Membongkar Kejahatan Syiah terhadap Islam
Arsip
Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (11)
Jan 27th
19. Ulil selanjutnya menyatakan: “Seolah-olah yang disebut
al-Qur’an hanyalah ayat-ayat yang tertera dalam mushhaf saja, asumsi ini tidak bisa kita terima…. Sama saja dengan mengandaikan Qur’an hanya teks mati belaka…kalau boleh saya hendak mengajukan suatu konsep tentang “wahyu yang hidup”, yaitu wahyu yang terdiri dari teks dan konteksnya sekaligus,…Prof. Arkoun mempunyai analisa yang baik mengenai hal ini. Dia mengajukan suatu istilah “Tajribatul Madinah”, atau pengalaman Madinah…ketika al-Qur’an sibukukan dan diresmikan dalam “Mushhaf” dalam lembaran-lembaran, maka yang tercatat sebagian besar hanyalah teks al-Qur’an, tetapi konteks yang melekat pada wahyu saat turun tidak ikut tercatat di dalamnya. Gerakan-gerakan Islam yang memperjuangkan agar umat kembali kepda “teks”, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang mengajak kepada suatu dokumen wahyu yang sudah kehilangan konteksnya” (alinea 12).
Asumsi yang kedua inipun sangat rapuh dan rancu:
a. Keyakinan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang ada dalam Mushhaf, ini bukan seolah-olah tetapi hakekat kebenaran yang diimani oleh setiap mukmin dan yang ditolak oleh orang kafir.
Al-Qadhi Abu al-Fadhl Ayyadh al-Yahshubi al-Andalusi (544 H) menegaskan: “Umat Islam telah berijma’ (sepakat bulat) bahwa al-Qur’an yang telah dibaca di seantero dunia, yang ditulis dalam mushhaf yang ada di tangan umat Islam, yang disatukan di antara dua sampul kitab yang dimulai dari awal Alhamdulillah Rabb al-Alamin, hingga akhir Qul A’udzu Bi Rabb al-Nas, adalah kalam (ucapan) Allah dan wahyu-Nya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad e. Dan bahwa semua yang ada di dalamnya adalah haqq”[1]
Dr. Shubhi al-Shaleh mengatakan: “Al-Qur’an adalah al-kalam al-Mu’jiz (firman yang jadi mukjizat) yang diturunkan kepada Nabi e yang ditulis di dalam mushhaf, yang diriwayatkan secara mutawattir dan membacanya adalah ibadah.” Pengertian al-Qur’an seperti ini adalah disepakati oleh para ulama ahli Ushul, ahli fiqh, dan ahli bahasa Arab.[2] Ucapan Qadhi Ayyadh dan Shubhi al-Shaleh ini betul, seluruh ulama ahli sunnah disetiap zaman dan di setiap negeri mengimani seperti itu, termasuk imam Abu Hanifah, imam Malik, imam Syafi’i dan imam Akhmad dll.[3]
b. Dalam alinea ke 12 ini, Ulil menyebut al-Qur’an adalah teks mati, sebanyak dua kali dan menyebut ia adalah dokumen wahyu yang sudah kehilangan konteksnya. Ucapan Ulil ini sangat merendahkan al-Qur’an yang agung, Allah saja menyebutnya sebagai al-Furqan, Dzikr Mubarak, ‘Aliy Hakim, Majid, Aziz, dan seterusnya hingga lebih dari 90 (sembilan puluh) gelar keagungan.[4]
c. Setelah Ulil merendahkan al-Qur’an yang ada dan keyakinan terhadapnya, ia mengusulkan konsep baru yang lebih baik, yang sebelumnya tidak diketahui oleh siapapun termasuk oleh seluruh sahabat Nabi e, bahkan oleh Nabi sendiri, yaitu apa yang ia sebut sebagai “wahyu Hidup” yang terdiri dari teks dan konteksnya sekaligus. Di sini Ulil melakukan dua kebodohan besar sekaligus
Pertama: ia menolak ajaran, bahwa al-Qur’an itu adalah firman Allah yang kemudian ditulis ke dalam Shuhuf oleh Nabi Muhammad dan disatukan dalam Mushhaf oleh khalifahnya atas kesepakatan seluruh sahabat y. Al-Qur’an adalah ucapan Allah yang terdiri dari huruf-huruf, ayat-ayat, surat-surat dan juz-juz yang ditulis, dihafal, dibaca dan didengar. Inilah yang diturunkan oleh Allah dan inilah yang disebut al-Qur’an. Perhatikanlah dengan hati yang bersih, firman Allah berikut ini:
] وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ[
“Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (al-A’raf: 204)
] وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ[
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (al-Taubah:6)
] وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْءَانٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي[
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri.” (Yunus: 15)
] بَلْ هُوَ ءَايَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ[
“Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (al-Ankabut: 49)
] إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ ! فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ ! لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ[
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (al-Waqi’ah: 77-79)
] وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ[
“Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur'an (kepadanya).” (al-An’am: 19)
] وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا[
“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan".(al-Furqan: 30)
Allah juga membuka, mengawali 29 surat dengan huruf yang terputus, seperti كهيعص dan حم عسق Juga perhatikan sabda Rasul e yang teramat banyak, di antaranya:
(( مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالىَ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا: لاَ أَقُوْلُ (آلم) حَرْفٌ, وَلَكِنْ (أَلِف) حَرْفٌ و (لام) حَرْفٌ و (ميم) حَرْفٌ)) ( رواه الترمذى والدارمى. حديث صحيح)
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah Ta’ala. Maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan (dibalas) sepuluh kalinya, tidaklah aku berkata Alif Laam Miim itu satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf” (HR. Tirmidzi, Al-Darimi, Hadits Shahih)
Dan al-Qur’an yang ada dalam Mushhaf itu sudah lengkap, tidak ada yang hilang dan tidak ada tambahan (termasuk yang disebut oleh Ulil dengan istilah konteks). Allah berfirman:
] لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ[
“Yang tidak datang kepadanya (Al Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)
Kedua: Ulil usul al-Qur’an yang lebih baik, sebagai ganti dari al-Qur’an yang ada ini. Ini tergolong usul yang amat berani, menandakan orangnya punya nyali besar untuk bermusuhan dengan Allah. Ulil tidak bisa menerima al-Qaur’an kecuali jika ia itu “hidup” dalam arti lengkap dengan konteksnya. Dalam sejarah ahli Tahrif, iman dengan bersyarat itu biasa, generasi sebelum Ulil ada yang tidak mau beriman kecuali mereka melihat langsung al-Qur’an turun dari langit, bahkan generasi sebelumnya lagi ada yang mau beriman apabila Allah diperlihatkan kepadanya (baca, al-Nisa’: 153)
Orang kafir jahiliyah dulu, mengetahui bahwa yang disebut al-Qur’an itu, ya yang ada seperti sekarang ini, tetapi mereka ingin al-Qur’an versi lain (QS Yunus: 15). Dan mereka memiliki pandangan bahwa syarat kemenangan adalah dengan tidak mentaati al-Qur’an yang sesungguhnya ini, mereka berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh akan al-Qur’an ini, dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka) (QS Fushshilat: 26).
Yang lebih ironis lagi, pandangan Ulil yang sesat tersebut, di atas namakan kepada Sayyidina Ali secara dusta, ia berkata dengan lugu: “Benarlah kata Sayyidina Ali seperti yang telah dikutip di atas: Sesungguhnya Qur’an itu adalah teks mati (karena dikodifikasi dengan tanpa menyatakan dokumen tentang konteksnya).” Benarlah kata imam Syatibi (790 H), bahwa setiap orang yang keluar dari sunnah pasti suka memaksakan diri dalam beristidlal, sebab jika tidak demikian, pandangan yang dia lontarkan cukup membuktikan kalau dia dusta
