Ali ra memuji kaum Muhajirin dalam jawabannya kepada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan:
“Sungguh beruntung “ahlu as-Sabq” (orang-orang yang masuk Islam terdahulu) dengan “kedahuluannya” (masuk Islam), dan kaum Muhajirin yang pertama telah membawa keutamaan mereka”.
Ali juga berkata: “Dalam diri Muhajirin ada banyak kebaikan yang kamu ketahui, semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan”.
Ali ra juga memuji kaum Anshar ra: “Mereka, demi Allah, telah mengembangkan dakwah Islam sebagaimana mereka mengembangkan anak unta yang ada dalam ghanimah mereka. Di tangan ada cemeti dan lisan mereka tegas sekali”.
Dia menambahkan dalam memuji para sahabat Nabi Saw dengan mengatakan:
“Wahai manusia! Demi Allah, sungguh kalian di tengah-tengah negara ini lebih banyak jumlahnya dari pada Anshar ra di tengah-tengah bangsa Arab. Akan tetapi mereka telah membela dan menjaga Rasulullah Saw beserta kaum Muhajirin, hingga Rasulullah Saw berhasil menyampaikan risalah Rabbnnya kepada dua qabilah, yang kehadirannya tidak lebih dulu dari pada orang Arab dan jumlahnya tidak lebih besar dari mereka. Maka tatkala mereka melindungi Nabi Saw dan Muhajirin dan bersama-sama menolong agama Allah, bangsa Arab menyerang secara bersatu dan serempak serta bersekutu dengan Yahudi dan didukung oleh berbagai macam kabilah. Maka mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan tulus bangkit membela agama Allah. Mereka memutus hubungan dengan bangsa Arab dan memutus hubungan dengan Yahudi. Mereka tegak menghadapi penduduk Najed, Tihamah, Makkah dan Yamamah dari penghuni bukit dan lembah. Mereka tabah menegakkan pilar agama, sabar hidup di bawah tapak-tapak kaki kuda hingga seluruh Arab tunduk kepada Rasulullah Saw, dan Rasulullah Saw memandang sahabatnya dengan pandangan sejuk, senang dan tenang sebelum Allah SWT mengambilnya ke sisi-Nya. Kalian lebih banyak bilangannya dari pada mereka pada waktu itu di tengah-tengah bangsa Arab”.
Al-Majlisi menyebutkan dari ath-Thusi riwayat dari Ali ibn Abi Thalib ra bahwasanya dia berkata kepada para sahabatnya:
“Aku berwasiat kepada kalian tentang para sahabat Nabi Saw, janganlah kalian mencela mereka karena mereka adalah sahabat Nabimu, mereka adalah sahabatnya yang tidak melakukan bid’ah sedikitpun di dalam agama ini dan tidak pernah menghormati ahli bid’ah. Ya, aku diwasiati oleh Rasul Saw terhadap mereka ra”.
Sekalipun ada konflik dengan Mu’awiyah ra, Ali ra tidak mengkafirkannya. Hal ini ia tulis dalam surat-suratnya yang ia kirim ke berbagai daerah dalam rangka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di “Shiffin”. Surat ini diriwayatkan oleh imam Syi’ah Muhammad ar-Ridha dalam Nahj al-Balaghah. Ali menulis untuk mereka:
“Awalnya, kita bertemu dengan kelompok dari penduduk Syam, yang nampak memang Rabb kita satu dan dakwah kita satu. Kita tidak menambahi (melebihi) mereka dalam iman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, mereka juga tidak melebihi kita. Semuanya sama kecuali apa yang kita perselisihkan tentang darah Utsman ra, dan kita bersih dari padanya”.
Ali ra telah mengingkari orang-orang yang mencela Mu’awiyah dan bala tentaranya. Ar-Ridha meriwayatkan dari Ali ra, dia berkata:
“Sesungguhnya aku membenci untuk kalian jika kalian menjadi View Full Article »