br />
</strong><strong>الأول : من أقر بأن السب كفر ، وأن هذا فعله كفر ، إلا أنه توقف في تنزيل</strong><strong> </strong><strong>الحكم على لمعين لقصور في علمه أو لشبهة رآها ونحو ذلك ، فإنه يكون مخطئاً</strong><strong> </strong><strong>وقوله هذا باطل ، إلا أنه لا</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>لأنه لم يرد خبراً أو يكذب به ؛ فإنه أقر بما ورد في الأخبار والإجماع من أن السب كفر</strong><strong> .<br />
</strong><strong>والثاني : من أنكر أن يكون السب كفراً أصلاً فهذا</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>بعد البيان لأنه رد للأخبار والإجماع</strong><strong> .<br />
</strong><strong>وهذا مثل من يعبد القبر ممن ينتسب إلى الإسلام ، فمن خالف في أن فعله كفر فإنه</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>لأنه رد للنصوص والإجماع ، ومن أقر بأن فعله كفر إلا أنه توقف في تكفيره لشبهة رآها فإنه لا</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a>.<br />
</strong><strong>والقسم الثاني : من ارتكب ناقضاً مختلفاً فيه كترك الصلاة مثلاً ، فتكفيره مسألة خلافية ، و لا</strong><strong> </strong><strong><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">يكفر </a></strong><strong>المخالف فيها ، بل ولا يبدع ولا يفسق ، وإن كان مخطئاً</strong><strong> .<br />
</strong><strong>هذا ما عندي في هذه القاعدة باختصار</strong><strong> .<br />
</strong><strong>وصلى الله على محمد</strong><strong> .</strong></p>
<p><strong>كتبه</strong><strong> : </strong><strong>ناصر بن حمد الفهد</strong><strong> 10/5/1423</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL" align="center">المصدر: <a title="منتديات التوحيد الخالص" href="http://www.twhed.com/vb">منتديات التوحيد الخالص</a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.twhed.com/vb/t2525.html">http://www.twhed.com/vb/t2525.html</a></p>
<p dir="LTR">Lebih lanjut ikuti penjelasan di <a href="http://www.alagidah.com/vb/archive/index.php/t-1429.html">http://www.alagidah.com/vb/archive/index.php/t-1429.html</a> berikut ini:</p>
<p dir="RTL">-         &#8211; والحكم بالكفر من الشارع يأتي على وجهين :<br />
وجه يناط في الكفر بمعين، كشخص يعينه الله سبحانه أو رسوله صلى الله عليه وسلم بالكفر &#8230;<br />
كقوله سبحانه وتعالى :&#8221; تبت يدا أبي لهب وتب ..&#8221; الآية ، وكحكم النبي صلى الله عليه وسلم في أبيه وأمه وعمه أبي طالب ،وكحكمه سبحانه على اليهود والنصارى وغيرهم في غير ما آية &#8230;<br />
فهذا كله حكم على الأعيان أو الطوائف ..<br />
- ووجه آخر يناط فيه الكفر بوصف يقوم بالمعين &#8230;<br />
كقوله سبحانه : &#8220;إنه من يشرك بالله ..&#8221; وقوله :&#8221;ومن لم يحكم بما انزل الله &#8230; &#8221; الآيات<br />
- فإذا حكم الشارع بالكفر على شخص بعينه أو أشار إلى كفره كفرعون مثلا ، لزم تكفيره عينا والبراءة منه ومن شركه وكفره ولا مجال للاجتهاد في تأويل هذه النصوص &#8211; اللهم إلا الجهل بها &#8211; ويكون عدم التكفير في هذا لحالة راجعا إلى تكذيب هذه النصوص أو ردا لها &#8230;<br />
<strong>- </strong><strong>وإما إذا أنيط حكم الكفر بوصف ما فهنا يرد الاجتهاد من المجتهد في التحقق</strong><strong> </strong><strong>من ثبوت هذا الوصف</strong> في ذاك المعين وخلوه من العوارض ثم تنزيل حكم الكفر عليه .. وهو علم ما يسمى بالمناط<br />
<strong>وهنا لا يلزم من عدم التكفير كفر من لم يكفر لورود الخطا في الاجتهاد فقد يتأول النص أو يتأول المناط أو يجهله او غير ذلك</strong><strong><br />
</strong>وهذا لا يقال فيه كافر أو مسلم ،بل يقال متأول أو مخطئ أو جاهل &#8230;<br />
<span style="background-color: #ffff00;">ولكي نقف على حقيقة قول ( من لم يكفر الكافر فهو كافر ) لا بد أن نرجع بها إلى أصولها في الشرع ونقرر لها بعض القواعد التي توضح مجال إعمالها </span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> فمما ينبغي أن يقرر في هذا السياق : </span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> أولا : </span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> هذه العبارة (من لم يكفر الكافر فهو كافر) وردت في كلام بعض أهل العلم وليست نصا في كتاب الله أو سنة النبي عليه الصلاة والسلام أو إجماع الأمة &#8230;</span><br />
ثانيا :<br />
إذا كانت هذه العبارة ليست نصا في كتاب الله ولا في سنة رسوله صلى الله عليه وسلم فالواجب ردها إلى أصلها في الكتاب والسنة وفهمها من خلالهما ، لا من خلال استعمال أهل العلم لها &#8230;<br />
ثالثا :<br />
التكفير لا يكون إلا بما دل عليه الكتاب والسنة والإجماع ..<br />
وخلا هذه الأمور الثلاثة لا يجوز التكفير بها ، والمكفر في هذه الحالة يكفر بغير موجب وهو بين منهج الخوارج وأهل الغلو أعاذنا الله منهما.<br />
رابعا :<br />
<span style="background-color: #ffff00;"> إذا تأملنا هذه الجملة (من لم يكفر الكافر فهو كافر ) وتأملنا مقدمة هذا الكلام وجدنا أنها ترجع إلى أمرين : </span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> الأول : تكذيب النصوص التي قضت بتكفير الكفار سواء كانوا معينين من قبل الشارع أو جاء التكفير لأوصافهم ..</span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> الثاني : الرضى بالكفر وتصحيحه وعدم البراءة منه ..</span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> فإذا ثبت هذا فنكون قد رجعنا بهذه العبارة إلى أصلها في الشريعة وكلا الأمرين كفر بإجماع الأمة ..</span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> خامسا : </span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> الأعذار الواردة على من لم يكفر الكافر ترجع إلى ذات الأعذار التي تثبت لمن يكذب بالنصوص أو يرضى بالكفر كالخطأ والجهل والتأويل سواء كان للحكم أو للمناط..</span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> فمن لم يكفر الكافر وعلم عنه عدم تكذيب النصوص أو ردها لجهله إياها أو تاويله له أو لخطأ في تنزيل هذه الأحكام على المعين فلا يقال له كافر لانه لم يكذب النص أو يرده فضلا ان يرضي بالكفر أو يصححه &#8230;</span><br />
سادسا :<br />
كلام أهل العلم مهما علت رتبتهم في العلم وبلغت منزلتهم في الفضل لا يقاس عليه بمجردة ما لم يرد إلى هذا الأصل ،لأنه كلامهم ليس شرعا منزلا ولا بيانا محكما ..<br />
فكلام شيخ الإسلام في ابن عربي وفي من ادعى الإلهية في علي رضي الله عنه وكذا كلام الشيخ محمد ابن عبد الوهاب وعلماء الدعوة في طواغيت الخرج وغيرهم إذا تأملته وجدت ما ذكروه يتفاوت ظهورا وخفاءا وأغلبه كفر صريح واضح لا إشكال فيه لا مجال لمتأول ان يتأوله او يتوقف فيه .. يقول رحمه الله :<br />
&#8221; فهؤلاء الطواغيت الذين يعتقد الناس فيهم، من أهل الخرج وغيرهم، مشهورون عند الخاص والعام بذلك، وأنهم يترشحون له ويأمرون به الناس..&#8221;<br />
ومع شناعة ما حكى شيخ الإسلام من حال ابن عربي وابن سبعين وغيرهم فقد قال :<br />
&#8221; ولكن هؤلاء الْتَبَس أمرهم على من لميعرف حالهم، كما الْتَبَسَ أمر القرامطة الباطنية لما ادعوا أنهم فاطميون، وانتسبواإلى التشيع، فصار المتبعون مائلين إليهم، غير عالمين بباطن كفرهم&#8230;&#8221; ا.هـ<br />
ومع ذلك فلا يقاس على كلام أهل العلم في هؤلاء غيرهم بل يكون المنطلق في التكفير في كل حاله هو الكتاب والسنة وإجماع الأمة ..<br />
<span style="background-color: #ffff00;">سابعا :</span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> من لم يكفر الكافر إذا تحقق انه يكذب النص أو يرده أو يصحح الكفر أو يرضى به فهوكافر .. ليس لأنه لم يكفر الكافر أو يشك في كفره ! بل لأنه كذب النص أو رده أو صحح الكفر أو رضي به ،وكل هذا كفر دل عليه الكتاب والسنة وإجماع الأمة &#8230;</span><br />
ثامنا :<br />
<span style="text-decoration: underline;">أهل الغلو</span> لما جعلوا تكفير الكافر من أصل الدين وجعلوه بمعنى البراءة من المشركين <span style="text-decoration: underline;">لم يقبلوا بهذه الأعذار</span> لأن أصل الدين الذي قرروه لا يقبل فيه العذر بالجهل أو بالتأويل أو غيره إلا الإكراه &#8230; ومع ذلك فقد <span style="background-color: #ffff00;">جاء عن الشيخ محمد ابن عبد الوهاب ما يهدم هذا الأصل الفاسد حيث قال : </span><br />
<span style="background-color: #ffff00;"> &#8221; ومن جادل عنهم، أو أنكر على من كفّرهم، أو زعم أن فعلهم هذا لو كان باطلاً فلا يخرجهم إلى الكفر، فأقلّ أحوال هذا المجادل أنه فاسق لا يقبل خطه ولا شهادته، ولا يصلى خلفه&#8221;</span><br />
هذا مع بينه رحمه الله من ظهور حال هؤلاء الطواغين للعام والخاص وأنهم يترشحون لذلك الكفر ويأمرون الناس به ويقاتلونهم على ذلك .. فاين اصل الدين يا اهل الغلو ام أن الشيخ لم يكفر المشركين بزعمكم ولم يحقق أصل الدين ؟!&#8230;<br />
ولكنه الخلط بين التقرير من جهة العموم وبين تنزيل هذا على الواقع شان أهل البدع جميعا &#8230;<br />
تاسعا :<br />
تكفير الكافر ليس هو البراءة منه لا لغة ولا شرعا وليس هو الكفر بالطاغوت وإن ذكر في كلام أهل العلم في بعض المواضع فينبغي رده إلى أصله في الشريعة كما سبق ، والقوم يركزون جهدهم عليه وكأنه هو الأصل الأوحد (أقصد تكفيرالكافر).. ولذا حاروا لما ذكرنا لهم تفسير شيخ الإسلام ابن تيمية للإسلام وتلميذه ابن القيم رحمهما الله ، وليس فيه الكفر بالطاغوت ولا تكفير المشركين ولا غير ذلك .. فزعموا أني أتكلم في خيال لا واقع له !<br />
ولم يفقهوا أن هذا واقع كل عامي عبد الله وحده ولم يشرك به شيئا ومات على ذلك فهو مؤمن بالله كافر بالطاغوت .. ولم يردوا على ذلك ولن يردوا ! لأنهم جعلوا أنفسهم بوابة التوحيد والإسلام ..فمن يرد أن يكون موحدا لابد أن يبحث عن أحدهم أولا ليدله على طاغوت زمانه الذي لا يكون مؤمنا إلا بتكفيره والكفر به &#8230;<br />
عاشرا :<br />
البراءة من المشركين تثبت بعد الحكم عليهم بأنهم مشركون ومن لم يثبت لهم حكم الكفر لخطا أو تأويل أو جهل فلا يقال عنه أنه لم يتبرأ من المشركين أو أنه يكذب النصوص أو أنه يصحح الكفر ويرضى به ..<br />
ومنشأ الخلل اعتبارهم التكفير للمشركين هو نفس البراءة منهم ،والبراءة منهم هي أصل الدين وركن التوحيد ومن لم يحققه لأي سبب كان فهو كافر ولا يعذر بما سبق ..<br />
وكل من يقرر هذا يلزمه التكفير بالتسلسل لا محالة حتى يعود الكفر على كل من على هذه الأرض بما فيهم أهل الغلو أنفسهم&#8230;</p>
<p>والله أعلم وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم</p>
<p dir="LTR">Musyrik yang jelas, itupun bil washf bukan bil &#8216;a&#8217;yan, adapun bil&#8217;ain maka harus melalui mekanisme yang disebut iqamatul hujjah (bulughul hujjah wa fahmul hujjah)</p>
<p dir="LTR">Kemudian tuduhan bahwa Syaikh Muhammad mengkafirkan umat islam yang tidak sefaham dengannya, telah beliau bantah. Perhatikan ucapan beliau yang ditujukan kepada orang yang berakal ini:</p>
<p dir="RTL">يقول الشيخ عبد الله بن محمد بن عبد الوهاب رحمه الله :(&#8230; فإن قال قائل منفر عن قبول الحق والإذعان له : يلزم من تقريركم، وقطعكم في أن من قال يا رسول الله، أسألك الشفاعة : أنه مشرك مهدر الدم ؛ أن يقال بكفر غالب الأمة ، ولا سيما المتأخرين، لتصريح علمائهم المعتبرين : أن ذلك مندوب، وشنوا الغارة على من خالف في ذلك ! قلت : لا يلزم، لأن لازم المذهب ليس بمذهب، كما هو مقرر، ومثل ذلك : لا يلزم أن نكون مجسمة، وإن قلنا بجهة العلو، كما ورد الحديث بذلك .<br />
ونحن نقول فيمن مات : تلك أمة قد خلت ؛ ولا نكفر إلا من بلغته دعوتنا للحق، ووضحت له المحجة، وقامت عليه الحجة، وأصر مستكبراً معانداً، <span style="text-decoration: underline;">كغالب من</span><span style="text-decoration: underline;">نقاتلهم</span> اليوم، يصرون على ذلك الإشراك، ويمتنعون من فعل الواجبات، ويتظاهرون بأفعال الكبائر، المحرمات ؛ <span style="text-decoration: underline;">وغير الغالب</span> : إنما نقاتله لمناصرته من هذه حاله، ورضاه به، ولتكثير سواد من ذكر، والتأليب معه، فله حينئذ حكمه في قتاله، ونعتذر عمن مضى : بأنهم مخطئون معذورون، لعدم عصمتهم من الخطأ، والإجماع في ذلك ممنوع قطعاً ؛ ومن شن الغارة فقط غلط ؛ ولا بدع أن يغلط، فقد غلط من هو خير منه، كمثل عمر بن الخطاب رضي الله عنه، فلما نبهته المرأة رجع في مسألة المهر، وفي غير ذلك يعرف ذلك في سيرته، بل غلط الصحابة وهم جمع، ونبينا صلى الله عليه وسلم بين أظهرهم، سار فيهم نوره، فقالوا اجعل لنا ذات أنواط كمالهم ذات أنواط.<br />
فإن قلت : هذا فيمن ذهل، فلما نبه انبته، فما القول فيمن حرر الأدلة ؟ واطلع على كلام الأئمة القدوة ؟ واستمر مصراً على ذلك حتى مات ؟ قلت : ولا مانع أن نعتذر لمن ذكر، ولا نقول : إنه كافر، ولا لما تقدم أنه مخطىء، وإن استمر على خطئه، لعدم من يناضل عن هذه المسألة في وقته، بلسان وسيفه وسنانه، <span style="text-decoration: underline;">فلم تقم عليه المحبة، ولا وضحت له المحجة،</span> بل الغالب على زمن المؤلفين المذكورين : التواطؤ على هجر كلام أئمة السنة في ذلك رأساً ؛ ومن اطلع عليه أعرض عنه، قبل أن يتمكن في قلبه ؛ ولم يزل أكابرهم تنهى أصاغرهم عن مطلق النظر في ذلك، وصولة الملوك قاهرة لمن وقر في قلبه شيء من ذلك إلا من شاء منهم &#8230; إلى ان يقول: ( &#8230; ونحن كذلك : لا نقول بكفر من صحت ديانته، وشهر صلاحه ، وعلم ورعه وزهده، وحسنت سيرته، وبلغ من نصحه الأمة ، ببذل نفسه لتدريس العلوم النافعة والتأليف فيها، وإن كان مخطئاً في هذه المسألة أو غيرها، كابن حجر الهيتمي، فإنا نعرف كلامه في الدر المنظم، ولا ننك سمة علمه، ولهذا نعتني بكتبه، كشرح الأربعين، والزواجر وغيرها ؛ ونعتمد على نقله إذا نقل لأنه من جملة علماء المسلمين .<br />
<span style="background-color: #ffff00;"><span style="text-decoration: underline;">هذا ما نحن عليه، مخاطبين من له عقل وعلم، وهو متصف بالإنصاف، خال عن الميل</span><span style="text-decoration: underline;">إلى التعصب والاعتساف، ينظر إلى ما يقال، لا إلى من قال &#8230; </span>)</span> إهـ الدرر السنية في الأجوبة النجدية (1/ 222).<br />
ويوجد في الدرر السنية مجموعة من الأقوال الأخرى مشابهة لهذا النقل والله أعلم .</p>
<p dir="RTL">http://majles.alukah.net/showthread.php?t=18141</p>
<p>4. Kesimpulan yang menyesatkan</p>
<p dir="LTR">hal. 166</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/06.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1439" title="06" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/06.jpg" alt="06 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="75" /></a>hal. 167</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/07.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1440" title="07" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/07.jpg" alt="07 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="76" /></a><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/08.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1441" title="08" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/11/08.jpg" alt="08 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 2)" width="400" height="112" /></a>5. Dakwah Syaikh Muhammad ibn Abdil wahhab</p>
<p dir="RTL"><strong>قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله</strong><strong>:</strong><br />
<strong> </strong><strong>لست</strong><strong> </strong><strong>ولله الحمد أدعو إلى مذهب صوفي أو فقيه أو متكلم أو إمام من الأئمة الذين</strong><strong> </strong><strong>أعظمهم مثل ابن القيم والذهبي وابن كثير وغيرهم</strong><strong>، <span style="text-decoration: underline;">بل أدعو إلى الله وحده لا</span></strong><strong></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">شريك له، وأدعو إلى سنة رسول الله</span></strong><strong></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">r</span></strong><strong></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">التي أوصى بها أول أمّته وآخرهم</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">.</span></strong><br />
<strong>مؤلفات الشيخ محمد بن عبد الوهاب &#8211; القسم الخامس &#8220;الرسائل الشخصية&#8221; ص252</strong><strong>].</strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Karena al-Allamah imam as-Syaukani berkata memuji Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dan menasehati dengan keras orang yang memusuhi dakwah beliau:</strong></p>
<p dir="RTL">إمام الورى علامة العصر قدوتي<br />
وشيخ الشيوخ الجد فردالفضائل</p>
<p dir="RTL">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
أفق يا معيِّب الشيخ ماذا تعيِّبه<br />
لقد عبت حقاً وارتحلت بباطل<br />
&#8230;&#8230;&#8230;<br />
أفيقوا أفيقوا إنه ليس داعياً<br />
إلى ديـنٍ آبـاءٍ له وقبـائـل<br />
دعـا لكتاب الله والسنة التي<br />
أتانا بها طه النبيُّ، خيرُ قائلِ</p>
<p dir="LTR"> (Silahkan melihat Diwan Asy-Syaukani hal. 160 cet. Darul Fikr)</p>
<p dir="LTR">6 .Manhaj takfir yang diakui dan diikuti Syaikh adalah manhaj ahlussunnah</p>
<p dir="RTL"><span style="background-color: #ffff00;">قال الشيخ محمد</span> &#8211; رحمه الله &#8211; كما في الدرر 1/83 &#8221; وأما التكفير فأنا أكفر من عرف دين الرسول &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; ثم بعد ما عرف سبه ونهى الناس عنه وعادى من فعله فهذا هو الذي أكفره وأكثر الأمة &#8211; ولله الحمد &#8211; ليسوا كذلك &#8221; أهـ</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">وقال أيضاً</span> كما في الدرر السنية 10/128 : &#8221; وإنما نكفر من أشرك بالله في إلهيته وكذلك نكفر من حسنه للناس إلخ&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">لكنه تكفير على منهج أهل السنة والجماعة تراعى فيه الضوابط الشرعية التي نص عليها أئمة الدعوة في أكثر من مقام وليس لكل أحد أن يلج هذا الباب , بل هو لأهل العلم الراسخين فيه، وأئمة الدعوة يفرقون بين تكفير النوع والعين فيطلقون الكفر على القول والفعل<span style="background-color: #ffff00;"><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> ولا يلزم من ذلك تكفير كل من وقع فيه</span></em></strong><strong><em></em></strong>قال الشيخ عبد اللطيف بن عبد الرحمن بن حسن</span> كما في الدرر1/484 : &#8221; الأصل الخامس أنه لا يلزم من قيام شعبة من شعب الإيمان بالعبد أن يسمى مؤمناً ولا يلزم من قيام شعبة من شعب الكفر أن يسمى كافراً وإن كان ما قام به كفر , وأما الشعبة نفسها فيطلق عليها اسم الكفر كما في الحديث &#8221; اثنتان في أمتي هما بهم كفر الطعن في النسب والنياحة على الميت &#8221; وحديث &#8221; من حلف بغير الله فقد كفر &#8221; ولكنه لا يستحق اسم الكفر على الإطلاق أهـ</p>
<p style="text-align: right;">بل لابد من توافر الشروط وانتفاء الموانع بالنسبة للمعين فدعوة الشيخ في الحقيقة ضيقت مجال التكفير وفقاً للنصوص الشرعية وإلا التكفير موجود في كافة المذاهب الإسلامية المنتسبة للسنة ,فلا تجد كتاب فقه جامع إلا وفيه باب حكم المرتد</p>
<p style="text-align: right;">فالشيخ &#8211; رحمه الله &#8211; لايكفر بالذنوب كما يفعل الخوارج، <span style="background-color: #ffff00;">يقول الشيخ</span> كما في الدرر 1/32 : &#8221; ولا أكفر أحدا من المسلمين بذنب ولا أخرجه من دائرة الإسلام &#8221; أهـ</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">وقال</span> في موضع آخر كما في الدرر 10/129 : &#8221; والمسألة الأخرى : يذكر لنا من أعداء الإسلام من يذكر أنا نكفر بالذنوب مثل التتن وشرب الخمر والزنا أو غير ذلك من كبائر الذنوب فنبرأ إلى الله من هذه المقالة &#8221; أهـ</p>
<p style="text-align: right;">والشيخ كذلك لايكفربالعموم أو كل من خالفه ولم يدخل في طاعته <span style="background-color: #ffff00;">قال الشيخ</span> في رسالة لأحد علماء العراق كما في الدرر 1/80 : <span style="text-decoration: underline;">&#8221; ومنها ما ذكرتم أني</span><span style="text-decoration: underline;">أكفر جميع الناس إلا من اتبعني وأزعم أنكحتهم غير صحيحة ويا عجبا كيف يدخل</span><span style="text-decoration: underline;">هذا في عقل عاقل؟؟ هل يقول هذا مسلم أو كافر ؟ أو عارف أو مجنون؟ &#8221; أهـ</span><span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">وقال الشيخ</span> أيضاً كما في الدرر 1/100 : &#8220;وأما القول إنا نكفر بالعموم فذلك من بهتان الأعداء الذين يصدون عن هذا الدين ونقول سبحانك هذا بهتان عظيم &#8221; أهـ</p>
<p style="text-align: right;">والشيخ &#8211; رحمه الله &#8211; لايكفر بالظن بل لابد من التثبت وكذا يعذر الجاهل بجهله وأنه لابد من إقامة الحجة يقول الشيخ مبيناً ذلك كما في مؤلفات الشيخ &#8211; الرسائل الشخصية &#8211; <span style="background-color: #ffff00;">الرسالة الثالثة</span> : ( وأما ما ذكر الأعداء عني أني أكفر بالظن وبالموالاة أو أكفر الجاهل الذي لم تقم عليه الحجة فهذا بهتان عظيم يريدون به تنفير الناس عن دين الله ورسوله ) أهـ</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">قال الشيخ عبدالله بن الشيخ محمد بن عبد الوهاب</span> كما في الدرر 1/234 ونحن نقول فيمن مات : تلك أمة قد خلت ولا نكفر إلا من بلغته دعوتنا للحق ووضحت له المحجة وقامت عليه الحجة وأصر مستكبراً معانداً أهـ</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">وقال الشيخ عبدالله بن عبداللطيف</span> كما في الدرر 10/434 &#8221; فإن الشيخ محمداً رحمه الله لم يكفر الناس ابتداء إلا بعد قيام الحجة والدعوة لأنهم إذ ذاك في زمن فترة وعدم علم بآثار الرسالة ,ولذلك قال : لجهلهم وعدم من ينبههم فأما إذا قامت الحجة فلا مانع من تكفيرهم &#8221; أهـ</p>
<p style="text-align: right;">والشيخ لايكفر إلا في المسائل المجمع عليها , <span style="background-color: #ffff00;">قال الشيخ</span> في معرض كلامه عن تارك الصلاة كسلا من غير جحود كما في الدرر 1/102 : &#8220;ولا نكفر إلا ما أجمع عليه العلماء كلهم &#8221; أهـ , فمن خلال هذه النقول يتبين أن دعوتنا بريئة من موجة التكفير على منهج الخوارج الذي انتشربين شباب الصحوة بسبب بعض الجماعات والأفراد الغالين في هذا الباب الذي تنضح كتبهم وأشرطتهم بالتكفير العام لكل من لايوافقهم ووقع مثل ذلك من بعض المتشددين المنتسبين للدعوة في عصر الشيخ عبد اللطيف بن عبد الرحمن بن حسن فأرسل إليهم ينكر عليهم منهج التكفير هذا ويدافع عن الشيخ ودعوته , حيث قال كما في الدرر السنية 3/20 &#8221; وقد رأيت سنة أربعة وستين &#8220;يعني 1264 &#8221; رجلين من أشباهكم المارقين في الأحساء قد اعتزلا الجمعة والجماعة وكفرا من في تلك البلاد من المسلمين وحجتهما من جنس حجتكم يقولان : أهل الأحساء يجالسون ابن فيروز ويخالطونه هو وأمثاله ممن لم يكفر بالطاغوت ولم يصرح بتكفير جده الذي رد دعوة الشيخ محمد ولم يقبلها وعاداها &#8221; قالا : ومن لم يصرح بكفره فهو كافر بالله لم يكفر بالطاغوت ومن جالسته فهو مثله ورتبوا على هاتين المقدمتين الكاذبتين الضالتين ما يترتب على الردة الصريحة من الأحكام حتى تركوا رد السلام فرفع إلى أمرهم فأحضرتهم وتهددتهم وأغلظت لهم القول فزعموا أولاً : أنهم على عقيدة الشيخ محمد بن عبد الوهاب وأن رسائله عندهم فكشفت شبهتهم وأدحضت ضلالاتهم بما حضرني في المجلس وأخبرتهم ببراءة الشيخ من هذا المعتقد والمذهب وأنه لايكفر إلا بما أجمع المسلمون على تكفير فاعله من الشرك الأكبر والكفر بآيات الله ورسوله أو بشيء منها بعد قيام الحجة وبلوغها المعتبر كتكفير من عبد الصالحين ودعاهم مع الله وجعلهم أنداداً له فيما يستحقه على خلقه من العبادات الإلهية , وهذ مجمع عليه من أهل العلم والإيمان أهـ</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">1 &#8211; شيخ الإسلام محمد بن عبدالوهاب لا يكفر بالظن :</span><br />
&#8221; من أظهر الإسلام وظننا أنه أتى بناقض لا نكفره بالظن لأن اليقين لا يرفعه الظن، وكذلك لا نكفر من لا نعرف منه الكفر بسبب ناقض ذكر عنه ونحن لم نتحققه &#8221; 3/24 الرسائل الشخصية<br />
<span style="background-color: #ffff00;">شيخ الإسلام محمد بن عبدالوهاب لا يكفر بالعموم :2</span><br />
&#8221; وأما القول إنا نكفر بالعموم فذلك من بهتان الأعداء الذين يصدون به عن هذا الدين ونقول سبحانك هذا بهتان عظيم &#8221; الرسائل الشخصية 15/101</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">3 &#8211; من الذي يكفره الشيخ وما نسبتهم في الأمة ؟</span><br />
&#8221; وأما التكفير فأنا أكفر من عرف دين الرسول ثم بعد ما عرفه سبه ونهى الناس عنه وعادى من فعله فهذا هو الذي أكفره وأكثر الأمة ولله الحمد ليسوا كذلك.</p>
<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">وأما القتال فلم نقاتل أحداً</span><span style="text-decoration: underline;">إلى اليوم إلا دون النفس والحرمة وهم الذين أتونا في ديارنا ولا أبقوا</span><span style="text-decoration: underline;">ممكنا ولكن قد نقاتل بعضهم على سبيل المقابلة ( وجزاء سيئة سيئة مثلها</span><span style="text-decoration: underline;"> )</span> وكذلك من جاهر بسب دين الرسول بعد ما عرفه والسلام. &#8221; الرسائل الشخصية 5/37<br />