Perlu diketahui, bahwa al-Qur’an telah disampaikan oleh Rasul e baik lafadz (teks) atau bayan (penjelasan)nya. Sesudah Rasulullah e, lafadz al-Qur’an dan al-Sunnah (bayan al-Qur’an) disampaikan oleh para Qurra’ dan huffazh. Sedangkan makna al-Qur’an dan makna hadits disampaikan oleh para imam dan para fuqaha’, kedua macam tabligh tersebut bertumpu pada dua syarat utama, yaitu: ilmu tentang yang ia sampaikan dan shiddiq (jujur) dalam menyampaikan, ditambah dengan bagus jalan hidupnya dan baik suluknya[7]
d. Pendahulu Ulil selain Hasan Hanafi adalah Muhammad Arkoun (lahir di Aljazair 1928) guru besar pemikiran Islam di Sorbone, Paris. Arkoun, sejarawan yang berlatar belakang budaya Perancis itu, ingin menggabungkan antara nalar Islami yang menurutnya telah mengalamai kemandegan, dengan nalar Barat modern yang cenderung Positivistik, dengan cara dekontruksi metodologi keislaman. Metodologi Rethinking Islam tawaran Arkoun di atas, didasarkan pada ilmu-ilmu linguistik, semiotika modern, antropologi, sejarah sosial serta kemanusiaan kontemporer. Arkoun ingin bebas dari sakralisasi terhadap teks-teks agama dan dari metodologi keilmuan yang telah dibangun dan diwariskan oleh para ulama dalam rentang sejarahnya yang panjang. Menurutnya studi agama Islam ini dihambat oleh warisan definisi dan metode yang kaku dari teologi dan metafisika klasik. Teks Qur’an adalah wacana, teks yang terbuka, tidak mungkin disempitkan jadi idiologi. Wahyu yang tertulis adalah teks simbolis, yang menerima adanya lapisan-lapisan makna. Karena itu supaya tidak mensakralkan warisan para ahli tafsir, diperlukan cara baca baru, supaya bisa melahirkan makna baru. Secara umum Arkoun membaginya ke dalam dua tahap: Tahap analisis linguistik kritis (analisis teks) dengan menggunakan perangkat tata bahasa dn leksikografis yang dihimpun oleh tafsir-tafsir klasik, dan Tahap analisis hubungan kritis yang dilanjutkan dengan analisis mistis / simbolis[8]
Mengapa Arkoun menggunakan pendekatan linguistik? Dia memaparkan: “pelajaran dasarnya adalah bahwa al-Qur’an diwahyukan dalam bahasa Arab….oleh karena itu, inti pemikiran Islam harus ditampilkan sebagai suatu isu linguistik dan semantik”.[9]
Lalu mengapa Arkoun memadukan dengan pendekatan histories, sosiologis? Menurutnya: karena dimensi historisitas yang justru menentukan, bahkan pesan wahyu pun tunduk kepadanya, selama ini diabaikan[10] tak terpikir (unthinkable) dan tak terpikirkan (unthought). Dalam sistim pemikiran Islam yang “ortodoks”, semua budaya dan sistim pemikiran yang dihubungkan dengan masyarakat pagan, politeis (musyrik), jahili (pra Islam), atau modern sekuler berada dalam wilayah yang tak terpikir dan tak terpikirkan. Maka sudah saatnya untuk memasukkannya dalam wilayah yang terpikir (thinkable)[11]. Karena itu, Arkoun juga mengusulkan untuk melakukan kritik nalar Islam dan menulis ulang dalam teologis, legal dan historiografis[12]
Walhasil, rethinking Islam model Arkoun menganggap, Islam yang dipraktekkan oleh Rasul Allah dan yang dianut oleh ahlu sunnah, hanyalah Tajribatul Madinah (pengalaman Madinah), lalu sebagai gantinya ia memakai al-Qur’an dengan berdasarkan Tajribatul Urubbiyah (pengalaman Eropa), namun sayang seribu kali sayang, bukan meniru sains Eropa, melainkan meniru kesesatannya, seperti memandang al-Qur’an sama dengan Bible, memperlakukan al-Qur’an sama dengan Bible dan memisahkan agama dari kehidupan.
Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait (3)
Jan 25th
Orang-Orang Syi’ah memiliki sebuah do’a yang mereka namai “do’a dua berhala Quraisy” maksudnya Abu Bakar dan Umar, yaitu do’a yang mereka idolakan sebagai wasilah taqarrub kepada Allah SWT -menurut dugaan mereka yang sesat itu-, mereka sangat memeperhatikannya dalam shalat-shalat mereka.
