Archive for July, 2009

ab_siip

Abu l-Hasan Al-Asy’ari Imam Yang Terdzalimi

7

ab siip Abu l Hasan Al Asyari Imam Yang TerdzalimiJudul Buku : Abul Hasan Al-Asy’ari Imam yang terdzalimi
tebal : 246 Hal
Ukuran :
15,5 x 24
Harga : Rp. 50.000,-
Pemesanan : 085855041000

Umat Islam Indonesia adalah ahlus sunnah waljama’ah, yang mayoritasnya adalah pengikut Aqidah Asy’ariyyah. Aqidah Asy’ariyyah ditandai dengan keimanan kepada sifat 20; serta menakwil sifat-sifat Allah yang lainnya.

Semua permasalahan yang terkait dengan imam Al-Asy’ari dan Asya’irah; petualangan beliau dalam pemikiran, akidah dan dakwah, serta penyimpangan kaum Asya’irah dan pertaubatan tokoh-tokoh Asya’irah, serta sikap ulama pengikut madzhab 4 terhadap Asya’irah bisa anda baca di buku ini.

Ustadz KH. Khalil Ridwan, Ketua MUI pusat bidang Dakwah berkata:

“Dalam buku yang ditulis oleh ananda Agus Hasan Bashori ini, anda bisa temukan apa yang barangkali selama ini seakan tertutupi (tidak anda ketahui) tentang Imam Abul Hasan, mulai dari biografi hingga akidah dan kezaliman yang dituduhkan kepada beliau. Dalam hal ini, penulis mengupas permasalahan secara memuaskan, apalagi melihat background-nya yang sangat kental dengan Asy’ariyah, dimana penulis muda ini menghabiskan masa-masa belajarnya di awal usia dalam lingkup pesantren tradisional salafiyah…… karya tulis ini semakin memiliki nilai dan pantas untuk dibaca.”

Ustadz M. Yusuf Harun, MA., berkata: “Dalam kajian ini, ustadz Agus Hasan Bashori – Jazahullahu khairan – telah mengupas sisi-sisi perjalanan hidup sang tokoh dengan merujuk kepada referensi yang patut dipercaya. Bukan hanya sekedar itu, dia juga melakukan kajian perbandingan antara aqidah al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan aqidah kaum Asya’irah atau Asy’ariyyah pada umumnya, sehingga dengan demikian dapat ditemukan titik-titik persamaan dan perbedaan antara keduanya.

Kajian ini menurut kami, sangat penting karena melalui berbagai referensi yang menjadi rujukan penulisnya dapat memberikan kepada kita gambaran yang benar tentang perjalanan hidup seorang tokoh yang mempunyai banyak penganut dan pengagum di seluruh dunia Islam.”

Ustadz Dr. Mawardi Muhammad, MA., Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau berkata: “Buku yang ada di hadapan anda ini memberikan keterangan yang jelas, ilmiah dan akurat tentang hakikat manhaj aqidah yang diikuti oleh Abu Hasan Al-Asyari. Penulis telah dapat menjelaskan periodisasi perkembangan pemikiran akidah Abu Hasan Al-Asyari, yang mana pemikiran akidah beliau berakhir pada manhaj akidah salaf, setelah lama beliau bergelut dengan pemikiran aqidah Mu’tazilah dan Kullabiyah. Dengan merujuk kepada referensi-referensi asli yang terpercaya, ditambah lagi dengan pemaparan ide-ide pemikirannya yang sistematik, disertai dengan dalil dan berbagai argumentasi, maka buku yang ditulis oleh al-Ustadz Agus Hasan Bashori ini sangat patut dibaca dan dijadikan referensi oleh banyak kalangan, khususnya yang ingin tahu tentang perjalanan hidup dan perkembangan pemikiran tokoh ulama terkenal ini yang sarat dengan nilai, pelajaran dan motivasi.”

kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka

0

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Kedua: kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka.

Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah berkepercayaan terhadap Imam-imam mereka, bahwa mereka mengetahui hal ghaib dan merupakan manusia Ma’shum serta mempunyai derajat lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul Allah, dan mereka hanyalah bisa mati atas kehendak mereka sendiri. Mereka menempatkan martabat para imam mereka setaraf dengan derajat ketuhanan, sebagaimana mereka katakan, bahwa para imam tersebut mengetahui hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi serta mengetahui segala isi Surga dan Neraka dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka – kebohongan dan kedustaan yang mereka lakukan atas nama Allah, dimana seseorang yang berakal sehat dan berjiwa waras berdiri bulu romanya untuk menukil ucapan semacam itu, tetapi anda mendapatinya semuanya tercantum di dalam buku-buku induk mereka yang paling terpercaya dan paling mereka agungkan.

Berikut ini wahai saudaraku Muslim, kami kutipkan keyakinan dan pendapat-pendapat mereka sebagaimana tersebut di atas dari kitab-kitab kaum Syi’ah, agar anda mengetahui permasalahannya secara jelas tentang ajaran dan perihal mereka, sehingga anda dapat membantah kebohongan mereka dan tipu daya mereka serta dapat menghentikan nafas mereka dan membungkam trompet mereka.