<span style="background-color: #ffff00;">الشيخ لا يكفر كل من لم يواليه ولا يكفر كل جاهل :4 </span><br />
&#8221; تكفير من بان له أن التوحيد هو دين الله ورسوله ثم أبغضه ونفر الناس عنه. وجاهد من صدق الرسول فيه ومن عرف الشرك وأن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث بإنكاره وأقر بذلك ليلا ونهاراً ثم مدحه وحسنه للناس وزعم أن أهله لا يخطئون لأنهم السواد الأعظم، وأما ما ذكر الأعداء عني أني أكفر بالظن وبالموالاة أو أكفر الجاهل الذي لم تقم عليه الحجة فهذا بهتان عظيم يريدون به تنفير الناس عن الله ورسوله. &#8221; الرسائل الشخصية 3/25</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">5 &#8211; الشيخ لا يكفر إلا من كفره جميع العلماء الموثوقين :</span><br />
&#8221; ما ذكر لكم عني أني أكفر بالعموم فهذا من بهتان الأعداء، وكذلك قولهم إني أقول من تبع دين الله ورسوله وهو ساكن في بلده أنه ما يكفيه حتى يجييء عندي فهذا أيضا من البهتان ؛ إنما المراد اتباع دين الله ورسوله في أي أرض كانت ؛ ولكن نكفر من أقر بدين الله ورسوله ثم عاداه وصد الناس عنه ؛ وكذلك من عبد الأوثان بعد ما عرف أنها دين للمشركين وزينه للناس ؛ فهذا الذي أكفره وكل عالم على وجه الأرض يكفر هؤلاء إلا رجلاً معانداً أو جاهلاً &#8221; الرسائل الشخصية 9/58</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">6 &#8211; الشيخ يكفر من يرى جواز دعاء غير الله وتكفير أهل التوحيد :</span><br />
&#8221; فإن قال قائلهم إنهم يكفرون بالعموم فنقول : سبحانك هذا بهتان عظيم الذي نكفر الذي يشهد أن التوحيد دين الله ودين رسوله، وأن دعوة غير الله باطلة ثم بعد هذا يكفر أهل التوحيد، ويسميهم الخوارج ويتبين مع أهل القبب على أهل التوحيد &#8221; . الرسائل الشخصية 7/48</p>
<p style="text-align: right;"><span style="background-color: #ffff00;">7 &#8211; الشيخ لا يكفر من لم تبلغه الحجة :</span><br />
&#8221; من عمل بالتوحيد، وتبرأ من الشرك وأهله فهو المسلم في أي زمان وأي مكان وإنما نكفر من أشرك بالله في إلهيته بعد ما نبين له الحجة على بطلان الشرك وكذلك نكفر من حسنه للناس، أو أقام الشبه الباطلة على إباحته، وكذلك من قام بسيفه دون هذه المشاهد التي يشرك بالله عندها، وقاتل من أنكرها وسعى في إزالتها قوله إني أكفر من توسل بالصالحين، وقوله : إني أكفر البوصيري لقوله يا أكرم الخلق، وقوله إني أقول لو أقدر على هدم حجرة الرسول لهدمتها ولو أقدر على الكعبة لأخذت ميزابها وجعلت لها ميزاباً من خشب، وقوله إني أنكر زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، وقوله إني أنكر زيارة قبر الوالدين وغيرهم وإني أكفر من يحلف بغير الله فهذه اثنتا عشرة مسألة جوابي فيها أن أقول : ((سبحانك هذا بهتان عظيم )) &#8221; . الرسائل الشخصية 11/64</p>
<p style="text-align: right;">هذه نبذ منقولة من كتب الشيخ محمد بن عبد الوهاب تبين عقيدته السلفية الاثرية</p>
<p style="text-align: right;">الصافية وترد على اولئك الكاذبين الناعقين</p>
<p style="text-align: right;">رحم الله الشيخ محمد بن عبد الوهاب</p>
<p style="text-align: right;">ورحم الله كل علمائنا</p>
<p style="text-align: right;">ونصر الله اهل السنة واذل اهل البدعة</p>
<p style="text-align: right;">ونصر الله الاسلام والمسلمين</p>
<p style="text-align: right;">واذل الشرك والمشركين</p>
<p dir="LTR"><a href="http://djelfa.info/vb/showthread.php?t=292282">http://djelfa.info/vb/showthread.php?t=292282</a></p>
<p dir="LTR">Jadi berhati-hatilah, jangan sampai mau diajak oleh siapapun untuk memusuhi ulama-ulama Islam yang telah berjuang mengikuti dakwah Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, berdasarkan hawa nafsu, kebodohan, kezhaliman, kesalahan terjemahan, kesalaham pemahaman, kesalahan kesimpulan, fitnah dan tuduhan keji. Mintalah bukti kepada siapapun yang menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan tuduhan sesat, takfiri, khawarij, mujassim. Jika tidak punya maka dia orang jahat, ingin keburukan bagi islam dan umat islam. Jauhilah orang seperti itu, karena dia sumber fitnah.</p>
<p dir="LTR">Alhamdulillahirabbil alamiin. Nantikan Aurat Idahram 3</p>
<div>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Lihat makalah saya di <a href="../../../../../">www.gensyiah.com</a>, makalah 1, 2, 3, dan 4.</p>
<p dir="LTR">Setelah selesai acara bedah bukunya Gus Idrus mengatakan kepada saya bahwa wahhabi mengkafirkan orang yang bertawassul. Saya katakan tidak. Tidak ada yang mengkafirkan tawassul. Dia bertanya tentang hukumnya maka saya jelaskan bahwa tawassul itu ada yang sunnah dan ada yang bid&#8217;ah. Lalu dia meminta penjelasan tentang macam-macam tawassul. Ketika saya mlai menjelaska tawassul yang sunnah dia bilang : saya tidak mau tawassul yang sunnah, saya mau tawassul yang bid&#8217;ah. Maka saya katakan : baik, kalau mau tawassul yang bid&#8217;ah; yaitu tawassul dengan kedudukan Nabi, hak Nabi, dzat makhluk, tetapi itu semua tidak syirik. Lalu saya jelaskan dua kelompok yang salah dalam hal ini yaitu yang mengatakan bahwa tawassul dan istighatsah kepada selain Allah boleh dan kelompok lain yang menganggap tawassul dan itighatsah adalah syirik. Sumber kesalahannya adalah menyamakan antara tawassul dan istighatsah. Saya jelaskan Syaikh Muhammad membedakan antara keduanya tawassul itu bukan syirik, sedangkan istighatsah kepada selain Allah itu yang syirik. Selama saya jelaskan gus idrus diam dan tanpa komentar. Saya tidak tahu apa yang beliau pikirkan.</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html' rel='bookmark' title='Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)'>Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/parade-bedah-buku-membongkar-aurot-trilogi-buku-karya-syaikh-idahram.html' rel='bookmark' title='Parade Bedah Buku &#8220;Membongkar Aurot Trilogi Buku Karya Syaikh Idahram&#8221;'>Parade Bedah Buku &#8220;Membongkar Aurot Trilogi Buku Karya Syaikh Idahram&#8221;</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html' rel='bookmark' title='Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)'>Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jawaban Komentar &#8220;Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)&#8221;</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/jawaban-komentar-dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/jawaban-komentar-dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 02:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1423</guid>
		<description><![CDATA[Pertama : Saya minta maaf kalau komentar anda tidak termuat. Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi seingat saya belum pernah admin menyerahkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini kepada saya. Berikut pertanyaan-pertanyan dari seorang komentator : &#8220;Bapak Abu Hamzah, saya adalah seorang yang sedang belajar tentang Islam. Saya anak muda yang lahir dan tumbuh dari kalangan Nahdliyyin, dan [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html' rel='bookmark' title='Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)'>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html' rel='bookmark' title='Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)'>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/komentar-manis-bag2.html' rel='bookmark' title='Komentar Manis (bag.2)'>Komentar Manis (bag.2)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Pertama</strong> :</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Saya minta maaf kalau komentar anda tidak termuat. Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi seingat saya belum pernah admin menyerahkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini kepada saya.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Berikut pertanyaan-pertanyan dari seorang komentator : </span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">&#8220;Bapak Abu Hamzah, saya adalah seorang yang sedang belajar tentang <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>. Saya anak muda yang lahir dan tumbuh dari kalangan Nahdliyyin, dan saya terbuka dengan segala macam pemikiran, karena itu yang diajarkan oleh ulama kami di NU. saya tertarik dengan ulasan Bapak. namun, ada beberapa hal yang menurut saya perlu Bapak klarifikasi lagi:</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">1. Bapak katakan :</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Bid’ah secara bahasa adalah membuat hal baru tanpa ada contoh sebelumnya. Hal baru ini ada yang hasanah (baik) dan ada yang sayyiah (buruk). Persis sebagaimana sunnah, secara bahasa sunnah adalah thariqah dan sirah (jalan atau cara yang ditempuh), maka secara bahasa, ada sunnah hasanah dan ada sunnah sayyiah, ada sunnah Nabi dan ada sunnah selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Sunnah Hasanah adalah sunnahnya Nabi, sedang sunnah sayyiah adalah sunnahnya bukan nabi. Lalu: Bid’ah hasanah itu bid’ah-nya siapa? yang sayyiah bid’ahnya siapa?<span id="more-1423"></span></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab :</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Kedua</strong>: pertanyaan anda sudah ada jawabannya dalam kutipan poin kedua:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">“Namun secara istilah yang dimaksud dengan sunnah adalah sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan yang dimaksud dengan bid’ah adalah hal baru yang menyalahi Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu secara istilah, setiap sunnah itu hasanah dan setiap bid’ah itu sayyiah”.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">2. Bapak katakan:</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Namun secara istilah yang dimaksud dengan sunnah adalah sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan yang dimaksud dengan bid’ah adalah hal baru yang menyalahi Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu secara istilah, setiap sunnah itu hasanah dan setiap bid’ah itu sayyiah”.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab :</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Ketiga </strong>: ukuran benar itu syara&#8217; (kitabullah wa sunnatu Rasulih). Apa saja yang sesuai dengan syariat maka itu masyru&#8217; bukan mamnu&#8217;, apakah hal itu terjadi sepeninggal Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau baru terjadi sekarang atau di masa yang akan datang. Jadi kalau ada hal baru sesuai dengan syara&#8217; maka hal itu itu bukan masuk dalam istilah bid&#8217;ah.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Imam Nawawi berkata tentang sebagian <span style="text-decoration: underline;">bid&#8217;ah dhalalah</span> yang sekarang ini biasa dilakukan oleh kaum kuburiyyah. Beliau berkata:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"> المجموع &#8211; (ج 8 / ص 275)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"> وقال الفضل ابن عياض رحمه الله ما معناه اتبع طرق الهدى ولا يضرك قلة السالكين وإياك وطرق الضلالة ولا تغتر بكثرة الهالكين ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة فهو من جهالته وغفلته لان البركة إنما هي فيما وافق الشرع وكيف ينبغي الفضل في مخالفة الصواب؟!</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">&#8220;Al-Fudhail ibn Iyadh rahimahullah berkata yang artinya: ikutilah jalan-jalan hidayah dan tidak membahayakanmu sedikitnya orang-orang yang meniti (jalan itu). Dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan jangan terkecoh dengan banyaknya orang-orang yang binasa. Barang siapa terlintas di benaknya bahwa mengusap-usap (kubur) dengan tangannya atau sejenisnya itu lebih mengena dalam keberkahan maka <strong><span style="text-decoration: underline;">itu berasal dari kebodohannya dan kelalaiannya, karena barokah itu  ada dalam apa yang sesuai dengan syariat. Bagaimana boleh ada keutamaan dalam menyalahi kebenaran?!!&#8221;</span></strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">حاشية الجمل &#8211; (ج 9 / ص 353) ص 354)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وَيُكْرَهُ مَسْحُهُ بِالْيَدِ وَتَقْبِيلُهُ بَلْ الْأَدَبُ أَنْ يَبْعُدَ عَنْهُ كَمَا يَبْعُدُ مِنْهُ لَوْ حَضَرَ فِي حَيَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ وَهُوَ الَّذِي قَالَهُ الْعُلَمَاءُ وَأَطْبَقُوا عَلَيْهِ وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُغْتَرَّ بِكَثِيرٍ مِنْ الْعَوَامّ فِي مُخَالَفَتِهِمْ ذَلِكَ</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">فَإِنَّ الِاقْتِدَاءَ وَالْعَمَلَ إنَّمَا يَكُونُ بِأَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَلَا يُلْتَفَتُ إلَى مُحْدَثَاتِ الْعَوَامّ وَجَهَالَاتِهِمْ وَلَقَدْ أَحْسَنَ السَّيِّدُ الْجَلِيلُ أَبُو عَلِيٍّ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ فِي قَوْلِهِ مَا مَعْنَاهُ اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرَّك قِلَّةُ السَّالِكِينَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ وَمَنْ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّ الْمَسْحَ بِالْيَدِ وَنَحْوِهِ أَبْلَغُ فِي الْبَرَكَةِ فَهُوَ مِنْ جَهَالَتِهِ وَغَفْلَتِهِ ؛ لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إنَّمَا هِيَ فِيمَا وَافَقَ الشَّرْعَ وَأَقْوَالَ الْعُلَمَاءِ وَكَيْفَ يَنْبَغِي الْفَضْلُ فِي مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ ا هـ .</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Dalam hasyiah al-Jamal dikatan: <strong><span style="text-decoration: underline;">dan dibenci mengusapnya dengan tangan dan menciumnya </span></strong>bahkan tatakeramanya adalaag menjauh darinya sebagaimana menjauh darinya seandainya ia hadir da masa hidup  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini adalah yang benar. Ini yang dikatakan oleh para ulama dan mereka bersepakat atasnya. <strong><span style="text-decoration: underline;">Maka seyogjanya tidak boleh tertipu dengan banyaknya orang awam dalam menyalahi hal itu, sebab berteladan dan beramal itu ada dengan mengikuti ucapan para ulama dan tidak menoleh kepada bid&#8217;ah-bid&#8217;ahnya orang awam dan kebodohan mereka</span></strong>. Sungguh telah bagus as-sayyid yang agung abu ali alFudhail ibn iyadh dalam ucapannya yang artinya: ikutilah jalan-jalan hidayah dan tidak membahayakanmu sedikitnya orang-orang yang meniti (jalan itu). Dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan jangan terkecoh dengan banyaknya orang-orang yang binasa. Barang siapa terlintas di benaknya bahwa mengusap-usap (kubur) dengan tangannya atau sejenisnya itu lebih mengena dalam keberkahan maka itu berasala dari kebodohannya dan kelalaiannya, karena barokah itu  ada dalam apa yang sesuai dengan syariat dan ucapan para ulama. Bagaimana boleh ada keutamaan dalam menyalahi kebenaran?!!&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Di tempat lain dalam Hasyiah al-Jamal juga disebutkan hal yang sama:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري &#8211; (ج 5 / ص 58)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">قالوا ويكره مسحه باليد وتقبيله بل الأدب أن يبعد عنه كما يبعد منه لو حضر في حياته {صلى الله عليه وسلم} هذا هو الصواب وهو الذي قاله العلماء وأطبقوا عليه وينبغي أن لا يغتر بكثير من العوام في مخالفتهم ذلك فإن الاقتداء والعمل إنما يكون بأقوال العلماء ولا يلتفت إلى محدثات العوام وجهالاتهم ولقد أحسن السيد الجليل أبو علي الفضيل بن عياض في قوله ما معناه اتبع طرق الهدى ولا يضرك قلة السالكين وإياك وطرق الضلالة ولا تغتر بكثرة الهالكين ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة فهو من جهالته وغفلته لأن البركة إنما هي فيما وافق الشرع وأقوال العلماء وكيف ينبغي الفضل في مخالفة الصواب ا ه</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Sementara imam Ahmad ibn Husain ibn Ruslam al-Syafi&#8217;I (773-844) dalam matan Zubad mengatakan:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">أمـا الصحـيـحُ فــي العِـبَـاداتِ فـمـا وافَـــقَ شَـــرْعَ اللهِ فـيـمَــا حَـكَـمَــا</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">&#8220;Adapun yang benar dalam ibadah itu adalah apa yang sesuai dengan syariat dalam apa yang ia telah menghukuminya.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #0000ff;">Apa yang membuat Bapak sampai pada kesimpulan bahwa yang hasanah itu sunnah, sedang yang sayyiah itu bid’ah? Definisi istilahi Bapak menurut saya arbitrer tanpa disertai argumen ataupun dalil yang memadai. Mohon maaf pak, model penjelasan semacam itu sulit dicerna oleh akal saya. karena antara yang di atas dengan yang dibawahnya sama sekali tidak menunjukkan ketersambungan.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab :</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Keempat</strong><strong> </strong>: dalam istilah syariat sunnah itu pasti baik dan bid&#8217;ah itu pasti buruk. Setiap yang baru dalam urusan agama secara bahasa disebut adalah bid&#8217;ah atau muhdats, setelah dilihat dan dipelajari, jika ia ia memang menyalahi syariat maka ia layak tetap disebut bid&#8217;ah, yaitu bid&#8217;ah dhalalh, bid&#8217;ah mukhalifah lis-syari&#8217;ah.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Namun jika dia tidak menyalahi syariat maka tidak lagi tercela, karena tidak tercela maka tidak menggunakan istilah bid&#8217;ah, melainkan ikut hukum syar&#8217;i yang wajib atau mandub atau mubah.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Model penjelasan ini mudah dan lumrah. Jika dalam pikiran anda masih belum nyambung maka renungkan kembali makalah saya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">3. Bapak katakan:</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Apa yang dilakukan oleh Imam syafi’i sah dalam agama Islam, tidak ada larangan sama sekali. Siapa pun dari kita boleh menulis di mukaddimah khutbah atau kitab tahmid dan shalawat dari rangkaian sendiri asal isinya tidak bertentangan dengan syara’”.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Ini pula yang selama ini dipahami oleh orang-orang NU pak. Kita diperbolehkan melakukan hal-hal baru (bid’ah) asal tidak melanggar rambu-rambu syari’ah (hasanah). Jadi apa bedanya pemahaman Bapak dengan pemahaman orang-orang NU?</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Kelima</strong>: jika memang anda menjadikan syariat sebagai tolak ukur kebenaran, apa yang sesuai itu benar dan melanggar itu sesat maka anda dan saya sama, NU dan lainnya dari Ormas ahlussunnah sama. Hanya saja perlu konsisten dalam memegangi prinsip tersebut. Yaitu benar-benar menjadikan syariat sebagai dalil, bukan hawa nafsu atau tradisi orang awam dan taklid buta.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع &#8211; (ج 1 / ص 3)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وعن ابن عمر رضي الله عنه، قال: كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Sahabat Ibnu Umar berkata: setiap bid&#8217;ah itu sesat meskipun dipandang baik oleh manusia.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Berikut beberapa contoh bid&#8217;ah dhalalah:</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Shalat malam nishdu sya&#8217;ban</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Misal shalat lailah nishfu sya&#8217;ban, banyak orang menganggapnya baik, tetapi menurut dalil syar&#8217;i ia adalah bid&#8217;ah dhalalah:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع &#8211; (ج 1 / ص 17)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">ليلة النصف من شعبان</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وأما ليلة النصف من شعبان، فلها فضل، وإحياؤها بالعبادة مستحب، ولكن على الانفراد ومن غير جماعة. واتخاذ الناس لها ولليلة الرغائب موسماً وشعاراً بدعة مكروهة، وما يزيدونه فيها على الحاجة والعادة من الوقيد ونحوه فغير موافق للشريعة.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Imam suyuthi berkata:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">&#8220;adapun malam nishfu sya&#8217;ban  maka ia memiliki keutamaan, dan menghidupkannya secara sendiri-sendiri adalah dianjurkan, tanpa berjama&#8217;ah. Sedangkan perbuatan orang-orang menjadikannya dan menjadikan malam raghaib sebagai musim dan syiar maka itu bid&#8217;ah makruhah (yang dibenci). Dan apa yang mereka tambahkan di dalamnya di atas kebutuhan dan kebiasaan seperti menyalakan lampu dan sejenisnya maka itu tidak sesuai dengan syariat.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Api unggun malam n</strong><strong>ishfu sya&#8217;ban:</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Imam suyuthi melanjutkan dengan membicarakan menyalakan lampu di malam nishfu sya&#8217;ban:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع – (ج 1 / ص 18)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الوقيد ليلة النصف من شعبان</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">ثم قال رحمه الله: مما أحدثه المبتدعون وخرجوا به عما رسمه المشرعون رجوعاً فيه على سنن المجوس، واتخذوا دينهم لهواً ولعباً: الوقيد ليلة النصف من شعبان، ولم يصح فيه شيء عن رسول الله (، ولا نطق بالصلاة فيها والإيقاد فيها ذو صدق من الرواة، وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية وراغب في دين المجوسية، لأن النار معبودهم، وأول ما حدث ذلك في زمن البرامكة فدخلوا في دين الإسلام يموهون به على الطعام وهو يعلم الإيقاد في ليلة النصف من شعبان كأنه سنة من السنن،ومقصودهم عبادة النيران وإقامة دينهم، وهو أخس الأديان إذا صلى المسلمون فركعوا وسجدوا، وكان ذلك إلى النار التي أوقدوا ومضت على ذلك السنون والأعصار وتبعت بغداد فيه سائر الأمصار. وهذا مما يجتمع في تلك الليلة من الرجال والنساء واختلاطهم فالواجب على السلطان منعهم، وعلى العالم ردعهم، وإنما شرف شعبان: أن رسول الله ( كان يصومه إلا قليلاً.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Adapun yang diada-adakan oleh ahli bid&#8217;ah dan karena mereka keluar dari apa yang digariskan oleh syara&#8217; (Allah dan Rasul-Nya) karena kembali mengikut tradisi majusi, dan menjadikan agama mereka sebagai kesia-siaan dan permainan yaitu menyalakan api di malam nisfhu sya&#8217;ban maka tidak shahih sedikitpun dari  nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak seorangpun perawi yang menyebut shalat di dalamnya maupun memasang lampu (api) di dalamnya. Tidaklah  mengada-adakan hal itu kecuali kecuali orang yang mempermainkan syariat muhammadiyyah dan menyukai agama majusi, karena api adalah sesembahan mereka. Pertama kali itu terjadi adalah pada masa baramikah. Mereka masuk islam dan mengelabuhinya atas makanan, dan dia tahu menyalakan api di malam nishfu sya&#8217;ban seolah-olah ia adalah salah satu dari sunnah. padahal maksud mereka adalah menyembah api dan menegakkan agama nereka, yaitu agama yang paling rendah. Jika orang islam shalat lalu rukuk dan sujud, hal itu adalah menghadap api yang mereka nyalakan. Hal ini berlangsung bertahun-tahun di kota-kota, lalu Baghdad mengiikuti kita-kota itu. Ini diantara yang berkumpul di malam itu antara laki-laki dan perempuan dan ikhthilat) campur baur mereka) maka kewajiban sultan adalah melarang mereka, dan kewajiban alim adalah mencegah mereka. Sesungguhnya kemuliaan sya&#8217;ban adalah karena rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam puasa bulan sya&#8217;ban kecuali sedikit.