Do’a itu berbunyi: “Ya Allah laknatilah kedua berhala Quraisy, kedua patung Quraisy, kedua thaghut Quraisy, kedua pendusta Quraisy dan kedua putrinya. Keduanya telah menyalahi perintah-Mu, menolak wahyu-Mu, mengingkari nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, membalik agama-Mu, merubah kitab-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, melupakan semua karunia-Mu, menelantarkan hukum-hukum-Mu dan mengingkari bukti-bukti kebenaran (dari)-Mu…..Ya Allah laknatilah keduanya dalam relung rahasia-Mu dan dalam alam nyata-Mu, laknat yang banyak, terus-menerus, abadi, selama-lamanya, tidak pernah henti dan tidak pernah putus, tidak pernah habis dan tidak pernah pupus, menerjang awalnya dan tidak kembali akhirnya, untuk mereka, pembantu mereka, penolong mereka, pecinta mereka, para mawali mereka, yang pasrah kepada mereke, yang cenderung kepada mereka, yang meninggikan mereka, yang meneladani ucapan mereka dan yang membenarkan hukum mereka. Ya Allah siksalah mereka dengan siksa yang penduduk nerakapun berlindung dari padanya. Amin ya Rabbal ‘Alamin”.[1]
Mereka mengatakan keutamaan do’a ini luar biasa agung dan luhur, mereka mengucapkan dusta atas Ali bahwa Ali membacanya dalam qunut dan mengatakan tentang fadhilahnya,
“Orang yang berdo’a dengannya bagaikan pemanah bersama Nabi pada perang Badar dan pada perang Hunain dengan seribu anak panah”.[2]
Ya Allah jadikanlah seribu anak panah di leher-leher mereka sendiri!
Al-Kasy-syi pembesar Syi’ah ini, meriwayatkan dalam al-Jarh wa at-Ta’dil dari Hamzah ibn Muhammad ath-Thayyar, ia berkata: “Kami menyebut Muhammad ibn Abi Bakar di hadapan Abu Abdillah.” Maka imam berkata: “Semoga Allah merahmatinya, ia (Muhammad ibn Abi Bakar) berkata kepada Amirul Mukminin pada suatu hari: “Berikan tanganmu aku akan membai’atmu,” More >
SYI’AH MENYALAHI AHLUL BAIT (2)
Jan 23rd
Allah SWT benar-benar telah memuliakan ahlul bait dan menjauhkan dari semua yang disebut di atas, sebagaimana bukanlah sifat orang-orang yang bertakwa itu harus tidak ada dosa dan maksiat sama sekali. Firman Allah SWT telah menunjukkan bahwa barang siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.
Sebagaimana firman-Nya, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (an-Nisa’: 31).
Sebagaimana yang kami jelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa “tasyayyu’” bermula didorong oleh tujuan politik, akan tetapi karena banyak sebab -dan sudah kami sebutkan yang paling penting- maka berubahlah Ibn Saba’ dan jama’ahnya menjadi kelompok agama yang sesat dan menyesatkan.
Syi’i kenamaan Muhammad Amin dalam kitabnya, menukil dari al-Azhari memperkenalkan bahwa Syi’ah itu adalah kaum yang menginginkan apa yang diinginkan oleh keturunan Nabi Saw dan menolong mereka.[1]
Tajuddin al-Husaini pemuka Aleppo mengatakan: “Syi’ah seseorang adalah para pengikut dan penolongnya, dikatakan “والاه من الولي أي شايع .” artinya “Ia loyal kepadanya maksudnya mendukung dan menolongnya”.[2]
Sebagaimana Maghniyah mengatakan: “Barang siapa mencintai Ali dan mengikutinya atau barang siapa yang mencintai dan menolongnya”.[3]
Sekarang mari kita perhatikan Syi’ah yang mengaku sebagai pengikut ahlul bait, mencintai dan menolong mereka. Bagaimana sikap mereka terhadap para sahabat ra. Kemudian kita komparasikan dengan sikap ahlul bait sendiri terhadap para sahabat Nabi Saw. Agar menjadi jelas siapakah gerangan yang benar-benar cinta ahlul bait. Kita tidak akan menulis melainkan dari kitab-kitab dan sumber-sumber mereka dari orang-orang yang menganggap dirinya adalah Imam ahlul bait padahal tidak ada hubungan sama sekali. More >
SYI’AH MENYALAHI AHLUL BAIT
Jan 22nd

Sesungguhnya Syi’ah berupaya menipu manusia dengan mengatakan bahwa mereka mencintai ahlul bait dan mereka adalah kelompok terbaik karena berpegang pada keluarga Nabi dengan seluruh ucapan dan ajaran mereka. Padahal yang mereka maksud bukanlah keluarga Nabi yang sebenarnya, melainkan Ali dan orang-orang tertentu dari keturunannya. Kita tidak tahu mengapa mereka mengkhususkan Ali dalam masalah ini padahal ia bukan satu-satunya orang yang menikahi putri Nabi Saw. Utsman justru menikahi dua orang putri Nabi Saw dan Abu al-‘Ash ibn ar-Rabi’ juga menikahi Zainab putri Nabi Saw. Jika mereka berdalih bahwa Ali memiliki sifat kekerabatan dengan Nabi Saw sebab putra dari paman Nabi Saw. Kita bertanya kepada mereka, apakah hanya Ali yang memiliki sifat ini? Tentu tidak, sebab Ali memiliki 2 saudara yaitu Ja’far dan Aqil. Begitu pula Rasulullah Saw memiliki 2 orang paman yaitu al-Abbas ibn Abdul Muth-thalib yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw dan dijadikannya seperti bapaknya sendiri, dan Hamzah Sayyid Syuhada’ ra.
