Membongkar Kejahatan Syiah terhadap Islam
Arsip
mewaspadai gerakan kontekstualisasi al-Qur`an
Oct 22nd
PENGANTAR PENULIS
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, dan yang telah membekalinya dengan nikmat fitrah, akal sehat dan hati nurani, dan yang telah menyucikan manusia degan diutusnya para Rasul dan diturunkannya Kitab-Kitab suci.
Sungguh suatu keberuntungan yang tiada tara bila kita bisa menghambakan diri hanya kepada Allah sang pencipta dengan mengikuti dan membela syari’at yang telah dibawa oleh utusan-Nya. Allah berfirman:
]فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raaf: 157)
Termotivasi oleh ayat al-Qur`an tersebut, saya ingin ikut andil dalam membela Rasul Allah saw, dan membela Sunnah-Sunnahnya yang agung dari tangan-tangan jahil yang ingin merusaknya, maka saya menulis sebuah makalah dengan judul, “Bahaya Firqah liberal” yang telah dipresentasikan dalam kajian akbar di Gedung FK, UNIBRAW Malang, pada hari Ahad, 17 Muharram 1423 H, dan dimuat dalam majalah al-Sunnah, Solo pada edisi 04/VI/1423. Dan ketika Ulil Abshar menulis makalah, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, saya menulis bantahan terhadapnya, yang telah dipresentasikan di Masjid Raden Patah pada hari Rabu, 7 Syawal 1423 dan dipresentasikan pada acara Pelatihan Muballigh Tingkat Nasional II FBUI di Wisma Depag Surabaya pada hari Ahad, 3 Dzulqa’da 1423 H, yang kemudian dimuat di majalah al-Sunnah pada edisi 01/VII/1423. beberapa hari kemudian, saya mengetahui bahwa makalah saya tersebut dimuat dalam Buku “Islam Liberal dan Fundamental” yang diterbitkan oleh eLSAQ, Jogja, Cet. 1, Pebruari 2003, hal. 129-150.
Setelah itu, saya menulis bantahan terhadap makalah Ulil yang dipublikasikan oleh Yayasan Waqaf Paramadina, 2003 yang berjudul, “Tentang Pentingnya Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Mengingat syubhat Ulil disebar begitu rupa dan bantahan terhadapnya masih terasa minim, maka saya bermaksud menerbitkan bantahan-bantahan tadi (setelah adanya perbaikan-perbaikan), dalam sebuah buku kecil yang bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar makalah, oleh banyak orang.
Buku kecil ini tidak membantah semua syubhat yang dilontarkan oleh Ulil Abshar, akan tetapi memuat sebagian besar isu sentral yang menghiasi dua makalahnya. Dalam membantahnya saya mengikuti manhaj para ulama salaf; ulama ahlu sunnah yang mensyukuri semua nikmat-nikmat, memanfaatkan potensi fitrah akal dan wahyu (al-Qur`an dan Sunnah) dan Ijma’ ulama sebagai sumber dan parameter kebenaran. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan pembahasan yang tidak terlalu panjang.
Semoga usaha yang “Mutawadhi’” (sederhana) ini mendapatkan ridha Allah dan tanggapan yang positif, serta mendatangkan manfaat bagi umat. Untuk itu nasehat, saran dan masukan sangat kami harapkan dari saudara-saudara seiman untuk melengkapi buku ini.
Dan tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih kepada saudara saya, Bapak Hartono Ahmad jaiz, yang telah bersedia memberikan kata pengantar yang sangat tepat, kepada bapak Adian Husaini yang telah memberikan masukan-masukan yang sangat berharga dan kepada adinda M. Ali Khudlori dan M. Syahri yang telah mengetikkan naskah buku ini dengan penuh semangat. Saya ucapkan untuk semuanya:جَزَاكُمُ اللهُ عَلَى حُسْنِ تَعَاوُنِكُمْ وَكَنَبَ اللهُ لَكُمُ اْلأَجْرَ .