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Sampai imam suyuthi berkata:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">… وكل بدعة ضلالة، وكل اجتماع يتكرر بتكرر الأسابيع والشهور والأعوام غير الاجتماعات المشروعة هو المبتدع، ففرق بين ما يفعل من غير ميعاد وبين ما يتخذ سنة وعادة؛ فإن ذلك يضاهي المشروع وقد كره ابن مسعود وغيره من الصحابة اعتياد الاجتماع في مكان مخصوص، وهو المنصوص عن أحمد أنه، قيل له: تكره أن يجتمع القوم يدعون الله تعالى ويرفعون أيديهم؟ فقال: ما أكره للإخوان إذا لم يجتمعوا على عهد إلا أن يكثروا. وأصل هذا أن العبادات المشروعة التي تتكرر بتكرر الأوقات حتى تصير سنناً ومواسم، قد شرع الله منها ما فيه كفاية المتعبد، فإذا أُحدث اجتماع زائد كان مضاهاة لما شرعه الله تعالى وسنة رسوله، وفيه من المفاسد ما تقدم التنبيه عليه، بخلاف ما يفعله الرجل وحده أو الجماعة المخصوصة أحياناً، أو نحو ذلك يفرق بين الكبير الظاهر، والقليل الخفي، والمعتاد وغير المعتاد، وكذلك كل ما كان مشروع الجنس، لكن البدعة فيما اتخاذه عادة لازمة حتى يصير كأنه واجب.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Berkumpul di sore hari arafah untuk berdoa bersama:</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Kemudian imam suyuthi juga menjelaskan bahwa di antara bid&#8217;ah sesat adalah berkumpul di hari arafah  setelah shalat ashar untuk berdoa</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع &#8211; (ج 1 / ص 19)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">ومن ذلك التعريف المحدث. قال ابن وهب: سمعت مالكاً يسأل عن جلوس الناس في المسجد عشية عرفة بعد العصر واجتماعهم للدعاء، فقال: ليس هذا من أمر الناس، وإنما مفاتيح هذه الأشياء من البدع. وقال مالك في العشية: وأكره أن يجلس أهل الآفاق يوم عرفة في المساجد للدعاء، ومن اجتمع إليه الناس فلينصرف في مقامه، ومقامه في منزله أحب إليه، فإذا حضرت الصلاة رجع فصلى في المسجد، وروى محمد بن وضاح: أن الناس اجتمعوا بعد العصر من يوم عرفة في مسجد النبي ( يدعون، فخرج نافع مولى ابن عمر فقال: يا أيها الناس، إن الذي أنتم فيه بدعة، وليست بسنة، أدركت الناس ولا يصنعون هذا.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">قال مالك بن أنس: ولقد رأيت رجالاً ممن يقتدى بهم يتخلفون في بيوتهم عشية عرفة، ثم قال: ولا أحب الرجل العالم أن يقعد في المسجد تلك العشية إذا أرادوا أن يقتدوا به وليقعد في بيته.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وقال الحارث بن سكن: كنت أرى الليث بن سعد ينصرف بعد العصر يوم عرفة فلا يرجع إلا قرب المغرب.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وقال إبراهيم النخعي: الاجتماع يوم عرفة أمر محدث.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وقال عطاء الخراساني: إن استطعت أن تخلو عشية عرفة بنفسك فافعل.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Membungkuk dalam menghormat</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Kemudian imam suyuthi menerangkan bid&#8217;ah membungkuk dalam menghormat:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع &#8211; (ج 1 / ص 29)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">بدعة الانحناء</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وقد يزيد بعض الجاهلين والعلماء والغافلين عن السنة على هذه البدعة أمراً منكراً، وهو الانحناء، وهو أمر منهي عنه، فروى الترمذي، عن أنس رضي الله عنه، قال: &#8221; سمعت رجلاً يقول لرسول الله) : يا رسول الله، الرجل يلقى أخاه أو صديقه أينحني له؟ قال: &#8221; لا &#8221; ، قال أفيلتزمه ويقبله؟ قال: &#8221; لا &#8221; قال: أيأخذه بيده ويصافحه؟ قال: &#8221; نعم &#8221; .</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وروى الترمذي رضي الله عنه، عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده رضي الله عنهم، قال: قال رسول الله) : &#8221; ليس منا من تشبه بغيرنا، لا تشبهوا باليهود ولا بالنصارى، فإن تسليم اليهود الإشارة بالأصابع، وتسليم النصارى الإشارة بالأكف &#8221; .</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">فالسلام واستخراج الحمد، والثناء بعد السلام، والمصافحة من تمام التحية، وهي من السنن وأفعال السلف الصالحين من الصحابة والتابعين؛ لما روى البخاري في صحيحه، عن قتادة، قال: قلت لأنس بن مالك: كانت المصافحة في أصحاب النبي (؟ قال: نعم.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وروى الترمذي، عن ابن مسعود، عن النبي (، قال: &#8221; إذا التقى المسلمان فتصافحا وحمدا الله واستغفراه غفر لهما &#8221; .</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Meyakini adanya Hari naas/sial/tidak baik:</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Imam Ibn Hajar al-Haitami al-Makki dalam  fatawa haditsiyyah 28 ditanya tentang adanya hari naas dan hari bahagia, yang layak untuk dilakukan safar, pindahan dlsb. Maka dia menjawab:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Orang yang bertanya tentang hari naas dan sesudahnya tidak dijawab kecuali dengan berpaling dari padanya, dan membodoh-bodohkan apa yang ia lakukan serta menjelaskan keburukannya, bahwa hal itu adalah termasuk &#8220;sunnah yahudi&#8221; bukan petunjuk kaum muslimin yang bertawakkal kepada tuhan pencipta dan pengatur mereka, yaitu orang-orang yang tidak berhitung (termasuk dengan hitungan wethon,pent) dan kepada tuhan mereka mereka bertawakkal. Adapun apa yang dikutip dari imam Ali kw  tentang hari-hari sial maka itu adalah batil, dusta tidak ada dasarnya. Maka hendaklah waspada terhadap hal itu. Wallahu a&#8217;lam.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Yang aneh, hal ini juga sudah diputuskan (lihat di Bahsul Mail NU 42) namun tidak mendengar sosialisasinya, bahkan yang medukun pun tidak jarang mengaku atau dikenal sebagai kyai.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Berdiri saat maulid nabi</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Kiyam mawlid 80</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Kumpul-kumpul di rumah duka/ di rumah ahli mayit setelah dikuburkannya jenazah, itu termasuk niyahah (meratap) (apakah hari pertama sampai ke 7, hari ke 40, hari ke100, hari pendak setahun, haul setiap tahun): itu bid&#8217;ah madzmumah (tercela), bid&#8217;ah munkar, yang diberi pahala orang yang melarangnya</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong> إعانة الطالبين &#8211; (ج 2 / ص 165</strong><strong>)</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين</strong><strong>.</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>إعانة الطالبين &#8211; (ج 2 / ص 165</strong><strong>)</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>إعانة الطالبين &#8211; (ج 2 / ص 166)</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة.</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه.</strong></span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong> </strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Baca masalah keagamaan Hasil Bahtsul Mail NU, no 18 hal. 12-14)</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jangan lupa untuk membaca Muallaf menggugat selamatan, hal. 70-71)</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Bid&#8217;ah Membangun kuburan orang shalih</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Imam syafi&#8217;i dalam membenci dan mengingkari kemunkaran ini karena bebarap dalil dan alasan:</span></p>
<ol start="1">
<li dir="LTR"><span style="color: #000000;">Karena sunnah dan atsar yang melarang hal itu (tasyabbuh dengan umat terdahulu yang dilaknat oleh Allah)</span></li>
<li dir="LTR"><span style="color: #000000;">Kuburan sahabat anshar dan muhajirin tidak dibangun</span></li>
<li dir="LTR"><span style="color: #000000;">Para gubernur telah merobohkan bangunan kuburan, dan tidak seorang pun para ahli fikih yang protes atau memandangnya sebagai aib.</span></li>
<li dir="LTR"><span style="color: #000000;">Karena bangunan kuburan akan menyempitkan kuburan</span></li>
<li dir="LTR"><span style="color: #000000;">Karena hal itu berarti perhiasan dan kesombongan sementara kematian bukan tempat untuk itu</span></li>
<li dir="LTR"><span style="color: #000000;">Takut seseorang diagungkan lalu timbul fitnah dan kesesatan</span></li>
</ol>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأم &#8211; (ج 1 / ص 463)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">وأحب أن لا يبنى ولا يجصص فإن ذلك يشبه الزينة والخيلاء وليس الموت موضع واحد منهما ولم أر قبور المهاجرين والأنصار مجصصة ( قال الراوي ) عن طاوس : [ أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى أن تبنى القبور أو تجصص ] قال الشافعي : وقد رأيت من الولاة من يهدم بمكة ما يبنى فيها فلم أر الفقهاء يعيبون ذلك</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأم &#8211; (ج 1 / ص 463)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"> أخبرنا مالك أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : [ قاتل الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد لا يبقى دينان بأرض العرب ] ( قال ) : وأكره هذا للسنة والآثار وأنه كره والله تعالى أعلم أن يعظم أحد من المسلمين يعني : يتخذ قبره مسجدا ولم تؤمن في ذلك الفتنة والضلال على من يأتي بعد فكره والله أعلم</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع &#8211; (ج 1 / ص 12)</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">الشافعي رضي الله عنه أنه قال: وأكره أن يعظم مخلوق حتى يجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه من بعده من الناس. وقد نص النبي ( على العلة بقوله: &#8221; اللهم لا تجعل قبري وثناً يعبد &#8221; ويقول: &#8221; إن من كان قبلكم كانوا يتخذون القبور مساجد، فلا تتخذوا القبور مساجد، ولا تجلسوا عليها &#8221; الحديث المتقدم. وأخبر ( أن الكفار &#8221; كانوا إذا مات فيهم الرجل الصالح بنوا على قبره مسجداً، وصوروا فيه تلك التصاوير، أولئك شر الخلق عند الله يوم القيامة &#8221; فجمع ( بين التماثيل وبين القبور. وأيضاً فإن الّلات كان سبب عبادتها تعظيم قبر رجل صالح كان هناك يلت السويق بالسمن ويطعمه للحاج، فلما مات عكفوا على قبره. وقد ذكروا أيضاً أن وداً، وسواعاً، ويغوث، ويعوق، ونسراً، قوم صالحون كانوا بين آدم ونوح عليهما السلام، وكان لهم اتباع يقتدون بهم، فلما ماتوا قال أتباعهم: لو صورنا صورهم. فلما مات الأتباع، وجاء بعدهم قوم آخرون، أتاهم إبليس، فقال: إنما كان أولئك يعبدونهم، وبهم يُسقون المطر. فعبدوهم. وذكر ذلك محمد بن جرير الطبري بسنده. وهذه العلة التي لأجلها نهى الشارع ( هي التي أوقعت كثيراً من الأمم إما في الشرك الأكبر أو فيما دونه. ولهذا تجد أقواماً كثيرة من الضالين يتضرعون عند قبر الصالحين، ويخشعون، ويتذللون، ويعبدونهم بقلوبهم عبادة لا يفعلونها في بيوت الله المساجد، بل ولا في الاسحار بين يدي الله تعالى، ويرجون من الصلاة عندها والدعاء ما لا يرجونه في المساجد التي تشد إليها الرحال.</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">فهذه المفسدة هي التي حسم النبي ( مادتها حتى نهى عن الصلاة في المقبرة مطلقاً وإن لم يقصد المصلى بركة البقعة ولا ذلك المكان سداً للذريعة إلى تلك المفسدة التي من أجلها عبدت الأوثان. فأما إن قصد الإنسان الصلاة عندها، أو الدعاء لنفسه في مهماته وحوائجه متبركاً بها راجياً للإجابة عندها، فهذا عين المحادّة لله ولرسوله، والمخالفة لدينه وشرعه، وابتداع دين لم يأذن به الله ولا رسوله ولا أئمة المسلمين المتبعين آثاره وسننه.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Sekarang saya bertanya, apakah anda konsisten dengan definisi bid&#8217;ah? Apakah anda sama dengan saya bahwa hal-hal di atas adalah bid&#8217;ah dhalalah?</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #0000ff;">4. Bapak mengutip dari Imam Syafi’i:</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Apa saja yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, maka ini adalah bid’ah dhalalah (tersesat).”<br />
Pak, mengapa Imam Syafi’i repot-repot menyebut kata “Bid’ah dhalalah” jika semua bid’ah itu dhalalah? mengapa beliau tidak cukup menyebut kata bid’ah saja?</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Keenam</strong>:  jangan lupa, kan imam syafi&#8217;i sedang membagi bid&#8217;ah menjadi tercela dan terpuji? Lalu imam syafi&#8217;i menyebuit ketentuan bid&#8217;ah dhalalah. Jadi imam syafi&#8217;i itu sudah benar. Kalau imam syafi&#8217;i ditanya apa itu bid&#8217;ah dhalalah maka beliau menjawab, yaitu:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;"><strong>ما حدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Ahmad ibn  syihabuddin ibn hajar alhaitami al-makki menutol  280-281 fatawa hadtisiyyah:</span></p>
<p dir="RTL"><span style="color: #000000;">مطلب: في أن البدعة الشرعية لا تكوم إلا ضلالة بخلاف اللغوية</span></p>
<p dir="RTL" align="right"><span style="color: #000000;">Sub bahasan: bahwa bid&#8217;ah syar&#8217;iyyah itu tidak ada kecuali sesat berbeda dengan bid&#8217;ah lughawiyyah.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Lalu dia mengutip sebagian ulama bahwa ucapan Umar &#8220;ni&#8217;matil bid&#8217;ah hadzihi&#8221; itu  dia inginkan sebagai bid&#8217;ah lughawiyyah yaitu apa yang dilakukan tanpa ada missal sebelumnya. Bukan bid&#8217;ah syar&#8217;iyyaah karena bid&#8217;ah syar&#8217;iyyah adalah dhalalah sebagaimana sabda nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia berkata: barang siapa  diantara ulama membagi bid&#8217;ah menjdi  hasanah dan ghairu hasanah maka maksudnya ia sedang membagi bid&#8217;ah secara bahasa. Dan barang siapa mengatakan setiap bid&#8217;ah adalah sesat maka artinya adalah bid&#8217;ah syar&#8217;iyyah.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #0000ff;">5. Bapak katakan:</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Yang saya katakan adalah “seperti membaca sholawat yang disusun oleh kalangan ulama shufi.” Sementara ibnu Mas’ud, Imam Syafi’i bukan ulama sufi, tetapi ulama ahlussunnah, jadi masalahnya jelas berbeda.”</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Mengapa berbeda pak? substansinya kan sama. Hal baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Ketujuh:  </strong><strong>Betul, sama sebagai hal baru tetapi beda sifatnya:</strong></span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Shalawat ibn mas&#8217;ud dan imam syafi&#8217;i sesuai dengan sunnah nabi, artinya tidak menyalahi sedikitpun. Sementara shalawat shufi yang sudah saya contohkan beda; menyalahi syariat, dari sisi pembuatannya, kandungannya, keutamaannya yang diklaim, dan pengamalannya, serta keyakinan pengamalnya tentang shalawat tersebut.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Silakan bandingkan antara shalawat-shalawat itu di makalah saya.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">selamat merenung!</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #0000ff;">Saya sangat menyesal Bapak menjawab masalah ini di sini. Mengapa Bapak tidak langsung menjawab pada saat Dialog saat itu juga? Mengapa pak? bukankah itu akan lebih baik, karena akan ada counter-argument sehingga masalahnya menjadi clear. Mohon kejujuran Bapak: Apakah Diamnya Bapak pada saat itu karena memang bapak tidak menguasai masalah? sebagaimana yang disangkakan oleh artikel di atas?</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Kedelapan</strong>: saya sudah menjelaskan, tetapi mungkin yang terjadi sekarang ini. Saya sudah menjelaskan dengan gambling tetapi anda tidak faham lalu berkeyakinan seolah saya tidak bisa menjawab atau belum bisa menjawab.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Tapi saya yakin, orang seperti anda insyaallah tidak sama dengan  &#8220;anak yang bau kencur&#8221;.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Terima kasih pak. Mohon Bapak memberi penjelasan. Mohon maaf bila ada kata-kata yang membuat Bapak tidak berkenan&#8221;.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Jawab:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;"><strong>Kesembilan</strong>: Sama-sama, saya juga terima kasih kepada Anda yang sopan dan beri&#8217;tikad baik dalam pertanyan-pertanyaan ini. Semoga kita dijadikan sebagai ahli sunnah, pengikut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, salaf shalih, yang konsisten dalam beramal, dan beramar ma&#8217;ruf nahi &#8216;anmil munkar.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="color: #000000;">Aamiin</span></p>
<p style="text-align: right;" dir="LTR"><span style="color: #000000;">9 dzulhijjah 1432 H.</span></p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-1.html' rel='bookmark' title='Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)'>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 1)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html' rel='bookmark' title='Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)'>Dialog Ulama Wahhabi VS Anak Bau Kencur?!! (bag. 2)</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/komentar-manis-bag2.html' rel='bookmark' title='Komentar Manis (bag.2)'>Komentar Manis (bag.2)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/jawaban-komentar-dialog-ulama-wahhabi-vs-anak-bau-kencur-bag-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Wahabi dan Isu Terorisme</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/antara-wahabi-dan-isu-terorisme.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/antara-wahabi-dan-isu-terorisme.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 03:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1408</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari : KORAN REPUBLIKA, 7 OKTOBER 2011 HALAMAN 4 (Klik pada gambar untuk memperbesar) Artikel Terkait: Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/kisah-insyafnya-seorang-ulama-wahabi.html' rel='bookmark' title='Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi'>Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html' rel='bookmark' title='Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)'>Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dikutip dari :<br />
<strong>KORAN REPUBLIKA, 7 OKTOBER 2011</strong><br />
<strong> HALAMAN 4</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/koran_judul.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1409" title="koran_judul" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/koran_judul-300x107.jpg" alt="koran judul 300x107 Antara Wahabi dan Isu Terorisme" width="300" height="107" /></a><span id="more-1408"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/koran_isi.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-1410" title="koran_isi" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/koran_isi-783x1024.jpg" alt="koran isi 783x1024 Antara Wahabi dan Isu Terorisme" width="620" height="810" /></a><br />
(Klik pada gambar untuk memperbesar)</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html' rel='bookmark' title='Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka'>Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/kisah-insyafnya-seorang-ulama-wahabi.html' rel='bookmark' title='Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi'>Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html' rel='bookmark' title='Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)'>Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/antara-wahabi-dan-isu-terorisme.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syiah Di Mata Para Imam Ahlul Bait</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/syiah-di-mata-para-imam-ahlul-bait.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/syiah-di-mata-para-imam-ahlul-bait.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 01:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Ali (imam pertama mereka) Radhiyallahu &#8216;anhu berkata: وسيهلك في صنفان: محب مفرط يذهب به الحب إلى غير الحق، ومبغض مفرط يذهب به البغض إلى غير الحق ، وخير الناس في حالا النمط الاوسط، فالزموه والزموا السواد الاعظم فإن يد الله على الجماعة. Akan binasa tentang aku dua kelompok: (pertama) kelompok yang mencintai secara berlebihan [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/fatwa-para-imam-dan-ulama-umat-islam-perihal-syi%e2%80%99ah.html' rel='bookmark' title='fatwa para imam dan ulama umat Islam perihal Syi’ah'>fatwa para imam dan ulama umat Islam perihal Syi’ah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/aqidah-ahlus-sunnah-tentang-ahlul-bait.html' rel='bookmark' title='Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait'>Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/siapakah-ahlul-bait-itu-bag-2.html' rel='bookmark' title='Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)'>Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>Khalifah Ali (imam pertama mereka) Radhiyallahu &#8216;anhu berkata:</li>
</ol>
<p dir="RTL">وسيهلك في صنفان: محب مفرط يذهب به الحب إلى غير الحق، ومبغض مفرط يذهب به البغض إلى غير الحق ، وخير الناس في حالا النمط الاوسط، فالزموه والزموا السواد الاعظم فإن يد الله على الجماعة.</p>
<p dir="LTR">Akan binasa tentang aku dua kelompok: (pertama) kelompok yang mencintai secara berlebihan sehingga kecintaannya membawa kepada yang tidak benar, dan kelompok yang membenci, yang kebenciannya membawa kepada yang tidak benar. Sebaik-baik manusia adalah yang moderat (tengah/adil) maka ikutilah ia, ikutilah kelompok terbesar (maksudnya waktu itu yaitu para sahabat dan tabi&#8217;in) karena tangan Allah ada di atas jama&#8217;ah.&#8221; (Nahjul Balaghah, 2/8)<span id="more-1399"></span></p>
<p dir="LTR">Kelompok binasa pertama karena kecintaannya yang berlebihan adalah rafidhah. Sesungguhnya cintanya Rafidhah kepada Ali seperti cintanya orang Kristen kepada yesus Isa putra maryam.</p>
<p dir="LTR">Kecintaan yang membawa kesesatan dan kebinasaan!!</p>
<p dir="LTR">Maka ikutilah ahlussunnah yaitu para sahabat dan tabi&#8217;in, kelompok <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >islam</a> terbesar yang menjadi mainstream, yang menjadi warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam al-Quran dan as-Sunnah.</p>
