Archive for November, 2009


MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”

konstektual11.    Ia mengatakan: “Qur`an sendiri  tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Qur`an menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non Islam hatus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.”
Ini dusta atas nama al-Qur`an. Lihat surat al-Mumtahanah dan al-Baqarah diatas, surat al-Taubah ayat 28 dan lain-lain. Ini adalah bukan ucapan Nabi dan bukan ucapan pengikut Nabi melainkan ucapan musuh-musuh Nabi. Ucapan orang yang beriman adalah:
?لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ? ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ ? إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالحَِاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ?
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (al-Tiin: 4-6)
12.    Ia mengatakan: “Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.”
Ini adalah slogan nenek moyang kaum sekularis kapitalis yang protes atas kesesatan kaum gereja. Kemudian konsep yang diajarkan oleh Ulil ini tidak menyebut sifat-sifat dan kriteria orang yang berhak menafsirkan agama ini, ini menunjukkan bahwa menurutnya Bayan (penjelasan) Rasul itu tidak penting dan ulama juga tidak penting, yang penting adalah ada orang yang menafsiri, siapapun orangnya. Intinya semua orang adalah kiyai dan ulama, persis seperti gerakan reformasi pada abad le-16 di Eropa yang menuntut kebebasan untuk membaca bibel tanpa perantara para pendeta . Kalau ahlussunnah konsepnya jelas. Imam Ahmad berkata:
اَلأَُصُوْلُ أَرْبَعَةٌ دَالٌّ وَدَلِيْلٌ وَمُبَيِّنٌ وَمُسْتَدِلٌّ, فَالدَّالُّ هُوَ اللهُ وَالدَّلِيْلُ هُوَ الْقُرْآنُ وَالْمُبَيِّنُ الرَّسُوْلُ وَالْمُسْتَدِلُّ أُوْلُو الْعِلْمِ الَّذِيْنَ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ هِدَايَتِهِمْ وَوِلاَيَتِهِمْ
“Rukun (memahami) agama itu ada empat; yang menunjukkan, petunjuk, yang menjelaskan dan yang beristinbath; yang menunjukkan adalah Allah, petunjuknya adalah al-qur`an, yang menjelaskan adalah Rasul dan yang beristinbath adalah para ulama yang telah disepakati oleh umat Islam kelurusan dan wala’ (loyal)nya kepada Islam.”  View Full Article »

MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”

konstektual5.    Ia mengatakan: “Pertama, penafsiran Islam yang non literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia  yang sedang dan terus berubah.”
Ini adalah metode Gerakan Tajdid yang suka membuat-buat istilah dalam rangka keluar dari Islam warisan rasul Allah ?. Firman Allah:
?إِنْ هِيَ إِلاَّ أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوْهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى اْلأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى?
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (al-Najm: 23)
Inilah biang kesesatan itu. Ibn Taimiyyah mengatakan:
أَصْلُ ضَلاَلِ مَنْ ضَلَّ هُوَ تَقْدِيْمُ قِيَاسِهِ عَلىَ النَّصِّ الْمُنَزَّلِ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَاخْتِيَارُهُ الْهَوَى عَلىَ اتِّبَاعِهِ أَمْرَ اللهِ
“Akar kesesatan orang yang sesat adalah mendahulukan logikanya diatas nash yang diturunkan dari sisi Allah, dan kecenderungannya kepada keinginan nafsu diatas prinsip mengikuti perintah Allah.”
6.    Ia mengatakan: “Kedua, Penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur didalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak. Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuik Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.
Ini adalah akibat dia mengikuti kesalahan dan kesesatan para sosiolog dan pemikir dari gerakan Tajdid, sehingga hati menjadi mati, mata menjadi buta dan telinga jadi tuli, tidak ingat firman Allah:
?إِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فيِ شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلىَ اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانَوا يَفْعَلُوْنَ?
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)
Di samping itu teori yang sesat tersebut adalah telah usang, pernah dikemukakan oleh Abu Rayyah dengan istilah “dien ‘am wa dien khash” (agama universal dan agama particular) dan telah dibantah oleh Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi dalam kitab al-Anwar al-Kasyifah lima fi Kitab Adwa ‘Ala al-sunnah min al-Zalal wa al-Tadhlil wa al-Mujazafah. View Full Article »

MAKALAH ULIL ABSHAR BERJUDUL “MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”

konstektualTatkala Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam- adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi dan Rasul setelahnya maka Allah senantiasa menegakkan sebab-sebab yang bisa menyegarkan dan memperbaharui agama ini sebagaimana janji-Nya dalam al-Qur`an. Dengan begitu kebaikan-kebaikan iman dan pujian-pujian kepadanya akan nampak, dan keburukan-keburukan kekufuran serta kerusakannya akan tersingkap. Diantara sebab tersiarnya iman dan Islam yang terbesar dan sebab bersinarnya hakikat berita para Nabi dan Rasul adalah munculnya para penentang dari orang-orang yang memiliki kedustaan yang nyata. Sebagaimana firman Allah I:

]وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوََّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ[

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) Jin.” (al-An’am: 112)

Sesungguhnya kebenaran itu jika ditentang dan dilawan dengan syubhat-syubhat (argumen yang rapuh) pasti Allah menyiapkan untuknya orang-orang yang bisa menjelaskan yang haq dan menumbangkan yang bathil, dengan bukti-bukti yang jelas dan dalil-dalil yang kuat yang mampu membeberkan rusaknya syubhat-syubhat mereka, mirip dengan ujian dan cobaan yang mampu memilah antara yang baik dan yang buruk. Kebenaran itu seperti emas murni, semakin diuji keindahannya semakin nampak. Sedangkan kebathilan itu seperti emas palsu, apabila ia diuji maka akan nampak kerusakannya. [1]

View Full Article »

Powered by WordPress. Theme: Motion by 85ideas.