1. Dari Mufadhdhal bin Umar, dari Abi Abdillah a.s; adalah Amirul Mukminin semoga kesejahteraan Allah banyak terlimpah kepadanya, berkata: “Aku adalah penyalur Allah antara Surga dan Neraka. Aku adalah pembeda agung antara hak dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan telah mengakui diriku semua Malaikat dan ruh serta rasul-rasul sebagaimana mereka lakukan pengakuan itu kepada Muhammad saw. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah saw, pernah dipanggil lalu dibekali, dan aku pun pernah dipanggil lalu dibekali serta dia diajak bicara dan aku pun juga diajak bicara sehingga aku mengucapkan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta seluruh silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripadaku tiada terluput dari diriku, dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah dan menunaikan tugas atas nama-Nya. Semua itu dari Allah yang telah menempatkannya pada diriku dengan Ilmu-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, hal. 196-197, juz 1, cetakan Teheran).

2. Ia berkata: “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi serta segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang telah terjadi serta sedang dan akan terjadi”, (Al Kaafi fil Ushul, 1:261, cetakan Teheran).

3. Ia berkata: “Allah Tuhan Yang Maha berbarakah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu: Satu ilmu ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Semua yang ditampakkan kepada para Malaikat, para Rasul-Nya dan para Nabi-Nya sesungguhnya kami juga mengetahuinya. Dan satu ilmu yang dikhususkan untuk Dzat-Nya. Bilamana ada sesuatu hal yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal yang demikian itu. Dan para imam yang ada sebelum kami juga diberitahu. (Al Ushul Minal Kaafi, 1:255).

4. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Allah telah menciptakan Ulul Azmi di antara Rasul-rasul-Nya dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi ilmu mereka dan kelebihan mereka itu serta kami dilebihkan di atas ilmu mereka. Dan diajarkan kepada Rasulullah saw apa yang mereka tidak ketahui dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah saw serta ilmu mereka.” (Bashairud Darajat, 5:248 dan Al Fushulul Muhimmah, hal. 156).

5. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik Imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:409, cetakan Teheran).

6. Mirza Muhammad Haadi al-Khurasaani berkata: “Telah bersabda saw: Sungguh surga itu diciptakan untuk orang yang mencintai Ali, sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah. Neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali, walaupun ia taat kepada Rasulullah.” (Risalatul Islam Wal Mukjizat, hal. 276).

7. Kulaini dalam bukunya Al Kaafi di dalam bab “Para Imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri”, meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja’far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: “Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untul makhluk-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).

(more…)

Komentar Manis (bag.3)

0

KOMENTAR MANIS

(bag.3)

Pada komentar manis 2 sudah kita tanggapi hadits ( a) yaumul indzar yang dipakai oleh bapak Muhammad Anis sebagai hujjah. Kini kita lanjutkan dengan hadits berikutnya yang dijadikan hujjah oleh Bapak Muhammad Anis (mengutip dari Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3), yaitu;

(b). Abu Sa’id Al-Khudri berkata :

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :

Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- dengan pengkhianat amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

KOMENTAR MANIS

Pertama: Ucapan Abu Said ra perlu dibuktikan keabsahannya, jika tidak, maka sekedar menyebutkan tidaklah menjadi hujjah sama sekali menurut kesepakan para ulama dan seluruh manusia. Apalagi dalam riwayat itu abu said al-Khudri membenarkan pengkafiran seluruh sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Ini adalah riwayat mereka seperti yang disebutkan oleh salah satu situs mereka:

عن أبي هارون العبدي، قال: كنت أرى [رأي] الخوارج لا رأي لي غيره حتَّى جلست إلى أبي سعيد الخدري رحمه الله فسمعته يقول:

أمر الناس بخمس، فعملوا بأربع وتركوا واحدة.

فقال له رجل: يا أبا سعيد ما هذه الأربع التي عملوا بها؟

قال: الصلاة والزكاة والحج وصوم شهر رمضان.

قال: فما الواحدة التي تركوها؟

قال: ولاية علي بن أبي طالب (عليهِ السَّلام).

قال الرجل: وإنَّها لمفترضة؟

قال أبو سعيد: نعم ورب الكعبة.

قال الرجل: فقد كفر الناس إذن؟

قال أبو سعيد: فما ذنبي.( أمالي الشيخ المفيد 90 مجلس 17 ح3)

Apalagi Syiah terbukti memalsukan atau menggunakan beberapa hadits palsu atas nama sahabat Abu said (salah satu situs mereka memuat makalah berisi 48 hadits palsu atas nama sahabat yang mulia ini), misal hadits untuk menafsiri ayat al-Maidah: 3, yaitu hadits:

فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: الله أكبر على إكمال الدين، وإتمام النعمة، ورضا الرب برسالتي، وبالولاية لعليٍّ من بعدي.

Hadits ini banyak mereka kutib di situs-situs mereka untuk menjelaskan peristiwa Ghadir Khum. Juga hadits:

عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( أعطيت في علي خمسا ، أما إحداها : فيواري عورتي ، والثانية : يقضي ديني ، والثالثة : إنه متكئ في طول المواقف ، والرابعة : فإنه عوني على حوضي ، والخامسة : فإني لا أخاف عليه أن يرجع كافرا بعد إيمان ، ولا زانيا بعد إحصان )

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Muhammad ibn Abdir rahman al-Qusyairi, dia adalah pendusta. IbnHatim mengatakan: Ia matruk al-hadits, ia berdusta dalam hadits. Abul Fath al-Azdi berkata: Ia kadzdzab matruk al-Hadits sebagaimana biografinya dalam al-Mizan dan al-Tahdzib dan lainnya.

(more…)

Go to Top