<p dir="LTR">Khalifah Ali juga berkata:</p>
<p dir="RTL">ان معاويه خير لي من هؤلاء الذين يزعمون لي شيعة</p>
<p dir="LTR">&#8220;Sesungguhnya Muawiyah lebih baik bagiku dari pada mereka yang mengaku sebagai syiahku.&#8221; (al-Ihtijaj, 2/290)</p>
<p dir="LTR">Ali juga berkata:</p>
<p dir="RTL">لوددت والله أن معاوية صارفني بكم صرف الدينار بالدرهم فأخذ مني عشرة منكم وأعطاني رجلاً منهم</p>
<p dir="LTR">Saya berharap andai saja Muawiyah tukar menukar dengan saya seperti menukar dinar dengan dirham, sehingga dia mengambil dariku 10 orang dari kamu dan dia memberiku satu orang dari mereka. (Nahjul Balaghah)</p>
<p dir="LTR">Ali Radhiallahu ‘Anhu berkata:</p>
<p dir="RTL">إن أهل إصفهان لا يكون فيهم خمس خصال : السخاوة والشجاعة والامانة والغيرة وحبنا أهل البيت</p>
<p dir="LTR">sesungguhnya penduduk Ashfahan  tidak ada pada diri mereka 5 perkara: dermawan, berani, amanah, cemburu dan mencintai kami ahluil bait.  (biharul anwar 21/301 riwayat 32)</p>
<p dir="LTR">
<ol>
<li>Hasan ibn Ali Radhiallahu ‘Anhu (Imam Kedua) berkata:</li>
</ol>
<p dir="RTL">أرى والله أن معاوية خير لي من هؤلاء يزعمون أنهم لي شيعة ابتغوا قتلي وانتهبوا ثقلي وأخذوا مالي، والله لئن آخذ من معاوية عهداً أحقن به دمي واومن به في أهلي، خير من أن يقتلوني فتضيع أهل بيتي وأهلي</p>
<p dir="LTR">&#8220;menurutku demi Allah, Mu&#8217;awiyyah itu lebih baik bagiku dari pada mereka yang mengaku menjadi syiahku, mereka ingin membunuhku, merampok barang-barangku dan merampas hartaku, demi Allah kalau aku mengambil perjanjian dari Muawiyah agar aku bisa melindungi darahku dan mengamankan keluargaku itu lebih baik dari para mereka (para syiah) itu membunuhku dan menelantarkan ahli baitku dan istrikuu.&#8221; (al-Ihjtijaj litthabarsi 2/290)</p>
<ol>
<li>Imam al-Baqir Radhiallahu &#8216;Anhu berkata:</li>
</ol>
<p dir="RTL">لو كان الناس كلهم لنا شيعة لكان ثلاثة أرباعهم لنا شكاكاً والربع الآخر أحمق &#8220;</p>
<p dir="LTR">&#8220;Seandainya semua manusia adalah syiah (pendukung) bagi kami niscaya 3/4 dari mereka ragu-ragu pada kami dan 1/4 sisanya adalah tolol.&#8221; (sumber: Rijal al-Kasysyi, h. 179)</p>
<ol>
<li>Imam Ja&#8217;far as-Shadiq berkata:</li>
</ol>
<p dir="RTL">ما أنزل الله من آية في المنافقين إلا وهــي في من ينتحـــل التشيع</p>
<p dir="LTR">
Tidak ada ayat satupun yang Allah turunkan tentang orang munafiq melainkan ia ada pada orang yang bermadzhab tasyayyu&#8217;&#8221; (Rijal Kasysyi hal. 154; ungkapan yang sama diriwayatkan dari abul hasan dalam Raijal Kasysyi hal. 254))</p>
<p dir="LTR">Imam Ja&#8217;far juga berkata:</p>
<p dir="RTL">إن ممن ينتحل هذا الأمــر ليكـذب حتى إن الشيطان ليحتاج إلى كذبه</p>
<p dir="LTR">Sesungguhnya diantara orang yang meyakini perkara ini (yaitu bertasyayyu&#8217;) melakukan dusta hingga setan saja perlu kepada kedustaannya.&#8221; (Al-Rawdhah minal Kafi hal 212)</p>
<p dir="LTR">Ja&#8217;far as-Shadiq rahimahullah berkata:</p>
<p dir="RTL">إن ممن ينتحل هذا الأمر لمن هو شرٌّ من اليهود والنصارى والمجوس والذين أشركوا&#8221;</p>
<p dir="LTR">sesungguhnya diantara orang yang mengikuti ini sebagai budaya ada yang lebih jahat dari yahudi, nashrani, orang majusyi dan orang-orang yang syirik&#8221; (Rijal al-Kasysyi 252)</p>
<ol>
<li>Imam abul Hasan Musa ibn Ja&#8217;far al-Kazhim (imam ketujuh), Radhiallahu ‘Anhu berkata;</li>
</ol>
<p dir="RTL">&#8221; لو ميزت شيعتي لم أجدهم إلا واصفة ولو امتحنتهم لما وجدتهم إلا مرتدين ولو تمحصتهم لما خلص من الألف واحد ولو غربلتهم غربلة لم يبق منهم إلا ما كان لي ، إنهم طال ما اتكؤا على الأرائك ، فقالوا : نحن شيعة علي ، إنما شيعة علي من صدق قوله فعله&#8221; .</p>
<p dir="LTR">&#8220;Seandainya aku bedakan (aku pilah-pilah) syiahku niscaya aku tidak menemukan mereka kecuali  <em>washifah</em> (namanya/sifatnya saja- wallahu a&#8217;lam) , dan kalau aku uji niscaya aku tidak mendapati mereka kecuali murtad, dan kalau saya benar-benar menyeleksi mereka niscaya tidak ada yang lolos dari seribu orang seorangpun, dan kalau aku ayak (saring) mereka niscaya tidak tersisa dari mereka kecuali apa yang untukku, sesungguhnya mereka cukup lama duduk di kursi goyang (ongkang-ongkang kaki), lalu mereka berkata: kami adalah syiah &#8216;Ali, sesungguhnya syiah &#8216;Ali adalah orang yang (jujur) ucapannya sesuai dengan kelakuannya.&#8221; (sumber: al-Rawdhah minal-Kafi lilkulaini, 8/228)</p>
<p dir="LTR">Benar sekali, Ali mencintai Abu Bakar Umar tetapi syiah memusuhi keduanya.</p>
<p dir="LTR">Ali menghancurkan kuburan tetapi syiah malah membangun kuburan.</p>
<p dir="LTR">Ali tidak mut&#8217;ah malah syiah mut&#8217;ah.</p>
<p dir="LTR">Ali tidak pernah berkeyakinan bahwa dirinya ditunjuk jadi khalifah Rasul tapi syiah mengkafirkan Abu Bakar dan Utsman dengan alasan katanya mereka merampas hak khilafah milik Ali.</p>
<p dir="LTR">Ali mencintai Aisyah dan Hafshah tapi syiah malah melaknat. Nau&#8217;udzu billah min dzalik</p>
<p dir="LTR">Dan orang syiah mengundang imam Husein ke Kufah  untuk dibaiat ternyata mereka bunuh. Dan kini mereka meratap pura-pura menangis untuk menuntut balas. Padahal mereka tidaklah menuntut balas kecuali pada diri mereka sendiri.</p>
<p dir="RTL">
<ol>
<li>Imam Ridha (imam kedelapan) Radhiallahu &#8216;Snhu berkata:</li>
</ol>
<p dir="RTL">إن ممن ينتحل مودتنا أهل البيت من هو أشد فتنة على شيعتنا من الدجال</p>
<p dir="LTR">Sesungguhynya diantara orang yang mengklaim (bertasyayyu&#8217;) mencintai kami ahlul bait ada orang yang lebih dahsyat fitnahnya atas syiah kami dari pada Dajjal.&#8221; (sumber: shifat as-Syi&#8217;ah karya as-Shaduq)</p>
<p dir="LTR">Sumber:</p>
<p dir="LTR">http://www.almanhaj.com/vb/showthread.php?t=12533&amp;s=edf75f10e3e9d40080b7c96ecbf05d76</p>
<p dir="LTR">http://www.d-alsonah.com/vb/showthread.php?402-%</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.lahdah.org/vb/t60977.html">http://www.lahdah.org/vb/t60977.html</a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=97526">http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=97526</a></p>
<p dir="RTL">
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/fatwa-para-imam-dan-ulama-umat-islam-perihal-syi%e2%80%99ah.html' rel='bookmark' title='fatwa para imam dan ulama umat Islam perihal Syi’ah'>fatwa para imam dan ulama umat Islam perihal Syi’ah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/aqidah-ahlus-sunnah-tentang-ahlul-bait.html' rel='bookmark' title='Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait'>Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/siapakah-ahlul-bait-itu-bag-2.html' rel='bookmark' title='Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)'>Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/syiah-di-mata-para-imam-ahlul-bait.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riwayat-Riwayat Syiah yang Lucu dan Tragis, Mengundang Tangis Bercampur Tawa</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-syiah-yang-lucu-dan-tragis-mengundang-tangis-bercampur-tawa.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-syiah-yang-lucu-dan-tragis-mengundang-tangis-bercampur-tawa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 02:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1388</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Divisi Ilmiah www.alburhan,com Diterjemah oleh : Ustadz Agus Hasan Bashori Lc,M.Ag. Pemikiran atau madzhab apapun jika  abecedenya dan prinsip-prinsipnya tidak bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulillah yang suci, dan tidak mengambil cahaya penerang dari keduanya, tidak mengambil dari makna-maknanya maka pada dasarnya pemikiran dan madzhab itu menyimpang dari kebenaran, terjatuh dalam kesalahan yang tercela, [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-sejarah-yang-menyebut-kesalahan-sahabat-nabi.html' rel='bookmark' title='Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi'>Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/download-kitab-kitab-yang-membantah-syiah-imamiyyah.html' rel='bookmark' title='Download kitab-kitab yang membantah Syiah Imamiyyah'>Download kitab-kitab yang membantah Syiah Imamiyyah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html' rel='bookmark' title='Keadilan untuk Orang Syiah'>Keadilan untuk Orang Syiah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Divisi Ilmiah www.alburhan,com</strong></p>
<p align="center"><strong>Diterjemah oleh : Ustadz Agus Hasan Bashori Lc,M.Ag.<br />
</strong></p>
<p>Pemikiran atau madzhab apapun jika  abecedenya dan prinsip-prinsipnya tidak bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulillah yang suci, dan tidak mengambil cahaya penerang dari keduanya, tidak mengambil dari makna-maknanya maka pada dasarnya pemikiran dan madzhab itu menyimpang dari kebenaran, terjatuh dalam kesalahan yang tercela, dan mendatangkan hal-hal yang tidak bisa diterima akal dan pikiran. Rabb kita telah memerintahkan kita  apa yang bermanfaat bagi ikiita, dan mengajari kita apa yang berguna bagi kita, memerintahkan kita untuk ittiba&#8217; dan melarang kita dari ibtida&#8217;, mendorong kita untuk berpegangan dengan al-Qur`an dan sunnah dan telah menjelaskan jalan surga kepada kita.<span id="more-1388"></span></p>
<p>Akan tetapi ada kaum-kaum yang menolak kecuali memperturutkan hawa nafsu mereka, tunduk kepada tujuan dan rencana mereka, patuh kepada kemauan mereka dan mengikuti angan-angan mereka, sehingga mereka sengaja membelokkan agama, mendatangkan apa yang tidak lurus dalam masalah dunia dan agama, mereka membuat-buat kedustaan, mengarang kebohongan, dan mereka saling menyiarkan hal tersebut karena sombong dan tertipu.</p>
<p>Inilah yang akan kita temukan dalam sebagian riwayat-riwayat ciptaan Rafidhah dan diketengahkan oleh kitab-kitab syiah imamiyah itsnay asyriyyah, dari hal-hal yang tidak bisa diterima oleh akal dan tidak dibenarkan oleh agama, tidak diridhai oleh muslim dan tidak dipercaya oleh orang cerdik.</p>
<p>Kami akan mengemukakan sebagian riwayat saja dengan menyebut sumbernya dan referensinya dalam kitab-kitab mereka, yang kita tidak mendapatkan gelar yang pas selain &#8220;lucu, mengenaskan&#8221; lucu dalam penyusunannya, pembuatannya, gubahannya dan khayalan para pembuatnya, menjadikan seseorang menangisi orang-orang yang diberi akal pikiran oleh Allah dan dianugerahi kecerdasan kemudian membenarkannya (percaya), meyakini dan megimaninya tanpa meneliti atau mengkonfirmasi sanadnya (pembawa berita) dan matannya (isi berita), tanpa mau menimbang dengan timbangan yang hakiki yaitu kitabullah dan sunnah Rasul-Nya yang terpercaya.</p>
<p>Abu Thalib Menyusuhi Nabi Dan Husen Menyusu Jempol Nabi !!</p>
<p>Terah diriwayatkan dalam al-Ushul Minal Kafi dari Ja&#8217;far bahwa dia berkata:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">[لما ولد النبي صلى الله عليه وآله  مكث أياماً ليس له لبن، فألقاه أبو طالب على ثدي نفسه، فأنزل الله فيه لبناً، فرضع منه أياماً، حتى وقع أبو طالب على حليمة السعدية فدفعه إليها].</p>
<p>&#8220;Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan, dia tinggal beberapa hari tanpa ada ASI baginya, maka abu thalib melemparkannya pada susunya sendiri, maka Allah menurunkan air susu padanya dan di menyusu darinya selama beberapa hari, hingga abu thalib mendapatkan Halimah as-sa&#8217;diyyah lalu dia menyerahkannya kepadanya.&#8221; (lihat Kitab Ushul  minal Kafi, kitab al-Hujjah juz 1/halaman 458, cetakan Teheran.)</p>
<p>Hal serupa diriwayatkan berkaitan dengan Husain Radhiallahu ‘Anhu yang mana mereka berkata:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">لم يرضع الحسين من فاطمة عليها السلام ولا من أنثى، كان يؤتى به النبي فيضع إبهامه في فيه فيمص منها ما يكفيه اليومين والثلاثة&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Husain tidak menyusu dari Fathimah ‘Alaihi Salam dan tidak dari seorang wanita, dia didatangkan pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu beliau meletakkan jempol tangannya di mulutnya maka iapun  menyedot darinya apa yang bisa mecukupinya selama dua hari dan tiga hari….(Al-Ushul Minal Kafi juz 1/h. 465)</p>
<p>Cincin Di Pintu Surga Bersuara Dan Berkata: Wahai Ali!&#8221;</p>
<p>Diantara ghuluw mereka pada imam Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu adalah mereka meriwayatkan dari Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katanya beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">[إن حلقة باب الجنة من ياقوتة حمراء على صفائح الذهب، فإذا دقت الحلقة على الصحفية طنت وقالت: يا علي].</p>
<p>Sesungguhnya halaqah (Lingkaran besi) di pintu surga itu dari yaqut (batu delima) merah  di atas piring-piring emas, jika halaqah di atas piring itu diketuk maka akan bersuara dan berkata: wahai Ali!&#8221; Lihat kitab Rawdhatul wa&#8217;izhin karya al-Fattal juz 1 hlaman 111 cetakan Iran.</p>
<p>Salah seorang syiah kontemporer berkata: Kalau bukan karena pedang ibnu Muljam niscaya Ali ibn Abi Thalib termasuk orang yang kekal di dunia. Lihat kitab Ashl al-Syiah wa ushuluha halaman 112 cetakan Beirut, 1960 M.</p>
<p>Sungguh ini ini adalah kedustaan nyata dan kebohongan di siang bolong. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">. ((كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ)) [آل عمران: 185]،</p>
<p>tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Ali Imran 185)</p>
<p>Dan Dia berfirman tentang manusia terbaik secara mutlak:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">((وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ)) [الأنبياء:34]..</p>
<p>Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? (QS. Al-Anbiya`: 34)</p>
<p>Fatimah Itu Berasal Dari Apel Dan Imam Ali Dari Delima!</p>
<p>Diantara kedustaan mereka yang melalui itu mereka ingin ghuluw dan kultus kepada orang yang mereka inginkan adalah apa yang mereka riwayatkan atas nama al-Baqir Zaenal Abidin, bahwa ia berkata:</p>
<p>Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : sesungguhnya anda mencadari fatimah dan menyertainya terus serta mendekatkannya kepada Anda, anda melakukan apa yang tidak anda lakukan pada putri anda yang lain? Maka beliau menjawab:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">إن جبرئيل عليه السلام أتاني بتفاحة من تفاح الجنة فأكلتها، فتحولت ماء في صلبي، ثم واقعت خديجة فحملت بفاطمة، فأنا أشتم بها رائحة الجنة].</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Jibril ‘Alaihi Sallam datang kepada saya dengan membawa sebutir apel dari apel surga maka saya memakannya, laluapel itu berubah menjadi air di tulang rusukku, kemudian aku mengumpuli Khadijah lalu dia mengadung fatimah, maka saya mencium padanya aroma surga!&#8221; Lihat Ilal as-Syarai&#8217; juz 1 hal. 183.</p>
<p>Ketika fatimah itu demikian maka Ali harus sepadan dengannya, akhirnya mereka menggubah suatu cerita tentang kelahiran Ali yang menyerupainya, yaitu abu Thalib datang membawa nampan yang berisi buah-buahan surga; ruthab dan delima, lalu abu thalib mengambil satu butir delima lalu bangkit dalam keadaan senang sejak saat itu hingga pulang ke rumahnya, dia terus memakannya dan berubahlah menjadi air di tulang rusuknya lalu dia mengumpuli Fatimah binti Asad maka ia mengandung Ali. Lihat kitab Rawdhatul Wa&#8217;izhin, al-Fattal, juz 1, hal. 111.</p>
<p>Pernahkan anda mendengar tentang Khirqail?!</p>
<p>Diantara yang lucu adalah riwayat mereka dari zaenal abiding ali ibnul husain bahwa dia berkata:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">[إن لله ملكاً يقال له: خرقائيل له ثمانية عشر ألف جناح، ما بين الجناح إلى الجناح خمسمائة عام].</p>
<p>Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang disebut khirqail yang memiliki 18.000 (delapan belas ribu) sayap, jarak antara dua sayap adalah 500 tahun.&#8221; Lihat kitab al-Furqan juz 2. hal. 442, cet. Qumm Iran.</p>
<p>Namun sangat disayangkan kita tidak tahu apa tugas malaikat ini dan dimana ada sebutan malaikat ini di luar kitab syiah!!</p>
<p>Gajah… beruang… kelinci….  Dan kelelawar……</p>
<p>Masing-masing hewan ini memiliki kisah dan sejarah serta fase-fase yang tidak pernah ada di buku-buku di dunia ini dan tidak pernah disebut dalam syariat manapun di alam ini selain pada syiah. Mari kita perhatikan bersama apa yang dihasilkan oleh rajutan akal mereka. Kitab-kitab mereka meriwyatkan: ibnu Babawaih al-Qummi menyebutkan dari Abul Hasan bahwa ia ditanya tentang hewan yang dirubah bentuknya (dikutuk), dia berkata:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">[فأما الفيل فإنه مسخ؛ لأنه كان زناء لوطياً، ومسخ الدب؛ لأنه كان رجلاً ديوثاً، ومسخت الأرنب؛ لأنها كانت امرأة تخون زوجها ولا تغتسل من حيض ولا جنابة، ومسخ الوطواط؛ لأنه كان يسرق تمور الناس، ومسخ السهيل؛ لأنه كان عشاراً باليمن، ومسخت الزهرة؛ لأنها كانت امرأة فتن بها هاروت وماروت، وأما الجري والضب ففرقة من بني إسرائيل، وأما العقرب فإنه رجلاً نماماً، وأما الزنبور فكان لحاماً يسرق في الميزان]..</p>
<p>Adapun gajah maka dia dikutuk karena banyak berzina dan homo. Sedang beruang dikutuk karena ia adalah laki-laki yang tidak pencemburu (rela dengan kehinaan pada keluarganya). Sedangkan kelinci ia dulunya adalah wanita yang mengkhianti suaminya (berselingkuh), tidak mandi dari haidh dan jinabah. Adapun kelelawar maka karena ia mencuri kurma manusia.</p>
<p>Suhail dikutuk karena ia pemungut pajak di Yaman, dan dikutuk  Venus karena  dia adalah seorang wanita yang karenanya Harut dan Marut tergoda, adapun ikan al-Jaryu (sejenis ikan lele) dan kadal padang pasir maka berasal dari anak-anak Israel, dan kalajengking itu pria penggunjing dan Tawon itu penjual daging yang mencuri timbangan.] .. Riwayat ini bisa anda dapatkan di kitab mereka Ilal as-Syarai&#8217; halaman 485-486 cetakan Najaf.</p>
<p>Ini setetes dari lautan, sekedar contoh kebohongan dan kedustaan yang dipasarkan oleh pemikiran syiah imamiyyah. Kalau kita kumpulkan tentu menjadi panjang, maka kami cukupkan dengan beberapa riwayat saja..</p>
<p>http://www.alburhan.com/articles.aspx?id=4051&#038;selected_id=-4052&#038;page_size=5&#038;links=False</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-sejarah-yang-menyebut-kesalahan-sahabat-nabi.html' rel='bookmark' title='Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi'>Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/download-kitab-kitab-yang-membantah-syiah-imamiyyah.html' rel='bookmark' title='Download kitab-kitab yang membantah Syiah Imamiyyah'>Download kitab-kitab yang membantah Syiah Imamiyyah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html' rel='bookmark' title='Keadilan untuk Orang Syiah'>Keadilan untuk Orang Syiah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-syiah-yang-lucu-dan-tragis-mengundang-tangis-bercampur-tawa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 05:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;MEREKA MEMALSUKAN KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK&#8221; Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi Bagian (1) Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.   Pendahuluan : Bismillahirrahmanirrahim. Buku ini adalah buku ke-2 dari Syaikh Idahram -yang bagi kami ia masih bersifat  majhul al-hal (tidak diketahui jatidirinya)- terkait dengan apa yang ia sebut sebagai trilogi data dan fakta penyimpangan salafi [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bukutamu' rel='bookmark' title='Buku Tamu'>Buku Tamu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/buku-den-syiah.html' rel='bookmark' title='Buku Gen Syi&#8217;ah'>Buku Gen Syi&#8217;ah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/pengantar-buku-gen-syiah.html' rel='bookmark' title='Pengantar Buku Gen Syi’ah'>Pengantar Buku Gen Syi’ah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>&#8220;MEREKA MEMALSUKAN</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK&#8221;</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Bagian (1)</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"><strong>Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.</strong></p>
<p dir="LTR" align="center"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1369" title="1" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/1-197x300.jpg" alt="1 197x300 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="197" height="300" /></a></p>
<p dir="LTR"><strong>Pendahuluan :</strong></p>
<p dir="LTR"><em>Bismillahirrahmanirrahim</em>.<br />
Buku ini adalah buku ke-2 dari Syaikh Idahram -yang bagi kami ia masih bersifat  <em>majhul al-hal</em> (tidak diketahui jatidirinya)- terkait dengan apa yang ia sebut sebagai trilogi data dan fakta penyimpangan salafi wahabi. Sebelumnya adalah buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; dan Buku ke-3 dengan judul yang lebih heboh lagi: &#8220;Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi&#8221;.<span id="more-1368"></span></p>
<p dir="LTR">Buku pertama sudah kami soroti sedikit mengenai bahayanya yang sangat luas, dalam satu makalah yang kami beri judul &#8220;<strong>Waspada! Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham Rafidhah (Syi’ah Iran)&#8221;. </strong>Silakan<strong> </strong>baca di<strong> <a href="../../../../../waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html">http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html</a> </strong>Walaupun sebenarnya banyak kesalahan yang ada di dalamnya<strong>,</strong> namun yang sedikit itu kiranya sudah cukup bagi orang ahlussunnah untuk mengetahui mutu buku itu dan untuk mewaspadai buku dan para pengusungnya.</p>
<p dir="LTR">Sebenarnya kami tidak suka mengomentari tulisan orang lain, namun karena bagian dari kewajiban kami dalam memberi nasehat kepada umat, maka kami pun harus menulis komentar terhadap buku kedua ini.</p>