Jika keutamaan Ali karena statusnya sebagai putra paman Rasul Saw bukankah yang lebih utama mendapatkannya adalah paman Rasul Saw! Jika tidak, apakah kekerabatan putra paman lebih kuat dari paman?!
Supaya lebih jelas kita perlu membahas arti “ahl” dalam bahasa Arab. Ar-Raghib berkata dan diikuti oleh al-Munawi: ahl ar-rajul adalah orang-orang yang dikumpulkannya dalam satu tempat tinggal begitu pula dia dan orang-orang yang disatukan oleh nasab.
Ibnu Manzhur al-Ifriqi mengatakan: “ahlu al-mazhab” berarti orang-orang yang meyakininya. “Ahlu al-amr” adalah orang-orang yang mengurusnya. Dan “ahlu ar-rajul” adalah orang yang paling khusus dengannya.
Az-Zabidi juga berkata: “ahl” bagi seseorang adalah istrinya, termasuk di dalamnya adalah putra putrinya. Dengan arti seperti ini ia menafsirkan firman Allah
“ وَسَارَ بِأَهْلِهِ ”
“Dan dia berjalan bersama istri dan keluarganya” .
Al-Khalil berkata: “ahl ar-rajul”, adalah “istrinya”, “taahhul” berarti menikah. “Ahl ar-rajul”, berarti orang yang paling khusus dengannya, “ahlul bait” adalah penghuni rumah, “ahlu al-Islam” adalah orang-orang yang meyakininya.
Muhammad Jawad Maghniyah seorang Syi’ah kontemporer mengatakan: “ahlul bait” adalah para penghuninya, “ahlu ar-rajul” adalah “ahluhu” (keluarganya).
Di antara yang menetapkan secara pasti bahwa ahlul bait digunakan secara khusus untuk “istri”, dan dipakai secara majaz untuk anak-anak dan kerabatnya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Di antaranya adalah ketika Allah memberi kabar gembira kepada istri Ibrahim melalui lisan malaikat: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait!” (Hud: 73).
Hal ini telah diakui oleh ulama Syi’ah dan para mufasir mereka seperti ath-Thubrusi dalam Majma’ al-Bayan, al-Kasyani dalam Manhaj ash-Shadiqin.
Begitu pula Allah SWT mengisahkan Nabi Musa as:
“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: Tunggulah di sini sesungguhya aku melihat api” (al-Qashash: 29).
Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (10)
Jan 20th

16. Ulil mengatakan: “Setiap teks selalu mengandung lapisan-lapisan penafsiran yang bertingkat-tingkat”. (alinea 11)
Ucapan ini perlu diluruskan, pertama: Tidak setiap teks mengandung lapisan makna, karena ada teks yang bersifat manshush (ketentuan) yaitu kata bilangan seperti satu atau sepuluh, dan kata yang pemakaianya ada dalam satu model atau cara disetiap tempat kehadirannya. Maka kedua bentuk kata ini bersifat nash tidak menerima Ta’wil atau Majaz
Kedua: Lapisan-lapisan penafsiran itu tidak boleh menyalahi Zhahirnya lafadz atau teks, kalu tidak maka itulah yang disebut Tahrif (menyelewengkan) yang berarti Takdzib (mendustakan), sebagaimana yang dilakukan oleh Iblis laknatullah alaih.
Syaikhul Islam ibn Taimiyah mengatakan: “Ta’wil yang diterima adalah tafsir yang menunjukkan kepada maksud pemilik ucapan, apabila tidak demikian, maka hal itu adalah tahrif (penyimpangan) dan ilhad (pengingkaran), bukan termasuk tafsir atau penjelasan terhadap maksud More >