Wassalam
Abu Hamzah al-Sanuwi
Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal Dan Forum Kiai Muda Jawa Timur
Oct 15th
KESIMPULAN FORUM TABAYYUN DAN DIALOG TERBUKA
ANTARA JARINGAN ISLAM LIBERAL DAN FORUM KIAI MUDA JAWA TIMUR
DI PP BUMI SHOLAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR
AHAD, 11 OKTOBER 2009
Dewasa ini sedang berlangsung perang terbuka dalam pemikiran (ghazwul fikri) pada tataran global. Melalui sejumlah kampanye dan agitasi pemikiran seperti perang melawan terorisme dan promosi ide-ide liberalisme politik dan ekonomi neo-liberal, Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia berupaya menjinakkan ancaman kelompok-kelompok radikal, memanas-manasi pertikaian di antara kelompok radikal dan moderat dalam tubuh umat Islam, serta menyeret umat Islam dan bangsa ini ikut menjadi proyek liberal mereka.
Dengan memperhatikan perkembangan global tersebut, dan terdorong oleh kepentingan membela Tradisi Ahlussunnah Waljamaah yang dianut oleh Warga NU sebagai bagian dari identitas dan jatidiri bangsa ini, Forum Kiai Muda Jawa Timur memberikan kesimpulan tentang hasil-hasil dialog dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai berikut:
1. Sdr. Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu (zhuruf), dan pesan sponsor yang tidak berakar dalam tradisi berpikir masyarakat bangsa ini.
SYI’AH DAN SABA’IYAH
Oct 14th
Oleh :
Mamduh Farhan al-Buhairi
(Dari buku Gen Syiah)
Ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah, Ali memiliki pendukung (syi’ah) yang membelanya, demikian pula Muawiyah, ia memiliki pendukung (syi’ah) yang berperang di pihaknya. Tentang kasus ini para sahabat dan tabi’in berselisih pendapat. Akan tetapi setelah matinya Ali ra, Abdullah ibn Saba’ mengklaim bahwa Ali ibn Abi Thalib lah yang mengajarkan kepadanya ajaran-ajaran tasyayyu’, dalam bingkai sebuah mazhab yang berbeda dengan apa yang diketahui oleh khalayak. Maka terkecohlah sebagian syi’ah Ali dan cenderung mengikuti ajaran Ibn Saba’. Dengan demikian berubahlah paradigma tasyayyu’, setelah menjadi tasyayyu’ (dukungan) politik kini menjadi tasyayyu’ teologi dan religi, pada sebagian pengikutnya, kecuali para sahabat dan tabi’in yang tadinya memang mendukung secara politik, bukan karena mazhab. Ibnu Saba’ menebarkan di tengah-tengah pengikutnya berbagai ajaran yang diambil dari khurafat, mitos dan legenda yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Ibnu Saba’ dan kelompoknya telah terbiasa menjadikan “dusta” sebagai kendaraan bagi cita-citanya, “dusta” atas nama “ahlul bait”.
Hal ini telah di akui olehAl-Kasy-syi dalam kitab “Rijal”nya menceritakan dari Ibn Sinan, Abu Abdillah berkata:
“Kami ahlul bait adalah orang-orang jujur (benar), tetapi selalu ada pendusta yang berdusta atas nama kami. Maka runtuhlah kejujuran kami di mata manusia. Adalah Rasulullah Saw manusia yang paling jujur ucapannya, dan adalah Musailamah al-Kazzab telah berani berbuat dusta atasnya. Adalah Amirul Mukminin (Ali) orang yang paling jujur -yang dibersihkan namanya oleh Allah- sepeninggal Rasulullah Saw, dan adalah Abdullah ibn Saba’ -semoga dilaknat oleh Allah- telah berani berdusta atasnya. Dan adalah Abu Abdillah al-Husain ibn Ali telah diuji dengan al-Mukhtar (ats-Tsaqafi),” kemudian Abu Abdilah menyebut nama al-Harits asy-Syami dan Banan: “Keduanya telah berdusta atas Ali ibn al-Husain,” kemudian menyebut al-Mughirah ibn Sa’id, Buzaigh, as-Surri, Abu al-Khath-thab, Mu’ammar, Basy-syar al-‘Asy’ari, Hamzah al-Yazidi dan Shaid al-Nahdi, beliau berkata: “Semoga Allah melaknat mereka, sesungguhnya para pendusta selalu berdusta atas kami. Cukuplah Allah yang menghukum setiap pendusta dan Allah pasti merasakan kepada mereka panasnya besi (neraka)”[1].
Kita ketika membantah dakwaan-dakwaan kaum yang fasiq dan yang keluar dari agama Allah ini tidak berdalil (berhujjah) melainkan dari kitab-kitab mereka sendiri. Maka dari mereka untuk mereka, hingga yang haq menjadi jelas. More >