<p dir="LTR">Dalam promosinya di toko buku online  mereka menulis:</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Buku menjadi sangat berharga dan penting. Ia menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan.</em> Lalu, <em>apa jadinya jika buku-buku para ulama yang mewarisi ilmu dan petunjuk itu dikotori, diselewengkan, bahkan dipalsukan? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?&#8221;</em></span><em></em></p>
<p dir="LTR">Kita perlu bertanya kritis, apa benar buku ini menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan?! Lalu apa jadinya jika buku koreksian terhadap faham salafi ini &#8220;diselewengkan&#8221; dan berisi banyak fitnah? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?</p>
<p dir="LTR">Itu baru pertanyaan. Mohon para pembaca sabar sebentar, <em>insyaallah</em> akan kita buktikan bersama.</p>
<p dir="LTR"><em><br />
</em>Lalu lanjutan dari promosi itu berbunyi:</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Barangkali Anda terperanjat, kasus-kasus penyelewengan Salafi Wahabi dalam hal amanah ilmiah ini sangat banyak dan beragam</em><em>,</em> sebagaimana yang -insya&#8217;Allah- akan dikupas dalam buku ini, seperti: pemusnahan dan pembakaran buku; sengaja meringkas, mentahkik, dan mentakhrij kitab-kitab hadis yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyikan hadis-hadis yang tidak mereka sukai; menghilangkan hadis-hadis tertentu yang tidak sesuai dengan faham mereka; <em>memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya;</em> mengarang-ngarang hadits dan pendapat ulama; memerintahkan ulama mereka untuk menulis suatu buku, lalu mengatasnamakan buku itu dengan nama orang lain; tindakan intimidasi dan provokasi; membeli manuskrip; menyogok penerbit; sampai kepada pencurian buku-buku induk dan manuskrip untuk dihilangkan sebagian isinya, atau dimusnahkan semuanya.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><em>Masyaallah</em>, benarkah kita akan terperanjat setelah membaca buku ini?!</p>
<p dir="LTR">Saya semakin penasaran untuk segera menelaah buku ini, karena ingin tahu jawabannya.</p>
<p dir="LTR">Kemudian, kalau kita perhatikan di bagian atas sampul depan maka akan terpampang dua nama orang besar, yaitu bapak <strong>Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA. (Ketua Umum Pengurus Besar NU)</strong> dan <strong>Prof. DR. Azyumardi Azra, MA. M.PHIL (Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)</strong>. <em>Masyaallah</em>, dua nama tokoh nasional yang cukup terkenal dan berkedudukan. Namun apakah sudah menjamin bahwa buku yang diberi pengantar oleh tokoh-tokoh besar ini isinya bagus, benar dan bermutu?!</p>
<p dir="LTR"><em>Insyaallah</em> sebentar lagi kita akan mengetahui jawabannya.</p>
<p dir="LTR">Lalu di sampul belakang terpampang 5 foto tokoh yang dimintai mendukung buku tersebut. Coba perhatikan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1370" title="2" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/2.jpg" alt="2 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="317" height="480" /></a></p>
<p dir="LTR">Salah seorang mereka, nomor ke-3 (yaitu <strong>Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani M.A.</strong>)  menulis: <em>&#8220;<span style="background-color: #ffff00;">Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.&#8221;</span></em><em> </em></p>
<p dir="LTR">Benarkah demikian? Apakah kita juga merinding setelah membacanya? Mari kita buktikan bersama sebentar lagi.</p>
<p dir="LTR">Sementara <strong>KH. Wahfiudin, M.B.A</strong> (no. 5)  menulis: <span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan, memuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah.&#8221;</em></span></p>
<p dir="LTR">Benarkah buku ini dahsyat? Benarkah kita akan tercengang dibuatnya? Benarkah kupasannya akurat dan ilmiah?</p>
<p dir="LTR">Saya yakin pembaca semakin tidak sabar untuk membuktikannya.</p>
<p dir="LTR">Dalam membuktikan kali ini kita cukup melihat mutu terjemahan dan kesimpulannya. Sebab hal itu cukup untuk mengenali tingkat intelektualitas, keilmuan, ketakwaan dan kejujuran seseorang. Jika terjemahan salah dan kesimpulan menyesatkan karena berbalik menjadi menfitnah maka hal itu menjadi <strong><em>aurat mughallazhah</em></strong> alias kemaluan besar yang seharusnya ditutupi, bukan malah diumbar dan menelanjangi diri sendiri di hadapan publik.</p>
<p dir="LTR">Sekarang saatnya kita mulai, dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala saya katakan:</p>
<p style="text-align: center;" dir="LTR"><em>Bismillahirrahmanirrahim</em></p>
<p dir="LTR"><strong>Aurat pertama:</strong></p>
<p dir="LTR">Di halaman 49-50 mereka menulis:</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;"><strong>Perintah untuk membakar Buku-Buku dan <span style="text-decoration: underline;">memalsukannya</span></strong></span></p>
<p dir="LTR">Berikut Scan buku tersebut:</p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1371" title="3" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/3.jpg" alt="3 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="369" /></a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1372" title="4" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/4.jpg" alt="4 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="335" height="600" /></a></p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL"><strong>ولا نأمر باتلاف شيء من المؤلفات</strong><strong> </strong><strong>أصلاً، إلاّ ما اشتمل على ما يوقع الناس في الشرك، كروض الرياحين، أو يحصل</strong><strong> </strong><strong>بسببه خلل في العقائد، كعلم المنطق، فإنه قد حرمه جمع من العلماء، على أنا</strong><strong> </strong><strong>لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه</strong><strong> </strong><strong>؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله،</strong><strong> </strong><strong>وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك</strong></p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Perhatikan terjemahannya dalam buku ini:</strong></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/14.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1373" title="14" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/14.jpg" alt="14 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="198" /></a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/15.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1374" title="15" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/15.jpg" alt="15 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="100" /></a></p>
<p dir="LTR"><strong>Bandingkan dengan terjemahan kami:</strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Dan kami tidak memerintahkan untuk menghilangkan (memusnahkan) sesuatu pun dari kitab-kitab itu sama sekali, kecuali yang berisi sesuatu yang menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan, seperti <em>Raudh al-Rayyahiin</em>, atau apa yang bisa menyebabkan kerusakan dalam akidah, seperti ilmu manthiq, karena ia telah diharamkan oleh sejumlah ulama, <span style="background-color: #ffff00;">itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu</span>, dan seperti <em>Dalail al-Khairat</em>, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. <span style="background-color: #ffff00;">Dan <em>apa yang terjadi <span style="text-decoration: underline;">secara kebetulan</span> bagi sebagian orang baduwi</em><em> </em></span>dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya, padahal ia dan yang lainnya sudah <em><span style="text-decoration: underline; background-color: #ffff00;">dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari dan memeriksa, atau juga membakar-bakar.&#8221; </span>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p dir="LTR"><strong><br />
</strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Perhatikan <em>aurat</em> mereka:</strong></p>
<ol start="1">
<li dir="LTR">Dalam judul bahasan mereka tulis: &#8220;dan memalsukannya&#8221;.</li>
</ol>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1375" title="5" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/5.jpg" alt="5 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="42" /></a></p>
<p dir="LTR">Begitu pula dalam keterangan di bawahnya. Maka, kita yang berakal ini perlu bertanya, <strong>mana ucapan Syaikh Muhammad yang menyuruh pengikutnya untuk memalsukan buku-buku para ulama?!!</strong></p>
<p dir="LTR">Kalau demikian, siapa yang melakukan kebohongan publik?!</p>
<p dir="LTR">Saya sangat khawatir banyak pembaca berkhusnuzhan kepada para tokoh yang begitu meyakinkan mendukung buku ini sehingga menelan begitu saja apa yang ada di dalamnya meskipun itu dusta. <em>Astaghfirullah</em>. Semoga Allah mengampuni mereka dan melindungi umat <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> dari orang-orang alim yang membawa fitnah.</p>
<ol start="2">
<li dir="LTR">Kalimat &#8220;ajaran yang membuat manusia menjadi musyrik&#8221; diberi catatan kaki sebagai berikut: musyrik versi salafi wahhabi adalah orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul, tabarruk, peringatan maulid nabi, dzikir bersama, ziarah ke makam orang shaleh, dan tidak sependapat dengan mereka. Karena menurut mereka, umat Islam yang tidak mengkafirkan orang-orang yang mereka (salafi wahabi) kafirkan maka dia juga adalah kafir, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam buku mereka; Muhammd ibn Abdil Wahhab dkk: ad-<em>Durar as-Saniyyah</em>, op.cit, pada jilid 9 h. 289.</li>
</ol>
<p dir="LTR"> <img class="aligncenter size-full wp-image-1376" title="16" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/16.jpg" alt="16 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="107" /></p>
<ul>
<li>Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga <strong>Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki</strong> pun menggelarinya dengan sebutan <em>&#8220;Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin&#8221;</em> (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya <em>Mafahim Yajib an-Tushahhah</em><a title="" href="#_ftn1">[1]</a> halaman 202:</li>
</ul>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1377" title="6" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/6.jpg" alt="6 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="389" height="600" /></a></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/17.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-1404" title="17" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/17.png" alt="17 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="487" height="81" /></a></p>
<p dir="LTR">&#8220;Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Nah, siapakah yang yang benar di antara keduanya? Jika Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki benar dalam pernyataannya bahwa Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah imam tauhid dan kepala ahli tauhid berarti Syaikh Idahram dan pendukung bukunya adalah &#8220;<em>jahil</em>&#8220;. Ataukah sebaliknya…?!</p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">Lalu bandingkan dengan gelar yang diberikan oleh Syaikh Idahram dalam buku pertamanya, halaman 31, ia menjuluki Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai &#8220;ustadz kampung&#8221;!! Maka siapakah yang alim dan siapakah yang jahil? Syaikh Idahram yang masih <em>majhul</em> itu, yang menerjemah salah-salah sampai terbelok 180 derajat? Ataukah Sayyid Muhammad al-Maliki?!!</span> Saya serahkan kepada pembaca untuk menyimpulkan.</p>
<ul>
<li>Maka dari itu, Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab tidak mengkafirkan <em>tawassul</em>.</li>
</ul>
<p dir="LTR">Perhatikan ucapan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang dikutip oleh Sayyid al-Maliki, yang di sana Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab mengikuti jumhur bahwa tawassul dengan orang shalih itu makruh dan ini termasuk masalah <em>ijtihadiyyah</em>: berikut <em>scan</em> buku Sayyid Muhammad Alwi, 149:</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1378" title="7" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/7.jpg" alt="7 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="212" /></a></p>
<p dir="LTR">Begitu pula beliau tidak mengkafirkan dzikir bersama, peringatan maulid nabi, ziarah ke makam orang shaleh apalagi orang yang tidak sependapat dengan mereka. Lalu di manakah mereka dianggap kafir oleh beliau? Di manakah beliau mengkafirkan itu semua?!! Kapan dan dimana….?</p>
<p dir="LTR">Nah, siapakah yang memelintir ucapan, menfitnah, memalsukan maksud dan menyesatkan pembaca?!!</p>
<p dir="LTR">Dengan demikian, maka apakah buku ini bisa menjadi <strong>sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan??!</strong> Kata dalam bahasa Arab <em>&#8220;Haihaata haihat!!!</em> Yang ada malah sebaliknya, umat Islam harus diperingatkan dari buku yang berisi fitnah seperti ini.</p>
<p dir="LTR">Dahsyat bukan?! Apakah Anda percaya?!! Tetapi inilah kenyataan buku Syaikh Idahram-2 ini.</p>
<ul>
<li>Kata Sayyid Muhammd Alwi al-Maliki: Syaikh Muhammd ibn Abdul Wahhab yang menjadi <em>imamut tauhid wa ra&#8217;sul muwahhidin</em> itu sangat mengingkari orang yang menuduh dan menfitnah beliau telah mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang shalih.  Sayyid Muhammad al-Maliki berkata: (scan hal 150)</li>
</ul>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/81.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1380" title="8" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/81.jpg" alt="81 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="172" /></a></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">&#8220;Syaikh Muhammd ibn Abdul Wahhab berlepas diri dari orang yang mengkafirkan orang yang bertawassul.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">Telah datang dari Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam suratnya yang ditujukan kepada penduduk Qashim, protesnya/ keingkarannya yang keras terhadap orang yang menisbatkan kepada beliau pengkafiran terhadap orang yang bertawassul dengan orang shalih. Beliau berkata:</span></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">&#8220;Sesungguhnya Sulaiman ibn Suhaim telah berdusta atas nama saya hal-hal yang tidak pernah aku ucapkan, bahkan kebanyakan tidak pernah terlintas di benak saya, diantaranya: -ia mengatakan- saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan orang shalih, dan katanya saya mengkafirkan al-Bushiri karena ucapannya &#8220;Wahai manusia yang paling mulia&#8217; dan katanya aku membakar buku Dalail Khairat.</span></p>
<p dir="LTR"><span style="background-color: #ffff00;">Jawaban saya tentang masalah-masalah ini adalah saya katakan: &#8220;Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang agung.&#8221;</span></p>
<p dir="LTR">Pembaca sekalian, kedustaan yang dilakukan oleh Sulaiman ibn Suhaim kini dilakukan oleh Syaikh Idahram dan semua orang yang mendukung bukunya!!!</p>
<p dir="LTR">Tidakkah Anda saksikan, siapakah yang berdusta di depan publik?!!</p>
<p dir="LTR">Apakah Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang berjuluk <em>imam at-tauhid dan pemimpin ahli tauhid</em>, ataukah penulis buku yang tidak dikenal jati dirinya ini?!</p>
<p dir="LTR">Saya serahkan kepada pembaca untuk menilai dengan adil dan jujur.</p>
<p dir="LTR">Waspadalah, jangan sampai Anda disimpangkan oleh hawa nafsu!!</p>
<p dir="LTR"><strong>Satu lagi surat Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang penting kata Sayyid adalah di hal 84, silakan Anda merujuk ke kitab aslinya.</strong></p>
<p dir="LTR"><strong>Kemudian kalimat Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab: </strong></p>
<p dir="LTR"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL">على أنا لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه ؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله، وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك</p>
<p dir="LTR"><strong>diartikan :</strong></p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1381" title="9" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/9.jpg" alt="9 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="102" /></a></p>
<p dir="LTR"> -          <strong>Bandingkan dengan terjemahan kami:</strong></p>
<p dir="LTR"><span style="text-decoration: underline; background-color: #ffff00;">&#8220;Itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu,</span> dan seperti <em>Dalail al-Khairat</em>, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. <span style="text-decoration: underline; background-color: #ffff00;">Dan <em>apa yang terjadi secara kebetulan bagi sebagian orang Baduwi </em>dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya,</span> padahal ia dan yang lainnya sudah <span style="background-color: #ffff00;"><em><span style="text-decoration: underline;">dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari, memeriksa dan membakar-bakar kitab).&#8221;</span></em></span><em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<p dir="LTR"><em><span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></em></p>
<p dir="LTR">Wahai pembaca yang dimuliakan Allah dengan diberi akal, ilmu dan iman!</p>
<p dir="LTR">Siapakah yang memalsukan berita? Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah orang yang melarang membakar kitab tetapi diberitakan oleh orang yang menamakan dirinya sebagai Syaikh Idahram bahwa beliau memerintah dan bersepakat dengan orang Baduwi untuk membakar buku orang Thaif?!!</p>
<p dir="LTR">Sungguh kebohongan besar di depan publik di siang bolong. Padahal judul buku mereka tidak <em>sungkan-sungkan</em> berbunyi:</p>
<p dir="LTR" align="center"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1382" title="10" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg" alt="10 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="292" /></a></p>
<p dir="LTR"> Saya khawatir ini termasuk dalam ujaran: &#8220;maling berteriak maling&#8221;.</p>
<ul>
<li><strong>Setelah Anda tahu kesalahan penulis buku ini dalam menerjemah, maka kesimpulannya pun juga pasti salah. Perhatikan  kesimpulan penulis: (<em>scan</em> buku halaman 51)</strong></li>
</ul>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1383" title="11" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/11.jpg" alt="11 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="352" /></a></p>
<p dir="LTR">Pembaca yang kami muliakan, dan yang dimuliakan oleh Allah dengan hati nurani, kecerdasan dan iman. Sebenarnya <span style="background-color: #ffff00;">saya merinding membaca terjemahan dan kesimpulan Syaikh idahram</span>. Bagaimana ia membalik fakta 180 derajat? Kalau begitu siapa yang tangannya sangat terampil, bisa memberi informasi bahkan tuduhan keji secara salah dan terbalik-balik?!</p>
<p dir="LTR">Melihat cara kutipan yang serampangan, kami jadi meragukan ketajaman dan kebenaran tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada salafi wahabi. Misalnya, dalam kitab <em>ad-Durar as-Saniyyah</em> sebelum paragraph yang dikutip oleh penulis, Syekh mengatakan bahwa beliau mengikuti akidah salaf shalih, bukan akidah khalaf, lalu dalam madzhab fikih ikut madzhab Imam Ahmad, lalu beliau menegaskan bahwa beliau menggunakan semua kitab para ulama.</p>
<p dir="LTR">Dan setelah kutipan itu, Syekh mengingkari tuduh-tuduhan keji tersebut. Beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL"><span style="background-color: #ffff00;"><strong>وأما</strong><strong> </strong><strong>ما يكذب علينا : سترا للحق، وتلبيسا على الخلق، بأنا نفسر القرآن برأينا،</strong><strong> </strong><strong>ونأخذ من الحديث</strong></span><strong> ما وافق فهمنا&#8230;. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; وأنا لا نعتمد على أقوال العلماء، <span style="background-color: #ffff00;">ونتلف مؤلفات أهل</span></strong><span style="background-color: #ffff00;"><strong> </strong><strong>المذاهب، لكون فيها الحق والباطل، وأنا مجسمة، وأنا نكفر الناس على الإطلاق</strong><strong> </strong><strong>أهل زماننا، ومن بعد الستمائة، إلا من هو على ما نحن عليه</strong></span><strong> .</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;" dir="RTL"><span style="background-color: #ffff00;"><strong>جوابنا في كل مسألة من ذلك، سبحانك هذا بهتان عظيم ؛ فمن روى عنا شيئا من ذلك، أو نسبه إلينا، فقد كذب علينا وافترى</strong><strong> .</strong></span><strong></strong></p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Adapun apa yang didustakan atas nama kami; demi untuk menutupi kebenaran, dan mengelabuhi manusia; katanya kami menafsiri al-Qur`an dengan pendapat kami, kami mengambil hadits yang sesuai dengan pemahaman kami…………… Dan kami tidak bersandar pada ucapan para ulama, kami melenyapkan kitab-kitab ahli madzhab karena berisi kebenaran dan kebatilan, kami mujassiim, kami  mengkafirkan manusia pada zaman kami secara mutlak, hingga setelah 600 tahun, kecuali orang-orang yang sesuai dengan apa yang ada pada kami.</em></p>
<p dir="LTR">Maka jawaban kami dari semua masalah itu adalah: &#8220;Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang besar. Maka barangsiapa meriwayatkan sesuatu dari hal itu atau menisbatkannya kepada kami maka dia benar-benar telah berdusta dan mengada-ada.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>&#8220;</p>
<p style="text-align: left;" dir="LTR" align="center">Jadi sekali lagi, secara meyakinkan dan terang-terangan Syaikh Idahram penulis buku</p>
<p style="text-align: left;" dir="LTR" align="center"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1382" title="10" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/10.jpg" alt="10 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="292" /></a></p>
<p dir="LTR">telah melakukan dusta dan bohong di depan publik, dan menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang tidak bersalah itu dengan tuduhan-tuduhan keji sebagai orang sesat, mengkafirkan umat Islam, membakar kitab dan mengajarkan pengikutnya untuk memalsukan kitab para ulama dan lain sebagainya!!!</p>
<p dir="LTR">Maka terbuktilah ucapan bapak <strong>Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani M.A.</strong> dalam testimoninya yang mengatakan: <em>&#8220;<span style="background-color: #ffff00;">Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.&#8221;</span></em><strong>Karena saya benar-benar merinding jika mutu terjemahan buku ini seperti ini. Menyesatkan pembaca.</strong></p>
<p dir="LTR">Dan terbukti pula testimoni  Bapak <strong>KH. Wahfiudin, M.B.A.</strong>  yang berbunyi: <span style="background-color: #ffff00;"><em>&#8220;Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan&#8221;</em><em>. </em></span>Tetapi dahsyatnya bukan karen<em>a <strong>memuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah, </strong></em>melainkan karena <strong>&#8220;kesalahan terjemah yang fatal dan fitnah serta kedustaan.&#8221;</strong></p>
<p dir="LTR">Yang tidak terbukti adalah ucapan <strong>Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham</strong> saat mengatakan: <span style="background-color: #ffff00;">&#8220;Untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus&#8221;</span> sebagaimana pernyataannya berikut ini:</p>
<p dir="LTR"> <a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1384" title="12" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/12.jpg" alt="12 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="72" /></a></p>
<p dir="LTR"><strong>Sebab pemahaman penulis buku, terjemahan dan kesimpulannya rusak sebagaimana yang Anda ikuti bersama dalam makalah ini –dan makalah-makalah berikutnya insyaallah-. Jika tidak, maka apakah menuduh orang, menfitnah, dan memusuhi ulama secara salah, apakah itu pemahaman yang lurus? Apakah itu cerminan islam yang lembut, santun dan penuh kasih sayang?</strong> Jelas tidak, tetapi sangat dikhawatirkan justru perbuatan seperti yang dilakukan oleh penulis buku ini mendapat ancaman keras dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) </strong><span style="background-color: #ffff00;"><strong>وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا</strong></span><strong> (58)</strong></p>
<p dir="LTR">&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. <span style="background-color: #ffff00;">dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.</span>&#8221; (QS. Al-Ahzab, 57-58)</p>
<p dir="LTR">Oleh karena itu, adanya dua nama tokoh nasional di cover depan</p>
<p dir="LTR"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1385" title="13" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/10/13.jpg" alt="13 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)" width="400" height="87" /></a></p>
<p dir="LTR">dan 5 tokoh (termasuk Prof. DR. Azyumardi) di kover belakang bukan memperindah ataupun menguatkan buku ini, tetapi justru sebaliknya, buku ini mencoreng dan merendahkan martabat mereka. Andaisaja beliau-beliau itu tidak begitu saja memberikan dukungan, kata pengantar dan testimoni pada buku ini. Namun apa dikata, itu sudah menjadi kenyataan…!! <em>Wallahu a&#8217;lam bishshawab.</em></p>
<p dir="LTR">Semoga tanggapan ini bisa membantu menyadarkan orang-orang yang lalai. Aamiin.</p>
<p dir="LTR">Nantikan bagain kedua dari serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2. [*]</p>
<div>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Kitab Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki ini sudah dikritisi kesalahan-kesalahannya oleh Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz Al-Syaikh dalam buku yang berjudul <em>Hadzihi Mafahimuna</em>, yang dicetak dalam edisi Indonesia  dengan judul <em>Meluruskan Pemahaman</em>, terbitan Nashirul Haq.</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> http://islamport.com/d/2/fqh/1/24/178.html</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR"><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya, Yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan Rasul- nya; seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.</p>
</div>
</div>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bukutamu' rel='bookmark' title='Buku Tamu'>Buku Tamu</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/buku-den-syiah.html' rel='bookmark' title='Buku Gen Syi&#8217;ah'>Buku Gen Syi&#8217;ah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/pengantar-buku-gen-syiah.html' rel='bookmark' title='Pengantar Buku Gen Syi’ah'>Pengantar Buku Gen Syi’ah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tragedi Hari Kamis</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/tragedi-hari-kamis.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/tragedi-hari-kamis.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 06:45:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bantahan Syubhat Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1337</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu’alaikum wr wb Ustadz benarkah dalam shohih Bukhori ketika Rosululloh SAW sakit, beliua meminta secarik kertas untuk menuliskan suatu wasiat, naun sahabat ‘Umar R.A tidak mengindahkannya, bahkan melarang sahabat lain untuk mematuhi Beliau. Dan ini dijadikan dail org orang syi’ah untuk mengatakan bahwa sahabat ‘Umar tidak taat kepada Rosul? Adkah terdapat daam hadits [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dvd-peran-syiah-dalam-tragedi-palestina.html' rel='bookmark' title='DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina'>DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan :</p>
<p>Assalamu’alaikum wr wb<br />
Ustadz benarkah dalam shohih Bukhori ketika Rosululloh SAW sakit, beliua  meminta secarik kertas untuk menuliskan suatu wasiat, naun sahabat ‘Umar  R.A tidak mengindahkannya, bahkan melarang sahabat lain untuk mematuhi  Beliau. Dan ini dijadikan dail org orang syi’ah untuk mengatakan bahwa  sahabat ‘Umar tidak taat kepada Rosul? Adkah terdapat daam hadits dll yg  menyebutkan sahabat ‘Ali pernah membantah/tidak patuh kepada peritah  Rosululloh?<br />
Terima kasih atas jawabannya<br />
Wasslamu’alikum wr wb</p>
<p><span id="more-1337"></span></p>
<p>Jawaban :</p>
<p>Wa&#8217;alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Hadits tentang itu shahih dan ada namun pemaknaannya oleh syiah itu yang sesat .<br />
1. Kisah itu yang benar begini:<br />
Apakah yang dimaksud Tragedi dalam Hadits tersebut ?</p>
<p>Ibnu Abbas menyebut insiden kertas dan tinta sebagai sebuah “Tragedi”, namun kita harus menganalisa apa dasar dia mengatakan hal itu. Apakah Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai tragedi karena penolakan Umar untuk memberikan kertas dan tinta? Ini adalah apa yang Sy’ah klaim, tetapi klain ini tidak didasarkan pada pemahaman yang jauh dari prasangka atas teks tersebut. Apa yang kami temukan adalah bahwa Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai musibah tidak berkaitan dengan penolakan Umar, melainkan berkaitan dengan kenyataan bahwa sahabat saling berselisih pendapat di hadapan Nabi. Ini adalah perbedaan yang sangat penting untuk menunjukkan apa yang dilakukan Syi’ah adalah isu-isu untuk menempatkan pemahaman mereka ke dalam teks. Kita baca :</p>
<p>Ibnu Abbas keluar dan berkata : “ini sangat disayangkan (kehilangan yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan sesuatu untuk mereka karena perselisihan pendapat dan kegaduhan.<br />
<strong>(Shahih Bukhari, jilid 1, Buku 3, No. 114)</strong></p>
<p>Ibnu Abbas sendiri berkata :<br />
“Orang-orang (yang hadir di sana) berselisih pendapat dalam kejadian ini, dan hal yang tidak pantas berselisih pendapat di hadapan Nabi”.<br />
<strong>(Shahih Bukhari, Jilid 5, Buku 59, No. 716)</strong></p>
<p>Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang untuk pergi.</p>
<p>Kejadian yang serupa, Nabi marah dan memerintahkan orang-orang untuk pergi bukan karena Umar menolak beliau mengambil tinta dan kertas, melainkan karena orang-orang bertengkar dan membuat keributan di hadapan beliau. Kita baca :</p>
<p>Ketika mereka menimbulkan keributan di hadapan Nabi, Rasulullah berkata, “Pergi!” Dikisahkan oleh Ubaidullah: Ibn Abbas pernah berkata, “Sangat disayangkan bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka. “<br />
<strong>(Shahih Bukhari, jilid 7, buku 70, no. 573)</strong></p>
<p>Menjelang akhir hidup beliau, Nabi mengalami sakit kepala yang parah, dan kegaduhan dari pertengkaran orang-orang disekeliling beliau menyebabkan sakit pada kepala beliau. Kita baca:</p>
<p>Selama sakit beliau, Nabi Allah meminta tinta dan kertas. Karena beliau kemudian mengalami sakit yang bertambah parah, Umar turun tangan dan mengatakan beliau jangan dibebani oleh apapun dan Al-Qur’an adalah cukup bagi kita sebagaimana beliau telah mengatakannya (mungkin yang dimaksud Umar Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah telah bersabda di haji Wada’ mengenai Al-Qur’an). Tetapi sebagian sahabat mendukung untuk membiarkan beliau mendikte. Nabi tidak menyukai keributan dan meminta orang-orang untuk pergi. Pada saat itu beliau sedang menderita sakit kepala yang hebat dan ini adalah alasan mengapa Umar menyarankan untuk tidak menyulitkan beliau dengan cara apapun. Ketika rasa sakit beliau (Nabi) sudah berkurang, beliau memanggil orang-orang ke dalam dan (meriwayatkan tiga hal).<br />
<strong>(Tarikh <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a>, Jilid 1, hal 244-245)</strong></p>
<p>Dan itulah yang terjadi, suara-suara keributan memperburuk sakit kepala Nabi, dan inilah yang menyebabkan Nabi menjadi marah, bukan karena penolakan Umar. Sesudah semua itu, bukan penolakan Umar yang memperburuk sakit kepala Nabi melainkan kegaduhan yang keras akibat pertengkaran yang menyebabkannya. Kita baca:</p>
<p>Tetapi para sahabat Nabi berselisih pendapat mengenai hal ini dan menimbulkan suara keributan. Oleh karena itu Nabi berkata kepada mereka, “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar di hadapanku.” Ibnu Abbas keluar dan berkata, “Sangat disayangkan (sebuah musibah yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”<br />
<strong>(Shahih Bukhari, Jilid 1, buku 3, no 114)</strong></p>
<p>Nabi sendiri telah menjelaskan alasan mengapa beliau marah dimana beliau bersabda “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar dihadapanku” perhatikan, Nabi marah atas pertengkaran mereka satu sama lain, dan bukan karena Umar menolak memberikan beliau tinta dan kertas. Nabi tidak mengatakan “pergi” ketika Umar menolak tinta dan kertas, melainkan beliau mengatakan “pergi” saat orang-orang mulai bertengkar diantara mereka. Ini penting untuk membuka mata syi’ah pada poin ini. Kita baca:</p>
<p>Ketika mereka terlibat pembicaraan yang kacau dan mulai saling berdebat di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “bangun (dan pergi)” Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas selalu mengatakan: “itu adalah suatu kehilangan yang besar, sungguh suatu kehilangan yang besar,sehubungan dengan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”<br />
<strong>(Shahih Muslim, Kitab 013, No. 4016)</strong></p>
<p>Hal yang sangat penting untuk direnungkan adalah bahwa Nabi berkata “pergi” ditujukan kepada semua orang yang berada di ruangan, bukan hanya kepada Umar atau mereka yang menolak beliau akan tinta dan kertas. Nabi berkata “pergi” bahkan ditujukan juga kepada mereka yang ingin membawakan tinta dan kertas. Ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa Nabi marah kepada mereka semua, dan beliau marah kepada mereka karena pertengkaran mereka satu sama lain. Jika Nabi hanya marah kepada mereka yang berusaha menolak tinta dan kertas saja, maka sungguh hal yang tidak masuk akal Nabi berkata dengan marah “pergi” kepada mereka yang menghendaki untuk memenuhi permintaan beliau.</p>
<p>Logikanya, jika Nabi ingin menyampaikan pesan, maka beliau seharusnya mengatakan “pergi” hanya untuk orang-orang yang mencegah beliau dari hal itu, dan beliau seharusnya mengatakan “tetap tinggal” kepada mereka yang berharap memenuhi permintaan beliau. Apa yang mencegah Nabi untuk mengatakan hal yang mudah “Umar pergi” atau “pergi” ditujukan kepada kelompok yang menolak permintaan beliau?, sebaliknya Nabi mengatakan “pergi” kepada kedua belah pihak, menyalahkan mereka semua karena bertengkar satu sama lain. Sungguh kita temukan bahwa kedua belah pihak meninggalkan ruangan, dan pada akhirnya Nabi tidak menulis pesan untuk mereka. Jika paradigma Syi’ah benar, maka seharusnya Nabi senang dengan mereka yang ingin memenuhi permintaan beliau, tetapi justru Nabi marah kepada mereka dikarenakan mereka bertengkar.</p>
<p>Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu sebagai pengganti beliau?</p>
<p>Da’i Syi’ah mengklaim bahwa Nabi meminta tinta dan kertas agar beliau bisa menuliskan wasiat yang mana beliau diduga ingin menunjuk Ali sebagai pengganti beliau. Mereka menuduh Umar mencegah Nabi dari melakukan hal itu.</p>
<p>Jika Nabi benar ingin menuliskan wasiat untuk menunjuk Ali sebagai pengganti beliau, maka mengapa beliau tidak melakukan hal itu sebelum beliau wafat? Kejadian tinta dan kertas terjadi pada hari Kamis, sedangkan Nabi wafat pada hari Senin. Nabi masih memiliki lebih dari 3 hari untuk menulis wasiat semacam itu, namun beliau tidak melakukan hal itu. Baik sumber Sunni maupun Syi’ah tidak menunjukkan bahwa Nabi menulis wasiat itu dalam tiga hari setelah peristiwa hari Kamis. Syi’ah mengklaim bahwa Umar mencegah Nabi dari menulis mengenai Ali dalam wasiat beliau, Kita tanyakan kepada mereka, apakah Umar bin Khattab selalu bersama dengan Nabi 24 jam berturut-turut selama masa tiga hari tersebut? Tentu saja tidak, Kita tahu bahwa hal ini tidak terjadi, dan bahkan riwayat Syi’ah bercerita tentang bagaimana Ali dan beberapa anggota keluarga dekat bersama dengan Nabi di hari-hari terakhir. Namun, Nabi tidak menulis dokumen tersebut dalam tiga hari terakhir tersebut.</p>
<p>Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa Nabi tidak mengucapkan apa yang ingin beliau tuliskan hari itu, dan tak ada seorangpun tahu, lalu mengapa dan bagaimana Syi’ah mengklaim bahwa mereka mengetahui hal itu? Masalah itu adalah bagian dari hal yang ghaib, pengetahuan yang tidak dapat ditangkap oleh manusia, sehingga siapapun yang mengklaim dirinya mengetahui dengan pasti mengenai informasi itu, maka mereka hanyalah pembohong atau orang bodoh. Hari ini kita melihat bagaimana Syi’ah mengklaim bahwa kejadian tersebut bersangkutan dengan penunjukkan Ali Radhiallahu ‘Anhu. Namun bagaimana mereka bisa mengetahui hal itu sedangkan Nabi tidak pernah menyebutkannya, tidak juga Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Hasan ataupun Husein pernah mengklaim mengetahui hal itu.</p>
<p>Jika Ali mengetahui bahwa Nabi menuliskan sebuah wasiat yang menguntungkannya, maka mengapa dia tidak menggunakannya sebagai bukti untuk hak kekhalifahannya? Ketika Ali diperlombakan dengan khalifah Abu Bakar dan Utsman Radhiallahu ‘Anhu, dia (Ali) membawa banyak bukti untuk mendukung klaim-klaimnya terhadap dua orang itu, tetapi dia tidak pernah menyebutkan adanya wasiat yang ditulis atas namanya. Kita menemukan bahwa cerita syi’ah adalah murni kira-kira : apa dasar mereka mengklaim bahwa wasiat itu adalah wasiat penunjukkan Ali? Mengapa kita tidak bisa mengklaim bahwa Nabi menginginkan menulis sesuatu seperti hari turunnya lailatul Qadar atau bahkan penunjukkan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu? Jika Syi’ah bersikeras bahwa Nabi akan menuliskan wasiat untuk Ali, maka apa yang mencegah kami untuk mengklaim bahwa itu sebenarnya untuk Abu Bakar? Tidak ada bukti apapun. Jika Syi’ah mengemukakan bukti, maka kita pun memiliki bukti, seperti penunjukkan Abu Bakar sebagai Imam Shalat!.<br />
2. Ahlul bait tidak patuh ada yaitu sebelum nabi meminta kertas tersebut:<br />
Ketika kondisi Nabi shalalallahu ‘alaihi wa sallam terus memburuk, keluarga beliau berkumpul disekeliling beliau dan meminta beliau meminum obat untuk penyakit beliau, tetapi Nabi menolaknya, dan melarang ahlul bait beliau -termasuk Ali, Abbas, Fatimah dan istri-istri beliau- untuk memberi beliau obat apapun. Namun, Keluarga Nabi tidak menaati perintah langsung beliau, bahkan sebaliknya memilih memberikan secara paksa obat tersebut kepada Nabi. Mereka berpendapat Nabi telah lalai dalam mengurus diri beliau sendiri, hal itu karena sifat mulia beliau yang hanya khawatir mengenai orang lain tanpa peduli apapun mengenai diri beliau sendiri. Intinya, Nabi begitu marah dengan perlakuan ini maka beliau menghukum mereka dengan membuat mereka sendiri meminum obat tersebut.</p>
<p>Di sini, kami meriwayatkan sedikit riwayat-riwayat mengenai insiden ini :</p>
<p>Semua keluarga beliau – istri-istri beliau, putri beliau (Fathimah), al-Abbas, dan Ali – berkumpul (di sekeliling beliau). Asma berkata “sakit beliau ini tidak lain adalah radang selaput dada, sehingga kita paksa beliau untuk meminum obat” dan kita melakukannya, dan setelah beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah melakukan itu pada beliau.<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari Jilid 9, hal 178)</strong></p>
<p>Lalu beliau (Nabi) datang dan memasuki rumahnya dan rasa sakit bertambah sampai beliau kelelahan. Kemudian sebagian istri beliau berkumpul di sekitarnya, Ummu Salamah dan Maimunah-dan beberapa istri dari kaum Muslimin (di antara mereka Asma)-sementara paman beliau Abbas ada bersama beliau, dan mereka setuju untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” tetapi mereka melakukannya (sebagai gantinya). Ketika beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah memperlakukan dia (dengan obat-obatan) demikian. Ketika mereka mengatakan bahwa itu paman beliau … beliau (Nabi) bertanya mengapa mereka melakukan itu .. ketika beliau bertanya mengapa mereka melakukan itu, pamannya berkata: “Kami takut bahwa Anda terkena radang selaput dada.” Dia (Nabi ) menjawab: “Ini adalah penyakit yang Allah tidak akan menimpakannya kepadaku. Jangan biarkan seorangpun yang berhenti di rumah ini sampai mereka telah dipaksa untuk meminum obat ini (yaitu sebagai hukuman)”.<br />
<strong>(Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, hal 680)</strong></p>
<p>Mereka sepakat untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Al-Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” dan (Rasulullah) dipaksa.<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 178)</strong></p>
<p>Kami (Ahlul Bait) memaksa Rasulullah untuk meminum obat selama beliau sakit. Beliau mengatakan jangan memaksa beliau, tapi kami mengatakan bahwa orang sakit tidak suka obat. Setelah beliau sembuh, ia (Nabi) berkata: “Janganlah seorang pun tetap tinggal di rumah sampai (semua orang dari kalian) telah dipaksa untuk meminum obat ini …”<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 177)</strong></p>
<p>Ketika mereka mengatakan bahwa mereka takut bahwa beliau (Nabi) mungkin terkena radang selaput dada, beliau (Nabi) berkata: “Ini adalah dari Setan dan Allah tidak akan menimpakan hal itu padaku.”<br />
<strong>(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 178)</strong></p>
<p>Jika Syi’ah tersinggung dengan pernyataan Nabi disebut “mengigau”, maka mereka tentunya juga tersinggung pada pernyataan bahwa beliau menderita penyakit dari Setan? Apakah ada diantara Syi’ah ingin mengkritik ketidaktaatan Ahlul Bait terhadap Nabi di sini? Sebaliknya, Syi’ah -seperti kita- akan mengatakan bahwa mereka ahlul bait hanya khawatir akan kondisi Nabi lebih dari Nabi khawatir tentang diri beliau sendiri. Itu semua disebut “pembangkangan” karena kecintaan kepada Nabi dan mereka tidak dapat dipersalahkan untuk hal itu. Demikian pula Umar meminta Nabi untuk beristirahat tidak mungkin dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang tercela.</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/dvd-peran-syiah-dalam-tragedi-palestina.html' rel='bookmark' title='DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina'>DVD Peran Syi&#8217;ah dalam Tragedi Palestina</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/tragedi-hari-kamis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waspada! Buku &#8220;Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&#8221; Mengusung Faham Rafidhah (Syi&#8217;ah Iran)</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 07:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1307</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag. Buku ini berisi banyak kebatilan dan fitnah. Diantaranya adalah mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal ini:. 1. Menyebut Kota Qum Kota suci Syiah, Iran Di halaman 68-69 penulis buku yang menamakan diri sebagai Syaikh Idahram dan yang menjuluki Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab sebagai ustadz kampung [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/palestina-diantara-teroris-yahudi-dan-teroris-rafidhah.html' rel='bookmark' title='Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah'>Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/kisah-insyafnya-seorang-ulama-wahabi.html' rel='bookmark' title='Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi'>Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-sejarah-yang-menyebut-kesalahan-sahabat-nabi.html' rel='bookmark' title='Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi'>Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Oleh : Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag.</strong></p>
<p>Buku ini berisi banyak kebatilan dan fitnah. Diantaranya adalah mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal ini:.</p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1308" title="1" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/1.jpg" alt="1 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="137" height="200" /></a><br />
<strong>1. </strong><strong>Menyebut Kota Qum Kota suci Syiah, Iran</strong></p>
<p>Di halaman 68-69 penulis buku yang menamakan diri sebagai Syaikh Idahram dan yang menjuluki Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab sebagai ustadz kampung (halaman 31), sementara Idahram sendiri yang bergelar Syaikh itu tidak kita kenal menjadi ustadz di kampung mana, menulis: perjuangan mereka (maksudnya wahabi) hanya dipenuhi  dengan air mata dan darah umat <a href="http://qiblati.com"target="_blank"title="Majalah Islam Internasional Qiblati" >Islam</a> melalui berbagai penyerangan dan  pembunuhan yang mereka lakukan kepada penduduk Makkah, Thaif, Madinah, Riyad, Qatar, Bashrah, Karbala, Najef, Qum, Omman, Kuwait, negri-negri Syam dan neger-negeri Islam lainnya.&#8221; Kita bertanya-tanya, mengapa ia sebut Qum sementara tidak ada penjabaran tentang pembunuhan oleh kaum wahhabi di kota Qum itu?<span id="more-1307"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Menyebut wasiat Nabi kepada Ali di Ghadir Khum beserta perayaannya (hari raya id al-Ghadir) tanpa komentar dan pengingkaran bahkan menisbatkan perayaannya kepada umat Islam Irak secara mutlak</strong> (halaman 72). &#8220;Para penulis Syiah sepakat bahwa  serangan  dan serbuan itu terjadi pada hari ‘id al-Ghadir ketika umat Islam Irak.</p>
<p>Seandainya penulis ahlussunnah yang baik tentu menjelaskan bahwa hadits Ghadir tidak ada kaitannya dengan Khilafah Ali, tetapi berkaitan dengan kecintaan kepada Ali. Adapun mengaitkannya dengan Khilafah Ali dan menjadikannya sebagai hari raya maka itu adalah bagian dari kebatilan syiah, sebagaimana yang dilakukan oleh Khumaini. Dia menulis dalam kitab al-Hukumah al-Islamiyyah (26)</p>
<p style="text-align: right;"><strong>&#8221; وفي غدير خم في حجة الوداع عينه الرسول \ حاكما من بعده ومن حينها بدأ الخلاف يدب في نفوس قوم  .</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Membela orang Iran yang berbuat onar di musim haji di tanah suci, dan penulis menulisnya dengan judul &#8220;Pembantaian Jamaah Haji Iran.</strong> (halaman 99), seolah yang berbicara ini orang syiah atau orang Iran.</p>
<p>Yang benar, setelah ashar hari Jumat, 6 Dzulhijjah 1407 H, jama&#8217;ah haji Iran melakukan demo di halaman Masjidil Haram mengangkat foto-foto Khumaini yang banyak dan besar-besar bahkan sebagian digantungkan di tiang-tiang, spanduk-spanduk, poster-poster, dan bendera-bendera. Mereka  membuat gaduh, membuat macet jalan,  mengganggu para jamaah haji dan penduduk Makkah dari keperluannya. Bagian depan dari demonstan menolak untuk berunding dan tetap  maju menuju Masjidil Haram.</p>
<p>Kekuatan keamanan Saudi berjaga-jaga di pinggir jalan melarang jamaah haji lain masuk ke arak-arakan orang syiah Iran itu, tapi orang Iran menyerang polisi dengan tongkat dan batu yang mereka bawa dan mereka sembunyikan dalam baju mereka, maka diperintahkanlah kekuatan kemanan Saudi untuk mengendalikan dan mengamankan keadaan. Saat ditangani mereka mundur dan demonstran jadi kacau sehingga berjatuhanlah puluhan wanita dan juga laki-laki lanjut usia terus terinjak-injak.</p>
<p>Para pendemo Iran itu membakar mobil dan sepeda milik Polisi Saudi,  bahkan berusaha membakar sebagian gedung. Saksi, bukti dan video menetapkan bahwa yang pertama kali melakukan pukulan dan penusukan adalah syiah Iran dengan pisau yang mereka bawa. Mereka menikamkan ke dada polisi dan warga.</p>
<p>Akibat dari keributan dan keonaran yang dilakukan oleh orang syiah Iran itu adalah: 402 orang wafat;  85 diantara mereka adalah polisi Saudi dan warga, 42 jamaah haji lain, 275 jamaah haji Iran yang melakukan demo, kebanyakan wanita. Adapun korban luka-luka mencapai 649 orang: 145 diantaranya polisi dan warga Saudi, 201 jamaah haji,  303 jamaah haji Iran. Sedangkan kerugian alat-alat: pembakaran 3 mobil, 3 sepeda milik pasukan keamanan polisi, pengrusakan puluhan mobil haji dan warga.</p>
<p>Silakan melihat video peristiwa itu di:</p>
<p><a href="http://up.download-2.info/47613/Shiite-terrorism-bloody-pictures-and-video.html">http://up.download-2.info/47613/Shiite-terrorism-bloody-pictures-and-video.html</a></p>
<p>Maka tidak salah jika ada orang membayangkan, seandainya penulis hadir waktu itu mungkin dia ikut bergabung dengan rombongan demonstran rafidhah yang bikin onar itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Menyebut Najaf dengan gelar al-Asyraf</strong></p>
<p>Perhatikan kalimat berikut ini:</p>
<p>“<span style="text-decoration: underline;">Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang <em>an</em> <em>Najaf al-Asyraf</em>, namun hanya sampai di As-Sur (pagar perlindungan). </span><span style="text-decoration: underline;">Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.</span>” (<em>SBSSW</em>, hal. 104-105). Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan <em>Al-Asyraf</em>.<a href="https://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=ohhl4rw8mbn4#_ftn1"><sup>[1]</sup></a> Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu seperti surat  milik ulama mereka Shadiq al-Ruhani (mengaku sebagai murid Abul Hasan al-Ishfahani) berikut ini:</p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1312" title="2" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/2-283x300.jpg" alt="2 283x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="283" height="300" /></a><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1313" title="3" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/3-300x225.jpg" alt="3 300x225 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="300" height="225" /></a><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1314" title="4" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/4-300x170.jpg" alt="4 300x170 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="300" height="170" /></a><br />
<strong>5. Menyebut sahabat Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu &#8216;Anhu, Hasan </strong><strong>Radhiallahu &#8216;Anhu</strong><strong>, Husain </strong><strong>Radhiallahu &#8216;Anhu </strong><strong>dengan sebutan Imam tanpa sahabat yang lain. </strong><strong>Juga menyebut Ja&#8217;far as-Shadiq dengan sebutan imam, layaknya orang syiah</strong> (halaman 137).</p>
<p><strong>6. Menyesalkan penghancuran kuburan keramat kaum syiah dan menganggap menghancurkannya adalah kejahatan, padahal itu adalah sunnah Rasulullah dan ahlul bait</strong> –ini satu bukti bahwa sebenarnya syiah itu tidak mengikut ahlul bait-. Di halaman 136 penulis menyebutkan: &#8220;6. meratakan kuburan para imam yang sangat dihormati kaum syiah dan umat Islam dunia, khususnya di makam al-Baqi`.</p>
<p>Jika benar penulis sebagai ahlussunnah (atau benar-benar cinta ahlul bait) seharusnya ingat hadits Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam yang memerintahkan Ali Radhiallahu &#8216;Anhu untuk menghancurkan kuburan. Dan perintah ini dilestarikan oleh khalifah Ali Radhiallahu &#8216;Anhu.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>عن</strong><strong> </strong><strong>أبي الهياج الأسدي قال: قال لي علي بن أبي طالب: (ألا أبعثك على ما بعثني</strong><strong> </strong><strong>عليه رسول؟ أن لا تدع تمثالاً إلا طمسته، ولا قبراً مشرفاً إلا سويته</strong><strong>). </strong><strong>أخرجه مسلم</strong><strong>.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>7. Meratapi kubah-kubah kuburan dan menyebut Abdul Muththalib dan Abu Thalib dengan sayyidina</strong>. Di halaman 106 ditulis; saat salafi wahabi berkuasa  berbagai operasi pemusnahan secara besar-besaran telah dilakukan. Diantaranya adalah pemusnahan apa saja yang ada di ma&#8217;la, sebuah kawasan pekuburan Quraisy yang terdiri dari kubah-kubah yang pegitu banyak, termasuk kubah sayyidina Abd al-Muththalib (kakek Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam) dan sayyidina Abi Thalib…&#8221;</p>
<p>Seandainya penulis ahlussunnah yang memiliki ilmu tentu sudah tahu bahwa Abu Thalib adalah mati dalam keadaan sesat kafir sebagaimana yang dikatakan oleh putranya sendiri yaitu Khalifah Ali –ini bukti bahwa agama syiah itu bukanlah mengikut ahlul bait, apalagi Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam-.</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:view> <w:zoom>0</w:zoom> <w:trackmoves /> <w:trackformatting /> <w:punctuationkerning /> <w:validateagainstschemas /> <w:saveifxmlinvalid>false</w:saveifxmlinvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:ignoremixedcontent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:alwaysshowplaceholdertext> <w:donotpromoteqf /> <w:lidthemeother>IN</w:lidthemeother> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:lidthemeasian> <w:lidthemecomplexscript>AR-SA</w:lidthemecomplexscript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables /> <w:snaptogridincell /> <w:wraptextwithpunct /> <w:useasianbreakrules /> <w:dontgrowautofit /> <w:splitpgbreakandparamark /> <w:dontvertaligncellwithsp /> <w:dontbreakconstrainedforcedtables /> <w:dontvertalignintxbx /> <w:word11kerningpairs /> <w:cachedcolbalance /> </w:compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:browserlevel> <m:mathpr> <m:mathfont m:val="Cambria Math" /> <m:brkbin m:val="before" /> <m:brkbinsub m:val=" " /> <m:smallfrac m:val="off" /> <m:dispdef /> <m:lmargin m:val="0" /> <m:rmargin m:val="0" /> <m:defjc m:val="centerGroup" /> <m:wrapindent m:val="1440" /> <m:intlim m:val="subSup" /> <m:narylim m:val="undOvr" /> </m:mathpr></w:worddocument> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="footnote text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="footnote reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Default Paragraph Font" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Body Text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Hyperlink" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:latentstyles> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 10]> <mce:style>< ! /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";} --> <!--[endif] --></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; text-align: right;"><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">فقد أخرج أبو داود بسند صحيح عن علي بن أبي طالب </span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">رضي الله عنه</span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA"> قال: </span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">&#8220;قلت للنبي </span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">صل الله عليه وسلم</span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">: إن عمك <span style="text-decoration: underline;">الشيخ الضال</span> قد مات، قال: اذهب فوارِ أباك، ثم لا تُحْدِثن شيئاً حتى تأتيني، فذهبت فواريته وجئته فأمرني فاغتسلت ودعا لي&#8221;.</span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA"><span> </span>(صحيح أبو داود:3214)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><strong><em><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">وعند الإمام أحمد بلفظ: </span></em></strong><strong><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 90%; text-align: right;"><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">&#8220;لما توفي أبو طالب أتيت النبي </span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">صل الله عليه وسلم</span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">، فقلت: إن عمك <span style="text-decoration: underline;">الشيخ الضال</span> قد مات فمن يواريه؟ قال النبي </span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">صل الله عليه وسلم</span></strong><strong><span style="font-size: 14pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">: اذهب فواره، ثم لا تُحْدِث شيئاً حتى تأتيني. فقال: إنه مات مشركاً، قال: اذهب فواره، قال: فواريته ثم أتيته، قال: اذهب فاغتسل ثم لا تحدث شيئاً حتى تأتيني، قال: فاغتسلت ثم أتيته، قال: فدعا لي بدعوات ما يسرني أن لي بها حُمْر النعم وسودها، وكان علي إذا غسل الميت اغتسل&#8221;.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">وفي هذا الحديث دليل لعدم مشروعية تعزية المسلم بوفاة قريبه الكافر، حيث إن النبي <strong><span style="color: red;">صل الله عليه وسلم </span></strong>لم يُعَزِّ علياً <strong><span style="color: red;">رضي الله عنه</span></strong> في أبيه، ومن باب أولى دليل علي عدم جواز تعزية الكفار بأمواتهم أصلاً.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">تنبيه:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: right;"><span style="font-size: 14pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="AR-SA">هذا الحديث ضعَّفه بعض أهل العلم، وقالوا في إسناده لين، لكن صححه الشيخ الألباني – رحمه الله -</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Mengangkat madzhab Ja&#8217;fari dan madzhab Imamiyyah.</strong></p>
<p>Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis buku <em>SBSSW</em> berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “<span style="text-decoration: underline;">Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: </span>Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait),<span style="text-decoration: underline;"> Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, </span>Mazhab Syiah Imamiyah<span style="text-decoration: underline;">,</span><span style="text-decoration: underline;"> dan Mazhab Daud azh-Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.</span>” (<em>SBSSW</em>, hal. 208).</p>
<p>Demi Allah, Ahlus Sunnah (ahli hadits) di seluruh dunia Islam tidak akan ada yang mengatakan perkataan seperti ini. Perkataan seperti ini hanya akan keluar dari lidah orang-orang Syiah (Rafidhah). Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. Pendapat yang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah, madzhab fikih itu hanya ada 4 saja, yaitu madzhab Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam Syafi’i (Syafi’i), dan madzhab Imam Ahmad (Hanbali). Kalau ada tambahan, paling madzhab Zhahiri. Itu pun tidak masyhur di kalangan Ahlus Sunnah. Lalu dalam buku SBSSW itu, si penulis Syiah berusaha membohongi kaum Muslimin, dengan mengatakan, bahwa dalam Islam ada sedikitnya 7 madzhab. <em>Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun</em>. Bahkan madzhab Ja’fari dalam kalimat di atas disebut pada urutan pertama. Lebih busuk lagi, madzhab Syiah Imamiyyah yang merupakan salah satu sekte Syiah paling ekstrem, disebut sebagai madzhab Islam juga. <em>Allahul-musta&#8217;an</em>!</p>
<p>Kalimat di atas juga mengandung kebodohan yang sangat telanjang. Coba perhatikan kalimat berikut ini: <span style="text-decoration: underline;">Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.</span> (<em>SBSSW</em>, hal. 208). Kalimat seperti ini tidak rasional. Bayangkan, si penulis secara tegas mengklaim, bahwa madzhab Salaf itu tidak ada. Tetapi pada kalimat yang sama, dia mengakui bahwa imam-imam madzhab (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad), termasuk bagian dari ulama Salaf. Si penulis bermaksud mementahkan eksistensi madzhab Salaf, tetapi saat yang sama dia mengakui bahwa imam-imam madzhab itu termasuk imam madzhab Salaf. Kalau dia jujur ingin mengatakan, bahwa madzhab Salaf tidak ada, berarti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hanbali juga tidak ada. Ya, bagaimana lagi, wong mereka itu imam-imam Salaf kok. Si penulis itu mengakui, bahwa mereka adalah imam-imam Salaf.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>9. Memusuhi Syaikh ibn Jibrin dan menolak fatwa wajibnya jihad melawan syiah</strong>.</p>
<p>Di halaman 181 ada judul pembahasan &#8220;Di antara Fatwa dan Pendapat Salafi Wahabi Yang menyimpang&#8221; pada no.5: disebutkan: Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin: Fatwa Jihad terhadap Syiah dan wajib melaknat mereka.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa yang paling menbenci Syekh Jibrin adalah Syiah, karena beliau telah mengkafirkan syiah dengan 3 alasan dan telah menfatwakan haram mendukung Hizbullah dan milisi-milisi Syiah Rafidhah yang telah melakukan pembantaian terhadap kaum muslimin ahlussunnah di Irak, dan syaikh mengingatkan kembali akan kekejaman <em>Shafawiyyiin</em> sepanjang sejarah. Maka orang syiah mengkafirkan Syekh Ibn Jibrin dan menghalalkan darahnya.<br />
Tiga alasan syekh Jibrin mengkafirkan syiah: 1) menikam al-Qur`an, dengan meyakini bahwa para sahabat membuang lebih dari 2/3 isinya dan mentahrifnya, 2) menikam para sahabat dan sunnah Nabi saw, karena mereka menolak hadits-hadits yang ada di dalam shahih Bukhari –Muslim dan menolak hadits-hadits para sahabat, karena sahabat menurut mereka adalah kafir, 3) <em>ghuluw</em>, hingga mereka menyembah  Ali dan Husen dan memanjatkan doa kepada mereka.<br />
Fatwa syaikh Jibrin saat ditanya apakah boleh bergabung dengan hizbullah, dan mendoakan mereka dengan kemenangan? Beliau menjawab :</p>
<p style="text-align: right;">: لا يجوز نُصرة هذا الحزب الرافضي، ولا يجوز الانضواء تحت إمرتهم، ولا يجوز الدعاء لهم بالنصر والتمكين، ونصيحتنا لأهل السنة أن يتبرؤوا منهم، وأن يخذلوا من ينضموا إليهم، وأن يبيّنوا عداوتهم للإسلام والمسلمين وضررهم قديماً وحديثاً على أهل السنة، فإن الرافضة دائماً يُضمرون العداء لأهل السنة، ويحاولون بقدر الاستطاعة إظهار عيوب أهل السنة والطعن فيهم والمكر بهم، وإذا كان كذلك، فإن كل من والاهم دخل في حكمهم لقول الله تعالى: (وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ)</p>
<p style="text-align: left;">Berikut Fatwa Syaikh terkait dengan kekejaman Rafidhah di Irak (inilah yang dimaksud oleh penulis dengan: Fatwa Jihad terhadap Syiah dan wajib melaknat mereka) :</p>
<p style="text-align: left;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يكثر الابتلاء بالشيعة في كثير من الدوائر من مدارس وجامعات ودوائر حكومية، في هذه الحال نرى إذا كانت الأغلبية لأهل السنة أن يظهروا إهانتهم وإذلالهم وتحقيرهم وكذلك أن يظهروا شعائر أهل السنة فيذكرون دائم فضائل الصحابة ويذكرون الترضي عنهم  ومدائحهم وتشتمل مجالسهم  على ذكر فضل القرآن وعلى ذكر _ تكفير من حرفه أو ما أشبه ذلك_ لعلهم أن ينقمعوا بذلك وأن يذلوا ويبصق في وجوههم ويُهانوا ؛ لتضيق بذلك صدورهم ويبتعدوا، أما معاملتهم فيعاملهم الإنسان بالشدة فيظهر في وجوههم الكراهية ويظهر البغض والتحقير والمقت لهم ولا يبدأهم بالسلام ولا يقوم لهم ولا يصافحهم، لكن يمكن إذا ابتدؤا بالسلام _ أن يرد عليهم بقوله وعليكم أو ما أشبه ذلك</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>وعلى هذا إن كان لأهل السنة دولة وقوة وأظهر الشيعة بدعهم، وشركهم، واعتقاداتهم، فإن على أهل السنة أن يجاهدوهم بالقتال، بعد دعوتهم ليكفوا عن إظهار شركهم، وبدعهم، ويلزموا شعائر الإسلام، وإذا لم تكن لأهل السنة قدرة على قتال المشركين، والمبتدعين، وجب عليهم القيام بما يقدرون عليه من الدعوة، والبيان، لقوله تعالى : ( لا يكلف الله نفساً إلا وسعها )</strong></p>
<p>Untuk mengenang kebaikan syaikh berikut ini perbandingan antara Jenazah Syaikh ibn Jibrin <em>rahimahullah</em> dan  penta&#8217;ziyah ahlussunnah dengan Jenazah Khumaini dan orang-orang syiah yang melayatnya :</p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1315" title="5" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/5-146x300.jpg" alt="5 146x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="146" height="300" /></a><br />
<strong>10.  Menolak fatwa bolehnya menipu syiah</strong><br />
Penulis menyebutkan bahwa syaikh Aidh al-Dusari menfatwakan bolehnya menipu syiah. (<em>SBSSW</em> , halaman 181)<br />
Kalau fatwa syaikh itu jahat maka fatwa tokoh-tokoh agama taqiyyah yang dia bela itu lebih jahat lagi. Tapi mengapa penulis menolak Syaikh Dusari dan tidak menolak Rafidhah? Mengapa menentang fatwa bolehnya &#8220;menipu&#8221; syiah dan tidak menentang fatwa dan akidah syiah yang membolehkan menipu ahlussunnah? Mengapa tidak menolak Khumaini yang membolehkan melaknat umat Islam dan membohongi mereka? Mengapa tidak menolak ulama-ulama syiah yang menghalalkan darah umat Islam?<br />
Al-Khumaini berfatwa menganjurkan untuk melaknat ahlussunnah sebanyak-banyaknya :</p>
<p style="text-align: right;">(غيرنا ليسوا بإخواننا وإن كانوا مسلمين.. فلا شبهة في عدم احترامهم بل هو من ضروري المذهب كما قال المحققون، بل الناظر في الأخبار الكثيرة في الأبواب المتفرقة لا يرتاب في جواز هتكهم والوقيعة فيهم، بل الأئمة المعصومون، أكثروا في الطعن واللعن عليهم وذكر مساوئهم)( المكاسب المحرمة &#8211; الخميني (1 / 251) الطبعة الثالثة 1410هـ، مطبعة إسماعيليان، قم.)</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan di halaman yang sama (1/251) Khumaini menegaskan bolehnya berdusta dan menfitnah ahlussunnah dalam madzhab syiah!!!<br />
Senada dengan Khumaini,  al-Anshari juga membolehkan menggunjing dan melaknat ahlussunnah, yang disebut dengan istilah al-Mukhalif. (<em>kitab al-Makasib</em>, al-Anshari, 1/319, cet. 1/1415, terbitan Baqiri Qum).<br />
Mereka menganggap bahwa ahlussunnah itu <em>nawashib</em>, maka halal harta, kehormatan dan nyawanya.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/6.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1316" title="6" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/6-204x300.jpg" alt="6 204x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="204" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Bahkan dianjurkan untuk membunuh mereka (ahlussunnah) ini yang difatwakan oleh Ulama besar mereka, Yusuf al-Bahrani  (dalam kitabnya <em>al-Hadaiq an-Nadhirah Fi Ahkam al-&#8217;ithrah al-Thahirah</em>, 12/323-324) dan Nikmatullah al-Jazairi dalam <em>al-Anwar al-Nu&#8217;maniyyah</em> 2/307).<a href="#_ftn1">[1]</a>, al-Shaduq dalam <em>&#8216;Ilal as-Syara&#8217;I&#8217;.</em></p>
<p style="text-align: right;">الصدوق في : {علل الشرائع ص601 ط نجف/ الحر العاملي في وسائل الشيعة18/463/ والجزائري في الانوارالنعمانية2/308}<br />
الجزائري في: {الأنوار النعمانية2/308}</p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/7.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1317" title="7" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/7-235x300.jpg" alt="7 235x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="235" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: right;">(وفي الروايات أن علي بن يقطين وهو وزير الرشيد قد اجتمع في حبسه جماعة من المخالفين وكان من خواص الشيعة فأمر غلمانه وهدوا سقف الحبس على المحبوسين فماتوا كلهم وكانوا خمسمائة رجل تقريباً فأراد الخلاص من تبعات دمائهم فأرسل إلى مولانا الكاظم فكتب عليه السلام إليه جواب كتابه بأنك لو كنت تقدمت إلي قبل قتلهم لما كان عليك شيء من دمائهم وحيث أنك لم تتقدم إلي فكفّر عن كل رجل قتلته منهم بتيس والتيس خير منه، فانظر إلى هذه الدية الجزيلة التي لاتعادل دية أخيهم الأصغر وهو كلب الصيد فإن ديته خمس وعشرون درهماً ولا دية أخيهم الأكبر وهو اليهودي أو المجوسي فإنها ثمانمائة درهم وحالهم في الدنيا أخس وأبخس ) .</p>
<p style="text-align: right;">أبو جعفر الطوسي في : {تهذيب الأحكام 4/122 ط طهران /الفيض الكاشاني في الوافي 6/43 ط دار الكتب الإسلامية طهران}  عن الامام الصادق (خذ مال الناصب حيث ما وجدته وادفع إلينا خُمسه ) .</p>
<p style="text-align: right;">الخميني في: {تحرير الوسيلة 1/352}<br />
(والأقوى إلحاق الناصب بأهل الحرب في إباحة ما أغتنم منهم وتعلق الخُمس به بل الظاهر جواز أخذ ماله أين وجد وبأي نحو كان وادفع إلينا خُمسه ) .</p>
<p style="text-align: right;">يوسف البحراني في :{الحدائق الناضرة في أحكام العترة الطاهرة12/323-324}<br />
(إن إطلاق المسلم على الناصب وإنه لا يجوز أخذ ماله من حيث الاسلام خلاف ما عليه الطائفة المحقة سلفاً وخلفاً من الحكم بكفر الناصب ونجاسته وجواز أخذ ماله بل قتله ) .</p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1318" title="8" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/8-232x300.jpg" alt="8 232x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="232" height="300" /></a><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/9.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1319" title="9" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/9-204x300.jpg" alt="9 204x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="204" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="text-decoration: underline;">ومن المضحك</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> :</span></strong><strong><br />
</strong><strong>لما قال كاشف الغطاء في أصل الشيعة وأصولها (40 ـ 41</strong><strong> ) :</strong><strong><br />
</strong><strong>أما عبد الله بن سبأ الذي يلصقونه بالشيعة ، أو يلصقون الشيعة به ، فهذه كتب الشيعة بأجمعها تعلن بلعنه ، والبراءة منه</strong><strong> .</strong><strong>اهـ</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>فلما راجعه السيد حسين في ذلك قال</strong><strong>: </strong><strong>إنما قلنا هذا تقية، فالكتاب المذكور مقصود به أهل السنة .اهـ يعني يجوز الكذب على أهل السنة، لذا أخبر عن لعن الشيعة لابن سبأ</strong><strong> </strong><strong>، والحقيقة خلاف ذلك</strong></p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/10.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1320" title="10" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/10-200x300.jpg" alt="10 200x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Oleh karena itu sangat disayangkan, KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini dengan menulis komentar di sampul belakang: &#8220;Buku ini layak dibaca oleh siapapun.&#8221; Padahal MUI sendiri pada tahun 1984  pernah mengeluarkan fatwa yang menjelaskan pokok-pokok kesesatan paham Syiah menurut Ahlus Sunnah, kemudian MUI meminta Ummat Islam mewaspadai sekte ini (Hal disebutkan lagi dalam buku khusus yang dicetak untuk membentengi umat Islam dari faham dan aliran sesat pada tahun 2007).<a href="https://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=ohhl4rw8mbn4#_ftn2"><sup>[2]</sup></a></p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/11.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1321" title="11" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/11-204x300.jpg" alt="11 204x300 Waspada! Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mengusung Faham Rafidhah (Syiah Iran)" width="204" height="300" /></a></p>
<p>Bahkan KH. Ma’ruf Amin pernah diminta MUI untuk mengkaji tentang haramnya Nikah Mut’ah di kalangan Syi’ah.<a href="https://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=ohhl4rw8mbn4#_ftn3"><sup>[3]</sup></a> Seharusnya beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Bisakah di sini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah? <em>Wallahu A’lam bisshawaab</em>. Semoga saja dukungan KH. Ma’ruf Amin ini hanyalah merupakan ketergelinciran seorang alim dan semoga ia segera dihapus dengan pernyataan <em>bara’ah</em> (berlepas diri dari buku SBSSW itu). Kalau beliau tidak melakukannya, bisa saja ada orang yang menyebut beliau sebagai pendukung Syiah dan SEPILIS.</p>
<p>Tidak kalah dari KH. Makruf Amin, Ustadz Muhammad Arifin Ilham menulis: &#8220;Saya rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun, penuh kasih saying.&#8221;</p>
<p>Saya tidak tahu beliau berdua apakah membaca buku ini dan faham isinya? <em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Yang jelas, siapapun yang terlibat mempromosikan ajaran sesat (Syiah dan SEPILIS) telah menanam dosa yang menakutkan, bisa berakhir dengan <em>suul khatimah</em>, jika tidak segera bertaubat. Bisa saja ribuan kaum Muslimin mati dalam keadaan <em>su’ul khatimah</em> sebab terkecoh oleh rekomendasi mereka. <em>Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. </em><em> </em></p>
<div>
<hr size="1" />
</div>
<p><a href="https://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=ohhl4rw8mbn4#_ftnref1">[1]</a> Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena di sana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan <em>Al-Haram As-Syarif</em>. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan <em>Al-Asyraf</em> (artinya, lebih mulia atau paling mulia). Seolah, mereka ingin mengatakan, bahwa Najaf lebih mulia dari Kota Makkah. <em>Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. </em></p>
<p><a href="https://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=ohhl4rw8mbn4#_ftnref2">[2]</a> Lihat situs voa-islam.com, tentang tersebarnya fatwa palsu MUI tentang Syiah yang ditulis anggota MUI, Prof. Dr. Umar Shihab. Fatwa itu mengklaim bahwa paham Syiah tidak sesat menurut MUI. Lalu redaksi voa-islam.com mencantumkan fatwa MUI asli yang dikeluarkan tahun 1984, tentang aspek-aspek kesesatan Syiah.</p>
<p><a href="https://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;view=bsp&amp;ver=ohhl4rw8mbn4#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Aliran dan Paham Sesat di Indonesia</em>, karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, hal. 144. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, tahun 2006. [*]</p>
<div>
<hr size="1" />
<div><a href="#_ftnref1">[1]</a> Baca tulisan syaikh yang berjudul ……………?!<br />
<strong>الاعتداء على معتمرين شيعة في الحرم المكي أكذوبة</strong><br />
Di http://www.alsrdaab.com/vb/showthread.php?t=40755&nbsp;</p>
</div>
</div>
<div id="_mcePaste" class="mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 2280px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;">
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:worddocument> <w:view>Normal</w:view> <w:zoom>0</w:zoom> <w:trackmoves /> <w:trackformatting /> <w:punctuationkerning /> <w:validateagainstschemas /> <w:saveifxmlinvalid>false</w:saveifxmlinvalid> <w:ignoremixedcontent>false</w:ignoremixedcontent> <w:alwaysshowplaceholdertext>false</w:alwaysshowplaceholdertext> <w:donotpromoteqf /> <w:lidthemeother>IN</w:lidthemeother> <w:lidthemeasian>X-NONE</w:lidthemeasian> <w:lidthemecomplexscript>AR-SA</w:lidthemecomplexscript> <w:compatibility> <w:breakwrappedtables /> <w:snaptogridincell /> <w:wraptextwithpunct /> <w:useasianbreakrules /> <w:dontgrowautofit /> <w:splitpgbreakandparamark /> <w:dontvertaligncellwithsp /> <w:dontbreakconstrainedforcedtables /> <w:dontvertalignintxbx /> <w:word11kerningpairs /> <w:cachedcolbalance /> </w:compatibility> <w:browserlevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:browserlevel> <m:mathpr> <m:mathfont m:val="Cambria Math" /> <m:brkbin m:val="before" /> <m:brkbinsub m:val=" " /> <m:smallfrac m:val="off" /> <m:dispdef /> <m:lmargin m:val="0" /> <m:rmargin m:val="0" /> <m:defjc m:val="centerGroup" /> <m:wrapindent m:val="1440" /> <m:intlim m:val="subSup" /> <m:narylim m:val="undOvr" /> </m:mathpr></w:worddocument> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:latentstyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="footnote text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="footnote reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Default Paragraph Font" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Body Text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" Name="Hyperlink" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:lsdexception Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:latentstyles> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 10]> <mce:style>< !   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} --> <!--[endif] --></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%;"><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: Dotum; mso-fareast-font-family: Dotum; mso-hansi-font-family: Dotum; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">فقد أخرج أبو داود بسند صحيح عن علي بن أبي طالب </span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">رضي الله عنه</span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: Dotum; mso-fareast-font-family: Dotum; mso-hansi-font-family: Dotum; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA"> قال: </span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">&#8220;قلت للنبي </span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">صل الله عليه وسلم</span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">: إن عمك <span style="text-decoration: underline;">الشيخ الضال</span> قد مات، قال: اذهب فوارِ أباك، ثم لا تُحْدِثن شيئاً حتى تأتيني، فذهبت فواريته وجئته فأمرني فاغتسلت ودعا لي&#8221;.</span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span>(صحيح أبو داود:3214)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%;"><strong><em><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: Dotum; mso-fareast-font-family: Dotum; mso-hansi-font-family: Dotum; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">وعند الإمام أحمد بلفظ: </span></em></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; line-height: 90%;"><strong><span style="font-size: 14.0pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">&#8220;لما توفي أبو طالب أتيت النبي </span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">صل الله عليه وسلم</span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">، فقلت: إن عمك <span style="text-decoration: underline;">الشيخ الضال</span> قد مات فمن يواريه؟ قال النبي </span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">صل الله عليه وسلم</span></strong><strong><span style="font-size: 14.0pt; line-height: 90%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-language: ZH-CN;" lang="AR-SA">: اذهب فواره، ثم لا تُحْدِث شيئاً حتى تأتيني. فقال: إنه مات مشركاً، قال: اذهب فواره، قال: فواريته ثم أتيته، قال: اذهب فاغتسل ثم لا تحدث شيئاً حتى تأتيني، قال: فاغتسلت ثم أتيته، قال: فدعا لي بدعوات ما يسرني أن لي بها حُمْر النعم وسودها، وكان علي إذا غسل الميت اغتسل&#8221;.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%;"><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">وفي هذا الحديث دليل لعدم مشروعية تعزية المسلم بوفاة قريبه الكافر، حيث إن النبي <strong><span style="color: red;">صل الله عليه وسلم </span></strong>لم يُعَزِّ علياً <strong><span style="color: red;">رضي الله عنه</span></strong> في أبيه، ومن باب أولى دليل علي عدم جواز تعزية الكفار بأمواتهم أصلاً.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%;"><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">تنبيه:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%;"><span style="font-size: 14.0pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;,&quot;serif&quot;; mso-ascii-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-hansi-font-family: &quot;Times New Roman&quot;;" lang="AR-SA">هذا الحديث ضعَّفه بعض أهل العلم، وقالوا في إسناده لين، لكن صححه الشيخ الألباني – رحمه الله -</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p></mce:style></div>
<p></mce:style></p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/palestina-diantara-teroris-yahudi-dan-teroris-rafidhah.html' rel='bookmark' title='Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah'>Palestina, diantara teroris yahudi dan teroris Rafidhah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/kisah-insyafnya-seorang-ulama-wahabi.html' rel='bookmark' title='Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi'>Kisah Insyafnya Seorang Ulama Wahabi</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/riwayat-riwayat-sejarah-yang-menyebut-kesalahan-sahabat-nabi.html' rel='bookmark' title='Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi'>Riwayat-riwayat Sejarah Yang Menyebut Kesalahan Sahabat Nabi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Syiah Memusuhi Allah dan Nabi Muhammad</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/orang-syiah-memusuhi-allah-dan-nabi-muhammad.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/orang-syiah-memusuhi-allah-dan-nabi-muhammad.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 06:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1300</guid>
		<description><![CDATA[Orang syiah berkata : اننا لم نجتمع مع أهل السنة على إله ولم نجتمع معهم على نبي &#160; ولم نجتمع معهم على إمام &#160; &#8220;Kita tidak bertemu dengan ahlussunnah dalam halam Tuhan yang kita sembah Tidak juga dalam hal nabi Tidak juga dalam hal imam&#8221; Alsannya? &#160; ان أهل السنة والجماعة يقولون ان ربهم هو [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html' rel='bookmark' title='Keadilan untuk Orang Syiah'>Keadilan untuk Orang Syiah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/darurat-wahai-ummat-nabi-muhammad-saw-%e2%80%8f%e2%80%8b%e2%80%8f%e2%80%8b.html' rel='bookmark' title='Darurat Wahai Ummat Nabi Muhammad SAW!!! ‏​‏​'>Darurat Wahai Ummat Nabi Muhammad SAW!!! ‏​‏​</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/aisyah-radhiallahu-anha-ibunda-kaum-mukminin.html' rel='bookmark' title='Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah'>Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Orang syiah berkata :</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">اننا لم نجتمع مع أهل السنة</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"> على إله</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">ولم نجتمع معهم</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"> على نبي</span></p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">ولم نجتمع معهم</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"> على إمام</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: large;">&#8220;Kita tidak bertemu dengan ahlussunnah dalam halam Tuhan yang kita sembah</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: large;">Tidak juga dalam hal nabi</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: large;">Tidak juga dalam hal imam&#8221;<span id="more-1300"></span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;">Alsannya?</span><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">ان أهل السنة والجماعة يقولون ان ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وسلم نبيه وخليفته بعده ابو بكر</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: large;">&#8220;Karena ahlussunnah waljama&#8217;ah berkata bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang nama Nabi-Nya Muhammad dan pengganti Nabinya sesudahnya adalah Abu Bakar&#8221; </span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Dengan demikian kenapa?:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">الشيعة الروافض الزواحف لا يقولون بهذا الرب</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"> ولا بذلك النبي</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: large;">&#8220;Dengan demikian Syiah Rafidhah tidak mau mengakui Tuhan tersebut dan nabi tersebut.&#8221; </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Terus?</p>
<p style="text-align: center;">Dengan penuh kelancangan dan dengan sepenuh mulut orang syiah berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">ان الرب الذي خليفة نبيه ابو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000; font-size: large;">&#8220;Sesugguhnya Tuhan yang Khalifah Nabi-Nya adalah Abu Bakar maka ia bukan Tuhan kami dan Nabi tersebut bukan Nabi kami.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Ingin Bukti?</p>
<p style="text-align: center;">Simak baik-baik tulisan Nikmatullah al-Jazairi dalam kitabnya al-Anwar an-Nu&#8217;maniyyah: yang diberi garis bawah:</p>
<p><a href="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/bukti.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1302" title="bukti" src="http://www.gensyiah.com/wp-content/uploads/2011/08/bukti-194x300.jpg" alt="bukti 194x300 Orang Syiah Memusuhi Allah dan Nabi Muhammad" width="194" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Bagaimana menurut Anda Yang mulia dan berakal?</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html' rel='bookmark' title='Keadilan untuk Orang Syiah'>Keadilan untuk Orang Syiah</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/darurat-wahai-ummat-nabi-muhammad-saw-%e2%80%8f%e2%80%8b%e2%80%8f%e2%80%8b.html' rel='bookmark' title='Darurat Wahai Ummat Nabi Muhammad SAW!!! ‏​‏​'>Darurat Wahai Ummat Nabi Muhammad SAW!!! ‏​‏​</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/aisyah-radhiallahu-anha-ibunda-kaum-mukminin.html' rel='bookmark' title='Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah'>Video Hujatan kepada Aisyah Radhiallahu &#8216;Anha oleh Orang Syiah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/orang-syiah-memusuhi-allah-dan-nabi-muhammad.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Radio Streaming LBM</title>
		<link>http://www.gensyiah.com/radio-streaming-lbm.html</link>
		<comments>http://www.gensyiah.com/radio-streaming-lbm.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 03:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.gensyiah.com/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Selamat dan Sukses Radio Streaming LBM Masjid Jami&#8217; al-Umm Alhamdulillah dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, Radio Streaming LBM resmi diluncurkan mulai hari ini Senin 1 Ramadhan 1432 H/ 1 Agustus 2011. Radio LBM akan senantiasa menyiarkan ulang shalat tarawih yang ada di masjid Jami&#8217; al-Umm setiap hari, dengan imam utama : Syaikh Utsman Shalih [...]<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bulan-pahala-telah-tiba.html' rel='bookmark' title='Bulan Pahala Telah Tiba'>Bulan Pahala Telah Tiba</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/peresmian-masjid-jami-al-umm.html' rel='bookmark' title='Peresmian Masjid Jami&#8217; al-Umm'>Peresmian Masjid Jami&#8217; al-Umm</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Selamat dan Sukses</strong> <strong> Radio Streaming LBM</strong> <strong> Masjid Jami&#8217; al-Umm</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://qiblati.com/wp-content/uploads/2011/08/masjid.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3110" title="masjid" src="http://qiblati.com/wp-content/uploads/2011/08/masjid-300x199.jpg" alt="masjid 300x199 Radio Streaming LBM" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Alhamdulillah dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, Radio Streaming LBM resmi diluncurkan mulai hari ini Senin 1 Ramadhan 1432 H/ 1 Agustus 2011. Radio LBM akan senantiasa menyiarkan ulang shalat tarawih yang ada di masjid Jami&#8217; al-Umm setiap hari, dengan imam utama : Syaikh Utsman Shalih Ali al-Hafizh, yang telah mengimami shalat tarawih sejak usia 11 tahun di Makkah dan menjadi Imam Masjid di Saudi Arabia selama 30 tahun. Dibantu oleh Imam muda al-Akh Auliyaurrahman al-Hafizh santri PP Isy Kariman terbaik yang dikirimkan ke Malang.<span id="more-1296"></span> Selain itu Radio LBM akan menyajikan kajian-kajian bermutu, antara lain:</p>
<ol>
<li> <strong>Bekal Ramadhan (Hukum dan Adab Ramadhan)</strong> Oleh Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag.</li>
<li> <strong>Fiqih Fajar Shadiq (Awal Waktu Subuh dan Batas Akhir Makan Sahur)</strong> Oleh Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag.</li>
<li> <strong>Tanya Jawab Aqidah Ahlussunnah Waljama&#8217;ah</strong> Oleh Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag.</li>
<li><strong>Khutbah Jum&#8217;at Masjid Jami&#8217; al-Umm </strong></li>
</ol>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Radio LBM bisa anda nikmati 24 jam nonstop</p>
<p style="text-align: center;">Bergabunglah bersama Radio LBM di : <a href="http://www.binamasyarakat.com/"><strong>www.binamasyarakat.com</strong></a> (untuk sementara ini bisa anda akses di <a href="http://www.gensyiah.com/"><strong>www.gensyiah.com</strong></a>)</p>
<p style="text-align: center;">Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan radio ini berkah bagi kita. Khususnya di bulan Ramadhan yang berkah ini. Selamat beribadah puasa dan menikmati sajian kami.</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Malang, 1 Ramadhan 1432 H Mengetahui</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">Ketua LBM Ustadz Abu Hamzah ibn Qomari</p>
<p class="terkait">Artikel Terkait:<ol>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/bulan-pahala-telah-tiba.html' rel='bookmark' title='Bulan Pahala Telah Tiba'>Bulan Pahala Telah Tiba</a></li>
<li><a href='http://www.gensyiah.com/peresmian-masjid-jami-al-umm.html' rel='bookmark' title='Peresmian Masjid Jami&#8217; al-Umm'>Peresmian Masjid Jami&#8217; al-Umm</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.gensyiah.com/radio-streaming-lbm.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

